Dileak Pet Bahasa Version RMG

Edited for spacing and paragraphing, Kepahiang 12-12-04.

SI PAHIT LIDAH

(Menurut cerita, si Pahit Lidah itu kalau lihat tidak apa-apa tapi kata-katanya yang pahit).

Pahit Dileak atau si Pahit Lidah dan si Mata Empat bersaudara. Si Mata Empat ini mempunyai dua buah mata yang lain di tengkuknya. Tapi dari jauh, orang tidak bisa lihat matanya itu karena tertutup rambut. Jadi kalau dia mau melihat, rambutnya diangkat. Si Mata Empat ini menjadi raja di daerah Pagaruyung, yang sebenarnya jauh dari sini. Demikianlah cerita tentang si Mata Empat.

Suatu hari, si Pahit Lidah ingin membuat Lebong menjadi laut. Jadi dia mengangkut tanah dan diusungnya, tapi tanah itu jatuh berceceran dan menjadi gunung Bukit Barisan. Di antara Bukit Barisan itu ada gunung yang bernama gunung Sepekul yang kalau di sini disebut bukit Kabes dengan bukit Tepuk. Di puncak bukit Tepuk ini ada bekasnya mencari ikan (=mengail?) ketika dia mau membuat kolam/tebat di sungai Tunggang, hulu Du’es Tunggang. Waktu dia sedang mengangkut tanah di gunung Sepikul tadi, ada yang datang dan mengatakan, “Hai, si Pahit Lidah, saya ada perlu denganmu. Berhenti dulu!”

“Kau perlu apa,” tanya si Pahit Lidah?

“Ini penting sekali,” katanya.

“Apa yang penting,” kata si Pahit Lidah?

“Saya disuruh orang memanggilmu, karena anakmu di rumah meninggal.”

“Ah, mana bisa anak saya meninggal, dan mengapa dia bisa meninggal?”

“Betul, dia sudah tidak ada lagi.”

“Ah, tidak mungkin. Dia tidak sakit, mengapa kau mengatakan bahwa dia sudah tidak ada?” Mereka terus berdebat. Si Pahit Lidah sudah tidak senang orang ini. Tapi akhirnya (=do’o? –not clear) dia mengatakan, “Anak saya betul-betul meninggal?”

Jawab laki-laki itu, “Meninggal!” Pulanglah Pahit Lidah ke rumahnya dan menemukan anaknya betul sudah meninggal. Karena itulah gunung Sepikul itu tanahnya belum diangkut untuk menutupi sungai Tunggang, di hulu Ulau Du’es ini. Karena itulah namanya gunung Sepikul yang tidak tertutup ataupun menjadi laut. Kalau ditutupinya itu, dipenuhinya Lebong dan Curup ini, maka tempat ini tidak bisa dihuni oleh manusia karena telah menjadi laut. Kepergiannya untuk melihat anaknya yang meninggal menyebabkan dia tidak jadi membuat laut di Lebong ini. Buktinya ada yaitu di bukit Tepuk di gunung Sepikul ini ada tempat datar dan ada juga batu tempat duduknya si Pahit Lidah waktu dia mengail dengan bambu betung. Dengan bambu betunglah dia mengail di bukit Tepuk di danau Tes. Tempat itu jauh di sana, tidak tahu kita bagaimana mengatakan jauhnya tapi tempat itu keramat atau disebut orang juga ‘berilmu’. Jadi di sanalah dia mengail dulu, di bukit Tepuk di danau Tes dengan memakai bambu betung. Itulah sebabnya sehingga tempat itu bernama Bukit Tepuk.

Pada suatu hari, si Mata Empat mendengar bahwa saudaranya si Pahit Lidah itu dipanggil orang si Pahit Lidah sebab apapun yang dikatakannya pasti jadi, kecuali menghidupkan orang mati. Kalau dia menyumpahi orang menjadi batu maka orangpun menjadi batu, sehingga dia dijuluki si Pahit Lidah. Akhirnya di dusun Tapos, kedua saudara itu bertemu untuk menguji kesaktian ilmu masing-masing. Kedua saudara itu memang tinggi ilmunya. Si Mata Empat ingin tahu mengapa si Pahit Lidah disebut si Pahit Lidah. Jadi dia berkata, “Hai Pahit Lidah, kata orang kau pahit lidahnya. Saya si Mata Empat juga jagoan. Saya adalah raja di daerah Pagaruyung dan kau adalah raja daerah Rejang-Lebong. Sekarang kita mencoba siapa yang lebih ampuh ilmunya. Sekarang begini caranya,” katanya. “Salah satu dari kita memanjat pohon enau, yang lainnya di bawah kemudian memanjat bergantian. Setibanya di atas pohon, dia terjun ke bawah di atas orang yang lagi tunggu itu,” kata Mata Empat.

Keduanya setuju dengan peraturan itu. Si Pahit Lidah pun berkata, “Mata Empat, kau tidur dulu di bawah dan saya yang akan terjun dari atas pohon enau itu.” Jadi si Mata Empat berbaring tertelungkup dan terjunlah si Pahit Lidah dari atas pohon. Waktu si Pahit Lidah sudah terjun dan semasih dia melayang, si Mata Empat berguling menjauh sehingga si Pahit Lidah tidak jatuh di atasnya. Kata si Mata Empat, “Kau terjun tidak kena saya, jadi kau kurang sakti. Sekarang giliran saya untuk terjun di atasmu.” Sebenarnya si Mata Empat tidak kena karena dia bisa melihat dengan matanya yang di kuduknya itu. Jadi dia tidak mati. Sesudah itu gilirannya si Pahit Lidah. Dia menelungkup lalu terjunlah si Mata Empat. Si Pahit Lidah tidak dapat melihat si Mata Empat waktu dia terjun sehingga si Mata Empat dapat menginjak punggungnya tepat di tengah dan mengenai ulu hati dan jantungnya. Jantungnya berpindah dan putuslah nyawanya. Matilah si Pahit Lidah.

Si Mata Empat tertawa terbahak-bahak karena dia yang menang, jadi dia yang lebih sakti. Namun karena kebanggaannya itu dia mau mencicipi bagaimana rasanya lidah si Pahit Lidah. Kata orang lidahnya pahit, tapi apa betul-betul pahit dia, tidak tahu. Kemudian dia membalik si Pahit Lidah dan mencoba menggigit ujung lidahnya sedikit. Setelah tergigit, matilah si Mata Empat karena lidahnya pahit dan juga bertuah. Jadi matilah keduanya.

Sekarang kuburannya kalau tidak salah di Tapos, tapi kata orang ada di Pagaruyung. Saya tidak tahu betul tentang hal itu. Begitulah ceritanya.

augie suribory

4/29/88 *9:40 A.M.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: