Archive for February, 2008

Rejang Pat Petulai Tempoe Doeloe dalam Photo

February 22, 2008
Rejang Pat Petulai Tempoe Doeloe dalam Photo

Pangeran Mangku Negeri I Sindang Kelingi 1934

Datuk Pangeran/Mindang clan

H.Abd Hamid
Pangeran Jaya Sempurna Marga selupa Rejang 1930

H.Muh Aruji (Arif?)
Pangeran Bermani Ulu gelar Pangeran Tiang Alam



Rejang Family`s

Pasukan

Panglima Muara Aman

Lebong tambang emas

Acara sunatan lebong tambang

datuk pangeran mindang clan

Pangeran, Hasan, Husen, Haroen

Pangeran Zainal Abidin

Lebong Donok in dutchpostcard

http://adebachtiar.multiply.com

http://gemilang.multiply.com/photos/album/205

Suku Rejang, Kearifan Menjaga Wilayah dari Kemarahan Harimau

February 22, 2008


Warga Suku Rejang di Desa Bandar Agung, Kecamatan Tapus, Kabupaten Lebong, menyelenggarakan Kedurai Agung sebagai upaya terhindar dari malapetaka, Rabu (6/12). Ritual adat itu diadakan di pinggir Sungai Ketahun, dengan menghamparkan sesajen kepada leluhur.
Setelah dua tahun ditinggalkan, Kedurai Agung khas suku Rejang kembali dilaksanakan di Desa Bandar Agung, Kecamatan Tapus, Kabupaten Lebong, di timur Provinsi Bengkulu. Orang Rejang di desa yang terletak di dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat itu melaksanakannya pada tanggal 5 dan 6 Desember lalu.

Desa Bandar Agung di wilayah Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) itu dihuni suku Rejang, salah satu suku tertua di Sumatera yang diyakini menjadi cikal-bakal masyarakat Bengkulu. Dalam percakapan sehari-hari, mereka bertutur dengan bahasa Rejang yang nyaris punah karena kini semakin jarang digunakan masyarakat setempat.

Desa Bandar Agung bisa ditempuh kurang-lebih empat jam perjalanan darat dari Kecamatan Curup, ibu kota Kabupaten Rejang Lebong. Untuk menuju ke desa yang berada di TNKS ini, beberapa perbukitan harus dilalui. Jalan mulus beraspal akan berujung pada jalan tanah berbatu yang sempit, sewaktu tiba di “gerbang” taman nasional itu.

Sejak pukul 08.00, puluhan Tun Jang (sebutan untuk orang Rejang) telah berkumpul di rumah Busroni, Kepala Desa Bandar Agung. Mereka bergotong-royong menyiapkan berbagai peralatan untuk melaksanakan Kedurai Agung yang ditinggalkan selama dua tahun terakhir.

Hari itu, Minggu (6/12), merupakan hari ke-16 dari bulan Zulkidah, penamaan bulan dalam tradisi Tun Jang. Bulan itu diyakini sebagai bulan hama dan penyakit, ditandai dengan munculnya hama tanaman dan serangan penyakit untuk semua makhluk.

Selama dua tahun tidak menyelenggarakan Kedurai Agung, desa itu nyatanya kerap dilanda musibah. Penyakit muntaber sempat meluas di desa yang berpenduduk 787 jiwa itu pada tahun 2004 dan 2005. Selain itu, penyakit cacar juga menyerang 10 orang dalam dua tahun terakhir.

Busroni (37), Kepala Desa Bandar Agung, meyakini penyakit itu menandai awal bumi panas atau malapetaka. Salah satu pemicunya, ya, karena tidak diselenggarakannya kedurai yang seharusnya diadakan satu kali setiap tahun.

“Kami sudah mendapat peringatan untuk meminta maaf kepada alam yang dijaga para leluhur. Untuk menghindari malapetaka yang lebih besar, tradisi Kedurai Agung harus dijalankan kembali,” kata Busroni.

Maka, pagi itu mereka menggelar Kedurai Donok (Laut) yang merupakan bagian dari Kedurai Agung. Ritual itu dipimpin Chong Pin (78), pawang ritual suku Rejang.

Beberapa pria menganyam bambu untuk dibuat acak, yaitu wadah untuk sesajen. Sesajen untuk ritual itu meliputi darah ayam (monok bae) yang disimpan di mangkok, minyak goreng, minyak manis, sirih matang, sirih mentah, 99 jeruk nipis, 99 batang rokok, serta tiga jenis bunga (mawar, cempaka gading, dan cepiring).

Bahan lainnya yang juga dipergunakan untuk ritual itu antara lain 198 butir beras kunyit, kue tepung beras (sabai), benang tiga warna (putih, merah, dan hitam).

Selanjutnya, masyarakat berduyun-duyun menuju ke Sungai Ketaung di pinggiran desa. Sungai itu menjadi tempat penyelenggaraan Kedurai Donok karena diyakini merupakan jalur perlintasan arwah para leluhur dari laut.

Batu-batu alam terlihat di dasar sungai. Air jernih dan rimbunnya pepohonan di kanan kiri sungai menambah keindahan sungai di areal TNKS.

Acak yang berisi sesajen diletakkan di atas cagak bambu yang disebut sunggea. Warga kemudian menghamparkan selembar kain terpal pada tanah. Bahan-bahan penunjang ritual pun diletakkan di atas terpal.\

Berdamai dengan leluhur

Didampingi Saraya (78), tetua masyarakat, Chong Pin duduk di atas kain terpal bersama dengan dua pemuda dan pemudi desa. Beberapa kali Chong Pin menebarkan beras kuning ke sekelilingnya, seraya menyampaikan permohonan kepada arwah leluhur.

Suku Rejang meyakini arwah leluhur mereka menghuni gunung dan laut. Prosesi kedurai untuk menghormati leluhur dari gunung (Kedurai Tebo) dilakukan sehari sebelumnya, 5 Desember. Kedurai Tebo merupakan wujud permintaan maaf, penghormatan, sekaligus permohonan kepada tebo (harimau) agar terhindar dari malapetaka. Tebo atau harimau di wilayah itu sangat dihormati karena diyakini merupakan wujud leluhur mereka di gunung.

Seperti halnya Kedurai Donok, Kedurai Tebo juga menggunakan sesajen, antara lain sirih matang dan sirih mentah, tiga butir telur, beras kunyit, dupa, rokok, kemenyan, dan minyak goreng. Sesajen itu diletakkan di perbatasan desa yang berupa semak-semak di pinggiran hutan.

Tun Jang meyakini gangguan-gangguan penyakit selama ini disebabkan kemarahan leluhur karena keseimbangan alam terganggu. Kedurai Agung merupakan kenduri untuk berdamai kembali dengan para leluhur sehingga desa itu terhindar dari musibah penyakit pada manusia, ternak, dan tumbuhan.

Kedurai atau kenduri sendiri sebenarnya merupakan salah satu bentuk kepercayaan animisme yang dipertahankan masyarakat suku Rejang yang sebagian besar kini telah memeluk agama Islam.

Tampaknya, inilah bentuk kearifan suku Rejang dalam menjaga lingkungan. Kearifan yang sama juga dilakukan untuk menjaga moral dan akhlak masyarakatnya, yakni melalui peradilan adat yang bertujuan menertibkan hak adat di wilayah itu.

Menurut tokoh masyarakat Desa Bandar Agung, Adnan Romli (49), tersangka pelanggar adat akan dipertemukan dengan tokoh-tokoh adat untuk dimintai penjelasan. Peradilan ini juga disertai sanksi bagi warga yang terbukti melanggar hukum ada.

Sumber: Kompas
Penulis: BM LUKITA GRAHADYARINI

Nopember 9, 2007

February 22, 2008


“Lak Coa Lak : Hidup Adalah Pilihan”
Ade adalah seorang anak yatim piatu yang dari umur 9 tahun harus bekerja menyadap karet untuk menghidupi seorang nenek dan dua orang adiknya. Lak Coa Lak (bahasa daerah rejang, di Bengkulu) dalam bahasa Indonesia-nya berarti “Mau Tau Mau”. Film ini aku buat ketika aku pulang ke kampung halamanku yaitu Arga Makmur, Bengkulu Utara tepatnya di rumah nenekku yaitu Desa Kali I.

Saat mendengar kisah tentang kehidupan Ade, aku seolah tak percaya. Anak seumur dia bisa menafkahi tiga orang keluarganya dan bisa mensekolahkan kedua adiknya.

Dari pukul 7.00 sampai pukul 15.00 setiap harinya dia harus bekerja menyadap karet. Hari-hari yang seharusnya ia habiskan bermain dengan teman-teman seumurnya terpaksa ditinggalkan demi sebuah harapan dan impian. Terkadang, setelah menyadap karet ia harus membersihkan sepetak kebun peninggalan ibunya dan memetik buah kopi jika memang pohonnya sudah berbuah. Karena umur nenek yang sudah tua, tidak bisa banyak bergerak dan melakukan perkerjaan berat, maka ia pun harus mengambil kendali untuk mengurusi rumah. Setiap pagi dan sore hari harus memasak dan menyiapkan makan untuk keluarga.

Terus berusaha selagi itu halal merupakan prinsip hidup yang selalu ia pegang. Walaupun hidup ini sengsara, tapi hidup memang harus dijalani. Mungkin ini sudah takdir Tuhan.

Dalam hati aku hanya bisa berdoa “semoga Tuhan selalu memberikan kemurahan jalan dan kelapangan hati” kepadanya. Anak seumur ini sudah harus berfikir dewasa dan bijaksana. Tetap rajin bekerja, tak pernah mengharapkan bantuan dan rasa iba dari orang lain.

Sementara, beribu-ribu kilometer dari tempatnya, seperti di Jakarta, Bogor, Surabaya, maupun kota-kota yang pernah aku kunjungi. Lelaki sehat dan bertubuh tegap, hidup hanya mengandalkan rasa iba dan kasihan dari orang lain. Hidup hanya bermodalkan gitar dan ocehan, terus meminta-minta kepada orang lain. Seolah-olah teramat gampang untuk mendapatkan uang.

Masih beruntungkah Ade? bisa bekerja di kebunnya, jika dibandingkan dengan anak-anak di kota yang berdiri di perempatan jalan?
Aku sendiri tidak tahu seperti apa itu hidup yang “beruntung”

Tapi yang jelas, film yang berdurasi 9 menit ini aku bikin bukan untuk membuat rasa penyesalan dan patah semangat, melainkan untuk memunculkan rasa optimis dalam menjalani hidup. Seperti yang dijalani oleh Ade. Walaupun dia harus bekerja dan tidak sekolah, tapi dia mempunyai impian besar, yaitu mensekolahkan kedua adiknya sampai tamat dan mempunyai kebun karet sendiri.

“Sampai kapankah anak-anak Indonesia harus menengadahkan tangannya di perempatan lampu merah. Di kereta. Di bus. Di angkot dan di warung-warung makan. Hidup dengan kemiskinan dan masa depan yang suram. Dan tak jarang juga menerima pelecehan seksual, penganiayaan”.

“Sementara… Kepedulian akan sesama jauh dari harapan. Perbedaan status sosial kenyataan memang, sengaja diperlihatkan. Korupsi terang-terangan dilakukan. Undang-undang dan hukum dibikin hanya untuk mendapatkan uang dan juga memang menguntungkan yang punya uang”.
Posted at Friday, September 01, 2006 by berang

Thursday, August 31, 2006
http://berangberang.blogdrive.com/archive/cm-2_cy-2008_m-2_d-12_y-2008_o-10.html

February 22, 2008


“Lak Coa Lak : Hidup Adalah Pilihan”
Ade adalah seorang anak yatim piatu yang dari umur 9 tahun harus bekerja menyadap karet untuk menghidupi seorang nenek dan dua orang adiknya. Lak Coa Lak (bahasa daerah rejang, di Bengkulu) dalam bahasa Indonesia-nya berarti “Mau Tau Mau”. Film ini aku buat ketika aku pulang ke kampung halamanku yaitu Arga Makmur, Bengkulu Utara tepatnya di rumah nenekku yaitu Desa Kali I.

Saat mendengar kisah tentang kehidupan Ade, aku seolah tak percaya. Anak seumur dia bisa menafkahi tiga orang keluarganya dan bisa mensekolahkan kedua adiknya.

Dari pukul 7.00 sampai pukul 15.00 setiap harinya dia harus bekerja menyadap karet. Hari-hari yang seharusnya ia habiskan bermain dengan teman-teman seumurnya terpaksa ditinggalkan demi sebuah harapan dan impian. Terkadang, setelah menyadap karet ia harus membersihkan sepetak kebun peninggalan ibunya dan memetik buah kopi jika memang pohonnya sudah berbuah. Karena umur nenek yang sudah tua, tidak bisa banyak bergerak dan melakukan perkerjaan berat, maka ia pun harus mengambil kendali untuk mengurusi rumah. Setiap pagi dan sore hari harus memasak dan menyiapkan makan untuk keluarga.

Terus berusaha selagi itu halal merupakan prinsip hidup yang selalu ia pegang. Walaupun hidup ini sengsara, tapi hidup memang harus dijalani. Mungkin ini sudah takdir Tuhan.

Dalam hati aku hanya bisa berdoa “semoga Tuhan selalu memberikan kemurahan jalan dan kelapangan hati” kepadanya. Anak seumur ini sudah harus berfikir dewasa dan bijaksana. Tetap rajin bekerja, tak pernah mengharapkan bantuan dan rasa iba dari orang lain.

Sementara, beribu-ribu kilometer dari tempatnya, seperti di Jakarta, Bogor, Surabaya, maupun kota-kota yang pernah aku kunjungi. Lelaki sehat dan bertubuh tegap, hidup hanya mengandalkan rasa iba dan kasihan dari orang lain. Hidup hanya bermodalkan gitar dan ocehan, terus meminta-minta kepada orang lain. Seolah-olah teramat gampang untuk mendapatkan uang.

Masih beruntungkah Ade? bisa bekerja di kebunnya, jika dibandingkan dengan anak-anak di kota yang berdiri di perempatan jalan?
Aku sendiri tidak tahu seperti apa itu hidup yang “beruntung”

Tapi yang jelas, film yang berdurasi 9 menit ini aku bikin bukan untuk membuat rasa penyesalan dan patah semangat, melainkan untuk memunculkan rasa optimis dalam menjalani hidup. Seperti yang dijalani oleh Ade. Walaupun dia harus bekerja dan tidak sekolah, tapi dia mempunyai impian besar, yaitu mensekolahkan kedua adiknya sampai tamat dan mempunyai kebun karet sendiri.

“Sampai kapankah anak-anak Indonesia harus menengadahkan tangannya di perempatan lampu merah. Di kereta. Di bus. Di angkot dan di warung-warung makan. Hidup dengan kemiskinan dan masa depan yang suram. Dan tak jarang juga menerima pelecehan seksual, penganiayaan”.

“Sementara… Kepedulian akan sesama jauh dari harapan. Perbedaan status sosial kenyataan memang, sengaja diperlihatkan. Korupsi terang-terangan dilakukan. Undang-undang dan hukum dibikin hanya untuk mendapatkan uang dan juga memang menguntungkan yang punya uang”.
Posted at Friday, September 01, 2006 by berang

Thursday, August 31, 2006
http://berangberang.blogdrive.com/archive/cm-2_cy-2008_m-2_d-12_y-2008_o-10.html

Paksi Pak Skala Brak

February 22, 2008

. SEJARAH PAKSI PAK SEKALA BRAK..

Dimulai dari kedatangan putera putera Ratu Ngegalang Paksi dari Samudera Pasai untuk menebarkan agama Islam di bumi Sekala Brak yang berjumlah 8 orang. Mereka menaklukkan penduduk aseli yang dikenal dengan sebutan: Suku Tumi dengan Pimpinannya bernama Umpu Sekekhummong yang gagah berani namun akhirnya menyerah.
Suku Tumi ini masih menganut kepercayaan Animisme dengan menyembah Kayu Belasa Kepappang sebagai Dewa mereka yang oleh Putera putera Ratu Ngegalang Paksi kayu tersebut ditebang dan dijadikan tempat duduk yang disebut Pepadun. Pepadun ini sampai sekarang masih ada yaitu dipakai apabila salah seorang dari Sai Batin Paksi Pak menobatkan putranya menjadi Sai Batin. Sesuai perjanjian Keempat Paksi Pepadun ini disimpan di rumah anak mentuha paksi yaitu Buay Benyata yang berkedudukan dipekon Luas. Ada istilah : Pak Cumbung Kelima Sia untuk menggambarkan Paksi Pak dan Buay Nerima. .
Sayangnya oleh Paksi Buay Belunguh dizaman Sai Batinnya Pangeran Ahmad Syafei gelar Suttan Pikulun, pepadun tersebut disimpannya di Gedung Kenali malah oleh Keturunannya diklaim mereka sebagai salah satu Memanoh atau barang pusaka mereka hingga sekarang.

Pada saat ini karisma pepadun tersebuit sudah sirna, dan tercemar, baik sebagai tempat penobatan Sai Batin maupun sebagai barang pusaka, karena seringnya Pepadun tersebut dipreteli atau dipappakh oleh tangan tangan jahil yang tak bertanggung jawab, untuk dijadikan penangkal racun dan lain sebagainya . Oleh sebab itu menurut filosofis adat , sebuah singgasana yang sudah dirobek robek atau dipappakh ?pappakh sudah hilang tuah kebesarannya dan diyakini apabila Pepadun tersebut akan dijadikan tempat Singgasana saat Penattahan Adok Sai Batin sebagaimana dahulu kala, maka kemungkinan besar kekuasaan dan kebesaran Sai Batin di zamannya akan terkoyak – koyak, terpecah belah dan tercerai berai. Oleh karena itu Pepadun itu tinggal jadi tanda untuk bahan cerita sejarah saja, dan tidak bisa dipergunakan lagi , karena tidak memberikan simbul kesempurnaan lagi.

Ratu Ngegalang Paksi ini mempunyai 8 (delapan) orang anak .
Dari istri pertama 4 orang , yaitu :
1. Umpu Pernong,
2. Umpu Belunguh.
3. Umpu Bejalan Diwai,
4. Umpu Nyerupa

Dari istri kedua juga 4 orang anak , yaitu :
1. Si Gekhok
2. Si TambakKura
3. Si Petar
4. Si Kumambar.

Keempat anaknya yaitu :
1. Umpu Pernong,
2. Umpu Belunguh
3. Umpu Bejalan Diwai,
4. Umpu Nyerupa
menetap di Kerajaan Sekala Brak dan dikenal dengan nama?PAKSI PAK SEKALA BRAK. Mereka mendirikan Paksi masing masing sesuai dengan nama mereka . Sedangkan keempat anaknya yang lain mengembara tak tentu kemana pastinya.

Masing masing Paksi dalam Paksi Pak Sekala Brak mengurus Wilayah, masyarakat dan adat istiadatnya sendiri sendiri tak boleh mencampuri atau intervensi terhadap Paksi lainnya. Mereka mempunyai kedudukan dan peringkat yang sama. Tidak ada yang dituakan atau yang simudakan. Hal itu telah menjadi komitmen bersama. Apabila ada salah satu yang merasa Paksinya yang lebih Tua maka Paksi itu akan tulah dan dikutuk oleh Tuhan dan oleh Paksi lainnya. Komitmen tersebut masih berlaku sampai saat ini. Apabila salah satu Paksi sudah merasa lebih tua atau merasa lebih tinngi dari Paksi yang lain, maka saat itu Paksi Pak akan pecah dan tidak mufakat lagi.

2. SEKILAS MENGENAI PAKSI BUAY PERNONG

Satu kilasan sejarah kebesaran Paksi Buay Penong , sebagai salah satu cara Sai Batin menumbuh – kembangkan Percaya diri dan Harga diri kepada Jamma balak ni Saibatin.
Dan BERHASIL !!!
Paksi Buay Pernong mempunyai sejarah yang patut disyukuri dan dibanggakan namun bukan untuk disombongkan. Beberapa keturunan Umpu Pernong sangat menonjol dalam zamannya. Hal itu bukan saja dalam Pembinaan Ke Buayannya tetapi juga dalam melaksanakn Pemerintahan.selaku Pasirah Kepala Marga.

Sebagai contoh umpamanya: Pangeran Ringgau Gelar Pangeran Batin Pasirah Purba Jaya yang menjadi Sai Batin Paksi sekali gus sebagai Pasirah Marga Buay Kenyangan sejak Tanggal 1 juli 1852, mendapat Anugerah Sandang Mardaheka dari Gubernur General Hindia Belanda karena Jasanya menaklukkan Rejang Lebong dan Pasemah Lebar.
Beliau di Anugerahi : tongkat berhulu emas belambangkan Crown (mahkota), Pedang Pangeran juga bertatahkan mahkota, Bintang Jasa dan Selempang Sandang Mardaheka.

Disamping itu Pemerintah Hindia Belanda menganugerahkan gelar Pangeran kepada seluruh Keturunan Lurus Beliau yang Tertua, yang dituangkan dalam selembar Besluit Resmi dan menambahkan Gelarnya : BINDUNG LANGIT ALAM BENGGALA. .

Contoh lain:
Bagaimana tujuh orang pasukan Marga Sana yang kebanyakan adalah penduduk Buay Pernong dari dusun Canggu, menghabisi mata – mata (intelejen) Sultan Palembang yang ingin menyelusup kewilayah Buay Pernong. Dengan keampuhan pedang Semillau semua Mata mata Palembang tersebut dibunuh (ditikol) mereka.

Contoh lain adalah pantun: atau cicca !

ILIK-ILIK KEMASI
IKANG-IKANG HENAYANG
NYAKKU JI NENGAH NAKHI
ALAH KENUI MELAYANG.

MENA DO NIKU NGUKKUI ,
JO KENUI DIHUKHIMU.

3. Paksi Buay Pernong Paksi Pak Sekala Brak
Marga Buay Kenyangan dan Marga Batu Brak

Pengertian :
Sekala Brak berarti Tetesan yang mulia

Batu Brak berarti Batu yang mulia

Kenyangan berarti Kahyangan (tempat para dewa)

Batu Kenyangan berarti Batu yang turun dari Kahyangan / keturunan yang berasal dari kahyangan

Ketika Pemerintah Belanda dengan Politik Devide et Emperanya membagi bagi wilayah menjadi Marga termasuk Wilayah Paksi Pak,
Pangeran Batin Sekehandak tidak bersedia menamakan Marga Batubrak (Buay Kenyangan) dengan nama yang sama dengan nama Paksi Buay Pernong, karena baik Wilayah , masyarakat, maupun pengaruh Paksi jauh lebih luas dan lebih besar dari marga.
Nama Buay Kenyangan maupun Batubrak diambil darI nama batu Kenyangan yang sampai sekarang masih terdapat di Hanibung, yang merupakan pusat Paksi Buay Pernong dahulu kala.

Seorang Sai Batin mempunyai Kedudukan yang berbeda dengan Pasirah. Pasirah adalah struktur dalam pemerintahan sedangkan Sai Batin adalah aristokrat (bangsawan) pemegang kerajaan / adat beserta rakyat yang dimiliki dan diwariskan turun temurun.

4. KEDUDUKAN SAI BATIN

Sai Batin : keturunan lurus yang tidak terputus , tertua dari garis ratu.
(Bila tidak ada putera, diangkat Sai Batin puteri,diambilkan laki – laki dari luar (semanda – negakkon jurai).

Terdapat beberapa contoh yang pernah melakukan hal serupa diatas, antara lain:
HJ. Siti Fatimah Ratu Buay Pernong diambilkan suami dari Liwa bernama Merah Dani Dalom Nata Diraja, yang setelah di Buay pernong bernama H. Harmain Gelar Sultan Makmur.
Ratu Buay Bejalan Diway, Siti Asma Dewi Ratu Kemala Jagad, karena tidak mempunyai saudara laki – laki diambilkan suami dari Sukau yang bernama Nasrun Gelar Suttan Jaya Indera.
Di Paksi Buay Nyerupa pernah tidak ada anak laki – laki , di jaman Siti Rofi’ah diambilkan suami bernama Merah Hadis dari Liwa dan sekarang keturunannya meneruskan garis Paksi Buay Nyerupa saat ini yaitu : Salman Parsyi Gelar Sultan Jaya Ningrat.
Sai Batin adalah pemegang dan pemilik :
Adat beserta masyarakat adatnya
Wilayah dan hak wilayatnya
Alat serta perangkat kebesarannya

http://buaypernong.com/sejarah.htm

Gambaran Umum Konplik Tenurial di Marga Suku Tengah Kepungut

February 22, 2008

Gambaran Umum Konplik Tenurial di Marga Suku Tengah Kepungut
Ditulis pada 23 Nopember, 2007 oleh Akar

Secara umum komunitas adat Suku Tengah Kepungut adalah kesatuan komunitas geneologis yang dibentuk dengan sistem kelembagaan adat Marga yang berkedudukan di Dusun Lubuk Mumpo dan dikepalai oleh Pesirah, Marga ini merupakan sistem Pemerintahan Keresidenan Palembang yang mula-mula memasukkan pengertian Marga itu ke Residenan Bengkulu adalah Assisten-residen Belanda J. Walan (1861-1865 yang dipindahkan dari Pelembang ke Bengkulu, sistem kelembagaan Marga ini memakai tata aturan yang mengacu pada Undang-Undang Simbur Cahaya ciptaan Van Bossche di tahun 1854.[1]

Ketika sistem Kelembagaan Marga ini masih hidup dalam proses pengelolaan kawasan adat hanya memperhatikan kepentingan bersama dan belum mengutamakan kepentingan perseorangan, tanah dan dusun sebagai puak yang hidup bersama dan mempunyai ikatan yang erat satu sama lain, sehingga dari tanah itulah para anggota komunitasnya memperoleh makanan untuk hidup. Lingkungan tanah Marga ini disebut luak langgam yang berarti batas kekuasaan atau dengan kata lain adalah lingkungan tanah bersama antara dusun-dusun yang ada di dalam Marga. Tanah Imbo atau Hutan di dalam lauk langgam itu dipunyai bersama oleh anggota-anggota Marga yang besangkutan, kepunyaan bersama ini membawa kekuasaan bersama dan kekuasaan itu adalah hak sehingga kepunyaan bersama berarti hak bersama dan hak itu tidak dapat dibagi-bagi.[2]

Konplik ini kemudian muncul ketika Pemerintahan Republik Indonesia membuat kebijakan sentralistik dengan memberlakukan UU No 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa sehingga berdampak pada hak akses dan kontrol terhadap tenurial geneogis Masyarakat Adat Suku Tengak Kepungut. Dari kebijakan penghancuran secara struktural ini terjadi beberapa kejadian-kejadian penting sebagai bagaian dari persoalan yang sekarang masih berlangsung kejadian tersebut antara lain:
No Tahun Kejadian
1 Pra 1970 Wilayah yang disengketakan ini adalah milik masyarakat à ini dibuktikan dengan Surat Keterangan Penyerahan Tanah dari Pembarap Marga Suku Tengah Kepungut Lubuk Mumpo (Pengalihan hak milik atas tanah yang di ketahui oleh Pengurus Adat dari Dari Abdul Hadi ke Medorim)
2 1983 Pemerintahan Marga dalam lingkup Propinsi Bengkulu di bekukan sehinga Wilayah Adat/Marga menjadi wilayah tak bertuan
3 1984 Pengukuhan Tata Guna Hutan Kesepakatan oleh Gubernur Suprapto yang bertujuan untuk membuat perkebunan sawit skala besar di wilayah yang telaha di sepakati
4 1988 Terbitnya HGU No 3/HGU/88 Tanggal 12 Januari 1988 seluas 6.925 di Kota Padang Rejang Lebong untuk PT Bumi Mega Sentosa (BMS)
Terdapat 5.125 Ha yang tidak di urus oleh Pemilik HGU baik dalam pengelolaan lahan maupun dalam bentuk ganti rugi (Selisih ini diambil dari luas HGU versi Izin HGU No 3/HGU/88 Tanggal 12 Januari 1988 dikurang dengan bukti masyarakat yang dapat ganti rugià Data lengkap ada di WAGUB Rejang Lebong)
Lahan yang telah diganti rugi seluas 1.800 Ha
Lokasi BMS masuk dalam HL kemudian lahan yang masuk Hutan Lindung kemudian dialihkan ke lahan masyarakat
5 1993 Perkebunan ini menjadi terbengkalai kemudian masyarakat melakukan aktivitas perkebunan rakyat dengan jenis tanaman Karet, Kopi dan Durian
6 2000 Gubernur Propinsi Bengkulu menerbitkan SK Gubernur No 65 Tahun 2000 tentang Pembentukan Team Pemanfaatan Lahan Eks HGU di Propinsi Bengkulu
Dipertegas oleh Keputusan Kepala BPN No 11/VIII/2000 tentang Pembatalan HGU dan Pencabutan Surat Keputusan Pemberian HGU Atas Tanah terletak di Propinsi Bengkulu
7 2001 Bupati Rejang Lebong membuat SK BUPATI No 631 Tahun 2001 tanggal 26 Desember 2001 tentang Penunjukan Pencadangan Tanah untuk Lokasi Tranmigrasi umum daerah setempat dan penduduk setempat
8 2002 SK Gubernur No 286 Tahun 2002 tentang Pengaturan, Pengusaaan dan Pengunaan Tanah terhadap Tanah bekas GHU yang terletak di Kabupaten Rejang Lebong Propinsi Bengkulu
9 2006 Pemerintahan Kabupaten Rejang Lebong menjadikan kawasan Eks HGU PT BMS seluas 300 Ha untuk di jadikan sebagai lahan Tranmigrasi sampai saat ini masih berlangsung proses Pembangunannya, 2.000 Ha akan di bagikan Kepada Masyarakat, 4.000 Ha akan di berikan Izin untuk Perkebunan Kepada PT. Silo dan seluas 3.000 Ha akan di peruntukan untuk Kawasan Hutan Lindung
10 2007 Dinas Transmigrasi akan melakukan pengusuran (land clearing) yang di beking oleh Aparat di lahan perkebunan rakyat yang akan panen pada Bulan April 2007, informasi akan dilaksanakannya pengusuran diketahui oleh Masyarakat dan selanjutnya Masyarakat melakukan pemblokiran jalan masuk wilayah yang akan di land clearing mengetahui ada pemblokiran yang dilakukan masyarakat akhirnya kegiatan land clearing tersebut di batalkan

Atau secara kronologis kasus dapat dijelaskan sebagai berikut; Sepanjang tahun 1970 lahan ini dimiliki warga dan diakui hak kepemilikan berdasarkan aturan Adat Marga (setingkat Camat). Sebagai gambaran terlihat dalam bukti transaksi jual beli lahan tahun 2970 tentang pemindahan hak atas tanah dalam lahan exs GHU BMS dari Pak Abdulhadi kepada Pak Rabani yang diketahui petugas Marga bidang pertanahan yang disebut Pembarab. Pada tahun 1987 Pemerintah memberi izin HGU Perkebunan kepada PT Bumi Maga Sentosa (BMS) dilahan yang di sengketahkan saat ini, selanjutnya pada tahun 1987 ini pula Pemda Rejang Lebong dibantu aparat keamanan membebaskan lahan Masyarakat seluas 1.840 Ha (bukan 6.226 Ha seperti dalam peta dan izin HGU yang diberikan). Menurut warga dalam proses pembebasan lahan banyak dilakukan secara paksa dan tanpa pemberitahuan kepada pemilik lahan. Seperti yang dialami oleh Bapak Ayang Warga Desa Durian Mas dimana tanahnya didata tanpa sepengetahuanya. Pembebasan lahan dilakukan hanya memberi ganti rugi Tanam Tumbuh (bukan harga tanah) senilai Rp. 10.000 s/d Rp. 25.000, tanpa ada kesepakatan harga dengan pemilik, bahkan ada dengan cara paksa dan intimidasi, pada tahaun 1988 Bapak Ruslan Warga Desa Sukamerindu dan beberapa warga yang mempertahankan hak tanahnya namun dianggap melawan hakum sehingga di tangkap, diproses, dan dipenjara selama 1 (satu) tahun kurungan. Selama tahun 1987 s/d 1993 PT.BMS mengolah perkebunan kakau seluas 1.200 Ha dan mulai tahun 1994 lahan mulai diterlantarkan menjadi belukar. Baru pada tahun 1998 sampai tahun 2002 secara bertahap warga memasuki kembali lahan eks HGU PT. BMS untuk berkebun Kopi, Karet, Durin, Petai dll hingga saat ini.

Pada tanggal 2 juni tahun 2000 HGU PT. BMS dicabut berdasarkan SK. BPN No: 11/VII/ 2000 atas usul Gubernur Propinsi Bengkulu. Pada bulan Juni 2002 Eks GHU PT. BMS diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong berdasarkan SK Gubernur Nomor 286 tahun 2002. Selama bulan Agustus–Desmber 2006 pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Rejang Lebong melakukan pembangunan bagi 150 KK transmigrasi. Pada tahun 2007 Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong akan menambah transmigrasi sebanyak 150 KK dan 250 KK.

Sengketa tanah ini muncul ketika adanya kebijakan Pemerintahan Daerah Rejang Lebong akan mengalihfungsikan sebagian lahan HGU eks Perkebunan Cokelat PT Bumi Mega Sentosa (BMS) di Desa Lubuk Mumpo Kecamatan Kota Padang dan rencana investasi baru perusahaan perkebunan sawit PT Silo dalam lahan GHU yang sama, ternyata pada areal tersebut sudah ada perkebunan rakyat (kopi, karet, durian, petai dll) yang berusia rata-rata lebih dari lima tahun. Data yang ada sekitar 414 KK atau 1.678 jiwa yang hidup dari perkebunan dalam lokasi lahan sengketa seluas 729 Ha. Selama bulan Agustus-November 2006 pihak tranmigrasi mulai melakukan pengusuran lahan dengan mengunakan alat berat/buldozer untuk lahan perumahan 150 KK tranmigrasi (dengan pembagian 75 KK Lokal dan 75 KK dari Pulau Jawa) dan badan jalan seluas 50 Ha diatas lahan perkebunan masyarakat. Menuru pengakuan warga yang berkeban dilahan tersebut, lahan mereka di Buldozer tanpa ada sosialisasi ataupun pemberitahuan terlebih dahulu. Misalnya kebun kopi dan karet Bapak Sidi warga Lubuk Mumpo seluas 2 hektar dibuldozer secara paksa, kebun kopi dan pondok Bapak Bahtar warga Desa Suka Marindu seluas 1,2 Ha dibuldozer pada malam hari dan Bapak Rozak yang juga memiliki lahan di areal tersebut berusaha menemui pegawai Kecamatan untuk menyampaikan keberatannya namun justru di paksa meninggalkan lokasi selama 3×24 jam oleh okmum pegawai Kecamatan Koto Padang (Bapak Herlantoni). Pada tanggal 2 mei Desember 2006 Bapak M. Rozak melayangkan surat Kepada Manteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, kepada Gubernur Propinsi Bengkulu, Bupati Rejang Lebong tentang keberatan warga yang lahannya sigusur menjadi lahan transmigrasi namun tidak di tanggapi. Selanjutnya atas permintaan warga yang berkebun dilahan eks BMS maka pada tanggal 10 Januari 2007 LPMAL-KALAM, AKAR, Aliansi Masyarakat Adat Lembak (AMAL) dan Persatuan Kelompok Tani Rejang Lebong (PKT-RL) mempasilitasi pertemuan korban dan calon korban (100 KK) untuk mengindentipikasi peta persoalan yang dihadapi dan merumuskan langkah-langkah tersebut. Pertemuan dilakukan dihalaman perkebunan kopi dekat pemukiman tranmigrasi yang baru dibangun oleh instansi Transmigrasi. Pada Tanggal 10 Februari 2007 telah turun kelapangan tim yang terdiri dari 2 orang petugas Kecamatan Kota Padang di bantu oleh oknum TNI 8 orang dan polisi 5 orang akan melaksanakan pengusuran lahan untuk berkebun bagi 150 KK transmigrasi yang telah di tempatkan. Namun setalah mereka milihat situasi lapangan maka pelaksanaan penggusuran dibatalkan. Pada tanggal 16 Februari 2007 Camat mengumpulkan tanda tangan mantan Kepala Desa dan 7 Kapala Desa diluar lokasi sasaran transmigrasi dalam kegiatan MUNSRENBANG Kecamatan kota Padang untuk menggalang dukungan rencana proyek transmigrasi dan perkebunan serta ada rencana penggusuran lagi 2007 seluas 50 Ha untuk pemukiman 150 KK Transmigrasi baru dalam lahan kebun seluas 600 Ha bagi 300 KK transmigrasi tersebut diatas kebun kopi, karet, petai, durian dll yang dikelolah warga saat ini klaim Pemerintah sebagai lahan HGU eks PT BMS.

Kronologis Pengusuran
Informasi penggusuran tanggal 9 Maret tahun 2007, Informasi pertama dari Sdr Rozak pada tanggal 8 Maret tahun 2007 melalui SMS kepada Saudara Nazarudin· Informasi penggusuran dikonfirmasi kepada teman-teman di KALAM Curup dan Juga kepada Teman-teman AMAL di PUT dan membenarkan bahwa pada tanggal 9 maret akan ada penggusuran terhadap lahan · Pada hari selasa tanggal 8 maret Pipin dan Zulmi dari akar berada di lokasi· Malam harinya Nazarudin dari AMA Bengkulu dan Arief dari AMAL menuju lokasi · Setelah dikonfirmasi kepada Pihak Polres Rejang Lebong tenyata pihak Polres tidak mengetahui bahwa akan ada penggusuran lahan yang di rencanakan pada tanggal 9 maret tersebut· Pada hari Rabu tanggal 9 maret tahun 2007 ternyata proses penggusuran tersebut batal dilakukan tanpa diketahui alasan pastinya.
Informasi Pelaksanaan Pengusuran Lahan Pada Tanggal 20 April 2007 dan informasi di dapat dari berbagai sumber diantaranya :
Informasi pertama diterima dari sdr. Rozak pada tangal 17 April 2007
Informasi tersbut didapat Sdr. Rozak dari Pembicaraan dan informasi yang beredar di desa Lubuk Mumpo dan pidato yang disampaikan oleh Bpk Kades Lubuk Mumpo.
Informasi kemudian dipertegas Oleh Sdr. Darlan Aswad, menyatakan bahwa 90 % pengusuran positif akan dilaksanakan pada tanggal 20 April 2007.
Pada tanggal 18 April 2007 Sdr. Nazarudin mencari kejelasan informasi kepada sdr Dodi (Direktur Kalam), dari informasi yang disampaikan oleh sdr. Dodi bahwa tidak ada agenda Pengusuran lahan tersebut.
Pada Tanggal 19 April 2007 sdr. Nazarudin kembali menanyakan dengan saudara Darlan Aswad melalui via Telepon tentang perkembangan informasi akan dilaksanakan penggusuran pada tanggal 20 April 2007, informasi yang didapat sdr. Darlan Aswad bahwa dalam pernyataannya adalah tidak ada tanda-tanda akan diadakan pengusuran pada tanggal 20 April 2007.
Pada tanggal 19 April 2007 Sdr Nazarudin kembali menkroscek informasi penggusuran kepada sdr. Dodi dan beliau menanggapi bahwa tetap tidak ada pengusuran.
Pada tanggal 19 April 2007 sdr Arif Candra mencari informasi kepada Petugas Dari Koramil yaitu Sdr. Hasan dan beliau juga memberikan informasi bahwa tidak ada informasi pengusuran

Hari Sabtu tanggal 23 Juni 2007Pada hari Sabtu, tanggal 23 Juni 2007 jam 09.00 wib. Mendapat undangan via sms dari Ketua Forum Perjuangan Masyarakat Lembak (FPML) isinya” undangan tertulisny menyusul,yang ditujukan kepada NGOs diantaranya, KALAM, AKAR Foudation, AMAL, AMA-Bengkulu, ED WALHI Bengkulu, yang isinya untuk menghadiri acara penyegaran dan persiapan Demontrasi yang direncanakan tanggal 24 Juni tahun 2007. acara direncanakan berlangsung di Lokasi Transmigrasi Desa Lubuk Mumpu Kecamatan Kota Padang.

Pada hari Kamis, tanggal 28 Juni 2007Melalui ketua FPML memberikan informasi kepada teman-teman LSM via sms bahwa yang isinya, ”info terbaru dari wartawan, alat-alat berat akan masuk ke lokasi penggusuran tanggal 15 Agustus tahun 2007 untuk melakukan penggusuran lahan trans tahap lanjutan, kabarnya tender telah dimenangkan oleh kontraktor pelaksananya SUEZ. (Info dari MURA).

Pada hari Senin tanggal 23 Juli 2007 Mang Rozak Mendapat SMS dari KORAMIL Kota Padang, yang disebarkan Ketau FPML kepada Teman-teman LSM yang isinya adalah ” Assalammualaikum, pak, tlg perjuangkan, nasib 150 KK Warga UPT SP-4 Lb. Mumpo. Yg hingga saat ini blum dgt lahan pertanian 1 dan 2 sedangkan warga yg garap Lahan Ex BMS, Yg layak masuk Tran kita perjuangkan masuk tahap 2,3,4 dst yang mampu harus rela kembalikan ke PEM/Trans dmikian harapan kita, trims. · Pada tanggal 1 Agustus, info dari lapangan dari Bur selaku anggota FML via SMS yang isinya ” Camane doser sudah gusur kebun orang di trans” · Info dari Mang Rozak Via SMS yang isinya ” Setelah mendengar hasil demo Kemarin nampaknya mereka mulai surut, penggusuran tak akan berlanjut” · Keterangan dari Arpansi selaku anggota FPML, via SMS yang isinya ” Kalau ket kep din trans kemarin, yg akan di dozer itu adalah untuk rumah sekola,puskesmas&pemotongan tebing di jalan yg sudah ada. Tapi supaya lebi jelas hubungi henli.

Pada hari Sabtu 4 Agustus 2007 ada informasi dari M. Rozak via SMS yang isinya ” Fpml ditnggangi dan mintk intelijen mengusut. Ini adl pernyataan Pemerintah RL Bagai pendapat teman2”

Minggu tanggal 12 Agustus mendapat informasi Dari M. Rozak via SMS yang isinya ” Acara besok,13 agt 2007 adala :RAPAT TIM INVENTARISASI TEHNIS PENYELESAIAN PERMASALAHAN LAHAN TRANSMIGRASI. Jam 10.00.wic. Mhn dibahas oleh teman2”

Hari Minggu tanggal 26 Agustus 2007 mendapat info dari Rozak via SMS yang isinya ” Besok 27/8 rapat lagi d K KECAMTAN sdgkan rapat 23/8 gagal (Ceos ). Krn kspktn tgl 1 agust ga2l, pemerintah ingkar janji, masy marah”.

Hari Rabu tanggal 29 Agustus 2007 mendapat informasi dari Rozak yang isinya ” Tim baru berkerja 2 hr, yg ter invt 30 versil atau17% dari rekertim besok kam 30 agt 07 info pemerimtah Tim akn di bubar a setidak2nya akm d hentikn kegiatannya, alsan belum jls. Ketua FPML”

Hari Jum’at tanggal 31 Agustus M. Rozak Mengirimkan SMS dari Bapak Zulkarnain selaku kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Rejang Lebong yang isinya ” Sayapun merasa kecewa adanya suasana yg kurang kondusif dilapangan sehingga Tim terpaksa menghentikan kegiatan. Saya bertanya apa masalah yg paling mendasar sehingga FPML menolak Proyek Transmigrasi ? Mungkin Pak Rozak dapat menemukan beberapa butir jawabannya. Wassalam. ZULKARNAIN KADISBUN.”

Informasi tanggal 27 September 2007 Mendapat informasi lapangan dari M. Rozak via SMS yang isinya ” Tampaknya PEMKAB RL telah berhianat dg kesepakatan 1.08.07, dgn menurunkan alat2 brt direncanakan 3 bulldozer saat ini baru 1 unit yg tl sampai d lokasi,ini adalah cara yg tdk beradab.Lalu apalagi yg hrs kita lakukan? Masih adakah cara2 yg akan dilakukan kecuali kekerasan?

Kronologis Rencana Penggusuran tanggal 29 September 2007 Pada tanggal 28 September Mang Rozak mengirimkan sms kepada Erwin S Basrin dan Juga kepada Pipian Subirto serta teman-teman lain. Pada tanggal 29 september 2007 informasi terakhir kami dapatkan bahwa pada jam 09.00 wib anggota Brimob dari POLRES Rejang Lebong beserta Anggota TNI memback up rencana penggusuran yang direncanakan oleh pihak Pemerintah Rejang Lebong melalui Dinas Transmigrasi Rejang Lebong. Informasi dari mang Rozak bahwa tanggal 28 september sudah masuk Buldozer satu buah telah berada di lokasi penggusuran, dan pada tanggal 29 September 2007 2 (dua) buah Buldozer lagi telah berada dilakasi siap untuk melakukan penggusuran. Pada pukul 11.00 wib saya (pipin) mengkonfirmasi kepada KOMNAS HAM melalui Komisi Komisioner Pemantau dan Penyelidik di Jakarta. Dan sarannya untuk mempersiapkan surat yang ditujukan kepada KOMNAS HAM Melalui Komisi Komisioner Pemantau dan Penyelidik KOMNAS HAM. Juga menyarankan untuk membuat dokumentasi kejadian sebagai bahan untuk KOMNAS HAM melakukan Pemantauan dan Penyelidikan. Informasi dari KOMNAS HAM untuk bulan September ini pihak KOMNAS HAM belum bisa untuk terjun ke lapangan. Pada pukul 14.00 wib, Ewrin S Basrin mendapat informasi terakhir dari mang Rozak bahwa Pihak Brimob telah Mundur dari lokasi penggusuran sejauh 1 kilo meter.

Pada hari Rabu, tanggal 03 September 2007 akan terjadi penggusuran secara paksa oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Rejang Lebong Propinsi Bengkulu terhadap Lokasi EX. PT. Bumi Mega Sentosa (BMS) yang akan dijadikan lahan transmigrasi oleh Pemkab. Lokasi Penggusuran adalah di Desa Lubuk Mumpo Kecamatan Kota Padang Kabupaten Rejang Lebong. Adapun kronologis konflik adalah sebagai berikut; Lahan yang terlantar dari ex PT BMS yang HGU-nya telah dicabut, lahan tersebut dikelola oleh masyarakat yang ada di sekitar lokasi. Dan saat ini sudah menjadi lahan pertanian berupa Kebun masyarakat yang berjumlah 350 kepala keluarga yang mayoritas penggarap adalah berada dalam keadaan miskin. Kemudian Pemkab Rejang Lebong Propinsi Bengkulu memasukkan program TRANSMIGRASI di lokasi yang sudah digarap sejak lama oleh Masyarakat Adat Suku Tengah Kepungut dan sekitarnya. Selanjutnya terjadi konflik antara masyarakat penggarap dengan pihak Pemkab Rejang Lebong. kemudian beberapa kali akan dilakukan penggusuran namun tidak terjadi, adapun kronologis perjuangan masyarakat adat suku tengah kepungut dan sekitarnya yang berstatus sebagai penggarap adalah sebagai berikut;

1. Informasi penggusuran pertama terjadi pada tanggal 09 Maret tahun 07 namun gagal dilakukan tanpa kejelasan yang pasti

2. Pada tanggal 20 April 07 yang didapat dari berbagai sumber, namun gagal dilakukan

3. Pada tanggal 03 Mei 07 masyarakat yang akan menjadi korban penggusuran melakukan Audiens di Kantor Pemkab Rejang Lebong, dan berdialog dengan Bupati serta jajarannya dan disepakati bahwa akan dibentuk Tim Baru yang namanya Tim Inventarisir Lahan, dan kemudian setelah beberapa lama ditunggu ternyata tidak ada ada kemajuan berarti.

4. Tanggal 28 Juni 07 mendapat informasi kembali bahwa akan dilakukan penggusuran pada tanggal 15 Agustus 07, namun kembali gagal dilakukan.

5. Pada tanggal 01 Agustus 07 Massa melakukan Demontrasi, ke Kantor DPRD Kabupaten Rejang Lebong. Dan terjadi kesepakatan untuk membentuk Tim Baru Lahan yang Anggotanya dari berbagai pihak dan di ketuai oleh Bapak Rafles selaku Asisten II Pemkab Rejang Lebong.

6. Tanggal 23 Agustus Tim Melakukan Sosialisasi di Sekitar Lokasi yang akan dijadikan lahan transmigrasi, namun gagal

7. Pada tanggal 27 Agustus 07 Tim baru berkerja, dan tanggal 29 Agustus 07 pekerjaan di hentikan karena dari hasil kerja tim baru tercapai 17%, namun dari hasil tersebut 100% dari masyarakat menyatakan menolak untuk dijadikan lahan tersebut sebagai lahan transmigrasi.

8. Informasinya pada tanggal 30 Agustus 07 Tim Inventarisir akan dibubarkan tanpa alasan yang jelas.

9. Pada tanggal 01 Oktober 07 Anggota tim dari masyarakat mendatangi Ketua Tim untuk meminta penjelasan mengenai Status Tim, Bapak Rafles selaku Ketua Tim bahwa tim memang belum dibubarkan, bahkan Bapak Rafles meminta hasil kerja tim selama 2 hari yang telah dilakukan. Pada esok hari tanggal 03 Oktober 2007 akan dilakukan penggusuran dan hampir dipastikan akan terjadi, dan dibekingi oleh KODIM Kabupaten Rejang Lebong, dan dipihak lain masyarakat dipastikan akan melakukan perlawanan. Pada tanggal 2 Oktober 2007 Bupati Rejang Lebong melaksanakan Rapat MUSPIDA Plus yang terdiri dari Pemerintahan Kabupaten Rejang Lebong, POLRES Rejang Lebong dan KODIM Rejang Lebong. Rapat ini dipimpin oleh Bapak Suherman Bupati Rejang Lebong yang khusus membahas persoalan pengusuran Transmigrasi Lubuk Mumpo Pasca gagal melakukan pengusuran tanggal 29 September 2007. Dua orang dari AKAR (Erwin S Basrin dan Pipian Subirto) datang sendiri ke PEMKAB Rejang Lebong namun kesulitan untuk mendapatkan informasi dan hasil Rapat. Pada Pukul 20.22 WIB AKAR menerima informasi dari lapangan yang disampikan oleh Sugianto Bahanan dari KALAM dan Bunaiya Suparda (AKAR) bahwa di lokasi telah beredar informasi akan dilakukan pengusuran pada tanggal 3 Oktober 2007, Sehingga timbul ketegangan di masyarakat desa Lubuk Mumpo terutama korban proyek Tranmigrasi. Ketegangan ini masih bisa di kontrol dan masyarakat yang tergabung dalam Fron Perjuangan Masyarakat Lembak (FPML) melakukan konsolidasi akan tetap bertahan dan melawan jika terjadi pengusuran tersebut. Pada Pukul 20.27 WIB Sugianto Bahanan menyampaikan juga ada informasi akan dilakukan penangkapan terhadap M. Rozak (Ketua FPML) dan Sugianto Bahanan. Pada Pukul 20.50 WIB Pipian Subirto mendapat informasi dari Wartawan Harian Radar Pat Petulai bahwa terdapat 10 orang yang berasal dari masyarakat korban yang tergabung dalam FPML, dan beberapa orang aktivis LSM Pendamping (Erwin S Basrin, Pipian Subirto, Bunaiya Suparda, Arif Chandra, Sugianto Bahanan, Erwan) yang akan dijadikan target penangkapan. Mengsikapi informasi ini Erwin S Basrin (AKAR) mengambil inisiatif untuk menyebarkan informasi ini ke beberapa lembaga jaringan Nasional untuk perlindungan Hukum, secara Resmi AKAR Mengirim Faximil pada tanggal 3 Oktober 2007 Kepada :
KOMNAS HAM Melalui Budhy Latif Wasly Stap Komisiner yang ditujukan Kepada Ketua KOMNAS HAM perlindungan hukum yang bersipat status quo
PB AMAN Jakarta yang diterima oleh Sekjend AMAN (Abdon Nababan, Frangky dan Sulis)
Ke Sawit Watch yang diterima oleh Deputi Directur (Saudara Abed Nego Tarigan)

Pada Pukul 08.35 WIB kondisi lapangan mencekam karena akan dilakukan pengusuran dan aparat yang berjumlah 15 orang (10 orang dari KODIM dan BABINSA dan 5 orang dari POLSEK Kota Padang) dengan menodong senjata ke wajah warga secara refresif. Karena proses intimidasi kepada beberapa warga terjadi cheos berapa warga di tangkap dengan delik Senjata Tajam (Henli Rosa, Umar Dang dan Darmawan), sementara M Rozak yang menjadi target utama di ungsikan oleh warga dengan disembunyikan di bagian hutan sebelah kanan wilayah tranmigrasi yang ditemani oleh Sugianto Bahanan dan Penci dan selalu dikejar-kejar oleh tentara. Sementara di Curup di Hotel Wisata Baru pada hari yang sama AKAR melakukan konsolidasi dengan beberapa Jaringan LSM, dari pertemuan jaringan LSM ini menghasilkan kesimpulan bahwa Sdr. M. Rozak akan di bawa ke Bengkulu untuk melakukan kampanye dan mengali dukungan yang lebih luas dan mengangkat kasus ini menjadi kasus pelangaran HAM Berat. Namun terkendala M Rozak tidak bisa bebas begerak karena posisi persembunyian sudah terkepung oleh Aparat. Pada Pukul 20.45 WIB didapatkan informasi akan ada tambahan aparat untuk mem-beck up proses pengusuran dengan menambahkan 30-100 personil tambahan terdiri dari Brimob dan Tentara. Pada Pukul 20.49 WIB Erwin S Basrin mendapat telepon dari PB AMAN melalui Frangky menyatakan bahwa dia akan menjadi Pelapor utama Kasus ini ke KOMNAS HAM, dan mendesak kepada Saudara Endang sebagai anggota KOMNAS HAM untuk mengeluarkan statement menangkapi kasus pelangaran ini.

Informasi 5 Oktober 2007, Pukul 17.26Jumlah Tantara 31 Orang, 30 Brimob, Polisi 5 Orang, dan nama-nama pemilik Lahan yang telah digusur :
Sawaludin (45) : ± 1 Ha
Arsa (25) : ± 1 Ha
Pendi (38) : ± 1,5 Ha
Yan Abom (35) : ± 2 Ha
Jailani (45) : ± 1,5 Ha
Mah/Abuk (40) : ± 1,5 Ha
Man Cekong (36) : ± 1 Ha

Dalam hal ini Bapak, Arsa (25) Dipaksa untuk menandatangani untuk menyetujui lahannya digusur untuk kepentingan proyek Transmigrasi oleh Tantara pada hari Rabu tanggal 3 Oktober 2007 Pukul 17.00 WIB..
[1] Hukum Adat Rejang , Prof Dr. H Abdullah Siddik

[2] P.Wink. Recten op Groun en Water in Bengkulu di Adat Rechtbundel XXXII, (1926)

DIarsipkan di bawah: Publikasi

http://akarfoundation.wordpress.com/2007/11/23/gambaran-umum-konplik/

Penelitian Penjajagan di situs-situs megalitik di kabupaten Rejang Lebong

February 22, 2008

2 Kabupaten Rejang Lebong

2.1 Gambaran Umum Keadaan Alam

Kabupaten Rejang Lebong merupakan salah satu kabupaten yang terletak di Provinsi Bengkulu. Secara astronomis, kabupaten Rejang Lebong terletak antara 101045’ sampai 1030BT dan sekitar 2045’ sampai 3045’Lintang Selatan. Wilayah Rejang Lebong mempunyai luas 410.980 ha. Keadaan alam daerah Kabupaten Rejang Lebong terdiri dari lembah dataran tinggi Lebong dan dataran tinggi Musi dengan ketinggian antara 100 – 2000 meter di atas permukaan laut. Daerah rejang Lebong terletak di atas dataran tinggi yang mengitari Bukit Barisan, membujur dari tenggara ke baratlaut. Dataran tinggi Lebong . Pada dataran tinggi Lebong mengalir sungai Ketahun dan pada datarn tinggi Musi mengalir Sungai Musi. Tanah lembah sepanjang kedua sungai tersebut sangat subur untuk pertanian. Pada dataran dan lereng pegunungan yang berhutan rimba dihasilkan kayu, rotan, damar, dan terdapat berjenis – jenis binatang dan burung. Daerah yang menjadi sasaran penelitian adalah:

2.2 Kecamatan Kepahiang

a. Desa Batu keris

Terletak di persawahan yang dikelilingi perbukitan. Di situs mengalir Sungai Kemanis dan Sungai Langkap. Ditemukan sebuah menhir yang disebut batu keris karena bentuknya mirip hulu keris. Tonjolan puncak menhir terletak di sebelah utara. Menhir ini dibuat dari batu andesit berwarna abu-abu . Ukuran panjang 100 cm, lebar 52 cm.

b. Desa Batu Belarik

Lokasi situs berada Di tengah areal persawahan Desa Batu Belarik. Lahannya berundak. Di situs ini ditemukan “tetralit” yang membentuk formasi segi empat panjang membujur kearah barat – timur. Oleh penduduk temuan tersebut disebut Batu Belarik. Jarak antar batu di sisi utara 6 m, sisi timur 5 m, sisi selatan 5 m dan sisi barat 4,5 m. Ukuran batu-batu :

Batu 1: panjang 30 cm, lebar 51 cm, tebal 22 cm.

Batu 2: panjang 32 cm, lebar 47 cm, tebal 14 cm.

Batu 3: panjang 115 cm, lebar 42 cm, tebal 18 cm

Batu 4: panjang 17 cm, lebar 75 cm, tebal 30 cm.

2.3 Kecamatan Curup

Ditemukan batu datar yang disebut dengan Batu Panco, Batu tersebut membujur arah utara – selatan (N 300). Ukuran panjang 273 cm, lebar 155 cm, tebal 65 cm. Pada salah satu sisi terdapat dua buah batu sebagai kaki.

a. Desa Pasar Tengah, ditemukan Beliung Persegi (tanpa keterangan )

b. Desa Batu Dewa

Ditemukan 2 buah batu dakon dan satu buah lumpang batu. Oleh penduduk disebut “batu mandian dewa.”

1. Batu dakon 1

Berbentuk pipih tidak beraturan, di permukaan atas terdapat lubang batu bulat sebanyak enam buah yang membentuk formasi berpasangan, bahan batu andesit berwarna keabuan, berukuran panjang batu 70 cm, lebar 45 cm tebal 15 cm. Diameter lubang antara 9 – 11 cm, kedalaman 0,5 – 3,5 cm.

2. Batu dakon 2

Berbentuk tidak beraturan, bahan batuan dari batu andesit, di permukaan atasnya terdapat 5buah lubang bulat dengan sebaran yang tidak beraturan menurut panjang batu. Ukuran diameter lubang antara 7-12 cm, kedalaman lubang 1-4 cm, panjang batu dakon 90 cm, lebar 40 cm, tebal 15 cm.

3.Lumpang Batu

Berbentuk trapezium tidak beraturan.Ukuran panjang 45 cm, lebar 43 cm, tebal 26 cm. Permukaan atasnya terdapat lubang yang dilihat dari penampang lintangnya berbentuk hiperbola dan dari penampang bujurnya berbentuk oval mendekati empat persegi panjang. Panjang lubang 32 cm, lebar 24 cm, kedalaman tepian 13 cm.

4.Tempayan kubur

Tempayan kubur ini ditemukan oleh Bapak Saiful salah seorang warga setempat, merupakan wadah bertutup dan orientasi tepian berbentuk empat persegi panjang dengan bibir bergerigi datar. Pada permukaan gerigi terdapat hiasan motif silang yang dibuat dengan teknik gores. Tinggi tempayan 62 cm, lebar 56 cm, diameter tepian 47 cm.

http://www.balarpalembang.go.id/BPA11.htm

Asal Usul Suku Rejang dari Lampung?

February 22, 2008

Suku Lampung
Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.

Asal-usul ulun Lampung (orang Lampung atau suku Lampung) erat kaitannya dengan istilah Lampung sendiri, walaupun nama Lampung itu dipakai mungkin sekali baru dipakai lebih kemudian daripada mereka memasuki daerah Lampung.

Ada beberapa pendapat mengenai asal-usul (nama) ulun Lampung:

Pertama, dari catatan musafir Tiongkok yang pernah mengunjungi Indonesia pada abad VII, yaitu I Tsing, yang diperkuat oleh teori yang dikemukan Hilman Hadikusuma, disebutkan bahwa Lampung itu berasal dari kata To-lang-po-hwang. To berarti orang dalam bahasa Toraja, sedangkan Lang-po-hwang kepanjangan dari Lampung. Jadi, To-lang-po-hwang berarti orang Lampung.

Kedua, Dr. R. Boesma dalam bukunya, De Lampungsche Districten (1916) menyebutkan, Tuhan menurunkan orang pertama di bumi bernama Sang Dewa Sanembahan dan Widodari Simuhun. Mereka inilah yang menurunkan Si Jawa (Ratu Majapahit), Si Pasundayang (Ratu Pajajaran), dan Si Lampung (Ratu Balau). Dari kata inilah nama Lampung berasal.

Ketiga, legenda daerah Tapanuli menyeritakan, zaman dahulu meletus gunung berapi yang menimbulkan Danau Toba. Ketika gunung itu meletus, ada empat orang bersaudara berusaha menyelamatkan diri. Salah satu dari empat saudara itu bernama Ompung Silamponga, terdampar di Krui, Lampung Barat. Ompung Silamponga kemudian naik ke dataran tinggi Belalau atau Sekala Brak.

Dari atas bukit itu, terhampar pemandangan luas dan menawan hati seperti daerah yang terapung. Dengan perasaan kagum, lalu Ompung Silamponga meneriakkan kata, “Lappung” (berasal dari bahasa Tapanuli kuno yang berarti terapung atau luas).

Dari kata inilah timbul nama Lampung. Ada juga yang berpendapat nama Lampung berasal dari nama Ompung Silamponga itu.

Keempat, teori Hilman Hadikusuma yang mengutip cerita rakyat. Ulun Lampung berasal dari Sekala Brak, di kaki Gunung Pesagi, Lampung Barat. Penduduknya disebut Tumi (Buay Tumi) yang dipimpin oleh seorang wanita bernama Ratu Sekarmong. Mereka menganut kepercayaan dinamis, yang dipengaruhi ajaran Hindu Bairawa.

Buai Tumi kemudian kemudian dapat dipengaruhi empat orang pembawa Islam berasal dari Pagaruyung, Sumatera Barat yang datang ke sana. Mereka adalah Umpu Nyerupa, Umpu Lapah di Way, Umpu Pernong, dan Umpu Belunguh. Keempat umpu inilah yang merupakan cikal bakal Paksi Pak sebagaimana diungkap naskah kuno Kuntara Raja Niti. Namun dalam versi buku Kuntara Raja Niti, nama poyang itu adalah Inder Gajah, Pak Lang, Sikin, Belunguh, dan Indarwati.

Berdasarkan Kuntara Raja Niti, Hilman Hadikusuma menyusun hipotesis keturunan ulun Lampung sebagai berikut:
Inder Gajah

Gelar: Umpu Lapah di Way
Kedudukan: Puncak
Keturunan: Orang Abung

Pak Lang

Gelar: Umpu Pernong
Kedudukan: Hanibung
Keturunan: Orang Pubian

Sikin

Gelar: Umpu Nyerupa
Kedudukan: Sukau
Keturunan: Jelma Daya

Belunguh

Gelar: Umpu Belunguh
Kedudukan: Kenali
Keturunan: Peminggir

Indarwati

Gelar: Puteri Bulan
Kedudukan: Ganggiring
Keturunan: Tulangbawang

Kelima, penelitian siswa Sekolah Thawalib Padang Panjang pada tahun 1938 tentang asal-usul ulun Lampung. Dalam cerita Cindur Mato yang berhubungan juga dengan cerita rakyat di Lampung disebutkan bahwa suatu ketika Pagaruyung diserang musuh dari India. Penduduk mengalami kekalahan karena musuh telah menggunakan senjata dari besi. Sedangkan rakyat masih menggunakan alat dari nibung (ruyung).

Kemudian mereka melarikan diri. Ada yang malalui Sungai Rokan, sebagian melalui dan terdampar di hulu Sungai Ketaun di Bengkulu lalu menurunkan Suku Rejang. Yang lari ke utara menurunkan Suku Batak. Yang terdampar di Gowa, Sulawesi Selatan menurunkan Suku Bugis. Sedangkan yang terdampai di Krui, lalu menyebar di dataran tinggi Sekala Brak, Lampung Barat. Mereka inilah yang menurunkan Suku Lampung.

http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Lampung

Ragam Hias pada Umeak Jang : Kajian Bentuk dan Makna Ragam Hias Berdasarkan Latar Belakang Sosial Budaya Suku Rejang di Rejang Lebong

February 22, 2008

Gustiyan Rachmadi, NIM.27099004

Ragam Hias pada Umek Jang : Kajian Bentuk dan Makna Ragam Hias Berdasarkan Latar Belakang Sosial Budaya Suku Rejang di Rejang Lebong

Penelitian ini secara umum untuk menggali nilai-nilai tradisi rumah tradisional Rejang dengan berusaha mengungkapkan konsepsi dan nilai-nilai budaya Rejang yang ada. Secara khusus : 1. Mengungkapkan makna simbolik yang ada dalam Ragam Hias; 2. Mendeskripsikan komponen pada rumah tradisional Rejang seperti : tiang, tangga, dinding, ruang dan atap; 3. Mendeskripsikan tata cara dan upacara dalam pembuatan sebuah rumah tradisional Rejang. Data dan informasi ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan informasi budaya, seni dan teknologi guna mentransformasikan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.

Penelitian ini adalah penelitian lapangan, dilakukan pada dua lokasi penelitian yakni : Gunung alam dan Muara Aman. Teknik pengumpulan datanya dilakukan melalui studi lapangan dan studi kepustakaan. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kebudayaan, konsep kebudayaan merupakan faktor utama di dalam menempatkan permasalahan. Penelitian bersifat deskripsi dengan analisis pada pendekatan bentuk, sedangkan alat pengumpulan data dilakukan metode dokumentasi, observasi dan wawancara.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Sistem kepercayaan, sistem nilai, pengetahuan dan aturan, serta simbol yang dimiliki masyarakat Rejang mendasari konsepsi mengenai rumah tradisional, mulai dari aturan pembuatan, upacara, memilih bahan, penataan ruang sampai ke bentuk tiang; (2) Pada Ragam Hias yang menggambarkan manusia sangat erat kaitannya dengan kepercayaan suku Rejang yang percaya akan kekuatan roh nenek moyang, dan bentuk mengacu pada gaya primitif yang lebih mementingkan kepentingan sakral; (3) Ragam Hias tumbuh-tumbuhan yang terdapat pada rumah memperlihatkan adanya pengaruh budaya Minang dan tidak diterapkannya beberapa motif makhluk hidup pada rumah Muara Aman, disebabkan pengaruh konteks budaya dalam ruang waktu yang berbeda; (4) Motif pada rumah tradisional Rejang merupakan tanda yang mengandung makna simbolik dari adat istiadat Rejang.

http://www.fsrd.itb.ac.id/?page_id=102

Tentang Nama RENCONG nama lain dari KAGANGA

February 22, 2008

http://www.bahasa-malaysia-simple-fun.com/Surat_Berita_BM-rencong.html

Rencong
September 29, 2007
Wahai warga Surat Berita BM,

1. Berkenalan dengan Rencong

Rencong yang diminati ramai ialah senjata berbahaya dari Acheh. Kehebatannya bukan pada logam yang diasah tajam, tetapi reka bentuk yang terdiri daripada huruf-huruf Jawi:

“ba” pada hulu
“sin” pada bahagian bawah hulu
“mim” pada mata pisau
“lam” pada bahagian atas mata pisau
“ha” pada bahagian bawah sarung

Gabungkan “ba, sin, mim, lam, ha” jadilah “Bismillaah”…siapa berani lawan?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Let’s Get to Know Rencong

The popular rencong is that dangerous dagger from Acheh. Its strength lies not in the sharpened metal, but in the design composing of Jawi alphabets:

“ba” on the hilt
“sin” below the hilt
“mim” on the blade
“lam” on the upper part of the blade
“ha” beneathe the scabbard

Combine “ba, sin, mim, lam, ha” , you get “Bismillaah”, who can stand against the dagger of Acheh?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Gementar Wan nampak senjata tajam…Kita beralih ke Banjaran Bukit Barisan yang dingin di barat daya Sumatera, tempat tinggal kaum Rejang. Kaum ini bertutur dalam Bahasa Rejang yang dibahagikan kepada lima bahasa daerah. Sebelum kedatangan Islam, kaum Rejang menggunakan tulisan Rejang yang juga dikenali sebagai Aksara Kaganga atau—Rencong.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Wan shudders at the sight of sharp weapons…Let’s move on to the cool mountain ranges of Bukit Barisan, Southwest Sumatera where the Rejang tribe lives. The Rejang people speak Rejang language which has five dialects. Before the advent of Islam, Rejang people writes in Rejang script also known as Aksara Kaganaga or—Rencong

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sumber Indonesia menyatakan nama ka-ga-nga, ini “mengingatkan kita kepada urutan aksara di India dan terutama dalam bahasa Sansekerta.”

Pengkaji-pengkaji barat sependapat dengan sumber Indonesia yang tersebut di atas juga memaparkan tulisan Rencong sebagai salah satu” tulisan India yang diketepikan di Kepulauan Asia Tenggara”.

Menurut konsep mereka, tulisan India di Kepulauan Asia Tenggara dibahagikan kepada lima jenis:

Hanacaraka —tulisan Bali, Sunda dan Jawa. Berasal daripada tulisan Jawa lama yang seterusnya berasal daripada Palawa.

Kaganga —tulisan Sumatera selatan termasuk Kerinci, Rejang, Lampung, Lembak, Pasemah, dan Serawai.

Batak — tulisan Angkola-Mandailing, Toba, imalungun, Pakpak-Dairi, dan Karo.

Sulawesi — tulisan Makassar, Bugis, dan, menurut Kozok, Bima.

Filipina —Mangyan, Tagbanuwa, dan Tagalog

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Indonesian source comments that the term Ka-ga-nga, ” reminds us of the first three alphabets of Indic scripts especially Sanskrit.”

Western scholars agree with the Indonesian story as stated above and they portray Rencong as one of the ” Indic scripts marginalized in insular Southeast Asia.”

Their concept is that Indic scripts in insular Southeast Asia is divided into five types:

Hanacaraka —Scripts of Bali, Sunda and Java. Descended from Old Javanese which in turn evolved from Pallava.

Kaganga —Southern Sumatran scripts including Kerinci, Rejang, Lampung, Lembak, Pasemah and Serawai.

Batak — Scripts of Angkola-Mandailing, Toba, Simalungun, Pakpak-Dairi, and Karo.

Sulawesi — Scripts of Makassar, Bugis, and according to Kozok, Bima.

The Philipines —Mangyan, Tagbanuwa and Tagalog

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Mengapa tulisan Rejang dipanggil Rencong? Istilah Jawi yang merujuk kepada tulisan Rejang beragam-ragam ejaannya dalam tulisan Rumi :Runcing, Rencang, Rancang, Rincing dan Rancung. Akhirnya ejaan Rencong diterima oleh kebanyakan pengkaji.

Sekurang-kurangnya itulah cerita laman Wan yang berjudul ” Bahasa Melayu Kuno” dan Rencong ,menurut sumber Malaysia yang menerangkan tulisan Rencong sebagai “tulisan asli pribumi Asia Tenggara.”

Sungguh berlainan pendapat sumber Malaysia dan bukan Malaysia tentang Rencong!

Saya tumpukan perhatian pada Rencong sahaja. Pada tahun 1964, di kalangan masyarakat Rejang yang berjumlah 180,000 hanya beberapa ratus orang sahaja yang celik huruf asli Rencong mereka sendiri. Tidak ada usaha pendidikan terancang yang diambil untuk menggiatkan tulisan Rencong. Mungkin kerana tulisan Rencong tidak ada simbol untuk menulis diftong “ea, éa, ia, oa, ua” dan konsonan bergabung seperti “bl dan sl”, ini menyebabkan rencong tidak dapat digunakan untuk menulis Bahasa Rejang zaman kini.

Bahasa Malaysia, jika tidak ada simbol “bl” dan “sl” gantikan “blaus” dengan “baju pendek perempuan”, “slogan” dengan “cogan kata” lah. Tetapi jika tidak ada simbol “ia” dan “ua”, macam manalah kita tulis ” Beliau ialah mentua saya”?

Hakikatnya tulisan berbentuk Rencong tidak dapat bertanding dengan tulisan Jawi, tulisan Rumi dan aliran zaman. Adakah akhirnya tulisan Rencong terpaksa menggunakan rencong Acheh untuk merencong sebatang buluh, mencacakkannya ke tanah untuk mengibarkan bendera putih?

Sebaliknya masyarakat Hindu di Indonesia, Myanmar dan Kemboja masih mengekalkan tulisan India.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Why Rejang script is also called Rencong? The Jawi term which refers to the Rejang script can be spelt in various ways according to the Roman alphabets: Runcing, Rencang, Rancang, Rincing and Rancung. In the end, most scholars are in favor of Rencong.

At least that is the story in Wan’s web pages entitled ” Bahasa Melayu Kuno” and Rencong which are actually quoted from a Malaysian source which defines Rencong as “a native script of Southeast Asia”

What different stories of Rencong between Malaysian and non-Malaysian sources!

Let me zoom in on Rencong. In 1964, only a few hundred out of a total of 180, 000 in the Rejang area of Southwest Sumatera are literate in their native Rencong script. There is no systematic educational effort to revive the script. This could be due to the absence of symbols in Rencong to express diphthongs “ea, éa, ia, oa, ua” and blended consonants such as “bl dan sl”, making Rencong unsuitable to write contemporary language.

If there are no “bl” and “sl” in Bahasa Malaysia, simply replace “blaus” for ” a short feminine garment” and “slogan” for “cogan kata”. However without the symbols for “ia” and “ua”, how are we to write ” She is my mother-in-law”?

The fact is, this sharp script cannot compete with Jawi script, Romanized script and the winds of change. Will the finale be Rencong script using the dagger of Acheh to make the tip of a bamboo pole askew, stick the pole in the ground to brandish a white flag?

On the other hand, Hindu community in Indonesia, Myanmar and Cambodia are still using Indic scripts.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

2. Kamus Simpulan Bahasa

Mulai bulan ini, Wan menghidangkan laman kamus Simpulan Bahasa terjemahan Bahasa Inggeris yang menggunakan ciri pautan untuk mendapatkan maklumat tambahan. Wan berharap para Warga Surat Berita BM bersabar sehingga projek ini selesai, dan sudi memberikan tunjuk ajar untuk memperbaiki mutu rujukan ini melalui:

Borong Dalam Talian Untuk Menghubungi Wan

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

2. Malay Idiom Dictionary

Commencing this month, Wan builds an online Malay idiom dictionary translated in English, using link features to obtain extra information. I hope you can put up with me until the completion of this project, and if possible voice your opinion to improve the quality of this reference:

Contact me

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

3. Kecil tapak tangan, nyiru Wan tadahkan

…kepada Peter, pengusaha laman web http://www.pulau-pangkor.com kerana beliau telah memberikan banyak sokongan kepada http://www.bahasa-malaysia-simple-fun.com. Wan terpaksa mengharungi pelbagai rintangan apabila memulakan laman web Bahasa Malaysia ini termasuk sambutan dingin “orang sendiri”. Peter merupakan salah seorang yang memberikan galakan dari peringkat awal sehingga ke hari ini, walaupun beliau seorang rakyat asing.

…dan juga kepada sokongan warga Surat Berita BM.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

I wish to extend a big “THANKS” to

…Peter of http://www.pulau-pangkor.com for supporting http://www.bahasa-malaysia-simple-fun.com. Wan had to overcome many obstacles including unfavourable responses from “my own people” when I started this website. Peter is one of the folks who gives me encouragement from the beginning till this day even though he is an expat.

…and of course to my subscribers for your support.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.