kumpulan artikel gajah sumatera

Gajah Sumatera Diambang Kepunahan Cetak E-mail
Kamis, 06 April 2006
Buana Katulistiwa – Konversi lahan dari hutan menjadi perkebunan dan pembukaan kampung di jalur lalu lintas gajah mengakibatkan menurunnya populasi gajah Sumatera.

Populasi gajah Sumatera di provinsi Riau telah menurun sekitar 75 % dalam 11 tahun terakhir ini dan bila tidak ada penanganan terpadu, diperkirakan akan punah dalam lima tahun mendatang, menurut WWF (World Wildlife Fund) hari rabu (05/04)

Faktor menurunnya populasi gajah liar tersebut akibat perusakan hutan karena pembalakan hutan dan tidak terkontrolnya konversi hutan menjadi kebun kelapa sawit. Hal ini menyebabkan meningkatnya konflik antara manusia dan gajah, dimana gajah terpaksa memakan hasil kebun untuk menggantikan makanan alami mereka

Gajah yang ditembak, diracun atau ditangkap hingga mati mencapai 400 ekor, hanya di provinsi Riau saja. Investigasi WWF sejak tahun 2000, menemukan 45 gajah mati karena ditembak atau diracun oleh penduduk dan 16 orang meninggal akibat konflik dengan gajah

Sejak 23 tahun terakhir ini, hutan di Riau menurun luasnya mulai dari 6,4 juta hektar hingga menjadi 2,7 juta hektar, itu diakibatkan oleh pembalakan hutan dan pembukaan lahan untuk pertanian. Dari tahun 1999 hingga 2003, provinsi Riau kehilangan 50% populasi gajah, dengan kemungkinan yang tersisa hanya 350 ekor saja

Para pengamat lingkungan dan pejabat konservasi mengatakan bahwa perkebunan dan pembukaan kampung di jalur lalu lintas gajah menyebabkan meningkatkan konflik antara gajah dan manusia.(dap/tk)

Komentar
Gajah mati meninggal kan??? (MASALAH)
Oleh <!– var prefix = ‘ma’ + ‘il’ + ‘to’; var path = ‘hr’ + ‘ef’ + ‘=’; var addy12953 = ‘ardimulyadi’ + ‘@’; addy12953 = addy12953 + ‘yahoo’ + ‘.’ + ‘com’; var addy_text12953 = ‘aRDI mULYADI’; document.write( ‘‘ ); document.write( addy_text12953 ); document.write( ” ); //–>\n aRDI mULYADI <!– document.write( ‘‘ ); //–> Alamat e-mail dilindungi dari bot spam, anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihat alamat ini <!– document.write( ” ); //–> pada 2006-07-22 07:01:57

Yang terjadi di Riau merupakan kejadian yang tidak hanya masuk rekor MURI TAPI JUGA DUNIA.
Bayangkan binatang yang langka diDunia ini populasinya terancam dari tangan2 orang yang seharusnya melindunginya.
Fakta menyebutkan Pemerintah tidak proffesional dalam menangani konflik gajah dan manusia di Riau.Bisa nya hanya menagkap dan membiarkan gajah itu mati, krn tidak diurus dan dikasi makan. Sungguh perbuatan yang sangat keji terhadap makhluk ALLAH. Buat WWF jangan segan2 dan takut terhadap oknum2 yang bersalah. terus berjuang utk menyelamatkan makhluk di Dunia ini.
Bagi pemerintah, jangan hanya menerima pegawai berdasarkan kedekatan hubungan, Tetapi benar2 yang proffesional dan yang bertanngung jawab.
TERUS BERJUANG WWF
gajah sumatra diambang kepunahan
Oleh <!– var prefix = ‘ma’ + ‘il’ + ‘to’; var path = ‘hr’ + ‘ef’ + ‘=’; var addy6383 = ‘m2ajzg’ + ‘@’; addy6383 = addy6383 + ‘yahoo’ + ‘.’ + ‘co’ + ‘.’ + ‘id’; var addy_text6383 = ‘febri’; document.write( ‘‘ ); document.write( addy_text6383 ); document.write( ” ); //–>\n febri <!– document.write( ‘‘ ); //–> Alamat e-mail dilindungi dari bot spam, anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihat alamat ini <!– document.write( ” ); //–> pada 2006-08-05 02:58:15

saya rasa gajah riau harus dilindungi oleh pemerintah karena gajah tersebut merupakan populasi yang langka

http://www.geografiana.com/nasional/fisik/gajah-sumatera-diambang-kepunahan

Bengkulu

Tujuh Gajah Sumatera Mati dalam Dua Tahun
Senin, 14 Juni 2004 | 16:17 WIB

TEMPO Interaktif, Bengkulu: Dalam dua tahun terakhir, tujuh ekor Gajah Sumatera yang ditangkar di Pusat Pelatihan Gajah Sebelat Provinsi Bengkulu, mati. Kematian mereka membuktikan kelangsungan hidup hewan langka dan dilindungi di kawasan hutan Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS), khususnya Harimau Sumatera, Gajah Sumatera dan Badak Sumatera, kian terancam kepunahan. “Saya sangat prihatin dengan kondisi ini,” kata Agus Priambudi, Kepala balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu, kepada Tempo News Room, Senin (14/6).

Selain sakit tak tertangani –karena belum memiliki dokter hewan– yang kemudian mengakibatkan kematian, hidup gajah-gajah di sana juga makin terdesak. Buktinya, menurut Agus, mereka makin sering menyerang kawasan perkebunan sawit di daerah Kabupaten Bengkulu Utara. Selain itu, hidup gajah juga terancam perburuan liar.

Jumlah gajah yang ditangkar di Pusat Pelatihan Gajah
Sebelat, sebelumnya mencapai 50 ekor, sekarang hanya 23 ekor.

Syaipul Bakhori – Tempo News Room
http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/sumatera/2004/06/14/brk,20040614-30,id.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: