Rejang berhubungan dengan sejaran Besemah

March 12, 2008
Sejarah Besemah PDF Print E-mail

BAB I
SEJARAH BESEMAH

1.1 Tradisi Megalitik dalam Lintasan Prasejarah

Timbulnya kebudayaan bersama-sama dengan adanya manusia pertama yang menggunakan akalnya. Sejarah kebudayaan meliputi waktu yang sama penjangnya dengan sejarah umat manusia, dari manusia yang pertama hingga waktu sekarang. Waktu yang panjang itu dalam sejarah manusia dibagi atas tiga zaman, yaitu zaman prasejarah, zaman protosejarah, dan zaman sejarah (Kherti, 1953:2).

Perkembangan budaya manusia pada masa prasejarah secara umum digambarkan berupa tahapan-tahapan yang memiliki-ciri tertentu. Budaya masyarakat prasejarah Indonesia dibagi menjadi tiga tingkatan penghidupan, yaitu pertama, masa berburu dan mengumpulkan makanan; masa bercocok tanam; dan tiga, masa kemahiran teknik (perundagian). Adanya tahapan perkembanganbudaya dengan cirri-ciri tertentu, kadangkala tidak ditemukan di semua wilayah. Beberapa wilayah di antaranya tidak memiliki temuan dari periode yang paling tua, tetapi memiliki tinggalan budaya yang lebih muda, seperti di Tanah Besemah kebudayaan prasejarah yang dilaluinya dalam bentuk kebudayaan Batu Besar (Megalitikum).

Para ahli memperkirakan budaya megalitik yang masuk .ke Indonesia melalui dua gelombang besar. Gelombang pertama, yang disebut megalitik tua, diperkirakan masuk ke Indonesia sekitar 2.500-1.500 tahun sebelum Masehi, ditandai oleh pendirian monument-monumen batu seperti menhir, Undak batu, dan patung-patung simbolis-monumental. Gelombang kedua disebut sebagai megalitik muda yang direkirakan masuk ke Indonesia sekitar awal abad pertama sebelim Masehi hingga abad-abad pertama Masehi (Sartono, 1987:224). Monumen-monumen yang mewakili kelompok tinggalan Megalitik muda antra lain berupa monument peti kubur batu, dolmen dan sarkofagus.

Bangunan megalitikum tersebut hamper diseluruh kepulauan Indonesia. Bentuk banggunan kuno ini bermacam-macam dan meskipun sebuah bentuk berdiri sendiri ataupun beberapa merupakan satu kelompok. Maksud utama dari pendirian bangunan tersebut tidak luput dari latar belakang pemujaan nenek-moyang, dan pengharapan kesejahteraan bagi yang hidup, serta kesempurnaan bagi si mati (Poesponegoro, 1982:189). Banguan yang paling tua dengan bentuk tersebut dapat diduga umurnya secara nisbi (relaif). Bentuk-bentu tempat penguburan dapat berupa dolmen, peti kubur batu, bilik batu, dan lain-lain. Di tempat kuburan-kuburan semacam itu bisanya terdapat berbagai batu besar lainya sebagai pelengkap pemujaan nenek-moyang, seperti menhir, patung nenek-moyang, batu saji, batu lumping, batu lesung, batu batu damon, tenbok batu atau jaln yang berlapis batu.

Beberapa bentuk megalitik tadi mempunyai fungsi lain, misalnya dolmen, yang memiliki variasi bentuk yang tidak berfungsi sebagai kuburan, tetapi bentuk-bentuk yang menyerupai dolmen, dibuat untuk pelinggih roh atau persajian. Dolmen berfungsi sebagai pelinggih dikalangan masyarakat megalitik yang telah maju serta digunakan sebagai tempat duduk oleh kepala suku atau raja-raja, dan dipandang sebagai tempat keramat dalam melakukan pertemuan-pertemuan maupun upacara-upacara yang berhubungan dengan pemujaan arwah leluhur. Hal ini jelas sekali memperlihatkan suatu kepercayaan bahwa yang masih hidup dapat memperoleh berkah dari hubungan magis dengan nenek moyang memalui bagunan megalitik tersebut sebagai medium (Poesponegoro, 1982:196). Sebagai contoh, limping batu (lesung batu) dan batu dakon, sering didapatkan di lading atau sawah dan di pinggir-pinggir dusun, yang penempatannya mungkin bertujuan untuk mendapatkan kekuatan magis.

1.2 Megalik Besemah

Di Sumatera, bangunan megalitik terdapat di bagian selatan pulau tersebut, yang di dataran tinggi Tanah Besemah. Daerah ini terleak di antara Buki tBarisan dan Pegunungan Gumay, di lereng Gunung Dempo (3173 m). Peninggalan situs megalitik di daerah ini pernah dilaporkan oleh Ullman tahun 1850, Tombrink tahun 1870,Engelhard tahun 1891, Krom tahun 1918, Westernenk tahun 1922, dan Hoven tahun 1927, yang hamper semuanya beranggapan bahwa bangunan-bangunan tersebut merupakan peninggalan Hindu. Pada tahun 1929, van Eerde mengunjungi tempat tersebut, ia berbeda pendapat dengan angggapan-anggapan terdahulu. Van Eerde menyatakan, bahwa peninggalan megalitik di Besemah tidak pernah dipengaruhi oleh budaya Hindu, tetapi masih termasuk dalam jangkauan masa prasejarah. Bentuk megalitik tampak nyata pada peninggalan tersebut seperti pada menhir, dolmen, dan lain-lain. Kemudian van der Hoop melakukan penelitian yang lebih mendalam selama kurang lebih 7 bulan di Tanah Besemah, ia menghasilkan Publikasi lengkap tentang megalit di daerah tersebut. Publikasi ini sampai kini masaih sangat berharga bagi penelitian situs-situs megalit di Tanah Besemah. Van Heerkeren telah membuat ikhtisar tentang penemuan-penemuan megalitik di Indonesia, termasuk di Sumatera Selatan, sedangkan Peacock mencoba membahas megalit Besemah ini dari sudut pandang sejarah dan fungsinya dalam usaha penelahan kehdupan social masa lampau.

Namun yang pasti, di Tanah Besemah, Sumatera Selatan, pernah ada budaya yang hidup dan berkembang dalam lintasan prasejarah.Hal ini terbukti dengan banyaknya peninggalan budaya megalitik yang tersebar, misalnya di dusun Tegurwangi (batu beghibu dan lain-lain), gunungmigang (batu rang, batu kitap dan lain-lain), Gunung kaye (batu bupean / kubus dan batu pidaran/dakon), simpang pelajaran (batu pidaran, dan lain-lain), situs Muarapayang (batu perahu, peti kubur batu dan lain-lain), Tanjung-aghe (batu jeme dililit ulagh, peti kubur batu dan lain-lain), Talangtinggi Gunung Dempo (peti kubur batu), Keban-agung (batu jelapang), Belumay (batu nik kuanci dan peti kubur batu), Tebingtinggi, Lubukbuntak (batu jeme) Nanding (batu gung), Geramat Mulak Ulu (batu bercoret), Semende (batu tapak puyang awak), Pagaralam-Pagargunung (batu ghuse, batu bekatak, dan lain-lain), Kuteghayewe (batu gajah, peti kubur batu, batu kursi dan lain-lain), Pulaupanggung, Impit Bukit (batu jeme ngilik anak) Pajarbulan, Tanjungsakti (batu tiang/menhir), Genungkerte, Tanjungsakti (batu kawah), Baturancing (batu kebau tanduk runcing) dan lain-lain.
Peninggalan megalitik yang terdapat di Besemah terutama berupa menhir, dolmen, peti kubur batu, lesung serta patung-patung batu yang bergaya statis dan dinamis (Kherti, 1953:30). Menhir adalah sebuah batu tegak, yang sudah atau belum dikerjakan dan diletakkan dengan sengaja di suatu tempat untuk memperingati orang yang telah mati. Benda tersebut dianggap sebagai medium penghormatan, menampung kedatangan roh sekaligus menjadi symbol dari orang-orang yang diperingati. Di Besemah ditemukan menhir berdiri tunggal atau berkelompok, membentuk formasi temugelang, persegi atau bujursangkar dan sering bersama-sama dengan bangunan lainnya, seperti dolmen, peti kubur batu atau lainnya. Di Karangdalam ditemukan menhir polos setinggi 1,6 meter, berdiri di atas undak batu. Di atas undak batu ini terdapat pula sebuah batu berlubang seperti batu lumping. Di dusun Tegurwangi, banyak ditemukan menhir polos dengan tinggi maksimal 1,5 meter di dekat dolmen, patung-patung dan peti kubur batu. Menhir yang lebih kecil setinggi 0,4 meter yang berdekatan dengan undak batu ditemukan di dusun Mingkik.

Menurut pengamatan van der Hoop, dolmen yang paling baik terdapat di Batucawang. Papan batunya berukuran 3 x 3 m dengan tebal 7 cm, terletak di atas 4 buah batu penunjang. Salah satu dolmen yang digalinya di Tegurwangi, diduga berisi tulang-tulang manusia, tetapi tulang dan benda-benda lain yang dianggap sebagai bekal kubur tidak ditemukan. Selain dolmen-dolmen, di daerah Besemah banyak ditemukan patung batu yang diduga merupakan patung manusia. Di antara dolmen-dolmen, terdapat juga dolmen yang papan batunya ditunjang oleh 6 buah batu tegak. Tradisi setempat menyatakan bahwa tempat ini merupakan pusat aktivitas upacara ritual pemujaan nenk moyang. Di daerah ini ditemukan juga dolmen bersama-sama menhir. Temuan-temuan lainnya terdapat di Pematang dan Pulaupanggung (Sekendal). Di dua tempat ini ditemukan palung batu. Daerah temuan lain adalah dusun Nanding, Tanjung-aghe, Pajarbulan (tempat ditemukannya dolmen dan menhir bersama dengan lesung batu, Gunungmigang, Tanjungsakti dan Pagardiwe (Kherti, 1953;30).

Kubur berundak adalah kuburan yang dibuat di atas sebuah bangunan berundak yang biasanya terdiri dari satu atau lebih undak-undak tanah, dengan tebing-tebing yang diperkuat dengan batu kali. Di dusun Mingkik ditemukan sebuah bangunan berundah dua, dengan tebing-tebing yang diprukuat dengan batu kali. Tinggi undak bawah 1,5 m dengan luas dataran berukuran 4 x 3,5 m. di dataran kedua didapatkan 2 buah batu tegak dengan sebuah batu kali berbentuk segi-empat. Di Karangdalam ditemukan bangunan batu berundak yang tiap datarannya dilapisi dengan papan batu dan banyak diantaranya belubang-lubang kecil. Di atas susunan batu berundak ini berdiri sebuah menhir setinggi 1,6 meter. Temuan di dusun Keban-agung yang mungkin berasal dari zaman yang lebih muda berupa sebuah kubur batu berundak dengan empat buah nisan yang diukir dengan pola daun (arabesk) dan pola burung. Nisan lainnya berbentuk manusia yang dipahat secar sederhana.

Peti kubur batu adalah kubur berupa sebuah peti yang dibentuk dari enam keping papan batu; terdiri dari dua sisi panjang, dua sisi lebar, sebuah lantai dan sebuah penutup peti. Papan-papan batu tersebut disusun secara langsung dalam lubang yang telah disiapkan terlebih dahulu. Peti kubur batu sebagian besar membujur dengan arah timur-barat. Temuan peti kubur batu yang paling penting terdapat di dusun Tegurwangi, sebuah daerah yang memang kaya dengan situs megalit seperti dolmen, menhir dan patung-patung.
Selain Van der Hoop, penelitain tentang peti kubur batu ini dilakukan juga oleh peneliti C.C. Batenberg dan C.W.p. de Bie. Van der hoop, sendiri telah meggali salah satu peti yang berada di Teguwangi, yang diagap peling besar di antara-antara peti kubur batu lainnya. Ia berhasil menemukan benda-benda yang penting yang diagaap sebagai bukti peninggal dari pendukung tradisi peti kubur batu. Pemukaan atas tutup peti kubur batu berada 25cm dibawah permukaan tanah, dan tutup peti kubur batu ini terdiri dari beberapa papan batu. Sela – sela antara batu – batu penutup dan antara penutup dengan peti tersebut disi dengan batu – batu kecil. Diantara papan – papan penutup, yang paling besar berukuran panjang 2,5m. lantai peti yang agak melambai dengan arah timur barat, terdiri dari 3 papan batu. Sisa – sisa tidak terdapat dalam peti – peti yang penuh dengan tanah dan pasir itu. Lapisan tanah selebar 20 cm dari atas peti, berisi temuan – temuan, sseperti 4 butir manik – manik merah berbentuk selindik, sebuah manik berwarna hijau transparan berbentuk heksagonal tangkup, sebuah paku emas berkepala bulat dan ujung yang tumpul, sebuah manik berwarna kuning keabu – abuan dua buah mekanik berwarna biru serta sebuah fragment perunggu selain itu masih ditemukan manik – manik dalam berbagai bentuk sebanyak 63 buah. Didalam peti kubur batu yang lainnya yang pernah dibuat oleh Batenburg, ditemukan beberapa buah manik – manik berwarna kuning dan sebuah mata tombak dari besi yang telah sangat berkarat.

Didalam peti kubur batu yang ditemukan oleh de Bie, terdapat sebuah lempengan perunggu berbentuk segiempatyang mengembung di bagian tengah. Selanjutnya de Bie menemukan peti kubur batu rangkap di tanjung-aghe yang terdiri dari dua ruang sejajar berdampingan, dipisahkan oleh dindingyang di lukis dengan warna-warna hitam, putih, merah, kuning, dan kelabu.lukisan ini menggambarkan manusia dan binatang yang distilir. Antra lain tampak gambar tangan dengan tiga jari, kepala kerbau dengan tanduknya, dan mata kerbau yang di gambarkan dengan lambang-lambangnya, mempunyai hubungan dengan konsepsi pemujaan nenek-moyang.

Temuan-temuan megalitik yang paling menarik di Tanah Besemah adalah arca-arca batu yang dinyatakan oleh von Heine Geldern bergaya “dinamis”. Arca-arca ini juga menggambarkan bentuk-bentuk binatang, seperti gajah, harimau, dan moyet. Kelihatan bentuk-bentuk arca yang membulat. Dapat ditfsirkan bahwapendukung budaya megalitik mekanikdi sini memilih bahannya sesuai dengan bentuk arca yang akan dipahat; kemudian pemahatan arca itu disesuaikan lagi dengan bentuk asli batunya. Plastisitas seni arca yang menonjol menandakan keahlian si pemahat. Sebagian besar arca-arca tersebut mewujudkan seorang lelaki bertutup kepala berbentuk topi baju, bermata bulat yang menonjol dengan dahi yang menjorong, yang semuanya memperlihatkan cirri ras Negrito. Arca-arca ini selanjutnya memakai gelang tangan dan karung, sedangkan pedang pendek yang lurus dan runcing tergantung di pinggang. Bagian kaki, dari betis sampai pergelangan kaki, tertutup oleh lilitan pembalut kaki. Kadang-kadang dipundak tampak “ponco”, yaitu selembar kaki penutup punggung, seperti yang bias dipakai oleh orang Amerika Latin.
Arca-arca ini tersebar di Kabupaten Lahat dan Kota Pagaralam, seperti Karangindah, Tinggiari Gumai, Tanjungsirih, Padang Gumay, Pagaralam, Tebatsementur (Tanjungtebat), Tanjunng Menang-Tengahpadang, Tanjungtebat, Pematang, Ayik Dingin, Tanjungberingin, Geramat Mulak Ulu, tebingtinggi-Lubukbuntak, Nanding, Batugajah (Kutaghaye Lame), Pulaupanggung (Sekendal),Gunungmigang, Tegurwangi, Airpur. Penemuan yang paling menarik adalah megalitik yang dinamakan “Batugajah”, yakni sebongka batu berbentuk bulat telur, berukuran panjang 2,17 m dan dipahat pada seluruh permukaannya. Bentuk batunya yang asli hamper tidak diubah, sedangkan pemahatan objek yang dimaksud disesuaikan dengan bentuk batunya. Namun, plastisitas pahatannya tampak indah sekali. Batu dipahat dalam wujud seekor gajah yang sedang melahirkan seekor binatang antara gajah dan babi-rusa, sedangkan pada ke dua bela sisinya dipahatkan dua orang laki-laki. Laki-laki sisi kiri gajah berjongkok sambil memegang telinga gajah, kepalanya dipalingkan ke belakang dan bertopi. Perhiasan berbentuk kalung besar yang melingkar pada lehernya,begitu pula pada betis tampak tujuh gelanng. Pada ikat pinggang yang lebar tampak pedang berhulu panjang, sedangkan sebuah nekara tergantung pada bahunya. Pada sisi lain (sisi kakan gajah)dipahatkan seorang laki-laki juga, hanya tidak memakai pedang. Pada pergelangan tangan kanan, terdapat gelang yang tebal, pada betis tampak 10 gelang kaki.

Temuan batu gajah dapat membatu usaha penentuan umur secara relative dengan gambar nekara itu sebagai petunjuk yang kuat, selain petunjuk-petunjuk lain seperti pedang yang mirip dengan belati Dong Son (Kherti, 1953:30), serta benda-benda hasil penggalian yang berupa perunggu (Besemah, gangse) dan manik-manik. Dari petunjuk-petunjuki diatas, para ahli berkesimpulan bahwa budaya megalitik di Sumatera Selatan, Khususnya di Kabupaten Lahat dan Kota Pagaralam, berlangsung pada masa perundagian; pada masa ini teknik pembuatan benda logam mulai berkembang. Sebuah nekara juga dipahatkan pada arca dari Airpuar. Arca ini melukiskan dua orang prajurit yang berhadp-hadapan, seorang memegang tali yang diikatkan pada hidung kerbau, dan orang yang satunya memegang tanduknya. Kepala serigala (anjing), tampak di bawah nekara perunggu tersebut.

Selain temuan-temuan di atas terdapat pula benda-benda migalitik berupa batu palung dan batu lesung. Batu palung adalah jambangan batu yang berbentuk panjang dengan sudut-sudut membulat. Jambangan ini fungsinya dipergunakan untuk menyimpan tulang-tulang manusia, seperti yang dilakukan di Nias. Batu-batu palung antara lain terdapat di Pajarbulan (Impit Bukit ), Gunungmigang, Tebatgunung, dusun Pagaralam, dan Pulaupanggung (Sekendal). Di beberapa tempat batu-batu palung tersebut, dibentuk seperti tubuh manusia, bahkan didekat Tebat Beluhu, sebuah palung dipahatkan bersama-sama dengan arca manusia, seolah-olah manusia tersebut memeluk palung. Arca tersebut berbentuk seperti arca-arca yang umumnya terdapat di daerah Besemah.

Batu lesung adalah sebungkah batu yang diberi lubang sebuah atau klebih, dengan diameter lubang dan dalam rata-rata 15 cm.permukaan batu yang rata dibagi dalam empat ruang oleh bingkai-bingkai. Kadang-kadang tiap ruang berlubang. Penduduk setempatmengatakan bahwa batu-batu tersebut pada zaman dahulu digunakan untuk menumbuk padi-padian. Batu lesung seperti ini ditemukan pada tempat-tempat kompleks bangunan megalitik. Di Besrmah, batu tersebut dinamakan batu lesung atau lesung batu, ditemukan antara lain di Tanjungsirih, Geramat (Mulak Ulu), Tanjung-aghe, Tebingtinggi, Lubukbuntak, Gunungmigang, danPajarbulan Impit Bukit.di luar daerah Besemah ditemukan pula peninggalan-peninggalan megalitik, yaiti di daerah Lampung, Baturaja, Muarakomering dan Pugungraharjo, antara lain berupa arca-arca nenek moyang, seperti yang ditemukan di Jawa Barat.

Selai situs-situs yang disebutkan diatas, pada tahun 1999-2002 Balai Arkeologi Palembang melakukan penelitian lanjutan di situs Muarapayang yang merupakan salah satu kompleks situs prasejarahdi Tanah Besemah. Temuan yang didapat berupa pecahan periuk, kendi tanah liat, fragmen keramik asing, tempayan kubur, kerangka manusia, alat-alat batu, bagunan megalitik, benteng tanah, makam puyang, dan sebagainya (Indriastuti, 2003:1). Situs Muarapayang sebagai salah satu situs pemukiman pra-sejarah telah dikenal sejak tahun 1932 oleh peneliti van der Hoop yang pernah menerbitkan buku berjudul “Megalitic Remain in South Sumatra”. dalam buku tersebut di uraikan tentang adanya penemuan sebuah dolmen di dusun Muarapayang. Informasi tentang tinggalan-tinggalan budaya dari situs Muarapayang tanpak nyata, seperti tinggalan berupa kompleks bagunan megalik, kompleks kubur tempayan, dan benteng tanah.

Kelanjutan tradisi megalitik pada umumnya masih ditempat-tempat lainnya di Indonesia yang berkembang dalam corak-corak local dan kondisi masa sekarang. Di Tanah Besemah yang telah beragama islam dan telah bayak menerima pengaruh budaya dari luar, agak sulit untuk menentukan kebiasaan-kebiasaan yang berasal dari zaman megalitik. Tetapi kadang-kadang nuasa tradisi prasejarah ini masih tampak nyata di tempat yang masih kuat tradisinya masih melekat beberapa aspek kehidupan.

1.3 Lukisan Purba di Besemah

Dalam bidang seni, tradisi megalitik di Besemah telah mengenal seni lukis yang berkualitas tinggi, baik dari segi bentuk maupun dari tata warna. Gaya naturalis serta gaya-gaya stilir telah muncul pada berbagai dinding kubur batunya yang dapat dilihat di situs megalitik Tanjung-aghe, megalitik Tegurwangi, dan megalitik Kutaghaye Lembak. Lukisan purba di dusun Tanjung-aghe ditemukan pertama kali oleh Van der Hoop (Hoop, 1932), sedangkan yang di dusun Tegurwangi dan dusun Kuteghaye Lembak ditemukan oleh penduduk sekitar tahun 1987. lukisan-lukisan tersebut mempunyai perpaduan warna yang menunjukkan bukti bahwa pembuatnya sudah mempunyai teknik yang berkualitas tinggi dalam penguasaan tata warna.

Menurut hasil analisis bentuk yang dilakukan Hoop, lukisan dari kubur batu Tanjung-aghe menggambarkan seorang manusia yang mengendarai seekor kerbau yang mengacu pada bentuk antropomorpik (bentuk manusia) dan bentuk fauna baik jenis kerbau maupun kera. Pada lukisan dari kubur batu Tegurwangi dan Kuteghaye Lembak, juga memiliki kualitas tinggi baik dipandang dari sudut estetika maupun symbol yang melatarbelakanginya. Tampaknya lukisan tersebut merupakan suatu pesan dari pelukisnya dalam bentuk symbol yang mengacu pada perilaku dan kehidupan religius masa itu. Analisis laboratories yang dilakukan oleh Samidi, dari Direktorat perlindungan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala, berhasil mengungkapkan tentang bahan-bahan yang digunakan memakai warna hitam, merah, putih dan kuning. Warna merah dalam pada masa prasejarah telah menduduki tempat yang sangat penting. Warna merah telah banyak digunakan dalam upacara-upacara prosesi penguburan. Pada berbagai kubur dari masa prasejarah dalam gua maupun yang ditemukan di kyokkenmodinger (sampah kerang) sering dijumpai adapt menabur dengan warna merah. Tampaknya penggunaan warna cat dalam llukisan purba telah memiliki suatu makna dan kaidah yang sudah menjadi kesepakatan. Dalam berbagai pola luas pada masa purba atau sampai pada masa kini pun warna-warna tersebut masih tetap mempunyai arti tersendiri.

Objek-objek lukisan purba di Besemah di atas adalah manusia, fauna, flora, benda buatan manusia dan alam. Lukisan manusia digambarkan dengan susunan anatomi yang lengkap terdiri dari kepala, leher, badan, kaki dan berbagai anggota badan, seperti hidung, mata, mulut dan lain-lain secara lengkap. Walaupun demikian penggambaran tokoh manusia dibuat dalam proporsi yang tidak sebenarnya, antara lain posisi kepala terlalu e depan, sehingga objek lukisan seolah-olah bongkok. Demikian pula kadang-kadang badan terlalu gemuk dan leher pendek, penggambaran kaki seorang tokoh biasanya lebih pendek dibandingkan dengan anggota badan lainnya. Tokoh manusia banyak yang menunjukkan bentuk fisik seperti fisik orang Negro. Di dalam kkubur batu di dusun Tegurwangi, tokoh manusia ada yang digambarkan seperti seorang wanita dengan payudara yang besar. Tampaknya dalam bidang seni ada kesejajaran dalam tingkat keahlian antara seni lukis dan seni pahat. Hal ini tampak dari hasil pahatan dalam bentuk arca maupun dalam bentuk lukisan yang menghasilkan bentuk dan proporsi manusia yang hamper sama. Dalam seni lukis tokoh manusia juga di gambarkan dengan posisi bongkok dan dengan bibir lebar yang tebal.

Lukisan dalam bentuk binatang (fauna) terdiri dari binatang liar dan binatang-binatang yang telah dibudidayakan. Binatang liar, antara lain, adalah harimau (pengamatan Teguh Asmar), burung hantu (pengamatan Haris Sukendar), dan ular. Sedang binatang yang telah dibudidayakan, antara lain, lukisan kerbau. Lukisan binatang ini tampaknya erat sekali dengan pemahaman pendukung tradisi megalitik dengan lingkungan. Binatang yang menjadi objek lukisan terdapat di hutan belantara Besemah. Seperti juga pada tinggalan-tinggalan arca, maka lukisan purba Besemah mempunyai maksud yang hamper sama, yaitu bertujuan sebagai harapan terjadinya keakraban antara manusia dengan binatang hutan yang ganas. Kalau Hoop mendeskripsikan lukisan kerbau di dusun Tanjung-aghe menggambarkan seorang manusia mengendarai kerbau, sedangkan Teguh Asmar mendeskripsikan lukisan kerbau pada dinding pintu masuk salah satu kubur batu di Kute-ghaye. Selanjutnya, Asmar mengatakan bahwa kerbau dilukiskan kepala, leher, badan, seta kaki dengan penampilan yang tidak proporsional. Tanduknya hanya kelihatan satu, melengkung ke atas dan berwarna putih. Badannya begitu pendek diteruskan gambaran kaki kanannya yang memanjang kearah bawah, sedangkan kaki kirinya hanya tampak sampai separuh paha. Melihat bawahnya terlukis sebuah motif yang tidak jelas, karena warna lukisan banyak yang hilang. Kecuali tanduk dan selempang leher, kerbau diberi warna hitam dengan warna kontras putih (Asmar, 1990). Kemungkinan yang dikira Asmar kerbau itu adalah badak, karena “tanduk”nya satu dan melengkung ke atas dan badannya begitu pendek, serta mempunyai selempang leher.
Lukisan burung hantu merupakan lukisan yang indah di kubur batu Kute-ghaye. Walaupun indah, tetap menimbulkan perdebatan di antara arkeolog Hari Sukendar dengan Asmar. Hari Sukendar mengatakan bahwa lukisan itu menggambarkan burung hantu yang memiliki kuku panjang dan runcing, bagian muka (paruh dan mata) digambarkan secara jelas, sedangkan menurut Asmar bahwa binatang yang dimaksud adalah harimau. Tetapi menurut masyarakat setempat “burung hantu” tersebut adalah burung gerude (garuda). Selain lukisan “burung hantu” di dinding sebelah kiri, di dekat pintu masuk kubur batu adalah lukisan palak nage (kepala naga). Arca-arca dalam tradisi megalitik biasanya digunakan sebagai sarana untuk menjaga keselamatan, khususnya “keselamatan” si mati dalam mencapai dunia arwah.

Untung Sunaryo telah menemukan lukisan purba yang menggambarkan seperti serigala atau harimau dalam satu bidang dengan seorang objek lukisan manusia. Lukisan ini ditemukan tahun 1987 di kubur bilik batu Tegruwangi. Tetapi saying sekali, lukisan itu telah hilang. Dari pengamatan Haris Sukendar, lukisan fauna di megalitik Besemah dalam bentuk fisiknya dibagi menjadi dua bagian yaitu (1) Lukisan realistis, lukisan digambar sesuai dengan bentuk aslinya, seperti lukisan burung hantu, (2) Lukisan bersifat stilir, lukisan yang digambarkan dengan bentuk yang bergaya, tetapi mempunyai makna seperti objek aslinya, seperti lukisan kerbau di dusun Tanjung-aghe.

Seperti juga pada seni pahat, seni lukis kerbau ditemukan pada dinding kubur batu yang membuktikan bahwa kerbau telah dikenal dan dibudidayakan dalam tradisi megalitik di Besemah. Kerbau dalam tradisi megalitik ini menjadi binatang utama. Dalam berbagai upacara penting, kerbau selalu berperan yang digunakan sebagai binatang kurban yang disembelih baik untuk keperluan berkaitan dengan kepercayaan (belifs), yaitu sebagai kendaraan arwah ketika menuju alam arwah atau sebagai konsumsi manusia itu sendiri. Selain itu, kerbau juga merupakan symbol harkat dan martabat seseorang. Lukisan kerbau pada tradisi megalitik di Besemah menunjukkan bahwa masyarakatnya telah akrab dengan binatang ini.

Lukisan jenis flora ada yang dihubungkan dengan kesuburan atau hanya sekedar estetika. Objek lukisan flora dalam megalitik kebanyakan menggambarkan motif sulur atau jenis tanaman yang merambat (menjalar), lukisan dengan objek flora dalam kubur batu di Besemah mayoritas bermotif sulur. Bagaimana dengan pola-pola hias pada menhir di Besemah? Tampaknya masih terlalu sulit untuk mengetahui motif hias sulur dalam tradisi megalitik di Besemah sebagai estetika semata, karena belum diketahui makna religiusnya.

1.4 Megalitik Besemah dan Pengaruh Budaya Luar

Tampaknya dalam kurun waktu yang panjang ,memperlihatkan ada pekembangan kemajuan dalam tradisi megalitik. Arca megalitik besemah tampil begitu indah dan perhiasan tubuh (kalung dan gelang kaki) .arca mengalitik besemah telah mengakomodasikan segalah aspek yang bernilai tinggi yang datang dari luar . pahatan sudah menujukan keterampilan teknik yang mengandung unsur bermacan –macam budaya yang telah menyentu. Indikasi yang menujukan unsur-unsur budaya luar terletak pada berbagi bagian tubu serta pakaian dan hiasanya .Bagian bagian yang menujukan pengaruh budaya luar dapat di lihat pada bagian tutup kepala ,bentuk fiik tubuh ,perlengkap pakain ,dan pakainnya .hal ini dapat di lihat seperti pada pahatan sebagi berikut.

1.Pada seni pahat Besemah muncul gejalah pengaruh budaya Eropa (yunani) seperti dalam pahatan (goresan)di situs mengelitik Tegurwangi Lame terdapat took-toko yang di gambarkan dengan tutup kepala yang berumbai-rumbai dan hiasan dalm bentuk bulatan-bulata yang menyerupai perlengkapan pakaian seradut Romewi.
2.Pada acara –acara megalit Besemah di pulaupagung (Sekendal ),Tajungsiri, Muaradue gumay ulu ,dan lain- lain tertdapat pahatan yang menggambarkan pakaian ponco yang di gunakan oleh suku-suku bangsa di Amerika.Sementara pada bagian kaki ,ada pahatan–pahatan yang menggambarkan penutup kaki yang oleh R.P Soejono dikatakan kaos kaki
3.Arca-arca megalitik di Besemah banyak yang digambarkan mengenakan pelengkap pakaian, seperti adanya pahatan nekara perunggu, belati atau pedang. Pahatan ini menggambarkan alat-alat kelengkapan hidup yang pada awalnya dimiliki oleh orang-orang yang tinggal di daerah Dong-son, Vietnam (Soejono, 1982-1983;Gildern, 1945).
4.Teguh Asmar menyatakan adanya pengaruh luar khususnya dari segi bentuk tubuh (fisik) arca-arca megalitik yang seolah-olah menggambarkan bentuk prototif orang Negro, dengan ciri-ciri hidung pesek dan bibir tebal. Dalam temuan terakhir di situs Kute-ghaye, ada arca yang dipahatkan berambut keriting yang digambarkan dengan bentuk melingkar.
5.Sementara peneliti Ullman, Westenenk, Tombrink, dan lain-lain, cenderung mengatakan arca-arca megalitik Besemah dipengaruhi budaya India. Mereka menyatakan bahwa peninggalan itu dipengaruhi oleh budaya Hindu (Ullman 1850, Westenenk, 1921, Tombrink 1872).
6.Temuan lukisan kepala naga pada dinding kubur batu di Kute-ghaye menunjukkan pengaruh budaya Cina. Oleh van Heekeren mengatakan kubur-kubur batu yang monumental di dusun Kute-ghaye diduga berasal dari Cina.

Dari pendapat-pendapat di atas, menyatakan bahwa hasil budaya megalitik di Besemah sudah berhubungan dengan budaya luar dengan tingkat akulturasi yang sangat kompleks. Hal itu menandakan bahwa pendukung budaya megalitik Besemah sudah menguasai pengetahuan yang sangat tinggi yang dapat menyaring dan menyeleksi budaya luar yang baik dan benar.
Ciri-ciri pahatan megalitik Besemah yang menunjukkan tanda-tanda masuknya budaya luar, sudah menunjukkan pola pikir nenek moyang pada dataran tersebut begitu fleksibel. Mereka menganggap masuknya unsur-unsur asing tidak akan melenyapkan budaya terdahulu (asli), tetapi justru masuknya budaya asing dipandang sebagai unsur yang dapat memperkaya budaya sendiri. Sikap toleran ini sangat mempengaruhi hasil cipta (karya), rasa, dan karsa (budaya) nenek moyang. Hal ini dapat dibuktikan dengan tampilnya budaya material dalam bentuk megalitik yang sangat dinamis, yang berhasil menampilkan peninggalan budaya Batu Besar yang sangat unik, langka, dan penuh dengan kreasi-kreasi baru yang keluar dari lingkungan lama yang statis.
Selain ditemukan arca megalitik dinamis yang mengandung kebebasan bagi pemahatnya, ditemukan pula arca statis yang pada intinya mencerminkan budaya lama yang sulit berubah. Arca Muaradue dan Mingkik merupakan contoh situs megalitik yang masih asli belum memperoleh pengaruh-pengaruh luar yang datang kemudian. Bentuk arca Muaradue masih sederhana yang dapat dikelompokkan ke dalam jenis menhir. Arca semacam ini banyak digunakan dan berkaitan dengan penguburan. Berhubung ditancapkan ke dalam tanah, bagian bawah arca tidak diberi kaki. Arca statis yang ditemukan di dusun Mingkik ini belum diketahui untuk tanda kubur atau tidak, karena tanda-tanda ada penguburan pada lokasi berdirinya arca batu belum ditemukan.

1.5Pendukung Budaya Megalitik Besemah

Kalau berbicara mengenai kebudayaan Megalitikum di Tanah Besemah, kita masih menyisakan pertanyaan apakah benar pendukung budaya batu besar adalah nenek moyang orang besemah sekarang ini?. Atau dengan kata lain apakah ada keterkaitan dengan asal-usul orang Besemah?.
Teguh Asmar, seorang peneliti megalitik telah mencoba mengadakan penelitian terhadap pendukkung megalitik. Berdasarkan bentuk fisik arca-arca Besemah serta lukisan-lukisan pada dinding kubur batu, Asmar mengambil kesimpulan bahwa nenek-moyang pendukung megalitik Besemah adalah dari ras negroid. Alasannya didasari oleh bentuk-bentuk dan cirri-ciri fisik arca Besemah yang, antara lain, berbibir tebal dan hidung pesek. Ia mengatakan bahwa tentunya pendukung megalitik Besemah paling tidak mempunyai cirri yang menyerupai bentuk yang digambarkan pada arca megalitik maupun lukisan-lukisan pada dinding kubur batu.
Bentuk-bentuk fisik dari tokoh-tokoh yang digambarkan pada kubur batu adalah pendek dan dengan bagian tubuh yang besar kandal (tambun). Apa yang tampak pada cirri-ciri fisik arca megalitik Besemah merupakan penggambaran nyata dari bentuk fisik pendukung tradisi megalitik. Walaupun pendapat Teguh Asmar belum memperoleh pembuktian yang otentik tetapi hal ini merupakan sumbangan pemikiran yang bermanfaat dalam usaha mengungkapkan dari ras mana penduduk Besemah masa lalu. Namun menurut penulis, gambaran mengenai cirri-ciri fisik patung seperti yang digambarkan Teguh Asmar tersebut, hamper dapat dikatakan tidak sesuai dengan ciri-ciri fisik orang Besemah yang hidup sekarang ini.
Sedangkan Koentjaraningrat (1979:1-17) menyatakan dalam teori mengenai persebaran penduduk manusia prasejarh, ia tidak menyebut sedikit pun mengenai asal-usul suku Besemah, yang dibicarakan adalah orang Irian, Kalimatan, Sulawesi, Flores, dan beberapa suku lainnya.
Selanjutnya pendapat Surdjanto Puspowardoyo tentang latar belakang benda-benda peninggalan masa lalu yang menyatakan bahwa hasil budaya manusia mengandung nilai-nilai simbolik yang harus diterjemahkan dan diungkapkan peneliti secara signifikan (Kusumawati, 2003:170-171). Sebagai contoh gambar cap tangan pada dinding gua dan ceruk di Indonesia bukan hanya bertujuan untuk memperoleh nilai ektetika seni, tetapi menurut van Heekeren, menggambarkan perjalaan arwah yang meraba-raba mencari jalan yang menuju kea lam arwah. Berangkat dari pendapat ini maka dalam mengungkapkan siapa dan dari ras mana nenek-moyang pendukung megalitik Besemah harus dicari pula menurut nilai-nila simbolok di belakang cap tangan tersebut
Menariknya, kesimpulan para pakar bahwa pencipta tradisi megalitik Besemah terdiri dari dua latar belakang kebudayaan. Latar belakang budaya yang lebih awal menciptakan bentuk menhir, dolmen, serta arcatambaon primitif; dan yang berlatarbelakang kebudayan mengngelombang kedua, kemungkinan datang dari daratan Timur Asia tahun 200 sebelum masehi sampe 100 sebelum masehi (Hanafiah,2000:x).Kelompok yang terakhir ini,menurut Robert Heine-Geldern,ermasuk melahirkan budaya pahat patung khas seni Besemah dan stone cist grave (peti buku kubur).
Beberapa arca menunjukan adanya karakteristik dari kedua kelompok tersebut.kedua gaya itu dapat bertemu dan melembur di Besemah. Dapat di mengerti bahwa beberapa monument dari gaya yang lebih tua masih dapat di ciptakan pada periode yang sama pada perkembangan zaman pahat patung perunggu.Gambaran itu dapat dengan jelas pada arca batu gaja,yang dulu berada di dekat Lapangan Merdeka (Alun-alun Kota Pagaralam),tepatnya di tempat yang sekarang berdiri”Gedoeng Joeang’45” dan Masjid Taqwa Kata Pagaralam. Arca ini menampilkan gajah yang duduk,ditunggangi oleh seorang pahlawan yang digambarkan memakai kalung perunggu dengan pedang besar panjang serta gederang perunggu di punggungnya.Barang kali arca batu gajah merupakan suatu gambaran bahwa nenek-moyang orang Besemah adalah pejuang dan pahlawan.jika di kaitkan dengan kegigihan dan keberanian pejuang-pejuang Besemah pada waktu perang di Benteng penandingan,Benteng Menteralam,Benteng Tebatseghut,dan lain-lain gambaran di atas bener adanya.
Arca biasanya menggabarkan atau mengabadikan seorang tokoh yang dianggap memiliki kekuatan seorang dewa.pada candi-candi Hindu terdapat arca-arca yang mengambarkan dewa Ciwa,Brahma dan wisnu.Arca Ciwa,misalnya kadang digambarkan dengan tangan yang banyak dan dewa yang berkepala bamyak mempunyai latar belakang yang simbolek.Demilian juga pada arca-arca di Besemah memiliki makna sebagai symbol.kebiasaan pada masa prasejarah biasanya sangat mengagungkan nenek-moyangnya dan mempersentasikanya dalam bentuk arca-arca nenek moyang’sebagai usaha anak-cucunya yang ingin mengabadikan leluhurnya agar selalu dikenang.Jadi,berdasarkan pendapat diatas,dapat dikatakan bahwa kaitan pendukung migalitik di Tanah Besemah dengan nenek moyang jeme Besemah sekarang ini perlu pengkajian dan penelitian yang lebih mendalan lagi.
BAB II
SUKU BESEMAH SELAYANG PANDANG

2.1Letak Geografis dan Alam

Daerah Besemah terletak di kaki Bukit Barisan. Daerahnya meluas dari lereng-lereng Gunung Dempo ke selatan sampai ke Ulu sungai Ogan ( Kisam ), ke barat sampai Ulu alas ( Besemah Ulu Alas ), ke utara sampai ke Ulu Musi Besemah ( Ayik Keghuh ),dan ke arah timur sampai Bukit Pancing, Pada masa Lampik Empat Merdike Due, daerah Besemah sudah dibagi atas Besemah Libagh, Besemah Ulu Lintang, Besemah Ulu Manak, dan Besemah Ayik Keghuh. Meskipun nama-namanya berbeda, namun penduduknya mempuyai hubungan atau ikatan kekerabatan yang kuat ( genealogis )
Daerah Besemah merupakan dataran tinggi dan pegunungan yang bergelombang. Ketinggian wilayah sangat bervariasi, dari ketinggian sekitar 441 meter dpl ( diatas permukaan laut ) sampai dengan 3.000-an meter lebih dpl. Daerah dataran tinggi 441 meter samapi dengan 1.000 meter dpl, sedangkan daerah berbukit dan bergunung ( bagian pegunungan ) berada pada ketinggian di atas 1.000 meter hingga 3.000 meter lebih dpl. Titik tertinggi adalah 3.173 meter dpl, yaitu puncak Gunung Dempo ( Bos, 1947:35 ), yang sekaligus merupakan gunung tertinggi di Sumatera Selatan. Daerah Gunung Dempo dengan lereng-lerengnya pada sisi timur dan tenggara mencakup 58,19 % dari luas wilayah Kota Pagar Alam sekarang yang 633,66 hektar ( Bappeda, 2003 : 7-12 ).
Bukit dan gunung yang terpenting di wilayah Kota Pagar Alam, antara lain adalah Gunung Dempo ( 3.173 m), Gunung Patah, ( 2.817 m ), Bukit Raje Mendare, Bukit Candi, Bukit Ambung Beras, Bukit Tungku Tige ( Tungku Tiga ), dan Bukit Lentur. Bagian wilayah kota yang marupakan dataran tinggi, terutama bagian timur, umumnya disebut “ Tengah Padang”. Daerah pusat Kota Pagar Alam yang meliputi kecamatan Pagaralam Utara dan Kecamatan Pagaralam Selatan atau wilayah bekas Marga Sumbay Besak suku alundue terletak pada ketinggian rata-rata 600 samapai 3.173 meter dpl.
Daerah Besemah dialiri sejumlah sungai. Satu diantaranya adalah sungai Besemah ( Ayik Besemah ). Pada zaman dahulu, keadaan alamnya sangat sulit dilewati, menyebabkan daerah ini jarang didatangi oleh Sultan Palembang atau wakil-wakilnya ( raban dan jenang ). Kondisi alam yang cukup berat ini menyebabkan sulitnya pasukan Belanda melakukan ekspedisi-ekspedisi militer untuk memadamkan gerakan pelawanan orang Besemah.
Mengenai keadaan alam Besemah pada permulaan abad ke-19, menurut pendatang Belanda dari karangan van Rees tahun 1870 melukiskan.
Sampai dengan tahun 1866 ada rakyat yang mendiami perbukitan yang sulit di datangi di sebalah tenggara Bukit Barisan yang tidak pernah menundukkan kepalanya kepada tetangga walaupun sukunya lebih besar. Walau hanya terdiri dari beberapa suku saja, mereka menanamkan dirinya rakyat bebas merdeka. Dari barat daya sulit ditembus oleh orang-orang Bengkulu, dari tiga sudut lain dipagari oleh gunung-gunung yang menjulang tinggi dan ditutupi oleh hutan rimba yang lebat dan luas di daerah pedalaman Palembang .

2.2Asal-usul, Kepercayaan, dan Mata Pencarian

Sampai sekarang masih belum jelas dari mana sebenarnya asal-usul suku Besemah. Apakah teori-teori tentang perpindahan penduduk yang diikuti sekarang berlaku juga bagi suku Besemah, masih diliputi kabut rahasia. Namun yang jelas, jauh ( berabad-abad ) sebelum hadirnya mitos Atung Bungsu, di Tanah Besemah, di lereng Gunung Dempo dan daerah sekitarnya, telah ada masyarakat yang memiliki kebudayaan ( tradisi megalitik ) sebagaimana telah diuraikan pada bab terdahulu dan bukti-bukti budaya megalitik di Tanah Besemah itu sampai sekarang masih ada. Tetapi permasalahannya, apakah jeme Besemah sekarang ini adalah keturunan dari pendukung budaya megalitik tersebut ?
Menurut Ahad, juraytue puyang Kedung Gunung Samat di Rempasay bahwa sebelum kedatangan Atung Bungsu ke daerah di sekitar Gunung Dempo, telah datang bergelombang dan berturut-turut suku-suku atau bangsa-bangsa itu adalah jeme Kam-kam, jeme Nik dan jeme Nuk, jeme Ducung, jeme Aking,dan jeme Rebakau, jeme Sebakas ; jeme Rejang dan jeme Berige. Pada masa tanah di sekitar Gunung Dempo diduduki oleh jeme Rejang dan jeme Berige, datanglah Atung Bungsu.
Dari cerita orang tua (jeme- jeme tue ), secara fisik jeme Nik dan jeme Nuk memiliki badan yang tinggi besar, hidung mancung, dan kulit putih kemerahan. Jeme Ducung perawakan tubuknya kecil, pendek tetapi memiliki kelincahan. Jeme Aking juga tinggi besar, kekar, kulitnya merah keputihan, dan memiliki pendirian yang keras. Jeme Rebakau berperawakan sedang, dan jeme Sebakas postur tubuhnya seperti orang-orang Melayu sekarang. Demikian pula jeme Rejang dan jeme Berige tidak jauh beda dengan jeme Sebakas. Ahad mengatakan bahwa orang Besemah sekarang diperkirakan merupakan keturunan dari berbagai suku-suku diatas, namun keturunan yang paling dominant berasal dari puyang Atung Bungsu.
Menurut cerita rakyat di Besemah, Atung Bungsu datang ke Besemah pada saat tempat ini sudah di diami oleh suku Rejang dan Berige. Ia sampai berdialog dengan salah seorang pimpinan suku Rejang yang bernama Ratu Rambut Selaku dari Lubuk Umbay yang masing-masing merasa berhak atas Tanah Besemah. Mulai sumpah, akhirnya Ratu Rambut Selake mengakui bahwa yang lebih berhak adalah Atung Bungsu. Ucapan Atung Bungsu itu kira-kira sebagai berikut, “Jikalau bulak, jikalau buhung, tanah ini aku punye, binaselah anak cucungku”.
Sedangkan M.Zoem Derahap, yang dijuluki Pak Gasak, dusun Negeri Kaye, Tanjung Sakti, bercerita bahwa rakyat Lubuk Umbay yang dipimpin Ratu Rambut Selake setelah mengakui Tanah Besemah milik Atung Bungsu mereka lalu diberi kedudukan sebagai Sumbay dalam Jagat Besemah, tetapi tidak masuk dalam system pemerintahan Lampik Empat Merdike Due. Sumbay mereka itu dinamakan Sumbay Lubuk Umbay.
Sebagai masyarakat Besemah percaya bahwa kedatangan Atung Bungsu itu bersama Diwe Semidang (Puyang Serunting Sakti) dan Diwe Gumay. Diwe Gumay menetap di Bukit Seguntang Palembang, sedangkan Diwe Semidang pada mulanya juga tinggal di Bukit Seguntang, lalu pagi menjelajah sembilan batanghari sampai akhirnya menetap di suatu tempat yang disebut Padang Langgar (Pelangkeniday). Keturunan kesebelas dari Diwe Gumay, yaitu Puyang Panjang sebagai Juray Kebalik-an baru menetap dibagian ilir Tanah Besemah, yaitu di Balai Buntar ( Lubuksempang).
Selain cerita rakyat yang tetap hidup dan berkembang di Besemah, mengenai asal- usul suku Besemah, seorang pengelana bangsa Inggris, E.Presgrave, yang mengunjungi daerah Besemah, memberikan cerita dalam The Journal Of The Indian Archipelago (Harian dari Kumpulan India) sebagai berikut (Gramberg, 1867:351-352).
“….., sewaktu kerajaan Majapahit runtuh, seorang kakak laki-laki dan seorang adik perempuan dengan banyak pengikut, telah meninggalkan Majapahit dan mendarat di Pantai Timur Sumatera. Adik perempuannya menempatkan dirinya di Palembang, dimana ia dalam waktu singkat telah menjadi ratu yang terpandang ; kakaknya (Atung Bungsu), yang lebih jauh masuk ke pedalaman, menetapkan diri di Lembah dari Passumah yang subur. Dengan demikian tanah ini diduduki dan dihuni para pendatang ini.
Mitos atau cerita mengenai Puyang Atung Bungsu terdapat beberapa versi yang diantara lain dapat kita baca dalam “Soerat Assal Oerang Mendjadikan Djagat Passumah” dengan kode ML 608 (BR.157.VIII) dan kode ML 234 yang ada di perpustakaan Museum Nasional, Jakarta. Sumber dengan kode ML 234 ditulis oleh Muhammad Arif dari dusun Benuakeling tanggal 28 November 1898 yang disalinnya dari suatu kitab orang dusun Tanahpilih, Marga Sumbay Ulu Lurah Benuakeling, yaitu Pangeran Samadil. Sumber data ini, sebelumnya disalin kembali oleh Muhammad Tayib yang pernah magang di kantor Kontrolir dari Bandar tanggal 25 Januari 1889. Jadi, sumber ini sudah disalin beberapa kali. Sumber aslinya dalam bentuk huruf Arab Gundul (Surat Melayu) yang kemudian ditulis dalam bentuk huruf latin.
Adalagi sumber yang ditulis oleh A. Grozali Mengkerin, juga dari dusun Benuakeling yang berjudul “Benuakeling Puting Jagat Besemah”. Selanjutnya ada lagi versi lain, misalnya yang ditulis oleh Musa dari dusun Muara Siban, M.S. Panggarbesi, Abdullah (Bedul) dusun Gelungsakti, dan beberapa tulisan lainnya. Cerita tentang Puyang Atung Bungsu ini banyak dibumbui dengan cerita-cerita yang berbau mistik, irrasional dan sulit diterima oleh akal sehat. Pada umumnya cerita tentang Atung Bungsu ini terdapat persamaan, bahwa tokoh ini berasal dari Kerajaan Majapahit dan dua orang anaknya, Bujang Jawe (Bergelar Puyang Diwate) dan Riye Rekian. Atung Bungsu dan keturunannya dianggap genre yang menjadikan “Jagat Besemah”. Konon, menurut cerita, kata “Besemah” berasal dari cerita istri Atung Bungsu yang Bernama Putri Senantan Buwih (anak Ratu Benuakeling) yang ketika sedang mencuci beras di sungai, bakul berasnya dimasuki ikan semah (ML, 608:5).
Salah seorang keturunan Bujang Jawe (Puyang Diwate) bernama puyang Mandulake (Mandulike) yang berputra lima orang, yaitu (1) Puyang Sake Semenung atau Semanung (menjadikan anak keturunan Pagargunung), (2) Puyang Sake Sepadi, melalui anaknya Singe Bekkurung yang bertempat tinggal di dusun Benuakeling menjadikan Marga Tanjung Ghaye, Sumbay Ulu Lurah, Sumbay Besak, Sumbay Mangku Anum, dan Sumbay Penjalang, (3) Puyang Sake Seratus menjadikan anak keturunan Bayuran (Kisam), (4) Puyang Sake Seketi (mati bujang, tidak ada keturunan). Puyang Singe Bekurung mempunya anak Puyang Pedane. Puyang Pedane beranak Puyang Tanjung Lematang. Puyang ini kemudian beranak tiga orang, yaitu Puyang Riye Lisi, Riye Ugian, dan Riye Lasam. Puyang Riye Lisi pindah ke Kikim menjadikan anak Merge Penjalang di Besemah Libagh, dan Puyang Riye Lasam menjadikan keturunan Sumbay Ulu Lurah.
Tentang asal-usul suku Besemah, versi lalin menceritakan bahwa ada seorang “Wali Tua” dari salah satu anggota keluarga Kerajaan Majapahit berangkat ke Palembang, kemudian kawin dengan Putri (anak) Raja Iskandar yang menjadi Raja Palembang. Salah satu keturunan inilah yang bernama Atung Bungsu yang pada suatu ketika berperahu menyelusuri sungai Lematang dan akhirnya sampai di sungai yang belum diketahui namanya, tempatnya menetap dinamakan Benuakeling . Di sungai itu, Atung Bungsu melihat banyak ikan semah yang mengerumuni bekas-bekas makanan yang dibuang ke sungai. Atung Bungsu menceritakan kepada istrinya bahwa di sungai banyak ikan semah-nya. Konon katanya, nama ikan inilah yang menjadi cikal-bakal asal-usul nama “Besemah” yang artinya “sungai yang ada ikan seah-nya”. Sungai itulah yang sampai sekarang dikenal dengan nama Ayik Besemah diantara dusung Karanganyar dengan dusun Tebatgunung Baru sekarang. Jadi, ada beberapa versi cerita mengenai ikan semah sebagai asal nama Besemah, di antaranya versi Atung Bungsu dan versi Senantan Buih.

http://pagaralam.go.id/new/index.php?option=com_content&task=view&id=24&Itemid=40

Maharaja Disastra : Geliat Sastra Petinggi dan Penyair Bengkulu

March 12, 2008

Maharaja Disastra : Geliat Sastra Petinggi dan Penyair Bengkulu

<!– –>

Berita mengenai akan terbitnya antologi puisi petinggi dan penyair Bengkulu sudah jauh-jauh hari dimaklumatkan melalui surat kabar harian setempat di provinsi Bengkulu. Tentunya ini kesempatan yang langka dan saya secara pribadi ingin sekali datang ke acara tersebut. Alasannya sederhana saja, saya ingin tahu bagaimana pembacaan puisi yang kabarnya akan dibacakan oleh para pejabat penting di kota Bengkulu. Apakah mereka selayaknya penyair yang mampu menyuarakan suara hati mereka ataukah ajang ini hanya sekedar mencari popularitas belaka.

Seperti kita ketahui bahwa dengan adanya otonomi daerah , peran pimpinan di daerah menjadi lebih besar. Tentunya agar dapat terpilih lagi menjadi pimpinan mereka harus mengeluarkan berbagai macam usaha , termasuk masuk dalam ranah sastra yang notabene bukan merupakan bidang yang akrab bagi para birokrat ini.

Kesempatan menonton ini akhirnya saya dapatkan setelah salah seorang penyair (yang saya kenal dekat) yang kebetulan puisinya masuk dalam antologi meminta saya untuk menggantikan posisinya, karena beliau sedang di luar kota. Saya sendiri awalnya cukup cemas apakah nanti saya juga akan didaulat untuk membacakan puisi sehingga saya menyiapkan sedikit olah vokal. Siapa tahu benar-benar terjadi dan saya akan menjadi penyair instan dalam acara itu.

Acara peluncuran antologi ini dilaksanakan pada tanggal 2 Mei 2006, bertempat di Taman Budaya Bengkulu. Patut untuk diketahui bahwa Taman Budaya ini menjadi garda depan dalam pengembangan seni dan budaya di provinsi ini. Acara-acara seni dan budaya kerap dilakukan di salah satu gedung dalam area Taman Budaya dan termasuk acara pada malam itu.

Saya datang lebih awal setelah konfirmasi dengan pihak panitia bahwa acara akan dimulai pukul 19.30. Saat saya datang beberapa kendaraan dinas dan pribadi sudah berjejer. Rencananya launching ini akan dibuka oleh Gubernur Bengkulu, Agusrin M. Najamuddin ,dihadiri oleh Bupati dan Wakilnya serta pimpinan di beberapa instansi.

Beberapa orang yang menyambut terlihat cukup sibuk, malam ini tentu bukan malam yang biasa. Menggabungkan acara seni yang bisanya cair menjadi acara yang sedikit protokoler tentunya bukan hal yang mudah. Saya sendiri langsung mengambil posisi di kursi bagian belakan untuk memudahkan saya melihat siapa saja yang berada di bagian depan dan tipologi ruangan yang agak menanjak ke atas memberikan keleluasaan untuk menatap panggung dengan bebas.

Sedikit kronologis acara dari maharaja Disastra ini:

Acara dimulai dengan sambutan dari ketua panitia. Diberitahukan bahwa terealisasinya proyek buku ini atas kerjasama yang baik dari pejabat serta donatur yang memberikan sumbangan sebesar 22.500.000. Sambutan berikutnya diberikan oleh panitia penobatan Maharaja Disastra yang intinya menyampaikan pengharapan agar buku yang terbit ini akan berguna dalam pengembangan sastra di Bengkulu. Berakhirnya sambutan diadakan pembukaan secara resmi oleh panitia (Agus Setiyanto) dengan menarik kain yang menutupi baliho yang bergambarkan buku Maharaja Disastra. Tarian persembahan yang berasal dari pulau Enggano menjadi hidangan acara berikutnya. Setelah selesai, datang para sarjana dengan jumlah sekitar sepuluh orang yang berpakaian lengkap ala wisudawan, pemberi dentar kebesaran Maharaja Disastra diberikan kepada seseorang dari sarjana yang mengenakan sepatu kets warna hitam. Seremoni ini kabarnya meniru pola pengangkatan kepala suku Enggano. Bando Amin C. Kader yang rencananya menerima anugerah ini berhalangan hadir sehingga digantikan oleh Wakil Bupati Kepahiang, A. Basri.

Sambutan dari Agus Setiyanto selaku editor dari buku ini menambah deretan sambutan setelah penobatan Maharaja Disastra. Lelaki yang menjadi presiden Komunitas Seniman Bengkulu (KSB) sempat bernyanyi dan membacakan puisi. Lalu, A Basri selaku wakil dari Bando Amin C. Kader ikut membacakan puisi. Pembacaan doa oleh Salamun Haris, wakil Bupati Bengkulu Utara dan kemudian sekilas antologi puisi Maharaja Disastra oleh bung Mulyadi menjadi acara berikutnya. Dikatakan bahwa terdapat dua kelompok penulis dalam antologi tersebut yaitu, para pejabat dan para penyair. Ada 18 orang petinggi dengan jumlah puisi sebanyak 24 puisi, sedangkan penyair sebanyak 25 orang dengan jumlah total 41 puisi. Buku ini menyorot persoalan yang universal, mengangkat kepedulian sosial, emansipasi, kesadaran sosial dan diharapkan dapat dikonsumsi oleh masyarakat. Pembacaan puisi berlanjut kembali , tapi kali ini hanya beberapa orang saja sebelum akhirnya diturup dengan makan malam bersama dan pembagian buku.

Dari pengamatan saya yang datang sekitar 100-150 orang. Para pejabat yang datang tidak banyak dan terlebih dari jajaran PemProv bengkulu yang paling banyak hadir dari kabupaten Kepahiang dan Rejang Lebong yang diwakili oleh wakil bupati. Berita menyebutkan bahwa mereka berhalangan hadir karena sedang ke Beijing.

Acara ini bisa dikatakan cukup sukses. Penetrasi kebudayaan melalui strategi ini tentunya diharapkan tidak cuma berhenti sampai disini. Seperti yang dikatakan oleh Azrul Thaib, ketua Dewan Sastra Bengkulu , dengan peluncuran buku ini sebagai awal kebangunan para seniman, khususnya sastrawan untuk bangkit dari tidurnya. Kita sudah terlalu lama lelap dalam tidur. saatnya bangun. Kedepan bukan hanya puisi petinggi dan penyair yanga diantologikan tetapi juga cerpen dan karya sastra lainnya.

Saya sendiri sebenarnya tidak cukup puas. Malam peluncuran buku ini hanya sekedar menjadi malam ramah tamah belaka yang dipenuhi dengan muatan-muatan tertentu. Penyair-penyair yang seharusnya banyak berperan dan membaca diberi porsi yang sedikit. Padahal jika membaca puisi dalam antologi ini , puisi-puisi yang berhasil justru berasal dari para penyairnya. Sebutlah beberapa nama penyair yang ikut di dalamnyaAgus Joko Purwadi, Akbar Ikram SP, Alqobrian Syah, Amril Canrhas, Ardni, Azmaliar Zaros, Azrul Thaib, Choirul Muslim, Dali Yazid, Deasy Fathrismawary, Emong Soewandi, Harlisman fasha, Herman Suryadi, Ifnaldi Nurmal. Jayu Marsuis, Jumira Warlizasuci, Lela Fauziah, M. Arfani, Novi Ariansyah, Nurlali, Nurlisna, Oktarano Sazano, H. Sahidi Sojata, Sudjiono Martojo, Susi Rahayu, Syakirin Endar Ali dan Usman Maine.

Penyair-penyair yang disebut menjadi penting karena mereka adalah penyair yang menjadi penyambung generasi sastrawan di provinsi ini. Pejabat-pejabat yang ikut menyumbangkan puisi hanya sekedar membuat puisi karena tuntutan politis. mereka ini hanya memanfaatkan kondisi dan tahun-tahun beriktunya mungkin akan tenggelam begitu saja. Konsistensi mereka sangat dipertanyakan. hal lain yang patut disayangkan bahwa hanya satu atau dua puisi yang menggunakan bahasa Bengkulu atau menjadikan Bengkulu sebagai tema sentral dengan menggali potensi sejarah dan juga tempat-tempat di provinsi ini. Kedepannya, jika memungkinkan ada antologi khusus berbahasa daerah.

Tapi diluar itu semua, kesempatan untuk menikmati kembali teks-teks puisi dari penyair Bengkulu melalui buku ini adalah seperti oase di padang pasir yang kering. Harapan yang muncul bahwa di masa yang akan datang akan lebih banyak lagi penyair yang muncul dari provinsi yang acap disebut Bumi Rafflesia.

Akhirnya saya pulang dengan dua buku antologi Maharaja Disastra dan rasa bersemangat untuk menulis puisi. Terima kasih buat rekan penyair yang memberikan kesempatan untuk datang di acara terbuka ini. Siapa tahu saya bisa ikut menyumbang puisi di antologi serupa mendatang tanpa perlu menjadi seorang petinggi yang entah sampai kapan akan terwujud.

http://puitika.net/item/444

Aksara Nusantara

March 12, 2008

Indonesia memiliki beraneka ragam bahasa daerah, masing-masing memiliki aturan penulisan sendiri menggunakan aksara tradisionalnya yang khas. Apresiasi terhadap berbagai aksara tradisional ini masih tampak misalnya dari mata pelajaran bahasa daerah di tiap daerah. Penggunaan aksara-aksara tradisional ini di berbagai sudut kota juga merupakan bukti bahwa, walaupun aksara ini telah hampir sepenuhnya tergantikan oleh aksara latin, sebenarnya bangsa kita masih cinta dan bangga atas kekayaan negeri kita yang satu ini. Sebagai contoh, penggunaan aksara Jawa pada papan nama jalan di berbagai penjuru kota Surakarta dan Yogyakarta. Atau penerapan yang sama pada aksara Arab Melayu di kota Pekanbaru belakangan ini.

Aksara Jawa

Aksara Sunda

Berbicara tentang aksara tradisional, awal tahun 2008 ini diwarnai dengan dimulainya sebuah proyek sumber terbuka yang diberi nama Aksara Nusantara. Proyek yang dikomando oleh Pak Mohammad DAMT ini bertujuan membuat sistem yang baku untuk menciptakan, menyunting dan menampilkan dokumen elektronik berbahasa daerah di Indonesia menggunakan aksara tradisional masing-masing. Sistem penulisan dan penampilan dokumen akan mengikuti standar Unicode sehingga diterima secara universal di seluruh dunia.

Proyek ini merupakan tanggapan atas telah dicantumkannya beberapa aksara tradisional Indonesia ke dalam daftar Unicode, yaitu Aksara Bugis (Lontara) dan Bali, dan sedang diajukannya proposal pencantuman Aksara Sunda, Jawa, Batak dan Rejang.

Deskripsi Proyek

Saat ini proyek tersebut berfokus pada pembuatan fonta dan tabel SCIM (metoda input karakter standar di Linux) yang semuanya nanti akan dirilis di bawah GPL. Saat saya menulis tulisan ini, aksara Bugis telah dirampungkan oleh Pak Mohammad DAMT, sedangkan aksara Bali yang juga sudah tercantum dalam Unicode sepertinya belum ada yang mengerjakan. Untuk aksara Jawa, walaupun proposal Unicodenya belum diterima, sedang saya garap sedikit-sedikit fonta dan metoda inputnya. Dan kabar terakhir yang saya dengar di mailing list, Diki Niwatori sedang menggarap aksara Sunda.

Komputerisasi Aksara Tradisional Saat Ini

Saat ini sebenarnya komputerisasi aksara tradisional sudah dapat dilakukan. Bentuknya yang paling sering ialah pembuatan dokumen seperti laiknya dokumen dalam alfabet, namun menggunakan fonta-fonta yang mensubstitusi karakter-karakter alfabet aslinya dengan aksara tradisional tadi. Cara ini sudah cukup memadai jika tujuan akhir dari pembuatan dokumen tersebut ialah untuk pencetakan. Untuk dokumentasi dan arsip elektronik, dokumen tersebut hanya dapat disimpan dalam format rich text format ataupun jenis dokumen dengan pemformatan teks lainnya seperti format dokumen milik Microsoft Office, Open Office, dan format-format teks sejenis lainnya. Dengan kata lain, informasi aksara tersebut terletak paralel dengan aksara latin. Dan jika dokumen tersebut disimpan dengan teks murni (plain text), maka kita harus menukar fonta yang digunakan oleh program penyunting teks kita untuk beralih dari aksara latin (yang tentunya akan nampak tidak memiliki arti) ke aksara tradisional.

Unicode

Unicode ialah standar yang memungkinkan komputer secara konsisten menampilkan dan memanipulasi teks dalam berbagai sistem penulisan di dunia. Setiap glif dalam aksara yang sudah dimasukkan ke dalam daftar Unicode memiliki titik kode yang unik sehingga tidak tumpang tindih dengan karakter lainnya. Dengan kata lain, jika kita menyimpan informasi aksara tradisional sesuai dengan spesifikasi Unicode ini, informasi itu terletak seri dengan aksara latin dan dapat ditampilkan secara sekaligus dengan satu fonta.

Lembaga yang berwenang untuk mengkaji dan mengesahkan sebuah set aksara ke dalam daftar Unicode ini ialah Unicode Consortium. Unicode saat ini telah mengandung sekitar 100.000 karakter dari berbagai sistem penulisan di dunia, termasuk di antaranya dua aksara tradisional di Indonesia.

Manfaat Pencantuman Aksara Tradisional Indonesia ke Unicode serta Proyek Ini

  1. Membantu proses pendidikan
    Pihak guru dan sekolah dapat secara mudah menciptakan dokumen aksara tradisional ini untuk alat bantu belajar mengajar.
  2. Pengenalan aksara tradisional ke media yang baru–web
    Dokumen yang dibuat mengikuti standar Unicode akan diterima secara universal di seluruh dunia. Web merupakan sebuah media yang cocok untuk menjadi rumah baru bagi aksara tradisional kita jika standar ini sudah ditetapkan. Untuk melihat halaman web itu dengan benar, yang diperlukan bagi pengunjung adalah sebuah fonta yang mengandung glif dalam rentang titik yang digunakan oleh aksara tradisional Indonesia. Diharapkan setelah fonta-fonta hasil proyek ini dirilis dalam GPL, fonta ini akan disertakan dalam distribusi-distribusi sistem operasi ataupun terpisah sebagai paket tambahan. Sebagai contoh penerapannya, Wikipedia Bahasa Bugis saat ini telah menggunakan aksara lontara.
  3. Melestarikan budaya negeri moyang kita )

Usaha untuk mencantumkan aksara tradisional Indonesia ke daftar Unicode telah beberapa kali dilakukan oleh warga negara lain. Bahkan berbagai riset pun telah mereka lakukan. Paling tidak mari kita teruskan usaha ini, jangan sepenuhnya bergantung pada orang luar. Toh pada akhirnya kita yang akan memakainya. Jadi, kita sendiri yang harus memastikan bahwa penerapannya akan sesuai dengan kebutuhan kita.

English speakers please see the bottom part

Proyek ini bertujuan untuk membangkitkan kembali aksara-aksara tradisional Indonesia yang sudah masuk ke dalam standar Unicode.

Daftar aksara di Unicode 5.0.0:

  • Lontara/Bugis
  • Bali

Daftar aksara yang sedang diusulkan untuk Unicode versi berikutnya:

  • Batak
  • Hanacaraka/Jawa
  • Rejang
  • Sunda

Dalam jangka panjang proyek ini mungkin dapat mengusulkan aksara-aksara lain yang belum tercakup dalam Unicode.

Untuk bergabung silakan lihat halaman wiki dan bergabung dalam milisnya (aksara-nusantara@googlegroups.com).

This project aims to resurrect some of Indonesian traditional scripts which are already included in Unicode.

The list of scripts in Unicode 5.0.0:

  • Lontara/Buginese
  • Balinese

The list of proposed scripts in next version of Unicode:

  • Batak
  • Javanese
  • Rejang
  • Sundanese

In the long term, this project may propose some other traditional scripts which are not yet covered by Unicode.

http://hudatoriq.web.id/2008/01/15/aksara-nusantara/

Pembicaraan:Suku Rejang

March 12, 2008

Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.

Langsung ke: navigasi, cari

diskusi mengenai suku rejang akan menjadi sangat panjang dan menarik, karena ada begitu banyak hal yang belum dieksplorasi mengenai suku rejang itu sendiri.

Hal ini mungkin karena kurangnya publikasi mengenai eksistensi suku rejang tersebut, yang sangat mungkin disebabkan oleh sifat suku Rejang yang kurang adaftif terhadap perkembangan diluar lingkunganya (seperti yang telah disebutkan dalam tulisan sebelumnya.

penulis sendiri menemukan ada begitu banyak hal yang belum terungkap dipermukaan mengenai apa, seperti apa, bagaimana, dan banyak pertanyaan lainnya mengenai suku Rejang.

salah satu contohya, penulis pernah menemukan sebuah tulisan mengenai suku Rejang pada sebuah tulisan mengenai suku Batak. yaitu tulisan Siahaan BA, dalam bukunya asal-usul tanah Batak, yang secara eksplisit menyebutkan “………….kedatangan suku-suku yang mendiami pulau sumatera saat ini terjadi dalam beberapa gelombang, dimana mereka datang dari hindia belakang/austronesia, dan suku pertama yang memasuki pulau sumatera adalah suku Batak dan suku Rejang,…………….” (tulisan tersebut tidak sama persis dengan yang ada dibuku tersebut, karena penulis hanya menuliskannya berdasarkan apa yang penulis ingat, namun benang merahnya kira-kira seperti tulisan tersebut).

adalah sangat menarik sekali ketika orang luar seperti Siahaan BA, dapat menulis mengenai keberadaan suku Rejang, sementara dipihak lain ada begitu banyak putera-puteri Rejang yang mungkin tidak mengetahui mengenai hal tersebut. menurut hemat penulis, tidak mungkin kita bisa membahas mengenai eksistensi suku rejang dalm lembaran singkat in, akan sangat baik sekali bila diskusi dilakukan secara lebih mendalam.

Penulis : V.P Alexander (081381855380)

Alumnus Universitas Gadjah Mada, Program Pasca Sarjana, Konsentrasi Politik Lokal dan Otonomi Daerah. dengan Tesis Berjudul “Sistem Pemerintahan Marga Suku Rejang dan Proses Negaranisasi”.

terimakasih untuk teman-teman semua yang tertarik dengan suku rejang, saya adalah putra rejang yang berasal dari bengkulu. saya kita bukanya suku rejang tidak adaptif dengan perkembangan dari luar. bahkan melihat perkembangan yang ada, suku rejang sekarang telah terdistorsi oleh perkembangan teknologi dan budaya dari luar daerahnya. sehingga para pemuda-pemudi suku rejang sekarang ini telah kehilangan jati dirinya sebagai seorang suku rejang.

sebagai contoh adalah hampir jarang kita dapati para pemuda-pemudi suku rejang yang bisa menari tarian kejei (sebagai tarian tradisional rejang), dalam ingatan saya suku rejang mempunyai seni dalam bergitar dan sekarang hampir punah. kebudayaan asli rejang sekarang ini hampir punah, karena kehilangan generasi penerus, hal ini lebih disebabkan oleh pengaruh budaya dari luar. saya sendiri sampai saat ini, tidak tahu darimana sebenarnya suku rejang itu berasal. karena dari buku-buku yang ada tidak membahas secara mendetail dari mana suku rejan pertama kali datang. sekarang ini ada buku yang membahas masalah rejang namun berada di luar negeri (belanda dan australia) dan kami sendiri sebagai generasi penerus suku rejang, seperti kehilangan jati diri kami sebagai seorang suku rejang. tidak ada buku pedoman yang perlu kami baca sebagai pedoman hidup. adapun ajaran dan hukum adat yang berlaku hanya turun temurun dari mulut ke mulut saja.

perlu diketahui sekarang banyak putra-putri suku rejang yang sukses, di perusaahaan, pejabat pemerintah, DPR, pengamat politik, pengusaha, dll namun sedikit yang ingat dan membangun daerah untuk kemajuan suku bangsa rejang.

suatu saat nanti saya akan membukukan semua hal tentang suku rejang

karmolis merigi universitas gajah mada

Saya bukanlah putra daerah aSuku Rejang tetapi saya selama 5 tahun bertugas sebagai dokter di Kabupaten Rejang Lebong. Saya memberikan komentar mengenai Suku Rejang karena saya tertarik akan adat dan budaya suku Rejang yang menurut saya dipelihara dengan sangat baik oleh mereka. Banyak orang mengatakan suku Rejang telah banyak terdistorsi oleh pengaruh dari luar, tetapi siapa yang tidak? Seluruh penduduk di muka bumi secara beradab maupun biadab telah diperkosa oleh suatu gelombang budaya baru yang diberi kedok globalisasi yang tidak lain adalah kapitalisme dan konsumerisme. Tidak terkecuali suku Rejang juga tengah mengalami dilema dalam kehidupan modernisme yang melanda seluruh dunia. Saya pernah mengunjung sebuah desa di kabupaten Rejang Lebong yang tidak dapat ditempuh oleh kendaraan roda empat dan berjarak kurang lebih 30 km dari ibukota kabupaten. didaerah tersebut para penduduk desa rata-rata memiliki telepon seluler dan antena parabola sehingga suatu saat saya melihat mereka dedngan sangat antusias mengikuti poling pemilihan calon presiden dengan ikut mengirimkan SMS yang seharga Rp. 2000/sms dan mengirimkannya berulang ulang sampai dapat mencapai 10 sms. padahal dikala musim paceklik mereka menjadi buruh di kebun dengan upah Rp.15000 untuk merumput seharian. Tidak seluruh masyarakat suku Rejang terbelakang kini di kalangan masyarakat Rejang mereka telah mulai mengirimkan anak-anaknnya ke luar untuk melanjutkan sekolah ke jenjang Perguruan Tinggi. Dan yang tinggal mulai mengembangkan buaya mereka sendiri.

http://id.wikipedia.org/wiki/Pembicaraan:Suku_Rejang

Asal nama Empat Lawang buat kab. Pecahan Lahat

March 11, 2008

PERSOALAN nama kabupaten yang akan dibentuk ini, yakni Empat Lawang tampaknya tidak terlepas dari cerita rakyat dulu yang terus hidup sampai kini dan sejarah pemerintahan pada masa lalu. Dulu, pada saat belum ada pemerintahan secara resmi seperti saat ini, hidup empat orang pendekar sakti yang gagah berani dan memiliki daerah kekuasaan, menurut bahasa setempat untuk memangil pendekar tersebut dengan Lawang.
Empat lawang itu adalah Rio Menang yang berasal dari Desa Lubuk Puding Ulu Musi, Rio Pikuk dari Sugihwaras, Tebingtinggi, kemudian Rio Kindi dari Muaradanau, Muarapinang, dan Rio Genang dari Tanjungraya, Pendopo. Keempat Lawangan ini pada masa kekuasaannya pernah bertemu di suatu tempat.
Dari hasil pertemuan tadi, para pendekar sakti ini sepakat menjalankan tugas dan bertanggung jawab pada daerah kekuasaannya masing-masing. Selain menjaga keamanan dan mempertahankan wilayah kekuasaannya, mereka juga tidak akan saling mengganggu namun akan saling membantu jika ada musuh yang akan menyerang daerah kekuasaan mereka, termasuk jika ada yang akan mengacau.
Dengan kekuasaan dan tanggung jawab yang diemban keempat pendekar ini, rakyat pada waktu itu hidup aman dan saling membantu. Dari sinilah kawasan yang merupakan bekas kekuasaan empat lawangan ini disebut dengan Empat Lawang yang meliputi Tebingtinggi, Ulu Musi, Pendopo, dan Muarapinang.
Pada masa pemeritahan Keresidenan Palembang, dibentuk wilayah yang lebih kecil yang dinamankan afdeling. Afdeling Tebingtinggi yang meliputi onder afdeling empat lawang, onder Moesi Oeloe, onder afdeling Lebong dan onder afdeling Rejang. Dua afdeling terakhir, yakni Lebong dan Rejang pada akhirnya menjadi bagian Propinsi Bengkulu.
Selain afdeling Tebingtinggi, ada pula afdeling yang sejajar dengannya yakni afdeling Lematang Oeloe, en ilir ende Pasemah Landen yang menjadi cikal bakal terbentuknya kota Lahat. Pada akhirnya afdeling Lematang Ilir menjadi Kabupaten Muaraenim, sementara Lematang Oeloe dan dan Pasemah Lenden serta afdeling Tebingtinggi menjadi Kabupaten Lahat, meskipun pada akhirnya sebagian Pasemah Landen menjadi kota Pagaralam saat ini.

http://www.indomedia.com/sripo/2004/05/04/0405dae3.htm

Pertamina garap cadangan gas bumi di Bengkulu

March 11, 2008

BENGKULU (Antara): PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) mulai menggrap cadangan gas panas bumi di Desa Talang Sakti, Hulu Lais, Kecamatan Lebong Tengah, Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu dengan besar cadangan sekitar 650 Mega Watt Energi (MWE).

Sementara cadangan di beberapa lokasi seperti di Desa Tambang Sawah, Kecamatan Lebong Utara dan di kawasan Bukit Daun, akan menjadi target berikutnya, kata Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Lebong Darsono ATP, Jumat.

Pihak Pertamina sangat serius dan saat ini sudah melakukan sosialisasi terhadap warga sekitar lokasi tambang gas alam itu, disamping sudah mempersiapkan sarana untuk bahan operasi tahap awal yakni mengadakan eksplrasi.

Pemkab Lebong sangat mendukung langkah badan usaha milik negara itu untuk menggarap potensi panas bumi yang sangat melimpah ruah di perut bumi Kabupaten Lebong.

Bupati Lebong Drs Dalhadi Umar belum lama ini mengakui di daerahnya ditemukan potensi panas bumi dan gas alam yang bisa dimanfaatkan untuk memproduksi listrik ratusan MW.

Gas alam berenergi tinggi ditemukan di enam lokasi di daerah itu, sebagian besar berada di pinggiran sungai Ketahun atau hanya sekitar 10 Km dari kota Muara Aman, ibukota Lebong.

Dari enam lokasi itu antara lain di sekitar Desa Sukaraja, ujung Sungai Ketahun dan di Air Kopras, selain itu juga terdapat di sekitar transmigrasi Ladang Palembang dan Lebong Sulit serta di Ulu Lais.

Manajer Mutu PT PGE Wilman Napitupulu mengatakan, untuk menggarap gas panas bumi di Desa Talang Sakti Ulu Lais itu, memelukan waktu sekitar lima tahun dan menggunakan empat unit turbin dengan kapasitas masing-masing 55 MWE.

Mulai awal tahun 2008 ini pihaknya akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat setempat guna melihat dampak negatif dan positif yang dapat dijadikan acuan lokasi pengeboran.

“Kami optimis program itu akan terwujud, karena berbagai elemen masyarakat dan pemerintah sangat mendukung,” katanya.

Berdasarkan hasil survei Dinas ESDM Provinsi Bengkulu, cadangan gas alam di daerah itu ditaksir bisa menghasilkan sekitar 1.073 MWE yang terdapat di tiga lokasi, disamping cadangan gas alam berkapasitas besar.

Cadangan panas bumi sebesar itu terdapat di Tambang Sawah, Kecamatan Lebong Utara Kabupaten Lebong dengan jumlah sekitar 173 MWE, kandungan panas bumi di Padang Hulu Lais, Bengkulu Utara ada 650 MWE dan cadangan di Bukit Daun, Kabupaten Rejang Lebong sebanyak 250 MWE.

Potensi panas bumi itu merupakan hasil survei Pertamina sekitar tahun 90-an, sedangkan gas alam tersebut belum tercatat dalam peta geologi, karena baru ditemukan, katanya.

Bukit Kaba, Curup – Bengkulu

March 11, 2008

Curup, Kompas – Bukit Kaba, salah satu obyek wisata andalan Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, saat ini semakin ditinggalkan wisatawan. Buruknya jalan menuju kawah menyebabkan obyek wisata itu merana.

Kenyataan ini terekam ketika Kompas berusaha menelusuri jalan menuju kawah Bukit Kaba di Kabupaten Rejang Lebong, Jumat (21/4). Dalam perjalanan selama satu jam menggunakan kendaraan bermotor roda empat menuju lereng Bukit Kaba, hanya menemui sekitar tujuh anak muda. Mereka mengaku baru pulang mendaki Bukit Kaba.

Jalan berliku sepanjang sekitar 17 kilometer dari permukiman penduduk Desa Sumber Bening, Kecamatan Selupu Rejang, menuju lereng Bukit Kaba, hanya selebar 2,5 meter. Ruas jalan ini sebagian memang masih beraspal tipis, namun di beberapa bagian aspalnya tampak mulai hilang hanya menyisakan bebatuan.

Jalan makin terasa sangat sempit karena di kiri-kanan jalan dipenuhi belukar setinggi lebih dari dua meter. Akibatnya, kalau ada dua mobil berpapasan, salah satunya harus mencari tempat parkir yang agak lapang.

“Tidak ada mobil yang berani naik menuju lereng kawah Bukit Kaba. Karena salah sedikit, bisa-bisa terperosok ke bahu jalan yang lembek atau mobil bisa terjungkal ke sisi jalan. Selama ini kalau anak muda yang naik ke kawah, paling-paling hanya berjalan kaki atau mengendarai sepeda motor,” kata beberapa warga yang ditemui tengah mengambil pohon bambu di pinggir jalan menuju kawah Bukit Kaba.

Di sepanjang jalan yang dilewati, tidak ada tanda-tanda bekas ban mobil lewat. Bahkan mobil yang ditumpangi Kompas hari itu sempat terjebak di dua tanjakan berbatu.

“Kalau ada wisatawan yang minta diantar ke Bukit Kaba, saya menolaknya. Percuma ke sana, selain jalannya buruk berbatu-batu, di kiri-kanan jalan pun penuh belukar dan ranting yang tajam. Banyak ruginya membawa kendaraan ke sana karena badan mobil akan lecet dan gores terkena ranting tajam yang menutup badan jalan. Setahu saya, sudah hampir setahun jalan menuju Bukit Kaba tidak pernah dibenahi,” tutur Rasudin, pengemudi mobil sewaan di Kota Bengkulu.

Menurut dia, promosi tentang keindahan Bukit Kaba seperti yang sering disampaikan Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong bertolak belakang dengan kondisi jalan menuju ke sana.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Rejang Lebong, Rudi Pancawarman, beberapa waktu lalu mengatakan, salah satu penghambat perkembangan pariwisata daerah ini memang akibat tidak memadainya infrastruktur menuju obyek-obyek wisata andalan, misalnya jalan menuju Bukit Kaba tersebut. Secara bertahap kondisi itu akan dibenahi. (zul)

SEJARAH LETUSAN


1883

Pada tanggal 24 dan 25 November terjadi gempabumi kuat yang disebabkan oleh letusan Gunungapi Kaba. Salah satu danau kawahnya lenyap dan menghasilkan banjir. Kampung Talang tergenang air sedalam 21 kaki, 36 orang meninggal dunia. Jumlah korban di distrik Klingi dan Bliti berjumlah 90 orang (Sapper, 1927, p.326)

1834

November terjadi letusan yang merusak lahan di sekitar gunungapi

1845

Di bulan April, terjadi banjir lagi yang melenyapkan 150 orang meninggal dunia. Tetapi Neumann van Padang (1951) meragukan- nya sebagai suatu letusan, dan ia tidak mencantumkan ke dalam catannya sebagai satu letusan.

1853

Terjadi letusan seperti di tahun 1883, tetapi tidak dilaporkan adanya korban jiwa (Sapper, 1927, p.326).

1868. dan 1869

Mungkin terjadi letusan abu. Sejak Oktober terlihat tiang letusan,

puncak tertutup abu, banyak pepohonan hangus.

1873

Terjadi peningkatan kegiatan di kawah Vogelsang

1876

Di bulan April, di Sindang terjadi hujan abu yang berasal dari gunungapi Biring. Bukit Kaba. Kawah Vogelsang giat bekerja, 2 sampai 10 menit sekali terjadi letusan, abu, pasir, dan batu dilontarkan.

1873 dan 1892

Selama 19 tahun gunungapi giat terus menerus dan berhenti

mendadak di akhir 1892

1886

Tanggal 4 – 8 Juni jatuh hujan abu tipis di Warung Jelatang dan Pelalo. Tanggal 12 Juni terlihat bara api dan tiang asap berapi, serta aliran lava.

1887

Tanggal 3 dan 4 Februari tampak asap tebal disertai ledakan dan getaran serta hujan abu tipis. Tanggal 24 dan 24 Maret hujan abu lebih lebat hingga 28 Maret malam hari.

1888

Tanggal 27 Januari, suara gemuruh terus menerus terdengar dari bawah tanah, diiringi oleh asap yang mengepul antara Februari dan April.

1890

Tanggal 13 Mei, gunungapi sangat giat, suara gemuruh terus menerus terdengar, dan terjadi letusan di Kawah Vogelsang.

1892

Terjadi peningkatan kegiatan

1907

Terjadi letusan terus menerus yang begitu kuat di Kawah Baru

(Schuittenvoerder, 1914, p.165).

1917

Tanggal 30 Januari suara gemuruh terdengar dari bawah tanah.

1918

Tanggal 8 Agustus terjadi awan panas.

1938

Tanggal 10 November terjadi peningkatan kegiatan.

1940 dan 1941

Peningkatan kegiatan, suara gemuruh, hujan abu disertai lontaran

bahan-bahan lepas.

1951

Terbentuk sebuah kawah yang menghancurkan pematang Kawah Vogelsang bagian selatan. Bom vulkanik dan lapili dilontarkan sejauh 800 meter dari kawah.

1952

Tanggal 26 Maret pukul 10:00 terlihat tiang abu letusan dan terdengar suara gemuruh. Tanggal 2 April terjadi hujan abu di sekitar Gunungapi Kaba. Abu yang terbawa angin tersebar sampai sejauh 5 kilometer ke arah selatan. Letusan abu terjadi lagi pada tanggal 26 sampai 28 April.

2000

Sejak awal Juni terjadi peningkatan kegiatan kegempan di Gunungapi Kaba, yang dipicu oleh gempa tektonik Bengkulu berkekuatan 7.8 skala Richter pada tanggal 4 Juni disertai gempa-gempa susulannya yang dapat dirasakan di kawasan Gunungapi Kaba (Gbr. 4). Kemunculan gempa-gempa vulkanik sebelum awal Juni rata-rata 1 kali kejadian setiap harinya, namun setelah awal Juni gempa-gempa vulkanik meningkat menjadi rata-rata 15 kali kejadian setiap hari. Gangguan dari gempa tektonik Bengkulu mengganggu sistem kantung fluida di dalam tubuh Gunungapi Kaba, sekaligus mengganggu sistem rekahan yang ada, serta memicu kemunculan gempa-gempa vulkanik dangkal berhiposenter 1-3 kilometer. Mekanisme sumber gempa-gempa vulkaniknya mempunyai solusi sesar turun. Energi gempa vulkanik yang dilepaskan berangsur-angsur menurun setelah September. Krisis kegempaan kali ini tidak diikuti oleh perubahan permukaan yang berarti di kawah-kawah Gunungapi Kaba.

http://crashlife.multiply.com/journal/item/13/Bukit_Kaba_Curup_-_Bengkulu

Puluhan Benda dan Situs Cagar Budaya Bengkulu Terancam Punah

March 11, 2008

Bengkulu, CyberNews. Sebanyak 79 benda dan situs cagar budaya di Provinsi Bengkulu terancam punah dan perlu tindakan segera untuk melindungi dan menyelamatkan semua itu, kata seorang anggota DPRD Provinsi Bengkulu.

Benda-benda dan situs-situs cagar budaya yang perlu diselamatkan tersebut merupakan peninggalan dari zaman megalitikum, masa kerajaan di Bengkulu (1550-1825), masa pemerintahan kolonial Inggris (1685-1825), zaman Belanda (1825-1942), dan zaman Jepang (1942-1945).

Zurnawati Tjasa, anggota DPRD Provinsi Bengkulu itu, Selasa (22/11) mengatakan, untuk menyelamatkan semua itu DPRD telah mengajukan Rancangan Peratuan Daerah (Raperda) tentang Pelestarian dan Pemanfaatan Lingkungan Cagar Budaya.

“Raperda ini sangat penting dalam upaya kita mencegah dan menanggulangai kerusakan cagar alam, baik akibat perbuatan manusia ataupun gejala alam,” katanya.

Sebagaimana diatur dalam UU No 4 Tahun 1982, warisan budaya merupakan unsur lingkungan hidup yang harus dilindungi karena sangat penting fungsinya, baik untuk saat ini maupun masa mendatang.

Ketika ditanya, ia membenarkan bahwa Provinsi Bengkulu termasuk daerah potensial dan memiliki banyak benda cagar budaya. Pengajuan Raperda tersebut, terangnya, berangkat dari pemikiran, kemusnahan benda cagar budaya itu berarti kehilangan dokumen sejarah Bengkulu atau, lebih jauh lagi, kemusnahan identias bangsa ini.

Dari hasil inventarisasi yang dilakukan oleh tim DPRD, sebagian besar situs cagar budaya tersebut, 36 situs, berada di Kota Bengkulu. Sementara itu, di Kabupaten Bengkulu Utara dan Muko Muko masing-masing tujuh situs.

Di Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu Selatan, masing-masing enam situs, di Seluma dan Kepahiang masing-masing tiga situs, serta di Lebong dua situs.

Benda (tak bergerak) cagar budaya yang terdapat di Kota Bengkulu, sebut saja, Benteng Marlborough (dibangun 1714-1716), Tugu Thomas Parr (tugu pahlawan tak dikenal; dibangun 1807), Gedung Landaradd (1720), dan Masjid Jamik (1939), yang arsitekturnya dibuat oleh mantan presiden RI, Sukarno.

Di Kabupaten Bengkulu Utara antara lain terdapat makam raja-raja Sungai Limau (1550-1852), makam Ratu Samban (1862-1875), Kantor Gubernur Militer Sumsel Dr Gani (1949), dan Masjid Padang Batuah (1823).

Di Kabupaten Rejang Lebong ada, contohnya, situs Suban Air Panas, yang di dalamnya memiliki lingga, tempat bertapa, dan batu menangis; situs Pute Giri, yang merupakan tempat makam Depati Pekat; dan kuburan Rio Tandan.

Di Kabupaten Bengkulu Selatan terdapat Meriam Honosoit dan Makam Syekh HM Amin; di Kabupaten Muko Muko ada Istana Tuanku (1840) dan Benteng Anna (1798); dan di Seluma terdapat Gerincing dan tugu perjuangan Front Selatan.

Selanjutnya, di Kabupaten Kaur ada Benteng Linau, Masjid Bandar, dan pesanggrahan; di Lebong terdapat situs Talang Sakti dan Tugu Perang Kemerdekaan Semelako serta di Kapahiang terdapat Benteng Kuto Aur, situs Batu Keris, dan situs Batu Belarik.

( ant/Cn08 )

http://www.suaramerdeka.com/cybernews/harian/0511/22/nas15.htm

Traditional Cloth Bengkulu People – Busana Tradisional Bengkulu

March 11, 2008
Busana Tradisional Bengkulu

Dimasa kini busana adat Bengkulu yang populer adalah gaya Melayu Bengkulu yang tampak mendapat pengaruh dari gaya-gaya Melayu yang pada dasarnya terdapat dari seluruh Sumatera khususnya Minangkabau, Jambi dan Riau. Gaya busana ini dikenakan masyarakat untuk menghadiri pesta-pesta adat yang penting.

Pakaian adat pria
Susunan busana adat pria terdiri atas jas, sarung, celana panjang, alas kaki yang dilengkapi dengan tutup kepala dan sebuah keris. Jas tersebut dari kain bermutu seperti wol dan sejenisnya dan biasanya berwarna gelap seperti hitam atau biru tua. Demikian pula untuk celananya terbuat dari bahan dan warna yang sama.

Versi lain dari jas adalah sejenis jas tertutup dari bahan beludru hitam, merah tua atau biru tua yang bertaburkan corak-corak sulaman atau lempeng-lempeng emas. Pada bagian dada tergantung sebentuk lidah penutup, mirip dasi dengan hiasan-hiasan benang emas. Celana paduannya terbuat dari beludru dengan taburan corak�corak benang emas juga walaupun tidak selalu dalam warna yang sama dengan jas.

Sarung dikenakan sebagai samping di bawah jas sampai sedikit di atas lutut. Samping biasanya terbuat dalam teknik songket benang emas atau perak dan disebut sarung segantung.

Sebagian pelengkap busana pada kepala dipakai detar dari kain songket emas atau perak, alas kaki beludru dengan corak-corak keemasan, sebilah keris dan gelang emas di tangan kanan. Pakaian adat wanita
Kaum wanita Melayu Bengkulu mengenakan baju kurung berlengan panjang, bertabur corak-corak, sulaman emas berbentuk lempengan�lempengen bulat seperti uang logam. Bahan baju kurung umumnya beludru dalam warna-warna merah tua, biru tua, lembayung atau hitam. Sarung songket benang emas atau perak dalam warna serasi dari sutra merupakan perangkat busana yang dikenakan dari pinggang sampai dengan mata kaki.

Sehelai kampuh dari satin sutra bersulam emas, diselempang pada bagian dada kebelakang punggung membentuk huruf V.

Perhiasan keemasan disematkan sebagai sunting-sunting pada sanggul di kepala, bersama-sama dengan anting-anting berukir dari emas, yang sebenarnya merupakan kepanjangan dari kembang goyang di kepala sedemikian rupa sehingga seolah-olah bergantung disebelah daun telinga, menyentuh bahu. Hiasan di sanggul atau konde biasanya terdiri dari sikek berbentuk bulan sabut, dipadukan dengan tusuk konde, cokonde balon, dan jumbai-jumbai kiri dan kanan.

Di dada pada bagian atas kampuh bergantungan gelamor berukir, berlapis-lapisan dalam jumlah banyak, menurun sampai daerah pinggang yang dilingkari oleh sebuah pending berangkai yang terbuat dari emas.

Pergelangan tangan dan jari jemari dilingkari dengan mandering dan cincin permata. Alas kaki memakai selop bersulam emas.

Penulis : Biranul Anas

http://www.tamanmini.com/anjungan/bengkulu/budaya/busana_tradisional/busana_tradisional_bengkulu

Profil Daerah Propinsi Bengkulu-TMII Version

March 11, 2008
Profil Daerah Propinsi Bengkulu

Propinsi : Bengkulu
Ibukota : Bengkulu
Gubernur :
Luas :
Penduduk :
Kabupaten/Kota :
Kab. Bengkulu Selatan (Manna)
Kab. Bengkulu Lebong (Curup)
Kab. Bengkulu Utara (Argamakmur)
Kab. Kaur (Bintuhan)
Kab. Seluma (Tais)
Kab. Mukomuko (Mukomuko)
Kota Bengkulu (Bengkulu)
Suku :
Bahasa :

Nama Bengkulu berasal dari nama sungai Bangkahulu yang berarti pinang yang hanyut dari haluan atau hulu. Propinsi Bengkulu terletak Sumatra bagian selatan di bagian barat yaitu pada garis lintang 2018- 400 L.S. dan 1010-1030 B.T. Secara administratif propinsi ini berbatasan dengan Sumatra Barat, Jambi, Sumatra selatan, propinsi Lampung dan Samudra Indonesia. Daerahnya terbagi atas tiga jalur yakni daratan pantai, daratan lerang, pegugungan dan jalur pegunungan. Wilayah yang bergunung-gunung dengan puncaknya yang tinggi seperti gunung Seblat, gunung Dempo, gunung Tangamus dan lain-lain, diseling pula oleh hutan tropis yang lebat. Sungai yang besar adalah sungai Musi bagian hulu, mengalir ke pantai utara pulau Sumatra dan sungai Katahun yang mengalir ke pantai selatan. Propinsi Bengkulu sebagian besar merupakan daerah subu, karena curah hujan cukup memadai. Sejak dahulu Bengkulu sudah terkenal sebagai pengahasil lada. selain itu juga hasil pertanian dan perkebunan seperti padi, sayur mayur, dan buah-buahan. Dari pertambangannya, dapat menghasilkan emas dan perak yang terdapat di Rejang Lebong dan Musi Hulu.

Hutan-hutan yang ada di daerah ini masih dihuni oleh berbagai jenis binatang liar seperti gajah, harimau, beruk, rusa, trenggiling, biawak, dan binatang hutan lainnya. Sedang floranya terdiri atas pohon-pohon kayu-kayuan yang dapat digunakan sebagai bahan bangunan, serta bunga raflesia atau bunga bangkai yang terkenal itu ada di daerah ini pula.

Penduduk propinsi Bengkulu terdiri dari suku Rejang yan gmerupakan mayoritas, kurang lebih 2/3 dari propinsi ini. Mereka mendiami daerah Rejang Lebong, kabupaten Bengkulu Utara dan beberapa daerah di luar Bengkulu.

Berdasarkan Tambo, orang Rejang berasal dari Bidara Cina melewati Pagaruyung, juga dari Majapahit dari Jawa. Kemudian suku serawai pada umumnya mendiami daerah Bengkulu Selatan. Sedangakan yang ketiga adalah suku Melayu, yang mendiami kotamadya Bengkulu dan beberapa Kevamatan di pinggiran kota Bengkulu dalam wilayah kabupaten Bengkulu Utara. Dengan demikian penduduk Begkulu mempuyai latar belakang budaya Minangkabau, Jawa dan Melayu.

Mata pencaharian penduduk umumnya bertani, baik pertanian padi di sawah maupoun perkebunan seperti cengkeh, lada, buah-buahan, dan sebagainya.

Pada masyarakat suku Rejang, disatu dusun terdiri dari kelompok yang terikat atas, dasar ikatan perjanjian pada saat sebelum upacara perkawinan menurut aksen bekulo. Pada prinsipnya ada tiga macam ayitu asen Beleket, asen Semendo dan Semendo rajo-rajo. Yang dimaksud beleket adalah perempuan masuk atau ikut kepada keluarga suami, jadi berlaku sistem partrilical. Semendo berarti laki-laki masuk atau ikut kepada keluarga istri berarti termasuk sisitem , matrilokal. Sedangakan Semendo berarti bebas memilih atu bilokal.

Pada suku Melayu, sistem kekerabatan memegang peranan yang sangat penting, bagi meraka suami istri yang baru kawin boleh memilih akan tinggal dimana mereka akan suka, atau sistem bilokal. Pada umumnya mereka tinggal di lingkungan keluarga istri, namun kekuasaan tetap pada pihak laki-laki. Seperti halnya dengan suku-suku bangsa lainnya, masyarakat di daerah Bengkulu mengenal adat dan upacara yang berkaitan dengan lingkungan hidup manusia, karena dianggap sebagai suatu peristiwa yang penting yaitu kelahiran, perkawinan, dan kematian. Dari ketiga peristiwa tersebut diadakanlah upacara-upacara seperti : upacara kelahiran, upacara memberi nama, upacara mencukur rambut dan sebagainya. Upacara perkawinan dan upacara kematian.

Salah satu upacara tradisional yang menyangkut beberapa aspek adalah upacara Tabut yang diadakan satu tahun sekali pada setiap tanggal 10 Muharram. Upacara ini hubungannya dengan sejarah kepahlawanan Hasan Husen, putra Nabi Muhammad S.A.W. Di dalam upacara ini selain unsur agama, sejarah juga unsur kesenian ada di dalamnya. Kelanjudtan dari upacara kematian adalah meniga hari, menuju hari dan nyatus atau seratus hari saat meninggalnya. Penduduk Bengkulu sebagian beragama Islam. Sebelum memeluk agama Islam, suku Rejang memeluk agama Budha dan kepercayaan terhadap roh halus yang disebut dengan keramat, semat dan memikat. Setelah agama Islam masuk mereaka memeluk agama Islam. Begitu pula pada suku serawai, dahulu menganut kepercayaan kepada dewa-dewa dan bagi wanita harus tahu ilmu kedukunan. Sedang suku Melayu sudah dulu memeluk agama Islam, sehingga di dalam upacara-upacara yang dilaksanakan selalu disertai doa-doa menurut agama Islam.

Kesenian di daerah Bengkulu antara lain seni tari, misalnya Tari Tombak Kerbau, Tari Putri Gading Cempaka, Tari Sekapur Sirih, Tari Pukek, dan Tari Kejli dan sebagainya. Tari kejli aslinya dimainkan selama tujuh hari tujuh malam secara terus-menerus. Disamping itu kesenian Geritan yaitu cerita sambil berlagu, Serambeak yang berupa patatah petitih, andi-andi yaitu seni sastra yang berupa nasehat, seni musik atau seni suara atau berdendang, zikir dengan rebana atau sebagainya. Mereka pun mengenal seni anyaman dan seni ukir. Di dalam seni bangunan khususnya seni bangunan rumah didaerah Bengkulu mengenal berbagai macam rumah, masing-masing dengan nama tersendiri. Misalnya rumah adat pada suku Rejang yang disebut uneak Potong Jong, termasuk bangunan lama, sedangkan menurut bentuk bubungan atap dikenal rumah bubungan panjang, bubungan melintang, bubungan melintang, bubungan limas, bubungan sembilan. Semua berbentuk persegi empat dan bertiang tinggi atau rumah panggung.

Di anjungan daerah Bengkulu diperkenalkan tiga buah rumah adat, yaitu sebuah rumah model bangsawan atau Depati dari daerah Bnegkulu Selatan dan dua rumah rakyat biasa. Ketiga rumah tersebut dibangun diatas tiang atau panggung dengan ketinggian 1,5 – 2 meter di atas tanah. Arsitek bangunan ini berasal dari penduduk asli yang diilhami oleh pengaruh rumah adat Sumatra Selatan, Minangkabau dan Melayu. Tangga terletak di depan rumah biasanya jumlah anak tangganya selalu ganjil, hal ini didasari makna atau pengertian dan hitungan tangga,takik, tunggu, tinggal. Bilangan yang jatuh pada hitungan bilangan takik kat takik dan tinggal menurut kepercayaan mereka akan membinasakan rumah itu sendiri. Misalnya takik berarti hancur dan tinggal berarti tidak ada yang bersedia menunggu rumah itu, dan rumah itu ditinggal tanpa penghuni. Rumah terbuat dari bahan yang lembut tetapi tahan lama, misalnya kayu medang kemuning, surian balam dan sebagainya. Lantainya dari papan dengan atap dan ijuk enau atau sirap. Pada dasarnya struktur rumah terbagai atas tiga bagian besar, yaitu penigo atau serambi, penduhuak bagian tengah, dan penyeyep bagian ruangan dalam, selain itu perluasan rumah terdapat dapur dan gang atau garang

http://www.tamanmini.com/anjungan/bengkulu/daerah


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.