ASAL BAHASA REJANG

ASAL BAHASA REJANG

Richard McGinn
Ohio University

0. Ringkasan

Di dalam tulisan ini, kami mengajukan tiga hipotesa yang secara logis tidak perlu diterima sekaligus atau sebagai gabungan. Ketiga-tiganya didasarkan atas perbandingan bahasa-bahasa, terutama perbandingan kosakata sehari-hari termasuk bentuk (struktur) perkataan.

1. Bahasa Rejang adalah anggota kelompokbesar “Austronesia” dan subkelompok “Melayu-Polynesia” dan turun dari bahasa induk purba yang bernama Melayu-PolinesiaPurba.

2. Dialek-dialek Rejang adalah anggota subkelompok kecil di Sumatra yang turun dari bahasa induk purba yang kami namai bahasa Rejang Purba. Ternyata, dialek Rawas yang paling penting dalam upaya merekonstruksikan Rejang Purba. Selanjutnya bahasa Purba dipergunakan sebagai langkah pertama atau ‘menara berlampu’ untuk melihat dengan lebih jelas dan lebih jauh ke masa lalu – misalnya untuk mengatahui tempat yang paling pertama diduduki oleh suku Rejang.

3. Bahasa Rejang (purba) adalah anggota subkelompok Bidayŭh dan turun dari bahasa induk yang kami namai Rejang-Bukar-Sadong-Bidayŭh Purba. Lagi pula, leluhur Rejang itu berasal dari sana, yaitu Kalimantan Utara.

Tiga hipotesa ini tidak sama penilaiannya. Misalnya, hipotesa yang pertama sudah sering dibenarkan oleh para akhli bahasa sejak 70 tahun belakang ini; dengan demikian kami kemukakannya sebagai latar belakang. Lain halnya dengan hipotesa kedua dan ketiga yang kami ajukan sebagai teori pribadi. Walau sudah diterbitkan dalam jurnal dan buku, haruslah diakui bahwa hipotesa kedua dan ketiga masih baru, dan belum banyak didiskusikan (apalagi dibenarkan dan dikonfirmasikan) oleh para akhli bahasa. Malah teori ketiga sudah memiliki pendukung (Zork 2006) dan pengritik (Adelaar 2007).

1. Hipotesa yang pertama

Bahasa dan suku Rejang adalah anggota kelompok besar bahasa-bahasa “Austronesia” dan subkelompok besar bahasa-bahasa yang bernama “Melayu-Polynesian”, yang terdiri dari lebih dari seribu bahasa, yang tersebar di Asia Tenggara dan pulau-pulau di Lautan Pasifik dengan penutur berjumlah ratusan juta orang yang merupakan bahan keterangan (data, fakta) untuk dimengerti dan ditafsirkan oleh hipotesa serupa rekonstruksinya bahasa Melayu-PolinesiaPurba. (Bellwood, Fox and Tryon, 1995)
Kata-kata Sehari-hari dalam Tujuh Bahasa Austronesia

Bahasa Rukai Tagalog Bidayuh Rejang Rawas Samoan Malagasy
Indonesia (Taiwan) (Filipina) (Kalimantan) (Sumatra) (Pasifika) (Afrika)
Dua dosa da-lawa duŭ duei lua rua
Empat sepate apat umpĕt pat fi efatra
Lima lima lima rimŭ lemau lima dimi
Enam enem anim inŭm num ono ëninä
Ayam (aDaDame) manok manuk monok manu ??
Kutu koco kuto gutu guteu ?utu hao
Mata maca mata matŭh matei mata maso
Telinga calinga talinga (kaping) (ti’uk) talinga tadini
Ati aTay atay ati atui ate ati
Jalan dalan da?an jĕrĕn dalen ala ??
Niur (abare) niyog (buntĕn) niol niu ??
Ujan odale ulan ujĕn ujen ua uranä
Langit (sobelebeleng) langit rangit längät langi laniträ
Batu (lenege) bato batuh buteu fatu `fruit pit‘ vato
Makan kane ka?in ma?an ka?en ?ai hanä

Bahasa-bahasa di atas ini tersebar di hampir semua kepulauan Asia Tenggara dan Pasifik waktu sekarang, dari Taiwan (Rukai) hingga di Afrika (Malagasy) dan lautan Pasifik (Samoan). Ternyata, semua bahasa ini termasuk dalam satu kelompok bahasa, yaitu Austronesian. Prinsip dasar ilmu sejarah bahasa yang jelas digambarkan adalah: Evolusi fonologi sangat sistematis dan bertata dalam setiap dialek. (“Sound changes are regular”). Misalnya huruf ‘c’ dalam bahasa Rukai menunjukkan ‘t’ atau ‘s’ atau nol dalam bahasa lain (lihat Kutu, Mata, Telinga) tanpa kecualian. Data seperti ini mustahil telah muncul hanya sebagai kebetulan saja, atau sebagai gara-gara kecampuran penduduk yang jauh sekali jarak antaranya pada waktu sekarang. Sebaliknya, para akhli bahasa menyatakan bahwa semua perkataan di atas itu diwariskan dari sebuah bahasa induk “Austronesia Purba” yang walaupun sudah lama mati sebagai bahasa sehari-hari, masih tetap hidup serupa bahasa keturunannya.

2. Di manakah Tempat yang paling Lama Diduduki oleh Suku Rejang?

Hipotesa 2: Dialek-dialek Rejang merupakan subkelompok terpencil di Sumatra yang turun dari bahasa induk purba yang kami namai Rejang Purba. Ternyata, dialek Rawas yang paling konservatif yaitu penting dalam upaya merekonstruksikan Rejang Purba. Selanjutnya bahasa Purba dipergunakan sebagai langkah pertama atau menara berlampu untuk melihat dengan lebih jelas dan lebih jauh ke masa lalu–misalnya untuk mengatahui tempat yang paling pertama diduduki oleh suku Rejang.

Dalam seksi tulisan ini akan dibicarakan keunikan bahasa Rejang pada umumnya, kemudian sumbangan setiap dialek untuk merekonstrusikan bahasa Rejang Purba.

2.1 Keunikan Bahasa Rejang

Bahasa Rejang yang unik ini dapat dicirikan oleh beberapa macam unsur leksikon, tatabahasa dan fonologi .

• PERBENDAHARAAN KATA YANG KAYA-RAYA

• STRUKTUR KALIMAT YANG SUSAH DITERJEMAHKAN
Rajo yo mebureu coa si awié lak nien.
‘Raja itu seperti tidak bersemangat lagi berburu.’

• SISIPAN -EM- DAN -EN-
In“uk cemerito dongéng kelem. ~ Dongéng o cenerito in“uk ku.
‘Ibu menceritakan dongen tadi malam ~ Dongeng itu diceritakan oleh Ibu saya.’

• KETIDAKADAAN AKHIRAN
Uku nelei nak Cu’up. ‘Saya dibesarkan di Curup.’

• DUA SERIAL NASAL (BUNYI SENGAU)
Rejang: jam“eu in“ok sing“eak janj“ei
Bahasa Indonesia ‘jambu’ ‘ibu’ ‘singgah’ ‘janji’

• TEKANAN PADA AKHIR PERKATAAN
Misalnya “Lalan Bélék” delafalkan LaLAN béLÉK (bukan LAlan BÉlék)

• HARMONI VOKAL

MPP Rejang BI MPP Rejang BI
*sabung sobong sabung *tungked tokot tongkat
*langit léngét langit *nyamuk nyomok nyamok
*Rakit ékét rakit *hiket ékét (Rawas äkät) ikat
*balik bélék pulang *ipen épén (Rawas äpän) gigi
*manuk monok ayam *isep ésép (Rawas äsäp) hisap

• BANYAK SEKALI DIFTONG

MPP RP Pes Leb Musi Keban Rawas BI
1. *danaw *daniu daneu daneu danuo danea daniu danau
2. *qatay *atui atui atei atié ateé atui ati
3. *kahiw *kiiu kieu kieu kiuo kiea kiiu kayu
4. *hapuy *upui upui opoi opoi opoi upui api
5. *tinaqi *tenui tenui tenei tenié teneé tenui usus
1. *sapu *supu supau supau supeu supeu supeu sapu
2. *talih *tili tilai tilai tilei tilei tilei tali
3. *duha *dui duai duai duei dui duei dua
4. *mata *mati matai matai matei matei matei mati
5. *kena *kena keno keno keno keno kenau kena

Keunikan bahasa Rejang dan perbedaan dialek-dialeknya satu sama lain yang memungkinkan merekonstruksikan bahasa Rejang Purba sebagai suatu hipotesa. Sebaliknya bahasa Purba mengandung informasi tentang sejarah bahasa dan suku Rejang.

Yang muncul dengan jelas dari penelitian kami adalah: dialek Rawas dan Kebanagung yang paling penting dalam perekonstruksian bahasa Rejang Purba, sedangkan dialek Lebong, Pesisir dan Musi lebih bermanfaat untuk menunjukkan proses evolusi fonologi. Dengan kata lain, perekonstruksian bahasa purba Rejang tidak mungkin dengan hanya dialek Lebong, Musi dan Pesisir, sebab ketiganya sangat mirip dan perbedaannya sedikit sekali. Lain halnya dengan dialek Rawas dan Kebanagung yang sangat berbeda dengan dialek Rejang lain.

2.2 Sumbangan Dialek Kebanagung

Berikut adalah dua sumbangan dari dialek Kebanagung yang paling penting.
1. Konson h diwariskan dari Rejang Purba *r (yang hilang dalam dialek lain): hotos ‘ratus’; kehing ‘kering’; libeh ‘lebar’

2. Vokal -i dalam dui, tui, bungi diwariskan dari *due, tue, bunge dalam bahasa Rejang-Bukar-Sadong Purba (yang menjadi diptong duey atau duay dalam dialek Rejang lain).

2.3 Sumbangan Dialek Rawas

Adalah tiga sumbangan dari dialek Rawas yang paling penting.

1. Konson -l di akhir kata diwariskan dari Rejang Purba *-l, *-r.

2. Diftong ui dan iu diwariskan dari Melayu-PolinesiaPurba *uy dan *iw tanpa perubahan
sejak 6000 tahun.

3. Vokal ä diwariskan dari Rejang Purba *ä yang bergabung dengan é dalam dialek lain.

2.3.1 MPP *-l, *-R dan Rawas -l

MPP *-l di akhir kata diwariskan dari Rejang Purba *-l, *-r yang hilang dari dialek lain, misalnya: niol ‘niur’; biol ‘air’; tenol ‘telur’ dalam Rawas tetapi menjadi nioa, bioa, tenoa dalam dialek lain.
Juga MPP *-R berubah menjadi RP *-l dan *-r dalam Bahasa Rejang Purba.

MPP RPur P&L Musi Keban Rawas BI
A *wahiR *biol bioa bioa bioa biol air
*niuR *niol nioa nioa nioa niol niur
*ikuR *ikol ikoa ikoa ikoa iko? ékor
*dapuR *dopol dopoa dopoa dopoa dopol dapur
*qateluR *tenol tenoa tenoa tenoa tenol telor
*tiduR *tidul tidua tidoa tiduh tidul tidur
*dengeR *tengol tengoa tengoa tengoa — dengar
B *huluR *ulur ulua oloa uluh ulua ulur
*qapuR *upur upua opoa opoh upua kapur
*libeR *liber libea libea libeh libea lébar
*qiliR *ilir — éléa ilih — ilir

2.3.2 MPP *iw (=*iu) dan *uy (=*ui) dan Rawas iu dan ui

Diftong MPP *uy dan *iw diwarisi kepada Rawas dan Rejang Purba Purba ui dan iu tanpa perubahan sejak 6000 tahun, sedangkan sudah berubalah dialek yang lain.

MPP RP Pes Leb Musi Keban Rawas BI
*kahiw *kiiu kieu kieu kiuo kiea kiiu kayu
*hapuy *upui upui opoi opoi opoi upui api

2.3.3 Rejang Purba dan Rawas *ä

Rejang Purba *ä menjadi é dalam setiap dialek kecuali Rawas.

MPP RPurba Rawas Dialek lain Bahasa Indonesia
*nahik *näk näk nék naik
*paqit *pät pät pét pahit
*ipen *äpän > äpän épén gigi
*langit *längät > längät léngét langit

Oleh sebab adanya Rawas -l, ui, iu, ä; dan adanya Kebanagung dui, tui, bungi dan konson h, maka sebagian kecil sejarah bahasa Rejang tidak hilang.

Lain halnya dengan kecirikhasan fonologi dialek Lebong, Pesisir dan Musi, yang lebih menunjukkan proses evolusi fonologi.

2.4 Kecirikhasan Fonologi Dialek Lebong

Pada umumnya, kecirikhasan Lebong menunjukkan evolusi fonologi. Berikut adalah beberapa contoh yang penting.

Lebong Rejang Purba Bahasa Indonesia
1. ei sadei, atei *sadui, atui desa, ati
2. eu piseu, daneu *pisiu, *daniu pisau, danau
3. ai duai, isai *dui, *isi dua, isi
4. au supau, butau *supu, *butu sapu, batu
5. -ok anok, bapok *anak, *bapak anak, bapak
6. u dute, luyen *dete, *leyen semua, lain
7. oi poi, moi *pai, *mai padi, ke

2.5 Kecirikhasan Fonologi Dialek Pesisir

Juga kecirikhasan Pesisir cenderung menunjukkan evolusi fonologi. Berikut adalah beberapa contoh yang penting.

Pesisir Arga Makmur Rejang Purba Bahasa Indonesia
1. ui sadui, atui *sadui, *atui desa, ati
2. eu piseu, daneu *pisiu, *daniu pisau, danau
3. ai duai, isai *dui, *isi dua, isi
4. au supau, butau *supu, *butu sapu, batu

2.6 Kecirikhasan Fonologi Dialek Musi

Juga kecirikhasan Musi cenderung menunjukkan evolusi fonologi. Berikut adalah beberapa contoh yang penting.
Musi Rejang Purba Bahasa Indonesia
1. ié sadié, atié *sadui, *atui desa, ati
2. uo pisuo, danuo *pisiu, *daniu pisau, danau
3. ei duei, isei *dui, *isi dua, isi
4. eu supeu, buteu *supu, *butu sapu, batu
5. -éak lebéak, putéak *lebi, *puti lebih, putih
6. -oak poloak, penoak *pulu, *penu puluh, penuh

2.7 Sumbangan Lebong, Pesisir dan Musi kepada Rejang Purba

Kebetulan ada juga unsur dialek Lebong, Pesisir dan Musi yang menunjukkan Rejang Purba, dan sebaliknya, ada unsur dialek Rawas yang menunjukkan perkembangan baru dan bukan Rejang Purba. Berikutlah ada dua contoh yang menarik dan penting.

1. -iak dan -uak dalam Pesisir dan Lebong diwariskan dari RP *-i? dan *-u? yang berubah lebih lanjut dalam Rawas; misalnya dalam Rawas RP *puti? ‘putih’ menjadi putäh dan *pulu? menjadi poloh.

2. Serial kata ganti dalam Pesisir, Lebong, Musi dan Kebanagung, yaitu uku, kumu, ko, nu, udi, si, diwariskan langsung dari Rejang Purba, sedangkan serial itu sudah berubah dalam Rawas menjadi: keu, kumeu, kaben, kaben, kaben, sei.

2.8 Kesimpulan tentang Sumbangan setiap Dialek

Rawas dan Kebanagung berfungsi sebagi “dialek kriterion” dalam usaha reconstruksi Rejang Pruba. Sebab kebanyakan kecirikhasannya menunjukkan kepada unsur-unsur bahasa Rejang Purba. Sedangkan dialek lainnya (Lebong, Pesisir dan Musi) berfungsi sebagai “dialek ujian” untuk membenarkan Rejang Purba; kebanyakan kecirikhasannya menunjukkan perkembangan-perkembangan baru.

Akhir katanya, sumbangan setiap dialek sama pentingnya tetapi tidak sama gunanya

2.9 Di manakah Tempat yang paling Lama Diduduki oleh Suku Rejang?

Dengan adanya bahasa Rejang Purba, muncullah pertanyaan dengan jawabannya juga. Pertanyaannya adalah: di mana tempat nenek-moyang pada waktu mereka masih berbicara dengan bahasa Rejang Purba? Artinya, dari mana titik tolaknya waktu mereka mulai menyebar ke seluruh tanah Rejang?

Jawabannya yaitu: mengikuti prinsip akhli bahasa Blust (1991b) dan Ross (1991), umumnya dialek para perantau cenderung berkembang cepat sedang dialek orang yang tinggal cenderung berkembang lebih lambat (konservatif). Malah Ross (1991) menambahkan pengaruh psikologi: para perantau cenderung toleran terhadap “kesalahan” (perubahan bahasa) yang selalu akan muncul dari mulut anak-anak, sedang orang yang tinggal tidak setoleran “kesalahan” itu. Prinsip ini pasti menunjukkan Rawas sebagai tempat pertama nenek moyang waktu mereka masih berbahasa dengan Rejang Purba.

2.10 Terletak Geografi

Akhirnya, hipotesa tentang Rejang Rawas sebagai tempat Rejang Purba cocok dengan letak geografi di Sumatra.


Tanah Rawas terletak di hulu Sungai Rawas yang sudah lama menjadi jalan untuk memasuki pedalaman hampir sampai di puncak Bukit Barisan. Dari sana orang bisa berjalan kaki ke Lebong dengan tidak susah-payah, mengikuti jalan gajah. Sebaliknya Sungai Rawas mengalir jauh sekali ke laut sampai di Pulau Bangka tanpa halangan berupa air terjun. Artnya mudah sekali naik perahu ke Rawas dan tidak terlalu sulit berjalan kaki ke Lebong.

Kesimpulan: Cukup banyak fakta yang menunjukkan Rawas sebagai dialek yang paling unik dan konservatif, dan tempatnya sebagai tempat yang paling lama dihuni orang Rejang. Walaupun demikian, hipotesa kedua sangat terbatas dan belum dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan lain seperti: Dari mana datangnya pelopor pertama, leluhur Rejang Purba, sebelum mereka pergi merantau sampai di tanah Rejang? Apakah mereka datang dari arah timur melalui Sungai Musi, ataukah dari arah lain seperti misalnya barat-laut dari daerah Jambi dan Minangkabau sekarang? Ataukah mungkin dari pantai barat konon melalui Sungai Ketaun sampai ke tanah Pesisir dan Lebong sekarang? Untuk menjawab pertanyaan ini, perlulah kita pindahkan perhatian kepada hipotesa baru, yaitu hipotesa ketiga dalam tulisan ini.

3. Hipotesa Ketiga: Asal Bahasa Rejang

Hipotesa ketiga tergantung total atas adanya bahasa Rejang Purba sebagai langkah pertama atau menara lampu untuk dapat melihat lebih jauh ke masa lalu. Jadi tujuan penelitian kini adalah untuk mencari bahasa Melayu-Polinesialain yang sedemikian sama dengan Rejang Purba sehingga dapat dinyatakan mereka adalah anggota sebuah subkelompok (sekelompok kecilan). Kalau benar ditemukan subkelompok bahasa seperti itu dalam dunia bahasa di Asia Tenggara, maka sangat mungkinlah kesimpulan bahwa suku Rejang berasal dari sana.

Hipotesa Ketiga: Bahasa Rejang (purba) adalah anggota subkelompok Bidayŭh (Land Dayak) dan turun dari bahasa induk yang kami namai Rejang-Bukar-Sadong-Bidayŭh Purba. Lagi pula, leluhur Rejang itu berasal dari sana atau sekitarnya, yaitu Kalimantan Utara, di bagian selatan dari kota Kuching sekarang (daerah 2 dalam peta). Ada juga Sungai Rejang dekat situ.

Tujuan seksi tulisan ini untuk membenarkan hipotesa keanggotaan bahasa Rejang dan bahasa Bukar-Sadong dalam sebuah subkelompok yang dinamai Rejang-Bukar-Sadong Purba. Hipotesa didasarkan atas 11 perkembangan bersama fonologi, dan 9 kesamaan tatabahasa.

3.1 Prinsip

Kemunculan bersama dari perkembangan-perkembangan fonologi yang menentukan keanggotaan dua bahasa dalam satu subkelompok.
Adelaar (1992)

Hasil penelitian kami baik di Sumatra maupun di Kalimantan Utara menunjukkan sebuah bahasa di Sarawak, Malasia, sebagai bahasa yang paling dekat dengan Rejang Purba. Meskipun demikian, harus diakui bahwa “paling dekat” tidak berarti “dekat”. Kedua bahasa itu sangat berbeda, tetapi banyak kesamaan juga. Maka hipotesa keanggotaan kedua bahasa itu merupakan suatu hipotesa saja yang baru kami ajukan sejak tahun 2003 dalam jurnal dan buku.

Nama bahasa di Kalimantan itu adalah bahasa Bukar-Sadong Bidayŭh. Nama itu mencirikan penuturnya sebagai penduduk tanah pertanian terletak di pegunungan antara Sungai Bukar dan Sungai Sadong; dan nama Bidayŭh itu menunjukkan keanggotaan mereka dalam sebuah subkelompok besar dengan anggotanya sejumlah 20 bahasa lebih. Rupanya ke-20 bahasa Bidayŭh itu berbeda sekali dengan satu sama lain, sehingga tidak saling dimengerti oleh penuturnya masing-masing.

Kedua bahasa purba itu jelas keturunan dari bahasa Melayu-PolinesiaPurba (MPP).
Berikut adalah perkembangan bersama dan kesamaan lain antara bahasa Rejang Purba dan Bahasa Bukar-Sadong Purba.

3.2 Kesamaan Fonologi 1-6

Baik Rejang Purba maupun Bukar-Sadong Purba memperlihatkan perkembangan fonologi bersama dari Melayu-Polinesia Purba (MPP).

MPP
1. *-mb-, *-nd-, *-ngg-, *-nj- > -m“-, -n“-, ng, nj (“barred nasals”)
Rejang Rawas: emun tane pingan minjem
B-S Tibakang : amum tanŭ pingan minjem
Bahasa Indonesia ‘awan’ ‘tanda’ ‘piring’ ‘meminjam’

2. *-m, *-n, -ng > -bm, -dn, -gng (‘pre-stopped nasals’)

3. Di akhir kata, bunyi sengau biasa sering dilafalkan dengan tambahan konsonan hambat.
Rejang dolom bulen burung ‘burung’ minj“em
B-S Tibakang jarum burĕn bŭrŭng ‘bundar’ minj“em
Bahasa Indonesia ‘jarum’ ‘bulan’ ‘meminjam’

4. *qa- hilang dalam tiga-sukukata

MPP *qapeju *qalimetaq *qateluR
Rejang Rawas pegeu liteak tenol
B-S Tibakang puduh matak tolok
Bahasa Indonesia ‘empeduh’ ‘lintah’ ‘telur’

5. *-Ce- dan *-eC- hilang dalam tiga-sukukata

MPP *binehi *baqeRu *palaqepaq
Rejang Lebong biniak belau pelepak
B-S Tibakang bénék bauh kilepak
Bahasa Indonesia ‘benih’ ‘baru’ ‘pelapah’

6. *-q > *-k [-?]
MPP *taneq *jibaq *hasaq
Rejang Lebong: taneak jibeak aseak
Bukar Sadong: tanak abak asak
Bahasa Indonesia ‘tanah’ ‘jangan’ ‘asah’

7. *z > *j (kec. Rej. d- dalam `dalen’ dan `dolom’)
MPP: *quzan *pinzem *tuzuq
Rej Lebong: ujen minj“em tujuak
B-S Tibakang: ujĕn minj“em ijuk
Bahasa Indonesia ‘ujan’ ‘meminjam’ ‘tujuh’

3.3 Kesamaan Fonologi KE-7: Perkembangan MPP Diftong *aw dan *ay

Dalam kedua diftong *ay dan *aw MPP itu, vokalnya *-a- berkembang menjadi *-e- dalam Bahasa Rejang-Bukar-Sadong Purba (yang mirip Rejang Lebong sekarang).

MPP Rej-Buk-Sad Rejang Pur Buk-Sad Purba Bahasa
Purba &Rawas & Tibakang Indonesia
*danaw *daneu daniu danu danau
*punay *punei punui puni punai
*qatey *atei atui ati ati

3.4 Kesamaan fonologi KE-8: MPP *uy tidak berubah dan diwariskan sebagai ui

MPP Rej-Buk-Sad Rejang Purba Buk-Sad Purba Bahasa
Purba &Rawas & Tibakang Indonesia
*hapuy *apui upui apui api
*kahiw *kaiu kiiu kayu kayu

3.5 Kesamaan Fonologi 9-10: Perkembangan MPP *-a di akhir kata

Antara banyaknya evolusi MPP *a dalam sejarah bahasa Rejang termasuk dua perkembangan yang paling penting untuk hipotesa kami. MPP *a naik menjadi *e dalam pola perkataan KVKaK dan KVKa nampaknya bersama dalam sejarah bahasa Rejang dan Bukar-Sadong. Kedua perubahan ini terdapat sebelum tekanan menggeser ke akhir kata, yaitu sewaktu vokal *a itu tak ditekankan.

3.5.1 Kesamaan Fonologi 9: Perkembangan Bersama yang paling Penting

Dalam pola KVKaK (silabel akhir kata tertutup), MPP *-a berubah menjadi /e/ = /ĕ/ kecuali konsonan terakhir adalah [+velar] (ka-ga-nga-qa). Perubahan yang unik ini terdapat dalam semua dialek Rejang dan Bukar-Sadong.

MPP Keban- Tibakang Bahasa
agung (Sarawak) Indonesia
A. *bulan bule:n burĕ:tn bulan
*quzan uje:n ujĕ:tn ujan
*surat suhe:t surĕ:t surat
B. *anak ana:k ana:k anak
*hisang isa:ng insa:kng isang
*hasaq asa:h ng-asa:? asah

3.5.2 Kesamaan Fonologi Ke-10

Dalam pola KVKa (silabel akhir kata terbuka), MPP *-a berubah menjadi /e/. Perubahan ini terdengar dalam puluhan bahasa di Nusantara termasuk semua dialek Rejang dan Bukar-Sadong. Tetapi ada keunikan juga, sebab antara puluhan bahasa itu, hanya Rejang dan Bukar-Sadong mempunyai tekanan pada vokal yang bersangkutan. Logisnya, perubahan *a > e adalah unsur evolusi lama dalam Rejang dan Bukar-Sadong. Lain halnya dalam puluhan bahasa lain itu, di mana *a > e telah muncul sebagai pinjaman dari bahasa Sanskerta dan Jawa di zaman Majapahit . (Tadmor 2003)

MPP Rejang Buk-Sad Tibakang Bahasa
Purba Purba Indonesia
*mata *ma:te *ma:te bate:h mata
*nanga *na:nge *na:nge nange:h muara
*lima *li:me *ri:me rime:h lima
*duha *du:e *du:e due:h dua
*ni?a *ni:?e *ni:?e ni?e:h nya

3.5.3 Rangkuman Kesamaan Perkembangan 9-10 secara Formal

*a > *e / V:C__(C[-velar])#

Rej-BS Purba > perkemgangan Kebanagung Bahasa Indonesia
*ki:ta > kite > ite kita
*du:ha > *du:e > dui: > dui dua
*ma:ta > *ma:te > *mati: > matei mata
*bu:lat > *bu:let > bule:t bulet bundar
*a:nak > *anak anak anak

3.5.4 Kesamaan ke-11 – Tekanan Menggeser ke Akhir Kata

Tekanan di akhir kata juga muncul bersama dalam Rejang Purba dan Bukar-Sadong Purba.
Dalam hipotésa kami, sesudah perkembangan tekanan itu, berpisahlah suku Rejang dan mulailah mereka hidup sendirian. Kemudian mereka masih tinggal di Kalimantan selama 1000 tahun baru migrasi ke Sumatra.

3.6 Tiga Macam Kesamaan Tatabahasa

Selain kesamaan evolusi fonologi, ada juga beberapa kesamaan tata bahasa yang mungkin juga menunjukkan bahasa Rejang-Bukar-Sadong-Bidayŭh Purba.
1. Awalan hilang
2. Kasus kataganti hilang
3. Beberapa kata-berfungsi yang sepadan
Arti Tibakang RejPurba Bahasa Indonesia
Masa lalu embeh *mi~bik~bi sudah
Masa depan kelék *kelak hendak
Bentuk perintah boh, mah *bah~ba lah
`Berapa?’ kudu *kedu berapa
`Di’ ang *tang di
`Mana?’ api *ipe mana
‘Yang’ de *di~do yang

3.7 Kesimpulan: Hipotesa Subkelompok Rejang dan Bukar-Sadong

Kesimpulan kami, yaitu suku Rejang berasal dari Kalimantan Utara, dapat digambarkan dalam bentuk pohon bercabang yang mewakili hipotesa ketiga dalam tulisan ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: