“Lak Coa Lak : Hidup Adalah Pilihan”
Ade adalah seorang anak yatim piatu yang dari umur 9 tahun harus bekerja menyadap karet untuk menghidupi seorang nenek dan dua orang adiknya. Lak Coa Lak (bahasa daerah rejang, di Bengkulu) dalam bahasa Indonesia-nya berarti “Mau Tau Mau”. Film ini aku buat ketika aku pulang ke kampung halamanku yaitu Arga Makmur, Bengkulu Utara tepatnya di rumah nenekku yaitu Desa Kali I.

Saat mendengar kisah tentang kehidupan Ade, aku seolah tak percaya. Anak seumur dia bisa menafkahi tiga orang keluarganya dan bisa mensekolahkan kedua adiknya.

Dari pukul 7.00 sampai pukul 15.00 setiap harinya dia harus bekerja menyadap karet. Hari-hari yang seharusnya ia habiskan bermain dengan teman-teman seumurnya terpaksa ditinggalkan demi sebuah harapan dan impian. Terkadang, setelah menyadap karet ia harus membersihkan sepetak kebun peninggalan ibunya dan memetik buah kopi jika memang pohonnya sudah berbuah. Karena umur nenek yang sudah tua, tidak bisa banyak bergerak dan melakukan perkerjaan berat, maka ia pun harus mengambil kendali untuk mengurusi rumah. Setiap pagi dan sore hari harus memasak dan menyiapkan makan untuk keluarga.

Terus berusaha selagi itu halal merupakan prinsip hidup yang selalu ia pegang. Walaupun hidup ini sengsara, tapi hidup memang harus dijalani. Mungkin ini sudah takdir Tuhan.

Dalam hati aku hanya bisa berdoa “semoga Tuhan selalu memberikan kemurahan jalan dan kelapangan hati” kepadanya. Anak seumur ini sudah harus berfikir dewasa dan bijaksana. Tetap rajin bekerja, tak pernah mengharapkan bantuan dan rasa iba dari orang lain.

Sementara, beribu-ribu kilometer dari tempatnya, seperti di Jakarta, Bogor, Surabaya, maupun kota-kota yang pernah aku kunjungi. Lelaki sehat dan bertubuh tegap, hidup hanya mengandalkan rasa iba dan kasihan dari orang lain. Hidup hanya bermodalkan gitar dan ocehan, terus meminta-minta kepada orang lain. Seolah-olah teramat gampang untuk mendapatkan uang.

Masih beruntungkah Ade? bisa bekerja di kebunnya, jika dibandingkan dengan anak-anak di kota yang berdiri di perempatan jalan?
Aku sendiri tidak tahu seperti apa itu hidup yang “beruntung”

Tapi yang jelas, film yang berdurasi 9 menit ini aku bikin bukan untuk membuat rasa penyesalan dan patah semangat, melainkan untuk memunculkan rasa optimis dalam menjalani hidup. Seperti yang dijalani oleh Ade. Walaupun dia harus bekerja dan tidak sekolah, tapi dia mempunyai impian besar, yaitu mensekolahkan kedua adiknya sampai tamat dan mempunyai kebun karet sendiri.

“Sampai kapankah anak-anak Indonesia harus menengadahkan tangannya di perempatan lampu merah. Di kereta. Di bus. Di angkot dan di warung-warung makan. Hidup dengan kemiskinan dan masa depan yang suram. Dan tak jarang juga menerima pelecehan seksual, penganiayaan”.

“Sementara… Kepedulian akan sesama jauh dari harapan. Perbedaan status sosial kenyataan memang, sengaja diperlihatkan. Korupsi terang-terangan dilakukan. Undang-undang dan hukum dibikin hanya untuk mendapatkan uang dan juga memang menguntungkan yang punya uang”.
Posted at Friday, September 01, 2006 by berang

Thursday, August 31, 2006
http://berangberang.blogdrive.com/archive/cm-2_cy-2008_m-2_d-12_y-2008_o-10.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: