Dongeng : Anak Lumang-Puteri Serindu-Si Raja Tidur

Si Raja Tidur 1
January 15, 2008

Adik-adik, Putri Raja dalam berbagai cerita memang suka meminta banyak syarat yang aneh. Tidak sembarang calon bisa menikahi putri raja. Jangankan Pangeran, pengawal kepercayaan Putri saja harus didapat dengan seleksi ketat! Dulu di Tanah Betawi, Mirah, pendekar perempuan dari Marunda hanya mau menikah dengan seorang pendekar yang bisa mengalahkannya. Pendekar itu bukan sembarang pendekar. Mirah kan jagoan terkenal di Betawi pada zamannya. Nah, kali ini Paman Gery mau mengajak adik-adik pergi ke Bengkulu di Pulau Sumatera. Di sana kita akan bertemu dengan seorang putri cantik anak Raja Jungur yang arif dan bijak. Putri Serindu namanya. Sekarang ia sudah dewasa dan Raja Jungur mau seorang pengawal selalu mengawalnya. Pengawal itu akan digaji sangat besar. Tapi, Putri Serindu punya syarat sendiri. Asal tahu saja, Putri Serindu sangat jago berkuda dan rajin bekerja. Siapakah pengawal yang akan ia pilih?

“Oh, indah benar batu permata… Makin digosok, makin bersinar rupanya… Sudah besar Serindu kita… Makin menawan siapa yang meliriknya…,” Raja Jungur bernyanyi dengan suara tebal.

“Ayah, jangan begitu. Putri Ayah sudah besar, masih diledek saja!” ujar Putri Serindu sambil tersenyum.

“Hahaha .. putriku, putriku! Kau itu belum pantas disebut dewasa, tapi juga tidak pantas lagi dikatakan putri kecil,” kata Raja Jungur.

“Dengar Ayah, kuda putihku telah memanggil-manggil. Mungkin ia rindu kuajak berjalan-jalan, mencari tupai loncat-loncat di dalam hutan!” sahut Putri Serindu.

“Tidak tidak. Kau masih ingat peristiwa kemarin! Anak panah ikut berlari mengikutimu dari belakang. Sudah Ayah cium, ternyata ujung anak panah itu beracun!” kata Raja Jungur.

“Tapi, Ayah! Semua anak panah itu sudah kutebas dengan pedangku!” sahut Putri Serindu.

Itulah Putri Serindu adik-adik. Putri pemberani dari Bengkulu. Sejak kecil, seekor kuda putih besar sudah menjadi tunggangannya sehari-hari. Pedang adalah mainannya sejak pagi hingga malam hari. Ayahnya, Raja Jungur, sangat sayang pada putri kandung satu-satunya.

“Tanah Rejang yang Ayah pimpin sangat luas dan kaya hasil alam, Serindu. Banyak kerajaan lain yang ingin menjajah kita,” kata Raja Jungur.

“Lalu, Ayah mau terus melarangku keluar istana?” tanya Putri Serindu tidak terimma.

Raja Jungur sadar, ia tidak mungkin melarang putri kesayangannya pergi. Satu-satunya jalan untuk membuat ia tidak khawatir adalah menunjuk satu pengawal kepercayaan untuk menjaga Puteri Serindu.

“Hahaha, jangan, jangan melipat muka seperti itu, Serindu. Ayah tak berani melarang-larang kau keluar. Aku hanya ingin kau dijaga seorang pengawal!” jawab Raja Jungur.

“Aku tak mau dikawal sembarang pengawal, Ayah!” sahut Putri Serindu sambil cemberut.

“Hahaha, tentu, tentu! Semuanya kuserahkan padamu, Putriku. Pilihlah pengawal terbaik untuk menjagamu,” kata Raja Jungur.

Sejak kecil, Putri Serindu jarang sekali diperingatkan dan dilarang-dilarang oleh sang ayah. Segala keinginannya pasti dipenuhi. Makanya ia langsung cemberut ketika ayahnya melarang ia ke luar istana.

“Ayah benar! Apa jadinya bila anak panah di hutan waktu itu, mengenai leherku!” kata Putri Serindu dalam lamunannya.

“Gruduk, gruduk…,” suara langkah kuda.

“Tupai, itu ada Tupai kecil di sana, Hulubalang!” sahut Putri Serindu senang.

“Tunggu, tunggu, Tuan Putri! Tunggu! Jangan, jangan ke sana, tunggu!” Hulubalang berteriak mencegah Putri Serindu.

“A… aaauuuh…!!” teriak Putri Serindu.

“Putrriiiii iii…,” Hulubalang berteriak histeris.

“Untung saja Tupai itu juga tidak terkena anak panah! Kalau begitu, besok akan kuumumkan siapakah yang berhak menjadi pengawal terbaikku?” sahut Putri Serindu.

“Tuan Putri Serindu tiba. Salam hormat, angkat senjata, grak!” sahut Hulubalang memberi aba-aba.

“Bagaimana Putriku? Siapa yang harus Hulubalang cari untuk mengawalmu sepanjang hari? Ayah khawatir, Nak. Ayah takut kau celaka!” tanya Raja Jungur.

Setelah semalam Puteri Serindu tidur terbayang-bayang peristiwa serangan anak panah, ia datang menghadap ayahnya membawa satu persyaratan. Persyaratan mengenai siapa yang berhak menjadi pengawal terbaiknya.

“Aku sudah memutuskan, Ayah. Aku hanya pantas dikawal oleh seorang… Raja Tidur!” Putri Serindu berseru.

“Seorang Raja Tidur, Putriku?” tanya Raja Jungur.

Sebenarnya banyak sekali pasukan Raja Jungur yang berpengalaman yang bersedia mengawal Putri Serindu. Tapi, semua pasukan termasuk Hulubalang heran, apa maksud Tuan Putri? Mengapa ia mencari Si Raja Tidur sebagai pengawal terbaiknya?

“Baiklah, aku akan mengadakan sayembara. Siapa saja yang bisa tidur paling lama, dialah yang kunobatkan sebagai Raja Tidur. Dan dialah yang akan menjadi pengawal anakku sepanjang hari dan ia berhak atas upah yang besar!” kata Raja Jungur.

Kuda Hulubalang telah berlari cepat. Terompetnya telah ditiup dan terdengar sampai ke pelosok kampung. Hulubalang mencari siapakah Raja Tidur yang diinginkan Putri Serindu? Siapakah Raja Tidur pengawal Putri? Jangan lewatkan dongeng pagi berikutnya ya…

Adik-adik, siapakah Raja Tidur yang dipilih Putri Serindu? Kali ini Paman Gery akan melanjutkan kisah Putri Serindu, di Dongeng Pagi yang lalu meminta Raja Tidur-lah yang pantas menjadi pengawal terbaiknya. Raja Jungur telah mengutus hulubalang untuk menyebarkan sayembara mencari Raja Tidur. Aneh ya adik-adik, mengapa ya Putri Serindu memilih Raja Tidur sebagai pengawalnya?

”Pengumuman, pengumuman! Siapa yang paling lama bisa tidur?! Dia akan diangkat menjadi Raja Tidur. Dan dialah yang berhak menjadi pengawal terbaik Putri Serindu!” sahut Hulubalang.

“Tugas mengawal putri sangatlah berat, wahai Hulubalang. Apakah Raja akan menjamin rakyatnya yang berhasil tertidur, hidup dengan layak?” tanya Udin, pengemis lusuh yang biasa meminta-minta di keramaian kota.

“Raja sangat sayang pada putrinya. Dia akan menggaji besar pada siapa yang berhasil memenuhi keinginan Putri Serindu!” sahut Hulubalang.

“Hoahmm… Lalu bagaimana bila pengawal itu lapar?” tanya Midun penduduk yang lain.

“Raja akan memberikan hidangan lezat yang begitu melimpah setiap hari!” sahut hulubalang lagi.

Adik-adik, banyak orang berbondong-bondong mengikuti sayembara itu. Ada Udin, pengemis lusuh yang biasa meminta-minta di keramaian kota.

“Kau juga ikut Dun? Midun?” tanya Udin.

“Iya, Din nyam, nyam, aku ingin makan ayam enak setiap hari! Nyam, nyam, nyam! Kalau soal tidur sih, keciil…,” kata Midun.

“Kalau begitu, sekalian ya! Daftarin aku Dun, tolong tuliskan namaku,” pinta Udin.

Nah, adik-adik, Si Udin itu pengemis yang suka berbicara ‘sekalian ya’. Setiap memulai pekerjaan, Udin selalu mengharapkan bantuan orang lain. Kalau Midun. Badannya besar, makannya juga besar.

“Selamat datang wahai rakyat Tanah Rejang! Sampai ayam jago berkokok ketika matahari menjelang, Putriku akan memutuskan siapakah di antara kalian yang berhak menjadi Raja Tidur! Dialah yang berhak menjadi pengawal terbaik Serindu,” sambut Raja Jungur.

Dalam lapangan luas di depan beranda tempat Raja Jurung berleha-leha, banyak rakyat Tanah Rejang yang berusaha tertidur pulas. Midun yang berbadan besar membawa kasur berukuran raksasa dari rumahnya.

“Dun, uh, uh, geser dong! Aku juga mau tidur nih! Geser dong!” sahut Udin.

“Uuh Din! Apa kau tak punya kasur sendiri! Kan kau tahu badanku besar!” ujar Midun.

“Aah Midun! Aku malas membawa kasur sendiri! Sekalian aja ya Dun! Sekalian aku tidur di kasurmu. Geser sedikit lagi dong Midun!” sahut Udin.

“Uuuh… tuh sudah ya Din. Jangan ganggu aku! Aku ngantuk… hoahmm…,” kata Midun.

Seperti harapan Putri Serindu, di lapangan istana terhampar banyak penduduk Tanah Rejang yang tertidur pulas. Tapi, di antara banyak calon peserta, ada seorang pemuda yang bermana Anak Lumang. Sehari-hari ia suka membuat bubu, yaitu tempat ikan dari bambu.

“Aku ingin sekali menjadi pengawal putri dan mendapat banyak uang dari raja. Tapi, besok pasti pelanggan setiaku kecewa karena aku belum membuat bubu pesanannya,” kata Anak Lumang.

Dari bubu yang ia jual di pasar-lah, Anak Lumang bisa mendapat uang untuk makan sehari-hari. Namun, Anak Lumang punya akal. Ia akan membuat bubu dulu sebelum tertidur pulas.

“Pasti enak sekali rasanya tertidur pulas. Apa sih sebenarnya mau Putri Serindu? Mengapa ia memilih pengawal yang pandai tertidur?” tanya Anak Lumang.

Ketika banyak peserta lain tertidur nyenyak, Anak Lumang malah terjaga. Ia meraut bambu menjadi seperti lidi dan diikatnya satu persatu dengan tali rotan.

“Untung kubawa semua perangkat dalam beronang. Uh… sedikit lagi selesai, baru aku bisa tidur,” kata Anak Lumang.

Kali ini Anak Lumang mau membuat bubu yang besar, indah dan rapi. Tempat ikan berbahan bambu itu sudah dipesan Ajo Arif, seorang nelayan dari negeri sebrang. Parang, pisau, rotan, semua peralatan yang ia butuhkan untuk membuat bubu, Anak Lumang taruh dalam beronang, sejenis keranjang yang dibawa dengan cara digendong di belakang, dan talinya dikaitkan ke kepala.

“Dun, Dun, mau apa sih anak itu Dun? Bukannya tidur malah berisik! Dun, Dun…,” tanya Udin.

Udin tidak bisa tidur. Rasanya lebih banyak nyamuk malam itu yang terus menggigitnya. Dan suara-suara yang muncul ketika Anak Lumang bekerja, membuat ia terus terjaga.

“Nah, sekarang selesai. Ajo Arif pasti senang dengan Bubu besar ini. Rasanya seratus ikan payau muat saja dimasukkan ke dalamnya. Hoahmm…,” kata Anak Lumang.

Ketika ayam jago berkokok, Shubuh menjelang, barulah pekerjaan Anak Lumang selesai. Digantungkannya bubu itu di tiang dekat tempat ia tidur. Indah sekali hasilnya. Setelah ia membersihkan sampah bekas membuat bubu dan semua perlengkapannya ke dalam beronang, barulah Anak Lumang tertidur dengan pulas.

“Indah sekali Bubu itu! Waah… Siapa, siapa pembuat bubu itu pengawal?” tanya Putri Serindu.

“Hoamm… pembuat bubu itu anak yang tidak tidur sepanjang malam, Putri. Dia sih bukan Raja Tidur! Dia tidak bisa tidur dan terus bekerja sepanjang malam,” jawab Udin.

“Baiklah. Kalau begitu, aku sudah menetapkan pilihan,” kata Putri Serindu.

Siapa ya yang akan Putri Serindu pilih? Yang tertidur pulas malam tadi kan hanya Udin dan Midun. Bahkan sampai sekarang Midun masih tertidur.

“Wahai rakyat Tanah Rejang, aku sudah menetapkan pilihan. Yang terpilih menjadi pengawal terbaikku adalah…. Anak Lumang,” kata Putri Lumang.

“Mengapa Anak Lumang yang terpilih? Bukankah ia tidak tidur semalaman Putri?” tanya Udin kecewa.

“Dengalah rakyat Tanah Rejang, Raja Tidur yang kucari bukanlah pemuda yang benar-benar senang dalam pulasnya tidur. Tapi, ia-lah yang suka bekerja, dan rajin sehingga ketika tiba waktu tidur, ia tidur dengan sangat nyenyak. Dialah Anak Lumang, pengawal terbaik yang kucari,” jawab Putri Serindu.

Memang pantas Anak Lumang menjadi pengawal terbaik Putri Serindu. Putri yang selalu giat bekerja dan senang berpetualang itu membutuhkan pengawal hebat. Anak Lumang bahkan jarang tertidur pulas. Ia selalu bangun lebih pagi dan menyiapkan kuda putih putri sebelum matahari menampakkan diri.

“Kuda putihmu tidak sabar untuk kau bawa berpetualang pagi ini, Putri,” kata Anak Lumang.

“Terima kasih Anak Lumang. Mungkin kau tak mengerti, tapi kuda putih ini tadi meringkik karena ingin berterima kasih kepadamu. Aku pergi!” sahut Putri Serindu.

Anak Lumang tak lagi hidup susah. Karena ia rajin dan giat bekerja seperti Putri Serindu, Raja Jungur tak segan-segan memberinya imbalan melimpah. Kini, selain menjadi pengawal putri, Anak Lumang adalah saudagar tersohor di pesisir Barat Bengkulu.

[Dongeng ini persembahan FeMale Radio]
http://femaleradio.net/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: