Nundang Binieak

April 1, 2008
“Nundang Binieak”, Gong Turun ke Sawah Serentak di Lebong

<!–

Satuan Keamanan PBB Diterjunkan

–> function Big(me) { me.width *= 1.700; me.height *= 1.700; } function Small(me) { me.width /= 1.700; me.height /= 1.700; }

KOMPAS/ACHMAD ZULKANI / Kompas Images
Areal perladangan baru akhir-akhir ini terus bermunculan di daerah tangkapan air Danau Tes, Kabupaten Lebong. Aktivitas ini mengkhawatir- kan karena bakal mengancam Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Tes yang memanfaatkan air Danau Tes ini untuk memutar tiga turbinnya.

Senin, 24 Maret 2008 | 02:56 WIB

Achmad Zulkani

Ujang Syafarudin (69) membakar kemenyan seukuran jempol jari orang dewasa. Asap wangi kemenyan memenuhi ruangan besar di sebuah rumah tua di Muara Aman, Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu. Apa yang dilakukan merupakan prosesi ritual budaya yang dalam bahasa Rejang disebut Nundang Binieak yang turun-temurun dilakukan sejak berabad silam. Nundang Binieak dalam bahasa sehari-hari bisa diartikan sebagai mengundang bibit.

Mulut tetua adat Muara Aman itu tampak komat-kamit membaca doa dan mantra. Doa untuk para leluhur dan semua warga Rejang, intinya agar Yang Mahakuasa memberikan keselamatan dan melindungi tanaman padi yang bakal ditebar.

Persis di depan Syafarudin tergeletak seonggok benih padi berbalut kain putih. Benih sekitar 2,5 kaleng atau setara 10 kilogram ini sebelumnya dibasahi air dan dicampur tujuh macam ramuan ”obat” tradisional, antara lain jeruk nipis, daun cekrau, daun kumpei, satu kilogram rebung bambu gading (bambu kuning), kunyit busuk, 20 buah pinang dan kendur. Semua dipotong kecil-kecil dan diramu menjadi satu dengan benih padi tersebut. Benih ini terdiri atas inti berasal dari tujuh tangkai padi hasil panen tahun sebelumnya yang disimpan khusus, dicampur dengan benih padi bantuan pemerintah.

Beberapa saat kemudian, Syafarudin membuka kain putih penutup onggokan benih padi itu. Ia mengambil air kelapa muda hijau dengan setangkai daun sidingin (juga ramuan obat tradisional). Air kelapa muda itu dipercikkan ke tumpukan benih padi sampai kelihatan basah.

Prosesi ritual budaya itu lantas ditutup dengan doa selamat dan makan bersama oleh semua yang hadir. Hidangannya berupa nasi puncung dengan dua ayam matang utuh yang ditaruh di atas talam. Ayam itu juga bukan sembarangan, tetapi harus ayam putih dan biring, yakni seekor ayam warna kuning keemasan baik kaki maupun bulunya. Ayam harus utuh, tidak dipotong-potong layaknya hidangan biasa.

Seusai makan bersama, warga yang hadir dibekali sejumput benih yang sudah diramu untuk dicampur dengan benih yang disiapkan di rumah masing-masing. Sebaliknya, warga yang tidak datang akan diberi, sampai semua petani kebagian.

”Nundang Binieak adalah ritual adat budaya turun-temurun sejak berabad-abad silam di Lebong,” kata Syafarudin.

Muara Aman, sebuah kota kecil tua berhawa sejuk di lembah hutan Taman Nasional Kerinci Seblat, sekitar 165 kilometer dari Bengkulu. Kota yang kini menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Lebong itu dihuni mayoritas etnis Rejang, etnis yang memiliki bahasa dan tulisan sendiri. Nilai-nilai adat dan budaya tradisional Rejang sampai sekarang masih dijunjung tinggi masyarakat setempat.

Cegah hama

Kenapa Nundang Binieak harus dilakukan? Menurut Syafarudin, di era modern sekarang tradisi yang sangat diyakini dan dipatuhi etnis Rejang di Muara Aman itu mungkin ditanggapi beragam oleh orang luar. Tetapi, bagi warga Rejang di Muara Aman, ritual ini diyakini bisa ”memagar” tanaman padi agar tak diganggu hama penyakit.

”Semua ramuan yang diaduk dengan benih padi ada artinya. Rebung bambu kuning misalnya, selama ini mampu mencegah tanaman padi di sawah dari serangan hama tikus. Kendur dan kunyit busuk diyakini dapat mengusir hama kutu seperti walang sangit. Jadi, ramuan itu bukan asal saja, tetapi diambil dari tumbuhan yang dipakai sebagai obat tradisional oleh masyarakat Rejang,” tutur Syafarudin.

Bagaimana kalau ritual Nundang Binieak ditinggalkan? Sembari menghela napas dalam-dalam, Syafarudin menyatakan, orang di luar etnis Rejang mungkin akan berkomentar beragam. ”Ini hanya sekadar tradisi, ritual adat dan budaya Rejang warisan nenek moyang sejak berabad-abad. Prosesi ritual ini lazimnya selalu menjelang turun ke sawah. Jika ada warga atau petani di Lebong tidak percaya ritual ini, silakan saja. Tidak ada pemaksaan, tergantung keyakinan masing-masing,” katanya.

Dua petani di Lebong, Amirul Mukmin (48) dan Khadijah (60), melukiskan, musim tanam tahun lalu ada petani yang tidak hirau dengan Nundang Binieak. Mereka turun ke sawah dan menanam padi tanpa menunggu prosesi ritual ini. ”Nyatanya, waktu itu sebagian besar tanaman padi di Lebong gagal panen. Hama tikus dan walang sangit mengganas. Apakah meluasnya hama saat itu ada hubungan atau tidak dengan ditinggalkannya tradisi ini, ya terserah orang mengartikan,” kata mereka.

Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bengkulu mencatat, musim tanam tahun 2007 tingkat keberhasilan panen di Lebong memang sangat rendah. Dari sekitar 3.600 hektar areal sawah yang ditanami warga, lebih dari 50 persen gagal panen karena diserang hama tikus.

Syafarudin menambahkan, sekarang tradisi ini sebetulnya sangat relevan. Dalam konteks kekinian, Nundang Binieak sama dengan gong atau ketok palu agar petani turun serentak ke sawah. Biasanya, warga tidak peduli kalau hanya diimbau pejabat pertanian. Tetapi, jika aba-aba turun ke sawah datang dari tetua adat, semua akan patuh.

Selain itu, kalau semua areal sawah digarap, tanam serentak, biasanya tikus tidak mengganas. Memang masih ada gangguan hama, tetapi tidak seganas kalau tanam tidak serentak. ”Logikanya sangat sederhana. Kalau semua areal sawah di hamparan luas digarap, pasti tikus kesulitan bersarang. Hama ini akan lari ke hutan. Jadi, dalam konteks kini sepertinya sangat cocok,” ujar Syafarudin dan Amirul Mukmin.

Kearifan lokal masyarakat Rejang ini sejatinya tidak bertentangan dengan program pemerintah. Pesan-pesan moral dari leluhur yang diwujudkan dengan tradisi seperti Nundang Binieak di Rejang barangkali tidak ada salahnya dilestarikan. Buktinya, setelah ritual itu, ribuan petani Lebong kini ramai-ramai turun serentak ke sawah….

Bila orang lain peduli ke Hutan kita, kenapa kita gak bisa?

March 31, 2008

Bila bangsa asing begitu peduli dengan hutan kita, kenapa kita juga gak bisa peduli? terutama terhadap TNKS ( Taman Nasional Kerinci Seblat) dan hutan hutan dimana habitat Rafflesia Arnoldii (Bungei sekedei)dan Amorphopalus Titanum (Bunga Bangkai atau Bungei Kibut)berada dalam ancaman kepunahan.

http://www.wildsidephotography.ca/

Wajah Kota Curup di Bulan Juli 2007

March 30, 2008

Semoga photo ini mengobati rasa rindu terhadap Kota Curup, terutama untuk orang-orang Curup yang berada jauh di Rantau.

Foto Bulan Juli 2007

Mesjid Agung

“Ojek” Dwi Tunggal

Bang Mego New Face

Dekat GOR

MesjidJami’

ke Dwitunggal

Air Rambai

Pasar Tengah

Jl Kartini

Bundaran

Rumah Lamo

Mencari Jejak Kakek yang Hilang, ada yang bisa bantu?

March 29, 2008

Banyak kisah perjalanan hidup seorang penambang emas, salah satunya adalah Benyamin William yang di cari-cari khabar beritanya oleh keluarganya hingga hari ini. Benyamin di masa lalu pernah bertugas di Lebong Tandai. Bila ada yang tahu informasinya (mungkin turunan beliau ada di tanah rejang? ) mohon membuka website untuk detailnya:

http://www.healeyhero.co.uk/People/help_p9.htm

Semoga keluarga ini segera memperoleh informasi keluarganya.

From: Paul Williams
Sent:
28 June 2005
Subject:
Benjamin Williams 1862-1934

Hi ya,
I am trying to discover more about my grandfather Benjamin Williams,
1862-1934. I have a reprint of a South Wales Echo, which mentions he had
saved numerous Malay’s in a gold mine accident in Sumatra in September 1912.
It also mentions he was in the Cilfynydd rescue work, I am currently
researching.

Brief history for my grandfather:

  • Benjamin Williams: born July 10th 1862 in 1 Woodland Row,
    Briton Ferry, Glamorgan.
  • 1872-1878 Collier boy from age of 10 at Steep Coal Measures, Neath
    Briton Ferry District
  • 1884-1902 Merthyr Stream Coal Collieries in Maerdy Collier; Timberman;
    Contractor and Official
  • 31/01/1888 2nd Class Certificate No 309
  • 01/01/1893 Night Fireman 6 Foot Seam, North West, Maerdy
  • 1896-1897 2nd Class Certificate in Geology
  • 10/05/1897 2nd Class Certificate as Under Manager No 3127
  • 07/06/1900 1st Class Certificate as Colliery Manager No 1695
  • Mining and Geology Certificates under Science and Arts Dept, Ferndale
  • 1902 worked for 3 years as a prospector, Mine Foreman and Master
    Sinker in Ghana
  • 15 months Chida Wassaw Company
  • 10/03/1903 appointed Temporary Manager
  • 17/12/1903 reference worked at Chida Wassaw mine for one year
  • 9 months Prestea Company Block A Gold Mines
  • 12 months Chida Wassaw Gold Mines Company
  • 1905-1907 1st Class Certificate Manager The Lower Gilfach Colliery
  • 1907-1909 under manager at Cynon and Whitchurch Collieries, Cymmer,
    Port Talbot.
    Had mining and sinking contracts here.
  • June 1909-1911 Manager at Llanover Pits, Argoed leaving 31st July 1911
  • Aug 1911 Lebong Donok Gold mine, Sumatra
  • 1912 Lebong Soelit Gold mine, Sumatra
    Lebong Tandai (Simau) Gold Mine, Sumatra
    ”preselected employment as miner till the end of June (1912) and as Mine
    Captain for the last 2 month
    s”
  • South Wales Echo article appears to be from September 1912
  • 19/04/1934 Died Tydfil Lodge, Merthyr Tydfil

Any help would be most welcome, and i thank you in advance,
Kind regards
Paul Williams


Hello,

I have seen a posting from Paul Williams on your website. He may be my mothers’ (Marilyn Davis (nee Williams) cousin. My mothers father was Ivor Williams. He is enquiring about his grandfather who would be my Great Grandfather. I would love to get in touch with him.

Thank you for your help and your website in providing such useful information.

Stella Jones
Stella

Emas Monas berasal dari Lebong Tandai

March 29, 2008

Jalur Si Molek untuk Puncak Monas
Rafiqa Qurrata A – detikcom

Bengkulu -

Namanya si Molek. Bukan nama seorang gadis Bengkulu, melainkan kereta mini (lori) yang menempuh rute sejauh 33,5 km. Jalur ini sangat rawan longsor, karena diapit oleh dinding tebing setinggi 25 meter dan bibir sungai yang curam.

Kengerian rute ini bisa ditebus dengan keindahan hutan yang masih asli yang dapat dinikmati sepanjang perjalanan. Rel ini menghubungkan Desa Lebong Tandai dengan Kota Kecamatan Napal Putih.

Molek merupakan kendaraan yang dibuat oleh warga setempat pada tahun 1990-an. Dengan bahan bakar solar, Molek digunakan untuk menunjang aktivitas ekonomi warga Napal Putih. Antara lain untuk mengangkut hasil bumi.

Jalur lori yang dilewati si Molek sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Namun dulu yang lewat hanyalah loko uap. Peran loko uap dan jalur relnya ini sangat penting. Antara lain untuk mengangkut emas yang ditambang dari Lebong Tandai.

Emas dari sinilah yang pada tahun 1970-an mengalir ke Jakarta. Emas yang diangkut loko uap ini kini menancap di puncak Tugu Monas di Jakarta. Berat emas yang melapisi “api” Monas sekitar 35 kg. Dengan kilauan emas yang menggambarkan nyala api ini, Monas dikenal sebagai tugu api yang tak kunjung padam.

Loko uap itu kini telah tiada dan digantikan peran si Molek. “Dengan Molek ini kita juga bisa melihat goa-goa tambang peninggalan zaman kolonial yang menghasilkan emas,” jelas staf Humas Pemkab Bengkulu Utara, M Saleh, kepada detikcom di Bengkulu Utara akhir pekan lalu.

Setelah Belanda pergi dari Indonesia, emas di Lebong Tandai masih ditambang secara tradisional oleh masyarakat setempat. Pada tahun 2006, Pemkab Bengkulu Utara mulai merencanakan pembukaan kembali industri tambang emas ini.

“Kami kerjasama dengan pihak asing. Lahan tambang yang disurvei termasuk yang berada di wilayah Kabupaten Muko-muko dan Kabupaten Lebong,” kata Bupati Bengkulu Utara Imron Rosyadi.

Foto:

Inilah Si Molek dengan jalurnya yang mengkhawatirkan. Jalur ini perlu dipindahkan untuk keselamatan.

http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/07/tgl/09/time/115224/idnews/802578/idkanal/10

Vanda Hokeriana

March 29, 2008
VANDA HOOKERIANA
ANGGREK PINSIL

Read More information abaut Vanda Hookeriana click here
Ingin Baca lebih banyak artikel anggrek pinsil silakan klik di sini

Air Terjun di Jalan menuju Suban Air Panas

March 29, 2008

Air terjun di jalan menuju Suban Air Panas

Air terjun Suban Air Panas. Manis…apalagi kalau dikelola dengan baik

http://rejanglebong.blogspot.com/

Suban Air Panas

March 29, 2008

Suban Air Panas






Suban Air PanasTerdapat beberapa sumber air panas alam di kabupaten Rejang Lebong antara lain di Suban Air Panas, Sindang Jati dan jalan menuju puncak bukit Kaba.Suban air panas terletak di Curup, kira-kira 6 km dari pusat kota.Kita dapat mebawa mobil sendiri ke tempat ini atau dengan naik kenderaan umum yang tersedia. Di Suban air panas kita dapat mandi air panas yang tersedia di kolam renang, di kolam renang lama, atau di kamar-kamar mandi yang ada. Atau kita dapat mandi air dingin alam yang ada di sini. Dimana air dingin langsung dari sungai yang jernih.Di Suban Air Panas ini juga terdapat 2 buah air terjun yang tingginya 50 m dan 15 m.Selain itu juga terdapat peninggalan/ situs/cagar budaya, yang disebut batu menangis, dimana batu ini peninggalan zaman prasejarah yang merupakan batu tempat persembahan. Ada dua lokasi yang berjarak 100 meter. Batu ini sering didatangi oleh orang-orang yang memohon pertolongan kepada batu yang tak berdaya ini.Disekitar lokasi ini terdapat kebun-kebun penduduk, terutama kebun-kebun kopi, dan juga tanaman aren yang dibuat penduduk sini sebagai bahan baku gula merah.

http://rejanglebong.blogspot.com/

Air Meles

March 29, 2008

Air Meles



Air meles, sebuah desa di Kecamatan Selupu Rejang. Nun di kaki Bukit Kaba. Dari Air Meles kita dapat melihat keindahan kota Curup. Di desa ini terdapat pondok pesantren, mungkin satu-satunya pondok pesantren di kabupaten Rejang Lebong. Penduduk air meles hidup dari bertani. Banyak ditemukan industri kecil yaitu pembuatan gula aren.

http://rejanglebong.blogspot.com/

Kebon stroberi

March 29, 2008

Kebon stroberi


Stroberi di curup, baru saja di kembangkan. Buahnya lebih kecil dibandingkan dengan buah stroberi yang ada di supermarket. Stroberi ini dipasarkan di lokasi sekitar kebun, Lubuk Linggau dan sekitarnya.

http://rejanglebong.blogspot.com/


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.