Studi Kasus Perempuan Ladang Palembang

March 11, 2008

Perempuan dalam Lingkaran
Politik Desa dan Sumber Daya Air

Studi Kasus Perempuan Ladang Palembang


Meski tinggal di desa yang harus ditempuh sejauh 160 km dari Provinsi Bengkulu, dan setelah itu harus menelusuri liku-liku jalan pegunungan, para perempuan Ladang Palembang termasuk komunitas yang tidak ketinggalan dalam mengikuti perkembangan politik (lihat box : Rumpian ala Perempuan Ladang Palembang-red). Setidaknya dalam ruang lingkup politik di desa mereka. Tapi sebelum memahami bagaimana para perempuan ini begitu akrab dengan “dunia politik” desa serta bagaimana mereka mempengaruhinya guna menyelamatkan sumber daya air di desa mereka, ada baiknya melihat karakteristik dan penyebaran perempuan di Ladang Palembang, baik secara geografis dan etnis mereka.

Berdasarkan etnis, perempuan Ladang Palembang terbagi dalam dua etnis besar yaitu Suku Sunda dan Suku Rejang. Berdasarkan letak geografis mereka terpisah dalam empat kelompok besar. Pertama, kelompok Bik Juhana. Komunitas Bik Juhana mendominasi pada pemukiman yang berada di pusat desa dan merupakan etnis Sunda yang didatangkan oleh Kolonial Belanda sekitar tahun 1865-an. Keseharian perempuan pusat Desa Ladang Palembang menghabiskan waktu untuk bertani dengan pertanian sawah irigasi. Perkerumunan Bik Juhanah merupakan perempuan yang harus berpisah dengan para suami mereka yang berada di lokasi pertambangan emas di luar kabupaten Lebong. Mereka terpisah akibat warisan budaya yang memaksa kalum laki-laki pusat Desa Ladang Palembang hanya memiliki keterampilan bekerja di tambang emas.

Kedua, kelompok, Wakmak Sanah. Komunitas Wakmak Sanah mendiami kawasan petalangan air Tik Gelung, lokasi area Tik Gelung berjarak lebih kurang 1,5 Km dari pusat desa. Komunitas Wakmak Sanah merupakan etnis Suku Rejang dengan mata pencarian pokok bertani dan berkebun. Wakmak Sanah dan teman-temannya lebih banyak menghabiskan waktu di talang tersebut. Sesekali saja, saat hari-hari besar atau ada agenda keluarga, komunitas, Wakmak Sanah pulang ke rumah ke desa tempat asal mereka.

Ketiga, komunitas yang berada di area Bukit Sarang Macan. Bik Mal, merupakan sosok perempuan yang dituakan pada perkerumunan perempuan yang mengitari area Petalangan Bukit Sarang Macan yang berjarak kurang lebih 2 km dari pusat desa. Komunitas Bik Mal juga dari etnis Rejang. Kebanyakan perempuan di sekitar Bukit Sarang Macan merupakan ibu-ibu muda dan rata-rata baru memiliki satu orang anak. Kesehariannya komunitas Bik Mal melakukan aktivitas di perladangan bersama anak dan suami.

Keempat, komunitas Bik mak-Ilung yang tersebar dalam kelompok-kelompok kecil yang terletak di Air Bambu, Pall 5 dan Air Seniep. Untuk menuju lokasi tersebut harus berjalan dengan jarak tempuh 3 km dari pusat desa. Seperti juga halnya dengan komunitas Wakmak Sanah dan Bik Mal, komunitas yang berada di Air bambu, Pal 5 dan Air Seniep merupakan perempuan etnis Rejang.

Komunitas Suku Rejang biasa hidup mengelompok di area petalangan yang dihuni antara 10 KK – 25 KK dan ini merupakan kebiasaan yang telah turun-menurun pada komunitas suku Rejang. Lahan yang dikelola merupakan lahan warisan dari tetua nenek moyang mereka. Sudah hampir dipastikan, lewat sistem bertalang seperti itu mendorong terbentuknya sebuah komunitas yang dipenuhi rasa solidaritas dan semangat kekerabatan yang cukup erat. Perempuan talang juga terbiasa berinteraksi dengan hutan di sekitar mereka guna mencari sumber obat-obatan dan pangan. Terutama sayur mayur atau buah-buahan. Kegiatan itu jelas membuat mereka memahami siklus vegetasi tanaman-tanaman hutan.

Di lihat dari sisi geografis, perempuan Rejang mendiami daerah ketinggian di wilayah Desa Ladang Palembang. Dimensi mitologi Rejang, menempatkan daerah ketinggian atau pengunungan memiliki unsur magis. Misalnya Bukit Sayang Macan diyakini hingga kini sebagai tempat bertemunya beberapa harimau penunggu. Konon cerita, harimau itu adalah sebagai bagian dari asal usul orang setempat yang pernah menghilang tanpa diketahui kemana raibnya. Mitologi tersebut justru telah menjaga sumber-sumber air yang memberikan kesuburan pada area itu. Hal ini juga bisa dilihat dari keseragaman jenis tanaman yang bisa bertahan hidup dalam waktu yang lama. Di seputar Bukit Sarang Macan banyak pula dijumpai batang durian, cempedak, enau, buah manggis, batang meranti, durian dan batang-batang kayu karet yang telah berumur.

Sumber Daya Air Ladang Palembang

Namun kondisi kawasan hutan Ladang Palembang terganggu ketika dibuka untuk perkebunan skala besar, PT Bumi Agrindo pada tahun 1985. Akibatnya, saat musim kemarau panjang tahun 1997, warga desa harus berjuang melewati jarak ratusan meter ke dataran yang lebih rendah untuk mendapatkan sumber air bersih sebagai kebutuhan aktivitas keseharian rumah tangga. Pengalaman jebolnya bendungan pada pertengahan tahun 1987 dan kekeringan tahun 1997 itulah menjadi pembelajaran mahal bagi masyarakat terutama perempuan Ladang Palembang tentang arti pentingnya persoalan air bersih.

Kondisi di atas telah menggugah kesadaran komunitas untuk mulai menata kembali kawasan hutan yang telah terbuka. Kini, dalam kawasan Ladang Palembang terdapat beberapa titik sumber air bagi pemukiman dan keperluan kolam atau persawahan yaitu, kawasan hutan Tik Gelung, kawasan Bukit Sarang Macan atau lebih dikenal dengan sebutan Air Udik, Air Sarangan, Air Kuto, Air Bambu, Air Culau Nago dan Air Seniep.

Bila ditelusuri, aliran sumber air yang berada di Desa Ladang Palembang, tidak hanya digunakan oleh warga Ladang Palembang. Sumber-sumber air tersebut juga dipergunakan oleh desa tetangga yaitu Desa Tunggang dan Lebong Tambang. Kebanyakan perumahan dalam wilayah desa Ladang Palembang telah menikmati air hingga masuk kedalam pekarangan rumah. Misalnya; pada komunitas pusat desa, air telah mengalir ke 55 rumah dari 89 rumah. Dengan mengambil air bersumber dari kawasan Lindung Tik Gelung.

Pada Komunitas Pemukiman Bukit Sarang Macan 24 rumah telah dialiri air PAM sederhana. Tidak kurang dari 50 rumah pada pemukiman yang berada di sepanjang Pall 5 menikmati air yang bersumber dari Air Udik dan Air Kuto. Sedangkan pada Pemukiman di Air Bambu dan Seniep mengambil air bersih dari Air Culau Nago dan Air Seniep itu sendiri. Air yang telah mengalir ke halaman rumah telah menjadi social capital, terutama untuk mempermudah proses membangun hubungan emosional antara sumber daya alam dengan manusia di sekitar Desa Ladang Palembang. Pemahaman bersama secara sosiologi dan filosofi di atas telah menjadi panduan bagi proses legislasi kesepakatan sosial untuk perlindungan sumber daya air ditingkat masyarakat.

Budaya lama Suku Rejang memang telah memandu dan memberi dukungan hubungan yang kuat antara perempuan Rejang dengan sumber daya air. Misalnya; Budaya Rejang “Embien Munen” yang adalah sebuah prosesi memperkenalkan si bayi yang baru berumur kurang lebih 15 hari pada sumber daya air. Dengan menggunakan perlengkapan adat (tebu hitam, babu, uang logam, kayu yang terbakar, dan seterusnya) si-dukun menggendong bayi menuju sungai untuk dimandikan. Inti dari prosesi tersebut, memperkenalkan si bayi dengan sumber daya alam terutama air, termasuk memperkenalkan manusia baru atas roh-roh yang juga berada di sumber daya air itu. Sehingga posisi perempuan dalam struktur politik desa dan potensi sumber daya yang telah ada menjadi sangat penting.

Ada dua hal penting yang berkaitan dengan partisipasi yang dilakukan komunitas perempuan petalangan Ladang Palembang dalam pemulihan sumber daya alam dan airnya. Pertama, setelah kawasan Ladang Palembang terbuka oleh proyek transmigrasi pada tahun 2001 maka perempuan petalanganlah yang paling banyak menghabiskan waktu untuk melakukan pegelolaan tanah dan pemuliaan tanaman. Pegelolaan tanah dan pemuliaan tanaman tersebut telah menghijaukan kawasan yang telah terbuka dengan jenis tanaman palawija, durian, karet, kakau, kopi dan nilam. Kedua, Pada penghujung tahun 2002, perempuan Ladang Palembang melakukan pengusiran terhadap dua kelompok pencari ikan yang menggunakan alat tangkap setrum. Pengusiran ini dilakukan setelah mereka mengetahui bahwa alat setrum itu membunuh bukan hanya ikan besar tetapi juga anak-anak ikan yang masih kecil. Bagi komunitas petalangan, sungai juga menjadi sumber protein-ikan bagi kebutuhan gizi mereka. Sangat jelas sungai yang berada di sekitar petalangan memiliki hubungan emosional dengan mereka.

Protes dan aksi pemulihan lahan yang dilakukan perempuan petalangan, seperti yang tergambar di atas merupakan bentuk interaksi dan hubungan ketergantungan antara sumber daya alam dengan manusia setempat. Hubungan ketergantungan yang setara antara sumber daya alam dan manusia petalangan Ladang Palembang telah melahirkan pluralisme bagi model pengelolaan sumber daya alam yang berbasis komunitas setempat. Hal ini harus dimaknai; Pertama, sebagai sebuah proses memandirikan sebuah kelembagan dan komunitas desa yang bertanggung jawab. Kedua, keterlibatan perempuan pada perencanaan dan kontrol atas sumber daya alam air telah merekatkan proses demokrasi desa. Ketiga, mempercayakan atau mengakui cara-cara rakyat “perempuan dan laki-laki” untuk melakukan upaya-upaya konservasi. Keempat, mengembalikan kedaulatan (keadilan, akses dan kontrol) rakyat dalam pengelolaan sumber daya alam di sekitar lingkungan komunitas setempat. (Nurkholis Sastro, Korda Bengkulu, Program CBFM KKI Warsi)

Reference:
http://www.warsi.or.id/bulletin/alamsumatera/VOL1_No7/AS7_28.htm

Profile Umum rejang lebong versi Kompas

March 11, 2008


PADA masa kolonial Belanda, nama Rejang Lebong sangat terkenal. Dibandingkan dengan nama Bengkulu, Rejang Lebong jauh lebih dikenal. Kemasyhuran nama kabupaten ini diperoleh lewat bukit-bukit yang mengandung emas di daerah Lebong yang dieksplorasi dan dikapalkan ke Kerajaan Belanda. Emas dari Rejang Lebong turut berperan memakmurkan Negeri Bunga Tulip tersebut.Jika bertanya tentang emas sekarang ini kepada masyarakat Rejang Lebong, jawaban yang didapat cuma senyum kecut menyiratkan keprihatinan. Kejayaan Rejang Lebong sebagai penyimpan logam mulia kini tinggal kenangan. Bijih-bijih emas tersebut kini nyaris tak bersisa. Meskipun demikian masih banyak anggota masyarakat yang mengadu untung sebagai penambang tradisional di goa-goa yang diyakini mengandung sisa-sisa emas.

Rejang Lebong memang daerah istimewa. Letaknya yang berada di punggung gugusan Pegunungan Bukit Barisan memberi keuntungan yang besar. Udara sejuk segar. Bukit-bukit hijau sejauh mata memandang. Daerah ini menyenangkan sebagai tempat peristirahatan. Tata kota yang rapi dan suasana kota yang tenang menjadi gambaran umum Kota Curup, pusat kota Rejang Lebong. Udara bersih ini mungkin bisa memberi jawaban atas pertanyaan tentang kekhasan sosok penduduk Rejang Lebong, khususnya Curup. Penampilan gadis-gadis Curup terlihat istimewa. Tubuhnya terbilang tinggi untuk ukuran orang Melayu dan berkulit putih. Sepintas ayuk-ayuk ini mirip dengan sosok Mojang Priangan di Jawa Barat.

Rejang Lebong adalah daerah agraris. Tanahnya yang subur mampu memproduksi hasil bumi yang melimpah. Oleh karena itu, tidak mengherankan kalau sektor pertanian menjadi kontribusi utama sebesar Rp 844 milyar dari total kegiatan ekonomi 1999 yang nilainya Rp 1,5 trilyun.

Di sepanjang jalan protokol menuju Rejang Lebong dari arah Kota Bengkulu yang berliku-liku dan naik turun, terlihat betapa kabupaten ini kaya akan hasil pertanian seperti padi, palawija, sayur-sayuran, buah-buahan, dan jenis-jenis tanaman perkebunan. Memasuki Kecamatan Kepahiang, tanaman kopi menghampar di kanan-kiri jalan. Sela-sela pekarangan rumah penduduk yang kebanyakan terbuat dari kayu khas rumah adat suku Rejang ini banyak dijumpai biji-biji kopi yang sedang dijemur.

Kopi memang menjadi komoditas primadona Rejang Lebong. Areal kebun kopi seluas 58 ribu hektar selain terdapat di Kecamatan Kepahiang juga terdapat di Kecamatan Curup dan Kecamatan Lebong Selatan. Jenis kopi yang ditanam petani adalah kopi robusta, sementara kopi arabika sebagian besar dikelola oleh perusahaan swasta.

Sebenarnya dari segi mutu dan hasil produksi, kopi arabika jauh lebih baik. Petani jarang menanam jenis arabika karena jenis ini hanya tumbuh baik pada ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut. Pedagang yang kebanyakan berasal dari Sumatera Selatan dan Lampung membeli langsung dari petani apabila musim panen tiba. Sayangnya, petani sering menjual kopi yang belum tua benar, terlebih lagi apabila terdesak oleh kebutuhan, sehingga harganya menjadi rendah.

Ekspor kopi dari Rejang Lebong sampai sekarang hanya dilakukan oleh satu eksportir. Tahun lalu daerah ini mampu mengekspor kopi sebanyak 459 ton dengan nilai 317.900 dollar AS. Komoditas lain di Rejang Lebong yang mampu menembus pasaran dunia selain kopi adalah jahe. Jenis tanaman rimpang ini selain dipasarkan dalam bentuk jahe segar, juga dijual dalam bentuk jahe asinan terutama ke Jepang.

Meskipun yang mampu menembus pasaran ekspor adalah kopi dan jahe bukan berarti tidak ada komoditas perkebunan lain di Rejang Lebong. Di dataran tinggi Kabawetan terdapat areal kebun teh seluas 816 hektar milik perusahaan swasta. Selain itu, petani juga ada yang berkebun tanaman panili, karet, kayu manis, dan aren yang tahun 2000 masing-masing menghasilkan di atas dua ribu ton.

Dunia usaha di kabupaten yang mempunyai pendapatan per kapita Rp 3,4 juta ini didominasi oleh industri rumah tangga dengan bahan baku hasil bumi. Di sini sektor pertanian memegang peranan juga. Indus-tri kecil seperti pengolahan ma-kanan, kerajinan rotan, pengolahan jahe, atau pembuatan kopi bubuk, seperti yang tampak pada papan-papan iklan kecil di sepanjang jalan mampu memenuhi permintaan lokal.

Masih di sekitar sektor pertanian, Rejang Lebong ternyata juga berpotensi dalam bidang perikanan, terutama perikanan air tawar. Sebagai daerah pegunungan, kabupaten seluas 410.980 hektar ini banyak memiliki perairan umum seperti danau, waduk, dan sungai-sungai yang berpotensi ikan cukup besar. Selain dari penangkapan di perairan umum, ikan banyak dibudidayakan di kolam ikan biasa, keramba, kolam air deras, dan mina padi. Tahun 2000 lalu, total produksinya 3.695 ton. Perikanan air tawar ini terus dikembangkan dengan dibangunnya enam balai benih.

Keberuntungan Rejang Lebong atas kemurahan alam bukannya tanpa kekurangan. Topografi tanahnya yang bergelombang menyimpan potensi timbulnya tanah longsor atau banjir. Tahun 2000 lalu, misalnya, hujan deras pada bulan November menyebabkan banjir yang rendaman airnya merusak ratusan hektar persawahan. Konservasi ekosistem sumber daya alam memang mutlak diperhatikan mengingat kabupaten ini memiliki kawasan hutan sebesar 56,7 persen dari total lahan. Terlebih lagi, di kawasan penyangga (buffer zone) Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), yang memanjang melintasi empat provinsi di bagian barat Pulau Sumatera. TNKS di Rejang Lebong sejak sebelum ditetapkan sebagai penyangga (1990) sudah menjadi kantung-kantung permukiman penduduk yang rentan menjadi penyebab kerusakan hutan eksotis ini. (Yoseptin T Pratiwi/Litbang Kompas)



http://203.77.237.18/pdp3ddll/homepage/0/17/02/umum.htm

Ragam Hias pada Umek Jang : Kajian Bentuk dan Makna Ragam Hias Berdasarkan Latar Belakang Sosial Budaya Suku Rejang di Rejang Lebong

March 11, 2008

Gustiyan Rachmadi, NIM.27099004

Ragam Hias pada Umek Jang : Kajian Bentuk dan Makna Ragam Hias Berdasarkan Latar Belakang Sosial Budaya Suku Rejang di Rejang Lebong

Penelitian ini secara umum untuk menggali nilai-nilai tradisi rumah tradisional Rejang dengan berusaha mengungkapkan konsepsi dan nilai-nilai budaya Rejang yang ada. Secara khusus : 1. Mengungkapkan makna simbolik yang ada dalam Ragam Hias; 2. Mendeskripsikan komponen pada rumah tradisional Rejang seperti : tiang, tangga, dinding, ruang dan atap; 3. Mendeskripsikan tata cara dan upacara dalam pembuatan sebuah rumah tradisional Rejang. Data dan informasi ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan informasi budaya, seni dan teknologi guna mentransformasikan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.

Penelitian ini adalah penelitian lapangan, dilakukan pada dua lokasi penelitian yakni : Gunung alam dan Muara Aman. Teknik pengumpulan datanya dilakukan melalui studi lapangan dan studi kepustakaan. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kebudayaan, konsep kebudayaan merupakan faktor utama di dalam menempatkan permasalahan. Penelitian bersifat deskripsi dengan analisis pada pendekatan bentuk, sedangkan alat pengumpulan data dilakukan metode dokumentasi, observasi dan wawancara.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Sistem kepercayaan, sistem nilai, pengetahuan dan aturan, serta simbol yang dimiliki masyarakat Rejang mendasari konsepsi mengenai rumah tradisional, mulai dari aturan pembuatan, upacara, memilih bahan, penataan ruang sampai ke bentuk tiang; (2) Pada Ragam Hias yang menggambarkan manusia sangat erat kaitannya dengan kepercayaan suku Rejang yang percaya akan kekuatan roh nenek moyang, dan bentuk mengacu pada gaya primitif yang lebih mementingkan kepentingan sakral; (3) Ragam Hias tumbuh-tumbuhan yang terdapat pada rumah memperlihatkan adanya pengaruh budaya Minang dan tidak diterapkannya beberapa motif makhluk hidup pada rumah Muara Aman, disebabkan pengaruh konteks budaya dalam ruang waktu yang berbeda; (4) Motif pada rumah tradisional Rejang merupakan tanda yang mengandung makna simbolik dari adat istiadat Rejang.

http://www.fsrd.itb.ac.id/?page_id=102

Warga Lembak Tolak Adat RL

March 11, 2008

Warga Lembak Tolak Adat RL

Bengkulu Ekpress Kamis, 23-Agustus-2007

CURUP, BE – Para pemuda Lembak melalui LSM Garda Lembak, menolak pemberlakuan adat RL sebagaimana dituangkan dalam Perda Adat yang disahkan DPRD RL. Alasannya, Lembak memiliki adat istiadat sendiri yang secara turun-temurun telah dijalankan oleh masyarakat. Dan hukum adat Lembak pun sampai saat ini masih ada dan berlaku.

Kami menolak hukum adat yang telah disahkan oleh DPRD Kab RL beberapa waktu lalu. Pasalnya kami memiliki adat istiadat yang secara turun temurun terus kami jalani. Bahkan buku hukum adat Lembak pun sampai saat ini masih ada, ungkap Ketua LSM Garda Lembak, Ishak Burmansyah pada koran ini, kemarin.

Selain itu lanjut Ishak, bahwa hukum adat yang telah disahkan sekarang sama sekali tidak mencerminkan keadilan. Karena masyarakat RL bukan hanya suku Rejang, tapi banyak sekali suku yang menetap dan tinggal di RL ini. Sementara hukum adat yang tertuang dalam Perda adat itu semuanya mencerminkan adat istiadat Rejang.

”Lantas bagaimana dengan adat istiadat masyarakat suku lain selain Rejang? Termasuk ada suku Lembak. Maka dari itu kami dari masyarakat Lembak menolak Perda adat tersebut. Bukan hanya itu, termasuk semua isi dan ajaran dalam Perda tersebut kami tolak, tutur Ishak.

Mengapa baru sekarang dikatakan?

Sebenarnya sudah dari jauh-jauh hari kami sampaikan kepada wakil-wakil kami di DPRD Kab RL. Aspirasi masalah hukum adat ini sudah pernah kami sampaikan kepada dewan khususnya dewan asal Lembak. Tapi sepertinya tak satu pun dewan asal Lembak itu yang memperjuangkan aspirasi masyarakat Lembak.

Semestinya, jika Perda adat itu memenuhi unsur keadalan, setidaknya dalam Perda tersebut dimuatkan juga adat istiadat Lembak, paling tidak di kolaborasikanlah, apalagi suku yang mendominasi di Kab RL ini adalah Rejang dan Lembak, jadi tidak ada salahnya jika adat istiadat Lembak pun tetap disertakan dalam Perda tersebut, ungkapnya. (131)

Inilah Profile Prof. Richard MCGinn yang sangat berjasa meneliti Bahasa Rejang

March 10, 2008


Richard McGinn

E-Mail: mcginn@ohio.edu
Phone: 740-593-4566
Department: 740-593-4564
Fax: 740-593-2967
Office: Room 377 Gordy Hall
Mailing Address:
Department of Linguistics
383 Gordy Hall
Ohio University
Athens, OH 45701 USA

Date of Birth: December 23, 1939

Academic Degrees:

Ph.D. 1979 (Linguistics) University of Hawaii

M.A. 1966 (English) Gonzaga University

B.A. 1961 (Psychology, English) Gonzaga University

Current Position:

Associate Professor Emeritus of Linguistics and Southeast Asian Studies

LanguageBackground:

Indonesian / Malay

Rejang (Sumatra)

Tagalog

German

Bidayuh (Sarawak, Malaysian Borneo)

Experience Abroad:

Indonesia:

2007 One month field trip to Rejang-Lebong, Bengkulu

2006-07 Six month field trip to Rejang-Lebong, Bengkulu (Fulbright Grant)

2004 Three month field trip to Rejang-Lebong, Bengkulu, and Ulu Rawas, Sumatra Selatan.

2001 three-week field trip to Rejang-Lebong, Bengkulu, Sumatra

1999 one-week field trip to Rejang-Lebong, Bengkulu, Sumatra

1994 two-month field trip to Rejang-Lebong, Bengkulu, Sumatra

1989 two-month field trip to Rejang-Lebong, Bengkulu, Sumatra

1988 two month field trip to Rejang-Lebong, Bengkulu, Sumatra

1987 three months, coordinator of the COTI Advanced Indonesian Abroad Program

1974-76, Director, Pertamina English Language Institute, Jakarta

1972-1974 Instructor, University of Sriwijaya, Palembang, South Sumatra (Fulbright grant)

Malaysia:

2001 three-week field trip to Sarawak, Borneo

2000 four-week field trip to Sarawak, Borneo

1999 one week in Penang

1974 two week tour of Kuala Lumpur and Malacca

Italy, England, Ireland: 1967 (12-week tour)

France: 1967 (12 weeks language study);

Germany: 1966-67 (6 months language study)

Philippines: 1963-1966 (Peace Corps volunteer, Los Banos, Laguna)

Administration:

Chair, Linguistics Department, July 1994-June 2004

Acting Chair, Linguistics Department, Winter quarter 1993.

Director, Southeast Asia Studies Program, Ohio University, 1984-1988

Associate Director, Southeast Asia Studies Program, Ohio Universty, 1979-80 and 1983-84.

Language Coordinator, Southeast Asian Studies Summer Institute (SEASSI), Ohio University, summer 1982 and summer 1983.

Language Coordinator, Indonesian Studies Summer Institute (ISSI), Ohio University, summer 1981

Director, Pertamina English Language Institute, National Oil Company of Indonesia, 1973-1975.

Training Director, Peace Corps/Philippines, Hilo, Hawaii 1967-68

Language Coordinator, Peace Corps/Philippines Training Program, Stanford University, Summer 1967

Professional Service:

Executive Committee, Southeast Asian Studies Summer Institute, (1997- )

Editorial Board, CROSSROADS, AN INTERDISCIPLINARY JOURNAL OF SOUTHEAST ASIAN STUDIES (1986-1995)

First President, Consortium of Teachers of Southeast Asian Languages (1984-87)

Board of directors, Southeast Asian Studies Summer Institute, 1982-1987

Language director, Southeast Asian Studies Summer Institute, Ohio University (1983)

Organized the Third Eastern Conference on Austronesian Linguistics, Athens (1983)

Editor, Antara Kita: the newsletter of the Indonesian Studies Committee of the Association for Asian Studies (1979-81)

Indonesian Studies Summer Institute (1981-82)

Past editor of Antara Kita the newsletter of the Indonesian Studies Committee of the Association for Asian Studies (1979-81)

Since 1979 organized panels for the Association for Asian Studies, the Conference on Indonesian Studies and the Malay World Symposium

Selected Publications:

2009 (forthcoming). Out-of-Borneo Subgrouping Hypothesis for Rejang: Re-weighing the Evidence. In Festschrift for Robert A. Blust, ed. by K. Alexander Adelaar. Canberra: Australian National University.

2008a (forthcoming). Asal Bahasa Rejang. Lingua: Jurnal Bahasa dan Sastra. Palembang: Swiwijaya University.

2008b (forthcoming). Indirect Licensing at the Interface of Syntax and Semantics in Rejang.. Proceedings of the 16th Meeting of the Southeast Asian Linguistics Society, ed. by Uri Tadmor. Jakarta: Atma Jaya University Press.

2008c (forthcoming, co-authored with Dr. Zainubi Arbi). Serial Buku Bacaan Bahasa Rejang untuk Kanak-kanak. (10 books: five dialects, two titles each). Bengkulu and Palembang: Indonesian Department of Education.

2005. What the Rawas Dialect Reveals About the Linguistic History of Rejang. Oceanic Linguistics Vol.44. no. 1, pp. 12-64.

2003. Raising of PMP *a in Bukar-Sadong Land Dayak and Rejang. In Issues in Austronesian Historical Phonology, ed. by John Lynch. Canberra: Australian National University. Pacific Linguistics Series C.

2002. Review Article: Pacific Languages: An Introduction by John Lynch. In Pacific Studies Vol. 24Nos.3/4—Sep.-Dec. 2001 Honolulu: Brigham Young University-Hawaii, Institute for Polynesian Studies, pp. 93-100.

2000. “Where Did the Rejangs Come From?” In Marlys Macken (ed.), Proceedings of the Tenth Annual Conference of the Southeast Asia Linguistics Society, University of Arizona.

1999. “The Position of the Rejang Language of Sumatra in Relation to Malay and the ‘Ablaut’ Languages of Northwest Borneo.” In Elizabeth Zeitoun and Paul Jen-kuei Li (eds.), Selected Papers from the Eighth International Conference on Austronesian Linguistics. Taipei: Academia Sinica Institute of Linguistics, 205-226.

1998. “Anti-ECP Effects in the Rejang Language of Sumatra. Canadian Journal of Linguistics 43(3/4): 359-376.

1997 “Some Irregular Reflexes of Proto-Malayo-Polynesian Vowels in the Rejang Language of Sumatra”. Diachronica XIV.1:67-108.

1994 “COTSEAL Tenth Anniversary Address”. Journal of Southeast Asian Language Teaching III:34-40.

1991 “Pronouns, Politeness and Hierarchy in Malay.” In Robert Blust (ed.), Currents in Pacific Linguistics: Festschrift in Honor of George W. Grace. Canberra, Australian National University: Pacific Linguistics C-117, pp. 197-221.

1989 “The Animacy Hierarchy and Western Austronesian Languages”. The Ohio State University: ESCOL ’89, pp. 207-217.

1988a Book editor, with Introduction. Studies in Austronesian Linguistics. Athens, Ohio: Ohio University Monographs in International Studies, Southeast Asia Series No. 76; 492 pp.

1988b “Government and Case in Tagalog,” Studies in Austronesian Linguistics, McGinn (ed.), pp. 275-294.

1985a “Introduction to Interpretive Approaches to Southeast Asian Languages and Cultures” (with Susan Rodgers), Journal of Asian Studies , XLIV No. 4. pp. 735-742.

1985b “A Principle of Text Coherence in Indonesian Languages,” Journal of Asian Studies XLIV No. 4, pp. 743-753.

1982a Outline of Rejang Syntax. Jakarta: Series NUSA, Linguistic Studies in Indonesian and Languages of Indonesia.

1982b “On the So-Called Implosive Nasals of Rejang” (with James Coady), Gava` 17: Studies in Austronesian Languages and Cultures: Festschrift for Hans Kahler. Reiner Carle (ed), pp. 437-449.

Research Papers Presented Recently at Conferences

2002 McGinn, Richard. Raising of PMP *a in Bukar-Sadong Land Dayak and Rejang. Paper delivered at the 9th International Conference on Austronesian Linguistics, Canberra, Australia, January 8-10.

2000 “Where Did the Rejangs (And the Malays) Come From?” Presented at the annual meeting of the Southeast Asia Linguistics Society, Madison, Wisconsin, May 5-7.

1997 “The Position of Rejang among the Malayo-Polynesian Languages”. Presented at the Eighth International Conference for Austronesian Linguistics, Taiwan, R. O. C., December 28-30.

1997 “Syllable Reduction in Rejang and Malay”. Invited paper, Workshop in Comparative Linguistics, Wayne State University, Detroit, MI, October 15-16.

1997 “Isolation vs. Adaptability in Rejang Language and Culture”, Association for Asian Studies annual meeting, Chicago, IL, March 16-18.

1995 “Discourse, Markedness, and the Evolution of Focus in Rejang”. Austronesian Formal Linguistics Association (AFLA) annual meeting, Montreal.

1994 “The Role of Dialect Evidence in Rejang Historical Phonology”. Seventh International Conference on Austronesian Linguistics. Leiden, The Netherlands.

1994 “The Empty Category Principle and Western Austronesian Languages”. University of Toronto. Austronesian Formal Linguistics Association (AFLA) annual meeting, Toronto.

1991 “Some Indirect Object Properties in Philippine Languages”. Sixth International Conference on Austronesian Linguistics. Honolulu, Hawaii.

Researchin Progress:

Three-volume Mss.

THE REJANG LANGUAGE: VOLUME I – HISTORICAL PHONOLOGY

THE REJANG LANGUAGE: VOLUME II – GRAMMAR

THE REJANG LANGUAGE: VOLUME III – TEXTS AND TRANSLATIONS

ht*p://www.ohiou.edu/linguistics/people/McGinn.html

SEMINAR BAHASA DAN HUKUM ADAT REJANG

March 10, 2008

SEMINAR BAHASA DAN HUKUM ADAT REJANG

SABTU 17 NOVEMBER 2007

PSKK STAIN, CURUP

ASAL BAHASA REJANG

Richard McGinn

Ohio University USA

0. Ringkasan

Di dalam tulisan ini, kami mengajukan tiga hipotesa yang secara logis tidak perlu diterima sekaligus atau sebagai gabungan. Ketiga-tiganya didasarkan atas perbandingan bahasa-bahasa, terutama perbandingan kosakata sehari-hari termasuk bentuk (struktur) perkataan.

1. Bahasa Rejang adalah anggota subkelompok besar “Austronesia” dan turun dari bahasa induk purba yang bernama Austronesia Purba.

2. Dialek-dialek Rejang adalah anggota subkelompok kecil di Sumatra yang turun dari bahasa induk purba yang kami namai bahasa Rejang Purba. Ternyata, dialek Rawas yang paling penting dalam upaya merekonstruksikan Rejang Purba. Selanjutnya bahasa Purba dipergunakan sebagai langkah pertama atau ‘menara berlampu’ untuk melihat dengan lebih jelas dan lebih jauh ke masa lalu – misalnya untuk mengatahui tempat yang paling pertama diduduki oleh suku Rejang.

3. Bahasa Rejang (purba) adalah anggota subkelompok Bidayŭh dan turun dari bahasa induk yang kami namai Rejang-Bukar-Sadong-Bidayŭh Purba. Lagi pula, leluhur Rejang itu berasal dari sana, yaitu Kalimantan Utara.

Tiga hipotesa ini tidak sama penilaiannya. Misalnya, hipotesa yang pertama sudah sering dibenarkan oleh para akhli bahasa sejak 70 tahun belakang ini; dengan demikian kami kemukakannya sebagai latar belakang. Lain halnya dengan hipotesa kedua dan ketiga yang kami ajukan sebagai teori pribadi. Walau sudah diterbitkan dalam jurnal dan buku, haruslah diakui bahwa hipotesa kedua dan ketiga masih baru, dan belum banyak didiskusikan (apalagi dibenarkan dan dikonfirmasikan) oleh para akhli bahasa. Malah teori ketiga sudah memiliki pendukung (Zork 2006) dan pengritik (Adelaar 2007).

1. Hipotesa yang pertama

Bahasa dan suku Rejang adalah anggota kelompok besar bahasa-bahasa yang bernama “Austronesian”, yang terdiri dari lebih dari seribu duaratus bahasa, yang tersebar di Asia Tenggara dan pulau-pulau di Lautan Pasifik dengan penutur berjumlah ratusan juta orang (Dempwolff 1934-1938; Dahl 1976; Blust (MS, no date). Berikut adalah beberapa contoh kata sehari-hari yang merupakan bahan keterangan (data, fakta) untuk dimengerti dan ditafsirkan oleh hipotesa serupa rekonstruksinya bahasa Austronesia Purba.

Kata-kata Sehari-hari dalam Tujuh Bahasa Austronesia

Melayu Rukai Tagalog Bidayuh Rejang Samoan Malagasy

(Taiwan) (Filipina) (Kalimantan) Rawas (Pasifika) (Afrika)

Dua dosa da-lawa duŭ duei lua rua

Empat sepate apat umpĕt pat fi efatra

Lima lima lima rimŭ lemau lima dimi

Enam enem anim inŭm num ono ëninä

Ayam (aDaDame) manok manuk monok manu ??

Kutu koco kuto gutu guteu ?utu hao

Mata maca mata matŭh matei mata maso

Telinga calinga talinga (kaping) (ti’uk) talinga tadini

Ati aTay atay ati atui ate ati

Jalan dalan da?an jĕrĕn dalen ala ??

Niur (abare) niyog (buntĕn) niol niu ??

Ujan odale ulan ujĕn ujen ua uranä

Langit (sobelebeleng) langit rangit längät langi laniträ

Batu (lenege) bato batuh buteu fatu `fruit pit‘ vato

Makan kane ka?in ma?an ka?en ?ai hanä

Bahasa-bahasa di atas ini tersebar di hampir semua kepulauan Asia Tenggara dan Pasifik waktu sekarang, dari Taiwan (Rukai) hingga di Afrika (Malagasy) dan lautan Pasifik (Samoan). Ternyata, semua bahasa ini termasuk dalam satu kelompok bahasa, yaitu Austronesian. Prinsip dasar ilmu sejarah bahasa yang jelas digambarkan adalah: Evolusi fonologi sangat sistematis dan bertata dalam setiap dialek. (“Sound changes are regular”). Misalnya huruf ‘c’ dalam bahasa Rukai selalu menunjukkan ‘t’ atau ‘s’ atau nol dalam bahasa lain (lihat Kutu, Mata, Telinga) tanpa kecualian. Data seperti ini mustahil telah muncul hanya sebagai kebetulan saja, atau sebagai gara-gara kecampuran penduduk yang jauh sekali jarak antaranya pada waktu sekarang. Sebaliknya, para akhli bahasa menyatakan bahwa semua perkataan di atas itu diwariskan dari sebuah bahasa induk yang walaupun sudah lama mati sebagai bahasa sehari-hari, masih tetap hidup serupa bahasa keturunannya.

2. Di manakah Tempat yang paling Lama Diduduki oleh Suku Rejang?

Hipotesa 2: Dialek-dialek Rejang merupakan subkelompok terpencil di Sumatra yang turun dari bahasa induk purba yang kami namai Rejang Purba. Ternyata, dialek Rawas yang paling konservatif yaitu penting dalam upaya merekonstruksikan Rejang Purba. Selanjutnya bahasa Purba dipergunakan sebagai langkah pertama atau menara berlampu untuk melihat dengan lebih jelas dan lebih jauh ke masa lalu–misalnya untuk mengatahui tempat yang paling pertama diduduki oleh suku Rejang.

Dalam seksi tulisan ini akan dibicarakan keunikan bahasa Rejang pada umumnya, kemudian sumbangan setiap dialek untuk merekonstrusikan bahasa Rejang Purba.

2.1 Keunikan Bahasa Rejang

Bahasa Rejang yang unik ini dapat dicirikan oleh beberapa macam unsur leksikon, tatabahasa dan fonologi.

PERBENDAHARAAN KATA YANG KAYA-RAYA

STRUKTUR KALIMAT YANG SUSAH DITERJEMAHKAN

Rajo yo mebureu coa si awié lak nien.

SISIPAN -EM- DAN -EN-

In“uk cemerito dongéng kelem. ~ Dongéng o cenerito in“uk ku.

KETIDAKADAAN AKHIRAN

Uku nelei nak Cu’up = Saya dibesarkan di Curup

DUA SERIAL NASAL (BUNYI SENGAU)

jam“eu in“ok sing“eak janj“ei

‘jambu’ ‘ibu’ ‘singgah’ ‘janji’

TEKANAN PADA AKHIR PERKATAAN

“Lalan Bélék” delafalkan LaLAN bĕLÉK (bukan LAlan BÉlék)

HARMONI VOKAL

MPP Rejang MPP Rejang

*langit léngét *nyamuk nyomok

*Rakit ékét *tungked tokot

*balik bélék *ipen épén~äpän (Rawas)

*manuk monok *hiket ékét~äkät (“)

*sabung sobong *isep ésép~äsäp (“)

BANYAK SEKALI DIFTONG

MPP RP Pes Leb Musi Keban Rawas

1. *danaw *daniu daneu daneu danuo danea daniu

2. *qatay *atui atui atei atié ateé atui

3. *kahiw *kiiu kieu kieu kiuo kiea kiiu

4. *hapuy *upui upui opoi opoi opoi upui

5. *tinaqi *tenui tenui tenei tenié teneé tenui

1. *sapu *supu supau supau supeu supeu supeu

2. *talih *tili tilai tilai tilei tilei tilei

3. *duha *dui duai duai duei dui duei

4. *mata *mati matai matai matei matei matei

5. *kena *kena keno keno keno keno kenau

Keunikan bahasa Rejang dan perbedaan dialek-dialeknya satu sama lain yang memungkinkan merekonstruksikan bahasa Rejang Purba sebagai suatu hipotesa. Sebaliknya bahasa Purba mengandung informasi tentang sejarah bahasa dan suku Rejang.

Yang muncul dengan jelas dari penelitian kami adalah: dialek Rawas dan Kebanagung yang paling penting dalam perekonstruksian bahasa Rejang Purba, sedangkan dialek Lebong, Pesisir dan Musi lebih bermanfaat untuk menunjukkan proses evolusi fonologi. Dengan kata lain, perekonstruksian bahasa purba Rejang tidak mungkin dengan hanya dialek Lebong, Musi dan Pesisir, sebab ketiganya sangat mirip dan perbedaannya sedikit sekali. Lain halnya dengan dialek Rawas dan Kebanagung yang sangat berbeda dengan dialek Rejang lain.

2.2 Sumbangan Dialek Kebanagung

Berikut adalah dua sumbangan dari dialek Kebanagung yang paling penting.

1. H diwariskan dari Rejang Purba *r (yang hilang dalam dialek lain): hotos ‘ratus’; kehing ‘kering’; libeh ‘lebar’

2. -i dalam dui, tui, bungi diwariskan dari *due, tue, bunge dalam bahasa Rejang-Bukar-Sadong Purba (yang menjadi diptong duey atau duay dalam dialek Rejang lain).

2.3 Sumbangan Dialek Rawas

Adalah tiga sumbangan dari dialek Rawas yang paling penting.

1. Konson -l di akhir kata diwariskan dari Rejang Purba *-l, *-r.

2. Diftong ui dan iu diwariskan dari Austronesia Purba *ui dan *iu tanpa perubahan

sejak 6000 tahun.

3. Vokal ä diwariskan dari Rejang Purba *ä yang bergabung dengan é dalam dialek lain.

2.3.1 MPP *-l, *-R dan Rawas -l

MPP *-l di akhir kata diwariskan dari Rejang Purba *-l, *-r yang hilang dari dialek lain, misalnya: niol ‘niur’; biol ‘air’; tenol ‘telur’ dalam Rawas tetapi menjadi nioa, bioa, tenoa dalam dialek lain.

Juga MPP *-R berubah menjadi RP *-l dan *-r dalam Bahasa Rejang Purba.

MPP RPur P&L Musi Keban Rawas Melayu

A *wahiR *biol bioa bioa bioa biol air

*niuR *niol nioa nioa nioa niol niur

*ikuR *ikol ikoa ikoa ikoa iko? (borr) ékor

*dapuR *dopol dopoa dopoa dopoa dopol dapur

*qateluR *tenol tenoa tenoa tenoa tenol telor

*tiduR *tidul tidua tidoa tiduh(borr) tidul tidur

*dengeR *tengol tengoa tengoa tengoa n.c. dengar

B *huluR *ulur ulua oloa uluh ulua ulur

*qapuR *upur upua opoa opoh upua kapur

*libeR *liber libea libea libeh libea lébar

*qiliR *ilir n.c. éléa ilih n.c. ilir

2.3.2 MPP, RP *iu dan *ui dan Rawas iu dan ui

Diftong MPP *uy dan *iw diwarisi kepada Rawas dan Rejang Purba Purba ui dan iu tanpa perubahan sejak 6000 tahun, sedangkan sudah berubalah dialek yang lain.

MPP RP Pes Leb Musi Keban Rawas

*kahiw *kiiu kieu kieu kiuo kiea kiiu

*hapuy *upui upui opoi opoi opoi upui

2.3.3 Rejang Purba dan Rawas *ä

Rejang Purba *ä menjadi é dalam setiap dialek kecuali Rawas.

MPP RPurba Rawas Dialek lain Melayu

*nahik *näk näk nék naik

*paqit *pät pät pét pahit

*ipen *äpän > äpän épén (gigi)

*langit *längät > längät léngét langit

Oleh sebab adanya Rawas -l, ui, iu, ä; dan adanya Kebanagung dui, tui, bungi dan H, maka sebagian kecil sejarah bahasa Rejang tidak hilang.

Lain halnya dengan kecirikhasan fonologi dialek Lebong, Pesisir dan Musi, yang menunjukkan proses evolusi fonologi.

2.4 Kecirikhasan Fonologi Dialek Lebong

Pada umumnya, kecirikhasan Lebong menunjukkan evolusi fonologi. Berikut adalah beberapa contoh yang penting.

Lebong Rejang Purba Melayu

1. ei sadei, atei *sadui, atui desa, ati

2. eu piseu, daneu *pisiu, *daniu pisau, danau

3. ai duai, isai *dui, *isi dua, isi

4. au supau, butau *supu, *butu sapu, batu

5. -ok anok, bapok *anak, *bapak anak, bapak

6. u dute, luyen *dete, *leyen semua, lain

7. oi poi, moi *pai, *mai padi, ke

2.5 Kecirikhasan Fonologi Dialek Pesisir

Juga kecirikhasan Pesisir cenderung menunjukkan evolusi fonologi. Berikut adalah beberapa contoh yang penting.

Pesisir Arga Makmur Rejang Purba Melayu

1. ui sadui, atui *sadui, *atui desa, ati

2. eu piseu, daneu *pisiu, *daniu pisau, danau

3. ai duai, isai *dui, *isi dua, isi

4. au supau, butau *supu, *butu sapu, batu

2.6 Kecirikhasan Fonologi Dialek Musi

Juga kecirikhasan Musi cenderung menunjukkan evolusi fonologi. Berikut adalah beberapa contoh yang penting.

Musi Rejang Purba Melayu

1. sadié, atié *sadui, *atui desa, ati

2. uo pisuo, danuo *pisiu, *daniu pisau, danau

3. ei duei, isei *dui, *isi dua, isi

4. eu supeu, buteu *supu, *butu sapu, batu

5. -éak lebéak, putéak *lebi?, *puti? lebih, putih

6. -oak poloak, penoak *pulu?, *penu? puluh, penuh

2.7 Sumbangan Lebong, Pesisir dan Musi kepada Rejang Purba

Kebetulan ada juga unsur dialek Lebong, Pesisir dan Musi yang menunjukkan Rejang Purba, dan sebaliknya, ada unsur dialek Rawas yang menunjukkan perkembangan baru dan bukan Rejang Purba. Berikutlah ada dua contoh yang menarik dan penting.

1. -iak dan -uak dalam Pesisir dan Lebong diwariskan dari RP *-i? dan *-u? yang berubah lebih lanjut dalam Rawas; misalnya dalam Rawas RP *puti? menjadi putäh dan *pulu? menjadi poloh.

2. Serial kata ganti dalam Pesisir, Lebong, Musi dan Kebanagung, yaitu uku, kumu, ko, nu, udi, si, diwariskan langsung dari Rejang Purba, sedangkan serial itu sudah berubah dalam Rawas menjadi: keu, kumeu, kaben, kaben, kaben, sei.

2.8 Kesimpulan tentang Sumbangan setiap Dialek

Rawas dan Kebanagung berfungsi sebagi “dialek kriterion” dalam usaha reconstruksi Rejang Pruba. Sebab kebanyakan kecirikhasannya menunjukkan kepada unsur-unsur bahasa Rejang Purba. Sedangkan dialek lainnya (Lebong, Pesisir dan Musi) berfungsi sebagai “dialek ujian” untuk membenarkan Rejang Purba; kebanyakan kecirikhasannya menunjukkan perkembangan-perkembangan baru.

Akhir katanya, sumbangan setiap dialek sama pentingnya tetapi tidak sama gunanya

2.9 Di manakah Tempat yang paling Lama Diduduki oleh Suku Rejang?

Dengan adanya bahasa Rejang Purba, muncullah pertanyaan dengan jawabannya juga. Pertanyaannya adalah: di mana tempat nenek-moyang pada waktu mereka masih berbicara dengan bahasa Rejang Purba? Artinya, dari mana titik tolaknya waktu mereka mulai menyebar ke seluruh tanah Rejang?

Jawabannya yaitu: mengikuti prinsip akhli bahasa Blust (1991b) dan Ross (1991), umumnya dialek para perantau cenderung berkembang cepat sedang dialek orang yang tinggal cenderung berkembang lebih lambat (konservatif). Malah Ross (1991) menambahkan pengaruh psikologi: para perantau cenderung toleran terhadap “kesalahan” (perubahan bahasa) yang selalu akan muncul dari mulut anak-anak, sedang orang yang tinggal tidak setoleran “kesalahan” itu. Prinsip ini pasti menunjukkan Rawas sebagai tempat pertama nenek moyang waktu mereka masih berbahasa dengan Rejang Purba.

2.10 Terletak Geografi

Akhirnya, hipotesa tentang Rejang Rawas sebagai tempat Rejang Purba cocok dengan letak geografi di Sumatra.



Tanah Rawas terletak di hulu Sungai Rawas yang sudah lama menjadi jalan untuk memasuki pedalaman hampir sampai di puncak Bukit Barisan. Dari sana orang bisa berjalan kaki ke Lebong dengan tidak susah-payah, mengikuti jalan gajah. Sebaliknya Sungai Rawas mengalir jauh sekali ke laut sampai di Pulau Bangka tanpa halangan berupa air terjun. Artnya mudah sekali naik perahu ke Rawas dan tidak terlalu sulit berjalan kaki ke Lebong.

Kesimpulan: Cukup banyak fakta yang menunjukkan Rawas sebagai dialek yang paling unik dan konservatif, dan tempatnya sebagai tempat yang paling lama dihuni orang Rejang. Walaupun demikian, hipotesa kedua sangat terbatas dan belum dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan lain seperti: Dari mana datangnya pelopor pertama, leluhur Rejang Purba, sebelum mereka pergi merantau sampai di tanah Rejang? Apakah mereka datang dari arah timur melalui Sungai Musi, ataukah dari arah lain seperti misalnya barat-laut dari daerah Jambi dan Minangkabau sekarang? Ataukah mungkin dari pantai barat konon melalui Sungai Ketaun sampai ke tanah Pesisir dan Lebong sekarang? Untuk menjawab pertanyaan ini, perlulah kita pindahkan perhatian kepada hipotesa baru, yaitu hipotesa ketiga dalam tulisan ini.

3. Hipotesa Ketiga: Asal Bahasa Rejang

Hipotesa ketiga tergantung total atas adanya bahasa Rejang Purba sebagai langkah pertama atau menara lampu untuk dapat melihat lebih jauh ke masa lalu. Jadi tujuan penelitian kini adalah untuk mencari bahasa Austronesia lain yang sedemikian sama dengan Rejang Purba sehingga dapat dinyatakan mereka adalah anggota sebuah subkelompok (sekelompok kecilan). Kalau benar ditemukan subkelompok bahasa seperti itu dalam dunia bahasa di Asia Tenggara, maka sangat mungkinlah kesimpulan bahwa suku Rejang berasal dari sana.

Hipotesa Ketiga: Bahasa Rejang (purba) adalah anggota subkelompok Bidayŭh (Land Dayak) dan turun dari bahasa induk yang kami namai Rejang-Bukar-Sadong-Bidayŭh Purba. Lagi pula, leluhur Rejang itu berasal dari sana atau sekitarnya, yaitu Kalimantan Utara, di bagian selatan dari kota Kuching sekarang (daerah 2 dalam peta). Ada juga Sungai Rejang dekat situ.

auto0

Tujuan seksi tulisan ini untuk membenarkan hipotesa keanggotaan bahasa Rejang dan bahasa Bukar-Sadong dalam sebuah subkelompok yang dinamai Rejang-Bukar-Sadong Purba. Hipotesa didasarkan atas 12 perkembangan bersama fonologi, dan 9 kesamaan tatabahasa.

3.1 Prinsip

Kemunculan bersama dari perkembangan-perkembangan fonologi yang menentukan keanggotaan dua bahasa dalam satu subkelompok.

Hasil penelitian kami baik di Sumatra maupun di Kalimantan Utara menunjukkan sebuah bahasa di Sarawak, Malasia, sebagai bahasa yang paling dekat dengan Rejang Purba. Meskipun demikian, harus diakui bahwa “paling dekat” tidak berarti “dekat”. Kedua bahasa itu sangat berbeda, tetapi banyak kesamaan juga. Maka hipotesa keanggotaan kedua bahasa itu merupakan suatu hipotesa saja yang baru kami ajukan sejak tahun 2003 dalam jurnal dan buku.

Nama bahasa di Kalimantan itu adalah bahasa Bukar-Sadong Bidayŭh. Nama itu mencirikan penuturnya sebagai penduduk tanah pertanian terletak di pegunungan antara Sungai Bukar dan Sungai Sadong; dan nama Bidayŭh itu menunjukkan keanggotaan mereka dalam sebuah subkelompok besar dengan anggotanya sejumlah 20 bahasa lebih. Rupanya ke-20 bahasa Bidayŭh itu berbeda sekali dengan satu sama lain, sehingga tidak saling dimengerti oleh penuturnya masing-masing.

Kedua bahasa purba itu jelas keturunan dari bahasa Melayu-Polynesia Purba (MPP).

Berikut adalah perkembangan bersama dan kesamaan lain antara bahasa Rejang Purba dan Bahasa Bukar-Sadong Purba.

3.2 Kesamaan Fonologi 1-6

Baik Rejang Purba maupun Bukar-Sadong Purba memperlihatkan perkembangan fonologi bersama dari Melayu-Polinesia Purba (MPP).

MPP

1. *-mb-, *-nd-, *-ngg-, *-nj- > -m“-, -n“-, ng“, nj“ (`barred nasals’)

Rejang Rawas: em“un tan“e ping“an minj“em

Bukar-Sadong: am“um tan“ŭ ping“an minj“em

‘awan’ ‘tanda’ ‘piring’ ‘meminjam’

2. *-m, *-n, -ng > -bm, -dn, -gng (‘pre-stopped nasals’)

Di akhir kata, bunyi sengau biasa sering dilafalkan dengan tambahan konsonan hambat.

Rejang: dolobm, buledn, burugng, minj“ebm

Bukar-Sadong: jarubm, burĕdn, bŭrŭgng, minj“ebm

`bundar’

3. *qa- hilang dalam tiga-sukukata

MPP: *qapeju *qalimetaq *qateluR

Rejang: pegeu liteak tenol

Bukar-Sadong: puduh matak tolok

‘empeduh’ ‘lintah’ ‘telur’

4. *-Ce- dan *-eC- hilang dalam tiga-sukukata

MPP: *binehi *baqeRu *palaqepaq

Rejang Lebong: biniak belau pelepak

Bukar-Sadong: bénék bauh kilepak

‘benih’ ‘baru’ ‘pelapah’

5. *-q > *-k [-?]

MPP *taneq *jibaq *hasaq

Rejang Lebong: taneak jibeak aseak

Bukar Sadong: tanak abak asak

6. *z > *j (kec. Rej. d- dalam `dalen’ dan `dolom’)

MPP: *quzan *pinzem *tuzuq

Rej Lebong: ujen minj“em tujuak

Buk-Sad: ujĕn minj“em ijuk

3.3 Kesamaan Fonologi KE-7: Perkembangan MPP Diftong *aw dan *ay

Dalam kedua diftong *ay dan *aw MPP itu, vokalnya *-a- berkembang menjadi *-e- dalam Bahasa Rejang-Bukar-Sadong Purba (yang mirip Rejang Lebong sekarang).

MPP Rej-Buk-Sad Rejang Pur Buk-Sad Purba

Purba &Rawas & Tibakang

*danaw *daneu daniu danu

*punay *punei punui puni

*qatey *atei atui ati

3.4 Kesamaan fonologi KE-8: MPP *uy tidak berubah dan diwariskan sebagai ui

MPP Rej-Buk-Sad Rejang Purba Buk-Sad Purba

Purba &Rawas & Tibakang

*hapuy *apui upui apui

*kahiw *kaiu kiiu kayu

3.5 Kesamaan Fonologi 9-10: Perkembangan MPP *-a di akhir kata

Antara banyaknya evolusi MPP *a dalam sejarah bahasa Rejang termasuk dua perkembangan yang paling penting untuk hipotesa kami. MPP *a naik menjadi *e dalam pola perkataan KVKaK dan KVKa nampaknya bersama dalam sejarah bahasa Rejang dan Bukar-Sadong. Kedua perubahan ini terdapat sebelum tekanan menggeser ke akhir kata, yaitu sewaktu vokal *a itu tak ditekankan.

3.5.1 Kesamaan Fonologi 9: Perkembangan Bersama yang paling Penting

Dalam pola KVKaK (silabel akhir kata tertutup), MPP *-a berubah menjadi /e/ = /ĕ/ kecuali konsonan terakhir adalah [+velar] (ka-ga-nga-qa). Perubahan yang unik ini terdapat dalam semua dialek Rejang dan Bukar-Sadong.

MPP Keban- Tibakang Melayu

agung (Sarawak)

A. *bulan bule:n burĕ:tn bu:lan

*quzan uje:n ujĕ:tn u:jan

*surat suhe:t surĕ:t su:rat

B. *anak ana:k ana:k a:nak

*hisang isa:ng insa:kng i:sang

*hasaq asa:h ng-asa:? a:sah

3.5.2 Kesamaan Fonologi Ke-10

Dalam pola KVKa (silabel akhir kata terbuka), MPP *-a berubah menjadi /e/. Perubahan ini terdengar dalam puluhan bahasa di Nusantara termasuk semua dialek Rejang dan Bukar-Sadong. Tetapi ada keunikan juga, sebab antara puluhan bahasa itu, hanya Rejang dan Bukar-Sadong mempunyai tekanan pada vokal yang bersangkutan. Logisnya, perubahan *a > e adalah unsur evolusi lama dalam Rejang dan Bukar-Sadong. Lain halnya dalam puluhan bahasa lain itu, di mana *a > e telah muncul sebagai pinjaman dari bahasa Sanskerta dan Jawa di zaman Majapahit . (Tadmor 2003)

MPP Rejang Buk-Sad Tibakang Melayu

Purba Purba

*mata *ma:te *ma:te bate:h mata

*nanga *na:nge *na:nge nange:h muara

*lima *li:me *ri:me rime:h lima

*duha *du:e *du:e due:h dua

*ni?a *ni:?e *ni:?e ni?e:h nya

3.5.3 Rangkuman Kesamaan Perkembangan 9-10 secara Formal

*a > *e / V:C__(C[-velar])#

Rej-BS Purba > perkemgangan Kebanagung Melayu

*ki:ta > kite > ite kita

*du:ha > *du:e > dui: > dui dua

*ma:ta > *ma:te > *mati: > matei mata

*bu:lat > *bu:let > bule:t bulet bundar

*a:nak > *anak anak anak

3.5.4 Kesamaan ke-11 – Tekanan Menggeser ke Akhir Kata

Tekanan di akhir kata juga muncul bersama dalam Rejang Purba dan Bukar-Sadong Purba.

Dalam hipotésa kami, sesudah perkembangan tekanan itu, berpisahlah suku Rejang dan mulailah mereka hidup sendirian. Kemudian mereka masih tinggal di Kalimantan selama 1000 tahun baru migrasi ke Sumatra.

3.6 Tiga Macam Kesamaan Tatabahasa

Selain kesamaan evolusi fonologi, ada juga beberapa kesamaan tata bahasa yang mungkin juga menunjukkan bahasa Rejang-Bukar-Sadong-Bidayŭh Purba.

1. Awalan hilang

2. Kasus kataganti hilang

3. Beberapa kata-berfungsi yang sepadan

Arti Tibakang RejPurba Melayu

Masa lalu embeh *mi~bik~bi sudah

Masa depan kelék *kelak hendak

Bentuk perintah boh, mah *bah~ba lah

`Berapa?’ kudu *kedu berapa

`Di’ ang *tang di

`Mana?’ api *ipe mana

‘Yang’ de *di~do yang

3.7 Kesimpulan: Suku Rejang Berasal dari Kalimantan Utara

Kesimpulan kami dapat digambarkan dalam bentuk pohon bercabang yang mewakili hipotesa ketiga tentang asalnya suku Rejang.

Hipotesa Subkelompok Rejang dan Bukar-Sadong

Bahasa Rejang-Bidayŭh Purba 3500 tyl di Kalimantan Utara

Rejang-Bukar-Sadong Purba (3000 tyl) Biatah Milikin Grogo Singgai Lara’ Lunde

*a > e / V:C__(C[-velar])#



pra-Rejang pra-Bukar-Sadong


(migrasi ke Sumatra 1200 tyl)

Rejang Purba (1000 tyl) Bukar-Sadong Purba (1000 tyl)

Menurut hipotesa, nenek moyang suku Rejang keturunan dari suku Rejang-Biday«h yang berada di Kalimantan Utara antara 3500-3000 tahun yang lalu. Kemudian bahasa Rejang-Bukar-Sadong berpisah menjadi Rejang dan Bukar-Sadong, dan sesudah itu, suku Rejang hidup sendirian di Kalimantan Utara selama 1000 tahun lebih. Kemudian entah mengapa suku Rejang migrasi ke Sumatra kira-kira 1200 tahun yang lalu.

Dalam perjalannya yang jaraknya kurang dari 600 kilometer, mereka naik perahu menyeberangi lautan melalui selat Bangka dan masuk Sungai Musi lalu menyusurinya hingga mencapai muara Rawas. Di sana sungai itu bercabang. Ada separuh dari imigran tersebut meneruskan perjalanannya menyusuri sungai Musi terus melewati Bukit Dempo sampai menemukan lahan yang bagus di daerah Kebanagung sekarang. Yang separuh lagi belok ke kanan dan menyusuri sungai Rawas hingga ke bagian yang paling hulu. Di hulu Rawas terdapat lahan yang baik untuk pertanian dan juga bermanfaat. Dari sana para imigran berjalan ke Lebong tanpa bersusah-payah melalui jalan gajah. Dengan demikian, para pendiri Rejang dapat mencapai Lebong yang sangat indah dan subur itu. Seiring dengan waktu, kemudian dari Lebong ada sekelompok pelopor yang membuka lahan baru sampai ke Pesisir dan daerah Gunung Kaba di sekitar Curup sekarang.

Konon nenek-moyang Rejang tersebut tidak menemukan penduduk lainnya di Sumatra. Namun, tidak lama kemudian para pelopor Rejang ini disusul oleh pelopor Melayu yang cukup puas menduduki dataran rendah sehingga saat ini mereka menempati dataran rendah, sedangkan orang Rejang menduduki dataran tinggi.

Seminar Bahasa dan Budaya Rejang

STAIN Curup

17 November 2007

PUSTAKA ACUAN

A. Pustaka tentang Bahasa Rejang oleh Richard McGinn

2009 (akan datang) Out-of-Borneo Subgrouping Hypothesis for Rejang: Re-weighing the

Evidence. In Festschrift, ed. by K. Alexander Adelaar. Canberra: Australian

National University.

2008a (akan datang, dengan Dr. Zainubi Arbi). Serial Buku Bacaan Bahasa Rejang untuk

Kanak-kanak. (Lima dialek x dua judul = sepuluh buku.) Akan diterbitkan oleh

pemerintah.

2008b (akan datang) Indirect Licensing at the Interface of Syntax and Semantics in Rejang.

Proceedings of the 16th Meeting of the Southeast Asian Linguistics Society, ed. by Uri

Tadmor. Jakarta: Universitas Atma Jaya.

2005. What the Rawas Dialect Reveals About the Linguistic History of Rejang. Oceanic

Linguistics 44.1:12-64.

2003. Raising of PMP *a in Bukar-Sadong Land Dayak and Rejang. In Issues in Austronesian

Historical Phonology, ed. by John Lynch. Canberra: Australian National University .

Pacific Linguistics Series C, pp. 37-64.

2000. Where Did the Rejangs Come From? In Marlys Macken (ed.), Proceedings of the Tenth

Annual Conference of the Southeast Asia Linguistics Society, University of Arizona.

1999. The Position of the Rejang Language of Sumatra in Relation to Malay and the ‘Ablaut’

Languages of Northwest Borneo. In Elizabeth Zeitoun and Paul Jen-kuei Li (eds.),

Selected Papers from the Eighth International Conference on Austronesian Linguistics.

Taipei: Academia Sinica Institute of Linguistics, pp. 205-226.

1998. Anti-ECP Effects in the Rejang Language of Sumatra. Canadian Journal of Linguistics

43(3/4):359-376.

1997 Some Irregular Reflexes of Proto-Malayo-Polynesian Vowels in the Rejang Language of

Sumatra. Diachronica XIV.1:67-108.

1991 Pronouns, Politeness and Hierarchy in Malay. In Robert Blust (ed.), Currents in Pacific

Linguistics: Festschrift in Honor of George W. Grace. Canberra, Australian National

University: Pacific Linguistics C-117, pp. 197-221.

1989 The Animacy Hierarchy and Western Austronesian Languages. The Ohio State University: ESCOL ’89, pp. 207-217.

1985 A Principle of Text Coherence in Indonesian Languages, Journal of Asian Studies

XLIV.4:743-753.

1982a Outline of Rejang Syntax. Jakarta: Series NUSA, Linguistic Studies in Indonesian and

Languages of Indonesia.

1982b On the So-Called Implosive Nasals of Rejang (with James Coady). In Reiner Carle (ed),

Gava` 17: Studies in Austronesian Languages and Cultures: Festschrift for Hans Kähler.

pp. 437-449.


B. Penelitian Masih Belum Selesai

The Musi Dialect of Rejang: Phonology and Morphology. (monograph, akan diterbitkan

oleh jurnal Lingua, Departemen Linguistik dan Pendidikan Bahasa, Pasca Sarjana,

Universitas Sriwijaya, Palembang)

(dengan teman sepengarang Dr. Zainubi Arbi)

Percakapan Dengan Petani-Petani Rejang Pada Tahun 1974. (artikel)

Rejang Teks dalam Lima Dialek Rejang. (monograph)

C. Pustaka Acuan lain tentang

Bahasa dan Budaya Rejang

Aichele, W. 1935, 1984. A fragmentary sketch of the Rejang language. Reprinted in Jaspan

(1984), pp. 145-158.

Blust, Robert A. 1984. On the history of the Rejang vowels and diphthongs. Bijdragen tot

de Taal-, Land- en Volkenkunde 140:422-450.

Galizia, Michele. 1992. Myth does not exist apart from discourse, or, The story of a myth that

became history. In Victor T. King, ed. The Rejang of southern Sumatra. Hull, England:

University of Hull Centre For South-East Asian Studies, pp. 3-29.

Hazairin. De Redjang. 1936. De volksordening, het verwantschaps-,huweliijks- en erfrecht.

Batavia doctoral thesis (unpublished). 242pp. With map. Bandoeng.

Helfrich, O. L. Uit de folklore van Zuid-Sumatra. BKI 83(1927), pp. 193-315. (Rejang texts pp.

244-248 w/translation pp. 308-315).

Holle, van K. F. n.d. Rejdangische Woordenlijst door den controleur SWAAB in het archief te

Kepahiang aangetroffen, door een onbekende bewerkt naar de blanco-woordenlijst,

36pp.

Hosein, H. M. 1971 ms. Edited by Abdullah Sani. Rejang asal-usul. 58 pp. (stenciled)

Hosein, H. M. 1971 Ms, edited by Abdullah Sani. Rejang asal-usul. 58pp. (stencilled)

Jaspan, Mervyn A. 1964. Folk literature of South Sumatra: Rejang Ka-Ga-Nga texts. Canberra:

The Australian National University.

_____. 1984. Materials for a Redjang-Indonesian-English dictionary, ed. by P. Voorhoeve.

Canberra: Pacific Linguistics Series D, No. 58.

Marsden, William. 1783, 1811. History of Sumatra. London. Reprinted 1966. Kuala Lumpur:

Oxford University Press. (includes a Rejang wordlist and Ka-Ga-Nga script)

Rees, W. A. Van. 1860. De Annexatie Der Redjang eene Vredelievende Militaire Expeditie.

Rotterdam: Nijgh. 119pp. (Contains description of the Rejang and Besemah people

occupying the region between Bengkulu and Palembang.)

Saleh, Yuslisal. 1988. System Morphologi Verba Bahasa Rejang. Jakarta: Departemen

Pendidikan dan Kebudayaan.

Sani, Abdullah. Ms. (n.d. ca. 1975) Petweak lem serambeak. 4pp. (stencilled)

Siddik, Abdullah. 1980. Hukum Adat Rejang. Jakarta: Balai Pustaka.

Syahrul Naspin et. al. 1980/81. Morfologi dan sintaksis bahasa Rejang. Jakarta: Departemen

Pendidikan dan Kebudayaan.

Sya’rani, Atika. 1980. Kata kerja bahasa Rejang. Laporan penelitian. Jakarta: Departemen

Pendidikan dan Kebudayaan. 97pp (stencilled)

_______. 1981/2. Sistem perulangan kata dalam bahasa Rejang. Laporan penelitian. Jakarta:

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 97pp (stencilled)

Voorhoeve, P. 1955. Critical survey of studies on the languages of Sumatra. ‘S-Gravenhage:

Martinus Nijhoff.

. 1984. Preface and Postscript to Jaspan (1984).

P. Wink, De onderafdeeling Lais in de Residentie Bengkoeloe. VBG 66/2 (1926),

pp. 111-124: Maleisch-Rejangsche woordenlijst, Lais.

Wuisman, J.J.J.M. 1984. The Rejang and the field of ethnological study concept (Comments

by William D. Wilder). Unity in Diversity: Indonesia as a Field of Ethnological Study. VKI

103, pp. xzxz.

D. Pustaka Acuan Ilmu Bahasa

Adelaar, K. Alexander, 1992, Proto Malayic: A reconstruction of its phonology and part of its

morphology and lexicon. Canberra: Pacific Linguistics C-119.

__________. 2007. Review of John Lynch, ed., Issues in Austronesian historical phonology.

Canberra: Pacific Linguistics 550. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde

163/1:139-146.

Asmah Haji Omar. 1983. The Malay Peoples Of Malaysia and their Languages. Kuala

Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

__________. 1992. An overview of linguistic research on Sarawak. In Martin, Peter W., ed.,

Shifting patterns of language use in Borneo. Williamsburg, VA: The Borneo Research

Council Proceedings Series Vol. Three.

Bellwood, Peter. 1997. Prehistory of the Indo-Malaysian Archipelago. Honolulu: University of

Hawaii Press.

Blust, Robert A. 2006. The origin of the Kelabit voiced aspirates: A historical hypothesis

revisited. Oceanic linguistics 45.2: 311-338.

__________. 1991a (ed). Currents in Pacific Linguistics: Papers in honor of George W. Grace.

Pacific Linguistics Series C, No. 17. Canberra.

__________. 1991b. Sound change and migration distance. In Blust (ed.), pp. 27-42.

__________. (Ms., no date) Austronesian comparative dictionary. Electronic manuscript.

Clark, Ross. 1987. Austronesian Languages. In Bernard Comrie, ed., The World’s Major

Languages. New York: Oxford University Press.

Collins, James T, ed. 1990. Language and oral traditions in Borneo. Selected Papers from the

first extraordinary conference of the Borneo Research Council, Kuching, Sarawak,

Malaysia August 4‑9. Williamsburg, VA: The Borneo Research Council Proceedings

Series Vol. Two.

Court, Christopher, 1967. Some Areal features of Měntu Land Dayak. Oceanic Linguistics VI:

46-50.

Dahl, Otto Christian. 1976. Proto-Austronesian (2nd Edition). Scandinavian Institute of Asian

Studies monograph series, No. 15. Lund.

Dempwolff, Otto. 1934-1938. Vergleichende Lautlehre des Austronesischen Wortschatzes.

Berlin: Dietrich Reimer Verlag.

Diamond, Jared and Peter Bellwood. Farmers and their languages: The first expansions.

Science vol. 300, April 24, 2003.

Hudson, A.B. 1978. Linguistic relations among Bornean peoples with special reference to

Sarawak: an interim report. In Sarawak: Linguistics and Development Problems.

Williamsburg, VA: Studies in Third World Societies No. 3, pp. 1-45.

Kroeger, Paul R., 1994 Ms. The dialects of Biatah. Borneo Research Council, 3rd Biennial

Meeting, 10-14 July, 1994.

Ray, Sidney H., 1913, The languages of Borneo. The Sarawak Museum Journal 1(4):1‑196.

Ross, Malcom D. 1991. How Conservative are Sedentary Languages? Evidence from

Western Melanesia. In Blust (ed.).

__________. 1998. Language classification in Sarawak: a status report. The Sarawak

Museum Journal LIII 74:137‑173.

Scott, N.C., 1964, Nasal consonants in Land Dayak (Bukar-Sadong). In David Abercrombie et.

al. eds., In honour of Daniel Jones. London: Longmans, pp. 432-436.

Tadmor, Uri. 2003. Final /a/ mutation: a borrowed feature in Western Austronesia. In John

Lynch, ed., Issues In Austronesian Historical Phonology. Canberra: Pacific Linguistics

550, pp. 15-36.

Topping, Donald M. 1990. A dialect survey of the Land Dayaks of Sarawak. In James T. Collins,

ed., 247-274.

Voorhoeve, P. 1955. Critical survey of studies on the languages of Sumatra. Martinus Nijhof:

‘S Gravenhage.

Zorc, David. 2006. Review of John Lynch, ed., Issues in Austronesian historical phonology.

Canberra: Pacific Linguistics 550. In Oceanic linguistics 45.2: 505-516.

March 10, 2008

Klik Judul di bawah open with media player – click and open with media player:

Lagu Rejang diiringi Gitar

upload by Fahdel` Site

Semulen Ejang
By Jhendry Janratama
upload by Kintoko78

Taneak Jang


Catatan Perjalanan ke “Batavia Kecil”

March 10, 2008

http://www.paskass.org

Catatan Perjalanan ke “Batavia Kecil

“Perjalanan menuju “Batavia Kecil” (nama lain untuk kawasan Lebong Tandai yang digunakan Belanda waktu
menguasai lokasi tambang emas di desa Lebong Tandai). Mengingatkan kita pada kejayaan masa lalu, dimana tempat
ini pernah menjadi incaran banyak pihak, baik pada masa Belanda, Jepang maupun Investor pada masa kemerdekaan
ini”….
Menuju lokasi penambangan emas didesa Lebong Tandai Kecamatan Napal Putih Kabupaten Bengkulu Utara Propinsi
Bengkulu cukup mudah karena angkutan umum relatif lancar, karena kita dapat memilih apakah melalui rute Kota
Bengkulu- Napal Putih atau melalui rute Muara Aman (Ibu Kota Kabupaten Lebong) – Napal Putih. Perjalanan
dari kota Bengkulu memakan waktu sekitar 3, 5 jam dengan menggunakan angkutan umum menuju desa Napal Putih,
dengan ongkos Rp 30.000, desa itu adalah desa terakhir yang kita singgahi sebelum melakukan perjalanan ke desa
Lebong Tandai. Demikian juga jika kita memilih rute Muara Aman-Napal Putih kita akan menempuh perjalanan dengan
angkutan umum sekitar 4 jam. Setiba dipangkal desa Napal Putih Kecamatan Ketahun, sebaiknya kita turun terlebih dulu
dari kendaraan, karena disana ada bekas rumah bersejarah yang dulu didiami oleh Pangeran Muhammad Ali Firman
Alamsyah Gelar Rajo Mangkuto (Pangeran terakhir Marga Ketahun) dan juga pernah dijadikan rumah atau markas oleh
Dr. AK Gani Gubernur Militer Sumatera Bagian Selatan pada masa perang kemerdekaan. Sekarang rumah tersebut
berstatus cagar budaya dibawah tanggung jawab pemerintah. Karena ahli waris Pangeran Muhammad Ali Firman
Alamsyah Gelar Rajo Mangkuto menyerahkan kepada Departemen Pariwisata dalam hal ini Dirjen Museum dan
Kepurbakalaan Kantor Wilayah Jambi, Bengkulu dan Sumatera Selatan. Disana kita diperbolehkan untuk masuk dan
melihat bagian dalam ruangan rumah bersejarah itu. Dirumah yang terletak Desa Napal Putih inilah pada tahun 1947
roda pemerintahan Sumatera Bagian Selatan meliputi Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Jambi dikendalikan oleh
Dr. AK Ganie sebagai Gubernur Militer. Setelah itu, kita kemudian menuju ‘Stasiun’ Molek (sebutan bagi
kereta lori berukuran 5 x 1 m, bermesin diesel 10 PK yang bermuatan maksimal 10 penumpang). Ongkos perorang
adalah Rp 20.000. Stasiun ini terletak diujung desa, dipinggir sungai ketahun. Banyak Molek yang menunggu
penumpang namun rata-rata terminal ini ramai pada hari Senin dan Kamis karena pada hari itu para penambang dari
luar Kabupaten Bengkulu Utara misalnya dari Kabupaten Lebong dan Rejang Lebong berdatangan menuju desa Lebong
Tandai. Perjalanan dengan menggunakan Molek menuju Lebong Tandai dilakukan sore hari yaitu sekitar pukul 17.00
WIB hal ini guna menghindari terjadinya tabrakan dikarenakan Molek dari Lebong Tandai tiba di Napal Putih pukul 16.00
WIB. Meningat jalur rel hanya satu, jika terpaksa bertemu dengan Molek yang lain yang berlawanan arah atau ada Molek
yang macet dijalan maka salah satu Molek dapat disingkirkan keluar rel, cukup hanya dengan tenaga 3 orang Molek itu
dapat diangkat keluar rel. Biasanya, para “Masinis” Molek memilih untuk berjalan beriringan, hal ini dimaksudkan untuk
mempermudah perjalanan jika ada hambatan. Perjalanan menjelang hari mulai gelap ini, memberi kesan tersendiri bagi
mereka yang menyukai wisata alam karena kita hanya bisa melihat hutan dikanan kiri dan Molek yang berjalan didepan
atau dibelakang Molek yang kita tumpangi. Jangan lupa membawa bekal makanan dan minuman untuk bekal dijalan
karena perjalanan ini cukup panjang karena menempuh 33 km panjangnya rel kereta ini. Untuk diketahui sejak jaman
penjajahan hingga sekarang ini, baru ada 2 wilayah yang dilewati rute kereta api atau yang memiliki rel, yaitu disini dan
di Kecamatan Kota Padang (Kabupaten Rejang Lebong berbatasan dengan Kota Lubuk Linggau Sumatera Selatan).
Setelah kita menyusuri rel yang membelah hutan sambil menikmati bunyi-bunyian binatang malam sebelum tiba di desa
Lebong Tandai kita akan melewati 3 terowongan, yaitu terowongan lobang panjang (+ 300 m), lobang tengah (+ 100 m)
dan lobang pendek (+ 50 m) sampailah kita didesa Lebong Tandai, pemandangan desa ini pada malam hari
mengingatkan kita pada suasana kehidupan para penambang di film-film Hollywood yang mengambil latar kehidupan
tambang . Warung-warung berjejer dengan rapi disepanjang jalan ditengah-tengah desa. Masyarakat sebagian duduk
ngobrol, main kartu, dan menonton TV, tak sedikit pula yang bergegas menuju Molek yang baru tiba karena mengambil
pesanan barang yang dibeli dari luar desa. Semua orang pasti akan takjub bercampur kagum betapa tidak, setelah
melewati perjalanan selama 3, 5 jam, yang pemandangannya hanya hutan, tiba-tiba didepan kita terbentang sebuah
desa yang penuh dengan nuansa modern. Listrik yang terang benderang dan tak pernah mati memancar dari setiap
rumah dan sudut desa, dan hampir ditiap rumah memiliki pesawat TV walaupun ukuran kecil. Alat elektronik seperti TV,
Radio dan sejenisnya adalah salah satu hiburan bagi masyarakat yang hidup didaerah terpencil ini. Berbicara tentang
hiburan memang tradisi itu sudah cukup lama tertanam dimasyarakat. Pantas saja, dengan posisi terpencil dan jauh dari
dunia luar, perusahaan Mijnbouw Maatschappij Simau milik Belanda tahun 1910 masuk ke Lebong Tandai dan
menguasai tambang ini dibangun kamar bola (tempat bermain billyard), lapangan basket, lapangan tenis, rumah kuning
(rumah bordil/lokalisasi) dan bioskop. Hanya bioskop dan rumah kuning yang bangunannya sudah tidak ada lagi.
Perusahaan Belanda itu juga setiap tahun mendatangkan penari ronggeng dari Batavia (sekarang Jakarta). Hal ini dapat
dibuktikan dengan nama sebuah jembatan menuju Lebong Tandai yaitu jembatan Dam Ronggeng I dan Ronggeng II.
Dinamakan jembatan Dam Ronggeng karena pada saat peresmiannya mengundang penari-penari ronggeng dari
Batavia. Tradisi hiburan itu berlanjut hingga tahun 1980an didesa ini ada 3 kelompok musik/band yaitu Anior, Trinada
dan Puspa Ria. Bahkan menurut warga, pada masa PT Lusang Mining mengelola tambang ini hampir saja ada
lokalisasi, karena PT Lusang Mining ingin menerapkan ‘single status’ (hidup dilokasi tambang tanpa boleh
membawa istri). Selain itu, hampir setiap ulang tahun Proklamasi Kemerdekaan RI Camat memilih mengunjungi desa ini
untuk merayakannya dengan berbagai aneka kegiatan dan berziarah ke makam pahlawan bersama warga desa. Desa ini
terletak 500 meter dari permukaan laut, disebelah selatan berbatasan dengan bukit Husin dan sebelah utara berbatasan
dengan bukit Baharu. Tercatat penduduknya 120 KK atau sekitar 360 jiwa ini dibagi menjadi 3 RT dan 2 Dusun. Desa ini
pernah mendapat predikat sebagai desa teladan pada masa Kepala Desa Parman memimpin. Penduduk disini cukup

heterogen ada suku Jawa, keturunan Tionghoa, Sunda, Batak, Padang, Rejang dan penduduk Pekal yang sejak awal
mendiami wilayah itu. Tak heran jika penduduk disini dalam percakapan sehari-hari menggunakan 2 bahasa yaitu
bahasa Indonesia dan Bahasa Pekal. Namun walaupun heterogen dan sudah tersentuh modernisasi kegotong-royongan
warga masih cukup kuat, termasuk keramah-tamahan jika bertemu dengan orang yang baru datang. Desa ini dulunya
pernah ditinggalkan penduduknya pada tahun 1988 karena pengusiran yang dilakukan oleh PT Lusang Mining sebuah
perusahaan PMA yang sahamnya sebagian dimiliki oleh Australia dan sebagian sahamnya milik keluarga Cendana
(Mantan Presiden Soeharto). Sebanyak 108 KK ditransmigrasikan secara paksa ke Trans Ipuh Kabupaten Muko-muko.
Hanya sedikit warga yang berani menolak menjadi peserta transmigrasi diantara yang menolak itu adalah Mahyudin (54)
konsekuensinya mereka dan keluarganya harus mengalami tekanan yang cukup menyakitkan, misalnya dilarang
menambang emas dan tidak boleh memakai fasilitas kereta Molek. Jadi mereka harus berjalan kaki melewati rute hutan
jika ingin pergi keluar desa. Namun hal itu ada hikmahnya misalnya bagi Mahyudin , dengan situasi sulit itu kemudian dia
mendapat keahlian baru yaitu beralih profesi menjadi pandai besi dengan membuat alat-alat dapur dan pertanian, seperti
pisau dan cangkul, kemudian dijual kepada para pekerja PT Lusang Mining. Untunglah situasi itu tidak berlangsung lama
karena pada tahun 1994 PT Lusang Mining bangkrut. Banyak pekerja yang tidak dibayar gajinya hingga saat ini, aset
rumah dan gedung sebanyak 45 unit dan alat-alat tambang ditinggalkan begitu saja oleh pihak PT Lusang Mining.
Penduduk yang tadinya ditransmigrasikan, kembali ke Lebong Tandai. Beberapa pekerja khususnya yang memiliki
sertifikat juru ledak dinamit dan pengeboran banyak yang pindah bekerja di PT Freeport Papua. Sekarang ini masyarakat
belum berani membuat bangunan permanen, kebanyakan masih memanfaatkan sisa-sisa bangunan bekas Belanda atau
PT Lusang Mining. Mereka trauma dengan kejadian pengusiran yang pernah mereka alami. Salah satu yang mereka
sesalkan adalah tidak adanya pembelaan dari pemerintah waktu itu pada saat mereka diusir padahal usaha
‘proyek’ (sebutan untuk lokasi penambangan emas) milik warga dilengkapi dengan ijin usaha (HO) dari
pemerintah dan tidak lupa membayar pajak. Padahal bukti pembayaran pajak dan surat Ijin usaha itu menunjukkan
kekuatan hukum warga atas usaha yang dikelolanya. Karena kita tiba didesa pada malam hari, rasanya tak sabar kita
menunggu datangnya pagi. Rasa penasaran ingin menyaksikan desa ini disiang hari. Para penambang maupun
perangkat desa akan membantu kita mengenal lebih dekat apa-apa saja yang ada didesa ini. Namun jangan lupa
membawa kamera handycam dan kamera fhoto jika kita mengunjungi tempat ini. Karena banyak tempat wisata alam dan
wisata sejarah yang bisa kita kunjungi antara lain : Tambang Emas TradisionalPerusahaan yang pertama kali melakukan
eksploitasi emas secara besar-besaran dengan peralatan modern adalah Mijnbouw Maatschappij Simau milik Belanda
tahun 1910. Disini ada 3 lokasi tambang emas, yaitu di Air Nuar, Lebong Tandai dan Karang Suluh. Disini kita dapat
menyaksikan ‘Gelundung’ (alat memisahkan emas dengan batu) berbentuk silender, terbuat dari plat baja,
diameter 30 cm, jumlahnya perlokasi proyek sampai 40 buah berjejer rapi. Hal ini berbeda dengan pertambangan rakyat
yang terletak di Tambang Sulit, Tambang Kacamata, Tambang, Sawah, Tambang Lebong Simpang (semuanya terletak
di Kebupaten Lebong) yang jumlah Gelundungnya paling banyak setiap proyek hanya 10 buah, ditempat lain Gelundung
itupun hanya terbuat dari kayu. Saat ini pajak yang dipungut oleh pemerintah desa sebesar Rp
1.000./Gelundung/bulan. Kita juga dapat melihat serombongan pekerja tambang tambang pulang mendorong lori yang
melaju kencang yang penuh berisi batu emas. Mereka mendorong lori sambil berteriak-teriak sebagai isyarat kepada
orang-orang yang berdiri direl agar minggir agar jangan tertabrak. Nyaris hanya mata dan giginya saja yang tidak terkena
lumpur. Sepantasnya kita belajar banyak dari semangat yang mereka tunjukkan oleh penambang ini. Jika ingin
‘menguji nyali’, kita juga dapat mencoba menyusuri lobang terowongan utama bekas tambang Belanda.
Lobang terowongan itu menghubungkan antara tambang Air Nuar dengan Tambang Lebong Tandai yang menembus
perut bumi sepanjang + 5 Km, menaiki 16 buah tangga dengan ketinggian tangga rata-rata 6 m, perjalanan memakan
waktu sekitar 2 jam, didalam lobang terowongan itu juga masih tersisa bekas rel lori peninggalan Belanda.(Data LPAP
FISIP UNIB, 2003) Dilokasi Tambang Lebong Tandai ini perusahaan Mijnbouw Maatschappij Simau membuat 16 level
terowongan yang jarak satu level dengan level yang lainnya rata-rata 50 meter kebawah tanah. Pada waktu itu dibuat
tangga lip untuk pekerja masuk ke terowongan itu. Sampai sekarang tiang-tiang lip itu masih dapat kita jumpai. Setelah
masuknya PT Lusang Mining terowongan-terowongan ini kembali dikelola. Namun itupun hanya sampai level 11 karena
level 12-16 sudah penuh dengan air dan tertimbun tanah. Pasca bangkrutnya PT Lusang Mining tahun 1994, terowongan
sebagai lokasi tambang dikelola oleh rakyat, namun karena keterbatasan alat, para penambang hanya mampu masuk
sampai level 6. Tak jarang para penambang harus berdiam didalam lobang terowongan selama berhari-hari jika
menemukan ‘or’ (batu yang banyak mengandung emas). Untuk mengetahui perubahan waktu siang atau
malam mereka cukup dengan melihat apakah kelelawar keluar atau masuk keterowongan. Kalau kelelawar masuk
artinya siang begitu juga sebaliknya. Saat ini, setiap saat para penambang dapat mengetahui pasaran harga emas dunia,
dengan memonitor berita keluar negeri, misalnya BBC London. Dengan rumus tertentu mereka dapat mengetahui harga
emas dunia dengan standar dolar. Bahkan ada juga yang memiliki pesawat telepon satelit. Penggunaan alat elektronik
seperti TV, kulkas atau radio komunikasi ditunjang oleh tersedianya aliran listrik dari tenaga air terus menyala siang-
malam tak pernah mati. Eks Rumah Sakit BelandaLokasi rumah sakit ini terletak dibukit barisan sebelah barat desa
Lebong Tandai. Rumah sakit ini menampung para pekerja perusahaan Mijnbouw maatschappij simau yang sakit.
Kebanyakan pekerja itu sakit paru-paru (TBC) disebabkan kondisi dan alat kerja yang tidak menjamin keselamatan
pekerja. Misalnya alat bor yang digunakan masih sangat manual, tanpa semprotan air, bentuknya seperti senapan mesin
dan bagian belakang alat bor itu ditempelkan didada, pekerja bor beraktifitas tanpa masker sehingga debu yang keluar
dari batu yang dibor langsung terhisap. Paling lama 6 bulan pekerja ini sudah terserang penyakit. Kalaupun ada rumah
sakit itupun tidak banyak membantu. Menurut cerita warga bagi pekerja bagian pengeboran yang sakit maka diberi 2
pilihan apakah akan dikirim pulang kekampung halamannya (kebanyakan pekerja dari pulau Jawa tepatnya Banten) atau
tetap dirawat dirumah sakit itu sambil menunggu ajal tiba. Tak heran dibagian belakang rumah sakit terdapat lokasi
kuburan yang sebagian besar adalah ‘korban’ perusahaan Mijnbouw Maatschappij Simau. Untuk menuju

ke lokasi eks rumah sakit ini ada 2 jalan. Yang pertama melalui jalam setapak, dulunya ini adalah jalan aspal yang
dipakai untuk jalan mobil oleh perusahaan Belanda. Seperti dituturkan warga bahwa sekitar tahun 1960an masih ada
bekas mobil sedan Ford didesa ini. Yang kedua melalui jalan tangga semen yang sampai saat ini masih cukup terjaga.
Dikiri-kanan tangga ini masih banyak sekali tanaman bambu China dan bermacam jenis bunga. Dapat disimpulkan
bahwa dulunya ini adalah taman yang indah menuju rumah sakit itu. Kamar BolaTempat ini khusus disiapkan oleh
Belanda sebagai sarana hiburan bagi para pekerja tambang. Letaknya dikaki bukit barisan dibawah eks rumah sakit
jaman Belanda. Kita dapat membayangkan waktu tahun 1900an ditempat ini sudah ada permainan yang yang
sebenarnya permainan itu lazim dimainkan oleh kelas menengah Eropa waktu itu. Saat ini yang tersisa hanya
gedungnya saja meja, stik dan bola billyard sudah tidak ada lagi. Tapi walaupun demikian bagi yang ingin mencoba
bermain billyard dilokasi ini sambil membayangkan kehidupan waktu itu, kita masih bisa bermain billyard karena
beberapa warga membangun sarana billyard sendiri. Rumah SimauBangunan kayu ini mirip rumah panjang khas suku
Dayak Kalimantan, tapi dibuat seperti bedeng-bedeng terdiri dari 13 pintu, tingginya sekitar 12 meter dari tanah,
panjangnya sekitar 70 meter. Ruangan bagian atas dan bawah bisa ditempati sebagai tempat tinggal. Dinamakan
Rumah Simau atau Pondok Baru karena bangunan yang didirikan sekitar tahun 1940 ini merupakan bangunan terakhir
yang didirikan oleh perusahaan Mijnbouw Maatschappij Simau, sebelum tambang ini dikuasai oleh Penjajah Jepang
Tahun 1942-1945. Awalnya bangunan ini diperuntukkan bagi para pekerja perusahaan Belanda itu. Hingga saat ini
bangunan ini tidak ada perubahan bentuk termasuk dinding, lantai hanya atap yang bocor yang diperbaiki oleh warga
yang menempatinya. Selain rumah Simau masih ada beberapa rumah lagi yang asli peninggalan Belanda, misalnya
rumah yang ditempati oleh Bik Lis (40) ciri-ciri jendela yang besar dan bekas-bekas taman masih relatif
terpelihara. Pemakaman Belanda Pemakaman ini berada disebelah selatan Desa Lebong Tandai yaitu sekitar 1 jam
berjalan kaki, banyak orang asing khususnya Belanda yang bekerja di Perusahaan Mijnbouw Maatschappij Simau
dikuburkan disini. Sebagian diantara orang asing itu meninggal karena dibunuh oleh pekerja kontrak yang tidak tahan
dengan penderitaan. Menurut cerita disana dimakamkan juga tuan Smith yang dibunuh oleh seorang inang (perempuan)
dengan cara ditusuk dengan paku yang telah dipipihkan sebagai senjata ke bagian leher tuan Smith. Ada juga orang
Belanda yang meninggal karena kepalanya di bor oleh pekerja tambang. Pemakaman China Lokasinya berada sekitar 3
km dari arah Lebong Tandai menuju Desa Napal Putih. Berada disebuah bukit kecil disebelah kanan rel kereta Molek.
Sampai sekarang setiap hari raya Tionghoa maupun acara keagamaan Konghucu, ahli waris masih melakukan upacara
atau ritual keagamaan dilokasi ini. Beberapa diantara warga desa Lebong Tandai dan Napal Putih adalah keturunan
Tionghoa. Makam Pahlawan Terletak dibelakang eks rumah sakit jaman Belanda. Mereka yang dimakamkan disini
adalah para pejuang yang tergabung dalam laskar-laskar rakyat dan sebagian memang tentara. Mereka gugur karena
ledakan bom, saat Belanda bermaksud menguasai kembali lokasi tambang ini tahun 1947-1949. Rakyat yang tergabung
dalam laskar-laskar itu diberi pangkat setelah gugur sebagai penghargaan atas jasa-jasanya dalam mempertahankan
kemerdekaan. Desa Lebong Tandai juga pernah dijadikan basis gerilya pada waktu perang mempertahankan
kemerdekaan. Gedung Bulu Tangkis BelandaBentuk bangunan masih relatif asli, dulu dipergunakan untuk tempat
olahraga bagi para pekerja tambang. Saat ini hanya dipergunakan sebagai gudang oleh warga. Bangunan ini
bersebelahan dengan bekas bioskop jaman Belanda. Air Panas AlamiLokasinya terletak dibawah jembatan sungai
Kelumbuk sekitar 8 km dari Desa Napal Putih. Air panas ini mengandung belerang. Dipercaya oleh masyarakat setempat
bahwa airnya bermanfaat untuk mengobati berbagai macam penyakit kulit. Tidak jauh dari air panas ini juga terdapat air
terjun yang indah, masyarakat menyebutnya air terjun Kelumbuk. Alat Tambang KunoAlat tambang peninggalan
perusahaan Belanda Mijnbouw Maatschappij Simau masih cukup banyak, diantara bor manual dan lori. Belum terlambat
jika pemerintah mengumpulkan barang-barang ini sebagai sebuah peninggalan sejarah. Bisa saja dibuat museum yang
khusus menyimpan barang-barang kuno ini. Sungai Lusang Nama PT Lusang Mining diambil dari nama sungai ini.
Sungai ini membelah desa Lebong Tandai, airnya cukup deras dan sangat jernih serta penuh dengan bebatuan besar.
Sangat cocok jika dijadikan lokasi olahraga air seperti arung jeram. Beraneka macam ikan langka khususnya ikan Putih
atau ikan Semah (disebut ikan putih karena warna sisiknya keputih-putihan) masih banyak terdapat disungai ini.
Kelebihan ikan ini dibanding ikan lainnya adalah sisiknya bisa dikonsumsi karena terdiri dari tulang rawan. Masyarakat
menangkap ikan ini dengan cara dijala, jaring, pancing dan panah. Ada kepercayaan jika masyarakat mencari ikan
dengan menggunakan bahan peledak atau racun maka sungai ini akan meluap menyebabkan banjir. Hingga saat ini
sebagian besar masyarakat masih mempercayai mitos itu. Secara tak sengaja, ikan langka ini juga diternakkan didalam
kolam-kolam warga, karena anak-anak ikan itu masuk kekolam warga melalui pipa-pipa besi yang airnya berasal dari
sungai. Hutan TNKSHutan ini masih relatif terjaga, karena warga Lebong Tandai juga berperan sebagai penjaga hutan.
Mereka sadar bahwa mata pencaharian mereka yaitu menambang emas sangat tergantung pada hutan ini. Karena jika
hutan ini rusak maka akan berpengaruh pada sungai dan dam yang mereka gunakan untuk memutar Gelundung atau
memutar turbin listrik. Selain itu, jika hutan ini gundul maka dapat mengakibatkan longsor, jika terjadi longsong maka
akan tertimbunlah desa ini mengingat desa ini diapit oleh 2 bukit barisan yang masuk kawasan TNKS (taman nasional
kerinci sebelat). Pernah terjadi penebangan kayu oleh pembalak liar dikawasan TNKS, melihat kejadian itu warga
langsung berinisiatif untuk menelepon petugas dibalai TNKS di Sungai Penuh Jambi guna melaporkannya. Jika dihitung
biaya telepon satelit yang digunakan warga cukup mahal, tapi demi kelestarian hutan masyarakat dengan ikhlas
melakukannya. Didalam hutan TNKS ini juga masih banyak beraneka jenis, hewan, kayu atau tumbuhan langka lainnya.
Sungguh tepat jika ada yang bermaksud mengadakan penelitian. Hasil pendataan yang dilakukan oleh Komunitas
Konservasi Indonesia WARSI April 2004 ditemukan tidak kurang 128 tanaman obat, diantaranya Aka beluru (Etanda
Phascoloides) obat untuk demam menahun, Akar ali-ali (Tinospora crispa) obat malaria, Antanan (Centella Asiatica) obat
mengeringkan luka pasca melahirkan, Inai Aia (Impatiens Balsamina) obat bengkak perut dll, semuanya ada disekitar
wilayah TNKS ini. Kerajinan Perak Kerajinan perak ini masih diusahakan secara sederhana dan dalam skala kecil.
Bermacam-macam perhiasan yang terbuat dari perak seperti cincin, gelang dan kalung dapat dibeli atau dipesan disini.

Yang berbeda disini adalah kita dapat langsung melihat proses sejak awal dari penambangan sampai proses perak
dijadikan perhiasan. Pengrajin juga menjamin perhiasan perak yang dibuat disini walaupun dipakai sampai lama
warnanya tidak akan berubah kehitam-hitaman. Karena kwalitas bahan perak benar-benar dijaga alias perak murni.
Pemasaran perhiasan ini sebagian dijual ke luar Lebong Tandai dan sebagian dibeli oleh mereka yang berkunjung kesini.

Lagu Pop Rejang

March 10, 2008

Silakan klik judul lagu untuk mendengar lagu dan video – Please click the tittle of the song for play

Oi Rung Sayang

Anak Kunang

Lalan Belek

Ting Bedeting

Meto Besamo

Tes

Suet Tangen

Infinito Singers : Lalan Belek video
Lalan Belek is a traditional Bengkulu folksong, it tells about a bitter longing a man felt for his wife who has just abandoned him. Lalan Belek means “Comeback, love”..

Tanea Jang


In`ok

Lemea – Bamboo shoot fermentation with chilly recipe

March 9, 2008

Nov 29, ’07 6:46 AM
for everyone


Description:
Dimakan dengan nasi dan lalapan atau lontong.

Ingredients:
Rebung, Ikan Semah, Garam, Cabe

Directions:
Lemea kutemui pertama kali di Muara Aman, ibukota Kabupaten Lebong, Propinsi Bengkulu. Kota ini sendiri adalah sebuah kota tua yang penuh sejarah kejayaan booming tambang emas Lebong Tandai di jaman Belanda. Kota kecil sejuk yang dikelilingi bukit, penduduk berbahasa dengan bahasa yang sama sekali berbeda dengan bahasa orang Bengkulu. Kabupaten Lebong sendiri 60% wilayahnya adalah hutan konservasi–tentang hal ini bisa menjadi satu cerita panjang tersendiri.

Kembali ke lemea. Lemea adalah rebung asam hasil proses fermentasi. Terbuat dari rebung yang dipotong-potong memanjang tipis sepanjang korek api. Setelah dicuci bersih, rebung tersebut direndam dalam air. Lalu taruh ikan sungai yang sudah direbus sebentar — tak sampai matang — di dalam rendaman tersebut. Biasanya ikan yang dimasukkan adalah ikan semah. Aku tak tahu nama Indonesianya, atau nama latinnya. Namun ikan ini termasuk jenis ikan sungai, bersisik, berwarna putih, dan bertulang rawan. Aku ingat pernah makan gulai ikan ini bertahun lalu di pedalaman Napal Putih. Sisik dan tulangnya pun bisa dimakan karena sangat empuk tanpa dipresto.

Nah, kembali ke lemea, simpan rendaman rebung tersebut minimal 2 malam, baru dikonsumsi dengan cara memasaknya. Lemea bisa dimasak gulai atau ditumis saja. Tapi seperti tempoyak, dua-duanya enak dimasak dengan cabe giling extra pedas. Untuk tumisan cukup dengan bawang merah dan bawah putih serta cabe giling, sedikit sereh dan lengkuas. Rasa lemea asam dan rasa bumbu yang pedas berpadu menjadi rasa yang segar merangsang nafsu makan. Bau lemea yang tajam pun bisa menambah selera. Lemea ini bisa tahan disimpan beberapa bulan.

Dear Pak Ade Bachtiar, mohon Ijin mengcopy resep ini, karena aku dah hubungi beberapa teman di Bengkulu, mereka gak mau menulisnya buat blog saya. Terimakasih
http://adebachtiar.multiply.com

Lemea makanan khas rejang


Lemea mentah

http://muara-aman.blogspot.com/2008/03/lemea-makanan-khas-rejang.html


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.