Pembantaian 65 di Bengkulu

From: “la_luta”
Date: Fri Nov 5, 2004 1:27 pm
Subject: Fwd: Pembantaian 65 di Bengkulu

— In temu_eropa-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx, “Wilson”
wrote:
Dari tanggal 5 s/d 10 Oktober lalu aku sempat jalan-jalan ke Bengkulu
dalam rangka penelitian “Dokumentasi Gerakan Sosial-Politik Bengkulu”
yang dikerjakan oleh Praxis dengan dukungan dari kawan-kawan
Perhimpunan Kantor Bantuan Hukum Bengkulu (KBHB).

Hal yang paling luar biasa, tanpa gembar-gembor di’ Jakarta’ adalah
pembangunan gerakan sosial yang massif dan teroganisir baik disana
berbasiskan petani dan nelayan. Gerakan sosial ini di wadahi dalam
Serikat Tani Bengkulu (STAB) dan Serikat Nelayan Bengkulu (SNEB)

Kekuatan gerakan sosial ini diungkapkan oleh mereka dengan kalimat
“dikota kita memang kalah, tapi digunung-gunung, kami berkuasa”.
Ungkapan ini betul-betul nyata dalam pemilihan anggota DPD secara
langsung dimana STAB dan SNEB mencalonkan Muspani SH, direktur KBHB
sebagai calon DPD. Dan hasilnya sudah kita tahu, Muspani menang dan
sekarang hadir disenayan, mungkin satu-satunya wakil dari rakyat,
dicalonkan oleh tani dan nelayan. Di kota-kota, Muspani kalah, tapi
di basis-basis STAB dan SNEB di pantai dan di gunung-gunung Muspani
tidak terkalahkan.

Dari sinilah aku menemukan satu fakta yang unik, suatu kebetulan yang
tidak sengaja ditemukan dalam penelitian di Kecamatan Curup, Kab.
Rejang Lebong dan Kecamatan Seginim di Kab. Bengkulu Selatan, dua
wilayah pengorganisiran tani, dimana Muspani mendapatkan suara yang
signifikan.

Dari ngobrol dengan pimpinan gerakan tani disana dan beberapa saksi
mata didapat kenyataan bahwa kedua kecamatan tersebut dulunya adalah
basis terkuat BTI di Bengkulu. Lalu aku menanyakan apa yang terjadi
dengan orang-orang BTI itu sekarang dan ditahun 1965 dahulu?

Dari pak Hamdan, Ketua STAB kec. Curup, yang sekarang sedang memimpin
perlawanan petani melawan PT Agroteh yang di backup pemerintah daerah,
didapat sebuah tempat yang menjadi ‘rahasia umum’ disana dengan
sebutan “KUBURAN PKI”. AKu kaget, ” jadi kuburan itu ada dua jenis
tokh di Curup, ,kuburan PKI dan kuburan non PKI,”……..mereka cuma
ketawa.

Nama ‘kuburan PKI’ ternyata diberikan oleh penduduk di Curup untuk
sebuah ‘jurang’ di desa Tabarenah yang diakui oleh penduduk sebagai
tempat pembantaian massal atas anggota BTI dan PKI di tahun 1965.

Menurut mereka, setelah kejadian 65, tentara dan milisi sipil
menangkapi para aktivis BTI dan PKI lalu di bawa ke jurang di desa
Tabarenah. Di tepi jurang itu mereka dibunuh dengan cara ditembak atau
dengan senjata tajam (pedang, golok). Setelah itu mayatnya dimasukan
dalam karung goni. Lalu para eksekutor menggali lubang dangkal dan
memasukan karung tersebut, lalu ditutup seadanya. Ketika aku tanya
berapa jumlah yang dieksekusi. Mereka tidak dapat menjawabnya, kecuali
dengan kata ratusan. Karena digali dengan dangkal, menurut pak
Hamdan, kuburan masal tersebut menjadi tempat favorit anjing-anjing
kampung. Banyak tulang-tulang yang digali oleh anjing dan dibawa
sampai kekampung ditahun-tahun awal setelah pembantaian. Beberapa
penduduk yang sudah sepuh/tua masih hidup dan menjadi saksi mata yang
dapat menunjukan dengan persis kuburan tersebut, termasuk beberapa
mantan BTI yang selamat dan masih hidup, juga orang yang mengaku
terlibat dalam pembantaian tersebut.

Dari keterangan tersebut aku dan kawan-kawan KBHB lalu menuju jurang
yang disebut oleh penduduk dengan sebutan “Kuburan PKI’ tersebut.
Tidak mudah untuk mencarinya sebab disepanjang jalan desa tersebut
memang curam dan banyak jurang dan ditumbuhi pohon besar.

Untuk mengecek apakah benar penduduk mengetahui tempatnya, kami
bertanya pada seorang ibu berumur sekitar 40 tahunan yang sedang
sibuk membantu membuat batu-bata ditepi jalan dengan pertanyaan.
“Apakah benar ada Kuburan PKI disekitar sini”. Ibu itu terkejut
sebentar lalu mengiyakan dan memberikan petunjuk arah yang harus
kami ambil. Artinya ibu ini tahu soal kuburan PKI tersebut dan tahu
juga lokasinya. Kami lalu berjalan keatas dan menemui tiga orang
penebang kayu, yang berumur 40-an tahun dan menanyakan tentang lokasi
‘kuburan PKI’ tersebut. Seorang tukang kayu dengan kaus PNI Marhaen
berbaik hati mengantarkan kami kelokasi yang dikenal oleh penduduk
setempat dengan ‘ Kuburan PKI tersebut.’

Lokasi kuburan massal tersebut memang dahulunya sebuah jurang, tapi
sekarang oleh penduduk sebagian ditanami dengan pohon kopi.
Menurut bpk tukang kayu tersebut, kuburan massal tersebut berada
disekitar pohon besar yang ditandai dengan beberapa pohon ‘berdaun
merah’ disekitarnya. Memang aku perhatikan dijurang disekitar pohon
besar tersebut terdapat sejenis pohon berdaun merah disekitarnya.
Bapak itu sendiri tidak tahu siapa yang menanam pohon-pohon berdaun
merah tersebut. Namun aku menduga, ada orang yang menanamnya sebagai
semacam ‘penanda’ bahwa disana terdapat semacam kuburan massal.
Secara kebetulan aku menemukan suatu fakta yang mungkin semacam simbol
yang membenarkan asumsiku bahwa pohon berdaun merah itu adalah
‘penanda’ kuburan masal 65. Ketika melewati beberapa kuburan penduduk
di Curup, aku kaget, banyak sekali pohon berdaun merah yang memenuhi
kuburan-kuburan penduduk setempat. Ternyata pohon sejenis itu,
menurut asumsiku adalah semacan pohon yang menjadi simbol atau penanda
kuburan, semacam pohon kamboja kalau di pulau Jawa sini.

( Menurut Mbak Sylvia Tiwon “Daun2 merah itu memang tanaman penanda.
Kalau nggak salah, sejenis handeleum. Kalau di Sunda banyak dipakai
untuk
penanda sawah (kalau jalan2 ke arah Tasik, coba perhatikan). Ada
muatan magisnya, dan merah selalu berkaitan dengan darah: ada
persembahan darah yang menyuburkan bumi, ada yang membuat bumi menjadi
haram.”)

Kami lalu mengambil beberapa foto dilokasi ‘kuburan PKI’ tersebut.
Selepas dari ‘kuburan PKI ‘ kami lalu pulang dengan mobil carteran
menuruni gunung menjelang magrib. Tiba-tiba saja, seperti kisah
misteri, hujan turun dengan lebatnya sehingga jalan licin dan
berkabut. Di sebuah tikungan yang curam secara mendadak, dua ban mobil
carteran kami pecah secara bersamaan, ban kanan depan dan ban kanan
belakang. Kami dalam mobil terhenyak, kok bisa ban pecah dua
sekaligus, depan-belakang? Ini kejadian yang tidak normal, tidak biasa
dan sulit dipercaya kata sopir kami. Aku jelas tidak percaya dengan
soal-soal magis, tapi kejadian ini seolah mengingatkanku sebagai suatu
pesan kepada kami, agar berbuat sesuatu, jangan pulang begitu
saja………. “jangan lupakan kami”. Akhirnya setelah mengirim
seorang kawan turun gunung kami berhasil mendapatkan dua ban serep dan
kembali ke Bengkulu.

Pada tanggal 8 Oktober kami mengadakan perjalanan ke Kecamatan Seginim
di Bengkulu Selatan. Kecamatan ini dikenal sebagai sentra produksi
padi di Bengkulu. Di kiri kanan jalan dapat kita temui areal sawah dan
tambak ikan penduduk. Pokoknya kalau dilihat sepintas desa ini
terliaht indah, damai, tentram dan penduduknya tampak giat bekerja,
persis seperti dalam buku teks SD.

Di tengah kecamatan tersebut membelah sebuah sungai yang jernih
dengan batu-batu kali berukuran besar. Penduduk menggunakan kali
tersebut untuk mandi, mencuci, memasak dan berenang. Sementara
anak-anak kecil tampak tertawa-tawa berenang di tepi kali jernih
tersebut.

Namun, ditahun 1965, sungai bening ini menurut saksi mata dipenuhi
mayat-mayat mengapung yang dibunuh dengan cara disembelih atau
ditembak. Sebelum pembantaian kecamatan ini dikenal sebagai basis BTI.
Seperti gurauan Rudi, Ketua STAB disini, “para petani itu bukan PKI,
tapi BTI”. Menurut seorang saksi, berumur sekitar 75 tahun,
orang-orang BTI tersebut ditangkapi dirumah-rumah oleh tentara dan
milisi sipil lalu dipisah menjadi dua rombongan. Rombongan laki-laki
dikumpulkan dan di bawa ketepi sungai. Rombongan wanita dikumpulkan
dan di bawa kesebuah danau/rawa.

AKu bertanya lalu apa yang dilakukan setelah mereka dipisah dan dibawa
kelokasi yang berbeda. “Disembelih oleh tentara dan penduduk lalu
mayatnya langsung diceburkan kedalam sungai”, kata bapak tua yang
mengetahui kejadian tersebut . Mayat-mayat itu bahkan menurut
ceritanya menjadi pemandangan ‘menyeramkan’ bagi penduduk di pantai
dan muara sungai, karena tiba-tiba saja ratusan mayat mengapung
seperti tidak ada habisnya dari arah hulu.

Bila rombongan laki-laki disembelih dan mayatnya dibuang kesungai,
maka rombongan perempuan yang dituduh angota Gerwani, BTI dan PKI ini
dibawa kesebuah rawa/danau ditepi hutan desa. Di danau/rawa ini
mereka satu persatu dibunuh dengan cara ditembak atau ‘disembelih’
dengan senjata tajam. Mayatnya lalu diceburkan kedalam danau/rawa
tersebut, yang biasanya tempat penduduk mencari ikan. Setelah kejadian
tersebut, penduduk menghentikan ‘pencarian ikan’ untuk waktu yang lama.

Para anggota keluarga lainya seperti orangtua, anak, adik, kakak,
suami atau istri dari korban pembantaian tersebut juga mengalami
teror dari tentara, pemerintah dan dari para pemuka agama . Di tengah
suasana teror tersebut datanglah pihak gereja memberikan bantuan
logistik, perlindungan, pendampingan, doa dan perhatian untuk melewati
masa-masa berdarah, penuh teror dan ketidak pastian. Suatu perlakuan
yang sebaliknya dari kebanyakan para pemuka agama saat itu.

Secara berangsur akhirnya keluarga para korban 65 ini berpindah
agama dari islam menjadi kristen. Lalu komunitas kristen di ‘tengah’
desa ini mendirikan sebuah gereja ditepi desa sebagai tempat
beribadah, berkumpul dan bersosialiasi. Letak gereja ini agak jauh
kepedalaman, sekitar 7 KM dari pusat kecamatan. ( mungkin akan terasa
aneh bagi orang yang baru berkunjung, kok ada gereja dipedalaman
ditengah penduduk yang mayoritas islam). Sayangnya waktu sudah magrib
ketika aku selesai wawancara, masih ada beberapa pimpinan serikat tani
yang harus ditemui dan diwawancarai malam itu, jadi aku tak sempat
mengambil foto gereja tersebut. Tapi aku sempat mengambil foto sungai
yang menurut pengakuan menjadi lokasi pembantaian masal ditahun 1965
tersebut.

( Dan kejadian seperti di di Curup kembali terjadi, ban mobil carteran
kami pecah ….)

Apa yang terjadi di Bengkulu adalah sebuah tragedi kemanusian yang
juga dialami oleh jutaan rakyat di Indonesia pada masa-masa transisi
berdarah dari kekuasaan presiden Soekarno kepada kediktatoran militer
Soeharto. Hanya saja, cerita dari Bengkulu, tanah kelahiran Fatmawati,
Ibunda dari mantan presiden Megawati Soekarnoputri itu memang jarang
terdengar. Selagi berkuasa Megawati hanya mengganti nama bandara di
Bengkulu.

salam

WILSON

SUMBER: X-PPI_Se-Eropa77-87-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx

http://mlblog.osdir.com/region.indonesia.mahawarman/2004-11/index.shtml

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: