Profile Umum rejang lebong versi Kompas


PADA masa kolonial Belanda, nama Rejang Lebong sangat terkenal. Dibandingkan dengan nama Bengkulu, Rejang Lebong jauh lebih dikenal. Kemasyhuran nama kabupaten ini diperoleh lewat bukit-bukit yang mengandung emas di daerah Lebong yang dieksplorasi dan dikapalkan ke Kerajaan Belanda. Emas dari Rejang Lebong turut berperan memakmurkan Negeri Bunga Tulip tersebut.Jika bertanya tentang emas sekarang ini kepada masyarakat Rejang Lebong, jawaban yang didapat cuma senyum kecut menyiratkan keprihatinan. Kejayaan Rejang Lebong sebagai penyimpan logam mulia kini tinggal kenangan. Bijih-bijih emas tersebut kini nyaris tak bersisa. Meskipun demikian masih banyak anggota masyarakat yang mengadu untung sebagai penambang tradisional di goa-goa yang diyakini mengandung sisa-sisa emas.

Rejang Lebong memang daerah istimewa. Letaknya yang berada di punggung gugusan Pegunungan Bukit Barisan memberi keuntungan yang besar. Udara sejuk segar. Bukit-bukit hijau sejauh mata memandang. Daerah ini menyenangkan sebagai tempat peristirahatan. Tata kota yang rapi dan suasana kota yang tenang menjadi gambaran umum Kota Curup, pusat kota Rejang Lebong. Udara bersih ini mungkin bisa memberi jawaban atas pertanyaan tentang kekhasan sosok penduduk Rejang Lebong, khususnya Curup. Penampilan gadis-gadis Curup terlihat istimewa. Tubuhnya terbilang tinggi untuk ukuran orang Melayu dan berkulit putih. Sepintas ayuk-ayuk ini mirip dengan sosok Mojang Priangan di Jawa Barat.

Rejang Lebong adalah daerah agraris. Tanahnya yang subur mampu memproduksi hasil bumi yang melimpah. Oleh karena itu, tidak mengherankan kalau sektor pertanian menjadi kontribusi utama sebesar Rp 844 milyar dari total kegiatan ekonomi 1999 yang nilainya Rp 1,5 trilyun.

Di sepanjang jalan protokol menuju Rejang Lebong dari arah Kota Bengkulu yang berliku-liku dan naik turun, terlihat betapa kabupaten ini kaya akan hasil pertanian seperti padi, palawija, sayur-sayuran, buah-buahan, dan jenis-jenis tanaman perkebunan. Memasuki Kecamatan Kepahiang, tanaman kopi menghampar di kanan-kiri jalan. Sela-sela pekarangan rumah penduduk yang kebanyakan terbuat dari kayu khas rumah adat suku Rejang ini banyak dijumpai biji-biji kopi yang sedang dijemur.

Kopi memang menjadi komoditas primadona Rejang Lebong. Areal kebun kopi seluas 58 ribu hektar selain terdapat di Kecamatan Kepahiang juga terdapat di Kecamatan Curup dan Kecamatan Lebong Selatan. Jenis kopi yang ditanam petani adalah kopi robusta, sementara kopi arabika sebagian besar dikelola oleh perusahaan swasta.

Sebenarnya dari segi mutu dan hasil produksi, kopi arabika jauh lebih baik. Petani jarang menanam jenis arabika karena jenis ini hanya tumbuh baik pada ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut. Pedagang yang kebanyakan berasal dari Sumatera Selatan dan Lampung membeli langsung dari petani apabila musim panen tiba. Sayangnya, petani sering menjual kopi yang belum tua benar, terlebih lagi apabila terdesak oleh kebutuhan, sehingga harganya menjadi rendah.

Ekspor kopi dari Rejang Lebong sampai sekarang hanya dilakukan oleh satu eksportir. Tahun lalu daerah ini mampu mengekspor kopi sebanyak 459 ton dengan nilai 317.900 dollar AS. Komoditas lain di Rejang Lebong yang mampu menembus pasaran dunia selain kopi adalah jahe. Jenis tanaman rimpang ini selain dipasarkan dalam bentuk jahe segar, juga dijual dalam bentuk jahe asinan terutama ke Jepang.

Meskipun yang mampu menembus pasaran ekspor adalah kopi dan jahe bukan berarti tidak ada komoditas perkebunan lain di Rejang Lebong. Di dataran tinggi Kabawetan terdapat areal kebun teh seluas 816 hektar milik perusahaan swasta. Selain itu, petani juga ada yang berkebun tanaman panili, karet, kayu manis, dan aren yang tahun 2000 masing-masing menghasilkan di atas dua ribu ton.

Dunia usaha di kabupaten yang mempunyai pendapatan per kapita Rp 3,4 juta ini didominasi oleh industri rumah tangga dengan bahan baku hasil bumi. Di sini sektor pertanian memegang peranan juga. Indus-tri kecil seperti pengolahan ma-kanan, kerajinan rotan, pengolahan jahe, atau pembuatan kopi bubuk, seperti yang tampak pada papan-papan iklan kecil di sepanjang jalan mampu memenuhi permintaan lokal.

Masih di sekitar sektor pertanian, Rejang Lebong ternyata juga berpotensi dalam bidang perikanan, terutama perikanan air tawar. Sebagai daerah pegunungan, kabupaten seluas 410.980 hektar ini banyak memiliki perairan umum seperti danau, waduk, dan sungai-sungai yang berpotensi ikan cukup besar. Selain dari penangkapan di perairan umum, ikan banyak dibudidayakan di kolam ikan biasa, keramba, kolam air deras, dan mina padi. Tahun 2000 lalu, total produksinya 3.695 ton. Perikanan air tawar ini terus dikembangkan dengan dibangunnya enam balai benih.

Keberuntungan Rejang Lebong atas kemurahan alam bukannya tanpa kekurangan. Topografi tanahnya yang bergelombang menyimpan potensi timbulnya tanah longsor atau banjir. Tahun 2000 lalu, misalnya, hujan deras pada bulan November menyebabkan banjir yang rendaman airnya merusak ratusan hektar persawahan. Konservasi ekosistem sumber daya alam memang mutlak diperhatikan mengingat kabupaten ini memiliki kawasan hutan sebesar 56,7 persen dari total lahan. Terlebih lagi, di kawasan penyangga (buffer zone) Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), yang memanjang melintasi empat provinsi di bagian barat Pulau Sumatera. TNKS di Rejang Lebong sejak sebelum ditetapkan sebagai penyangga (1990) sudah menjadi kantung-kantung permukiman penduduk yang rentan menjadi penyebab kerusakan hutan eksotis ini. (Yoseptin T Pratiwi/Litbang Kompas)



http://203.77.237.18/pdp3ddll/homepage/0/17/02/umum.htm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: