Penulis Naskah Kuno di Bengkulu Masih Jadi Misteri

Kamis, 28 Juli 2005 12:27
Penulis Naskah Kuno di Bengkulu Masih Jadi Misteri
Kapanlagi.com – Naskah-naskah kuno yang tersimpan di Museum Provinsi Bengkulu tidak satu pun yang mencantumkan indentitas penulisnya, sehingga sulit untuk mengatahui pengarang dari tulisan bernilai budaya dan sejarah tersebut.

Kepala Museum Provinsi Bengkulu Fakhri Bustaman di Bengkulu, Kamis mengatakan, terdapat 126 koleksi naskah kuno yang disimpan di Museum tersebut.

“Kita memiliki 126 koleksi naskah kuno, dan kini sudah 10 naskah berhasil diterjemahkan ke dalam bahasa Indoensia, namun tidak satu pun yang mencantumkan indentitas penulisnya,” ujarnya.

Meski usianya sudah puluhan bahkan ratusan tahun namun askah-naskah kuno itu sangat berharga dan relevan untuk dipelajari. Naskah kuno itu diantaranya berisi pantun, sejarah, dan wejangan (ajaran).

Usaha menterjemahkan naskah kuno tersebut, hasil kerja sama Museum Bengkulu dengan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (F-KIP) Universitas Bengkulu (Unib).

Naskah yang sudah dialihbahasakan itu diantaranya silsilah marga Bermani, asal mula terjadinya Adam serta Ta`an Rutan, dan saat ini pihai Museum sedang berupaya menterjemahkan naskah kuno lainnya.

“Pokoknya kita akan berupaya kalau bisa seluruh naskah kuno yang ada dapat diterjemahkan,” katanya.

Naskah silsilah marga Bermani merupakan tulisan kuno dengan menggunakan bahasa Ka-Ga-Nga dari Suku Rejang, Kabupaten Rejang Lebong sedangkan asal mula terjadinya Adam dan Ta`un Rutan dari bahasa Serawai, Kabupaten Bengkulu Selatan.

“Penulisan naskah asli dari ketiga cerita itu menggunakan tulisan Ka-Ga-Nga yang bentuknya mirip dengan tulisan abjad Jawa Ho-No-Co-Ro-Ko…,” katanya.

Kalau masih dalam bentuk tulisan asli naskah kuno tersebut sulit untuk dipelajari karena banyak warga terutama generasi muda tidak memahami tulisan dalam abjad Ka-Ga-Nga tersebut.

Naskah asli silsilah marga Bermani ditulis dalam kulit kayu dengan ukuran panjang 18 cm dan lebar 18 cm yang terdiri dari 10 halaman.

Setiap halaman terdiri 9-12 baris, beberapa baris dalam tiap halamannya sulit untuk dibaca karena sudah ‘kabur’.

Sedangkan naskah asli asal mula terjadinya Adam dan Ta`un Rutam ditulis dalam gelondongan bambu satu ruas, sepanjang 50 cm dan berdiameter 7 cm. (*/erl)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: