Maharaja Disastra : Geliat Sastra Petinggi dan Penyair Bengkulu

Maharaja Disastra : Geliat Sastra Petinggi dan Penyair Bengkulu

<!– –>

Berita mengenai akan terbitnya antologi puisi petinggi dan penyair Bengkulu sudah jauh-jauh hari dimaklumatkan melalui surat kabar harian setempat di provinsi Bengkulu. Tentunya ini kesempatan yang langka dan saya secara pribadi ingin sekali datang ke acara tersebut. Alasannya sederhana saja, saya ingin tahu bagaimana pembacaan puisi yang kabarnya akan dibacakan oleh para pejabat penting di kota Bengkulu. Apakah mereka selayaknya penyair yang mampu menyuarakan suara hati mereka ataukah ajang ini hanya sekedar mencari popularitas belaka.

Seperti kita ketahui bahwa dengan adanya otonomi daerah , peran pimpinan di daerah menjadi lebih besar. Tentunya agar dapat terpilih lagi menjadi pimpinan mereka harus mengeluarkan berbagai macam usaha , termasuk masuk dalam ranah sastra yang notabene bukan merupakan bidang yang akrab bagi para birokrat ini.

Kesempatan menonton ini akhirnya saya dapatkan setelah salah seorang penyair (yang saya kenal dekat) yang kebetulan puisinya masuk dalam antologi meminta saya untuk menggantikan posisinya, karena beliau sedang di luar kota. Saya sendiri awalnya cukup cemas apakah nanti saya juga akan didaulat untuk membacakan puisi sehingga saya menyiapkan sedikit olah vokal. Siapa tahu benar-benar terjadi dan saya akan menjadi penyair instan dalam acara itu.

Acara peluncuran antologi ini dilaksanakan pada tanggal 2 Mei 2006, bertempat di Taman Budaya Bengkulu. Patut untuk diketahui bahwa Taman Budaya ini menjadi garda depan dalam pengembangan seni dan budaya di provinsi ini. Acara-acara seni dan budaya kerap dilakukan di salah satu gedung dalam area Taman Budaya dan termasuk acara pada malam itu.

Saya datang lebih awal setelah konfirmasi dengan pihak panitia bahwa acara akan dimulai pukul 19.30. Saat saya datang beberapa kendaraan dinas dan pribadi sudah berjejer. Rencananya launching ini akan dibuka oleh Gubernur Bengkulu, Agusrin M. Najamuddin ,dihadiri oleh Bupati dan Wakilnya serta pimpinan di beberapa instansi.

Beberapa orang yang menyambut terlihat cukup sibuk, malam ini tentu bukan malam yang biasa. Menggabungkan acara seni yang bisanya cair menjadi acara yang sedikit protokoler tentunya bukan hal yang mudah. Saya sendiri langsung mengambil posisi di kursi bagian belakan untuk memudahkan saya melihat siapa saja yang berada di bagian depan dan tipologi ruangan yang agak menanjak ke atas memberikan keleluasaan untuk menatap panggung dengan bebas.

Sedikit kronologis acara dari maharaja Disastra ini:

Acara dimulai dengan sambutan dari ketua panitia. Diberitahukan bahwa terealisasinya proyek buku ini atas kerjasama yang baik dari pejabat serta donatur yang memberikan sumbangan sebesar 22.500.000. Sambutan berikutnya diberikan oleh panitia penobatan Maharaja Disastra yang intinya menyampaikan pengharapan agar buku yang terbit ini akan berguna dalam pengembangan sastra di Bengkulu. Berakhirnya sambutan diadakan pembukaan secara resmi oleh panitia (Agus Setiyanto) dengan menarik kain yang menutupi baliho yang bergambarkan buku Maharaja Disastra. Tarian persembahan yang berasal dari pulau Enggano menjadi hidangan acara berikutnya. Setelah selesai, datang para sarjana dengan jumlah sekitar sepuluh orang yang berpakaian lengkap ala wisudawan, pemberi dentar kebesaran Maharaja Disastra diberikan kepada seseorang dari sarjana yang mengenakan sepatu kets warna hitam. Seremoni ini kabarnya meniru pola pengangkatan kepala suku Enggano. Bando Amin C. Kader yang rencananya menerima anugerah ini berhalangan hadir sehingga digantikan oleh Wakil Bupati Kepahiang, A. Basri.

Sambutan dari Agus Setiyanto selaku editor dari buku ini menambah deretan sambutan setelah penobatan Maharaja Disastra. Lelaki yang menjadi presiden Komunitas Seniman Bengkulu (KSB) sempat bernyanyi dan membacakan puisi. Lalu, A Basri selaku wakil dari Bando Amin C. Kader ikut membacakan puisi. Pembacaan doa oleh Salamun Haris, wakil Bupati Bengkulu Utara dan kemudian sekilas antologi puisi Maharaja Disastra oleh bung Mulyadi menjadi acara berikutnya. Dikatakan bahwa terdapat dua kelompok penulis dalam antologi tersebut yaitu, para pejabat dan para penyair. Ada 18 orang petinggi dengan jumlah puisi sebanyak 24 puisi, sedangkan penyair sebanyak 25 orang dengan jumlah total 41 puisi. Buku ini menyorot persoalan yang universal, mengangkat kepedulian sosial, emansipasi, kesadaran sosial dan diharapkan dapat dikonsumsi oleh masyarakat. Pembacaan puisi berlanjut kembali , tapi kali ini hanya beberapa orang saja sebelum akhirnya diturup dengan makan malam bersama dan pembagian buku.

Dari pengamatan saya yang datang sekitar 100-150 orang. Para pejabat yang datang tidak banyak dan terlebih dari jajaran PemProv bengkulu yang paling banyak hadir dari kabupaten Kepahiang dan Rejang Lebong yang diwakili oleh wakil bupati. Berita menyebutkan bahwa mereka berhalangan hadir karena sedang ke Beijing.

Acara ini bisa dikatakan cukup sukses. Penetrasi kebudayaan melalui strategi ini tentunya diharapkan tidak cuma berhenti sampai disini. Seperti yang dikatakan oleh Azrul Thaib, ketua Dewan Sastra Bengkulu , dengan peluncuran buku ini sebagai awal kebangunan para seniman, khususnya sastrawan untuk bangkit dari tidurnya. Kita sudah terlalu lama lelap dalam tidur. saatnya bangun. Kedepan bukan hanya puisi petinggi dan penyair yanga diantologikan tetapi juga cerpen dan karya sastra lainnya.

Saya sendiri sebenarnya tidak cukup puas. Malam peluncuran buku ini hanya sekedar menjadi malam ramah tamah belaka yang dipenuhi dengan muatan-muatan tertentu. Penyair-penyair yang seharusnya banyak berperan dan membaca diberi porsi yang sedikit. Padahal jika membaca puisi dalam antologi ini , puisi-puisi yang berhasil justru berasal dari para penyairnya. Sebutlah beberapa nama penyair yang ikut di dalamnyaAgus Joko Purwadi, Akbar Ikram SP, Alqobrian Syah, Amril Canrhas, Ardni, Azmaliar Zaros, Azrul Thaib, Choirul Muslim, Dali Yazid, Deasy Fathrismawary, Emong Soewandi, Harlisman fasha, Herman Suryadi, Ifnaldi Nurmal. Jayu Marsuis, Jumira Warlizasuci, Lela Fauziah, M. Arfani, Novi Ariansyah, Nurlali, Nurlisna, Oktarano Sazano, H. Sahidi Sojata, Sudjiono Martojo, Susi Rahayu, Syakirin Endar Ali dan Usman Maine.

Penyair-penyair yang disebut menjadi penting karena mereka adalah penyair yang menjadi penyambung generasi sastrawan di provinsi ini. Pejabat-pejabat yang ikut menyumbangkan puisi hanya sekedar membuat puisi karena tuntutan politis. mereka ini hanya memanfaatkan kondisi dan tahun-tahun beriktunya mungkin akan tenggelam begitu saja. Konsistensi mereka sangat dipertanyakan. hal lain yang patut disayangkan bahwa hanya satu atau dua puisi yang menggunakan bahasa Bengkulu atau menjadikan Bengkulu sebagai tema sentral dengan menggali potensi sejarah dan juga tempat-tempat di provinsi ini. Kedepannya, jika memungkinkan ada antologi khusus berbahasa daerah.

Tapi diluar itu semua, kesempatan untuk menikmati kembali teks-teks puisi dari penyair Bengkulu melalui buku ini adalah seperti oase di padang pasir yang kering. Harapan yang muncul bahwa di masa yang akan datang akan lebih banyak lagi penyair yang muncul dari provinsi yang acap disebut Bumi Rafflesia.

Akhirnya saya pulang dengan dua buku antologi Maharaja Disastra dan rasa bersemangat untuk menulis puisi. Terima kasih buat rekan penyair yang memberikan kesempatan untuk datang di acara terbuka ini. Siapa tahu saya bisa ikut menyumbang puisi di antologi serupa mendatang tanpa perlu menjadi seorang petinggi yang entah sampai kapan akan terwujud.

http://puitika.net/item/444

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: