Pemukiman Megalitik Di Wilayah Provinsi Bengkulu

Pemukiman Megalitik Di Wilayah Provinsi Bengkulu
(Kristantina Indriastuti)

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Penelitian
Penelitian Prasejarah di Provinsi Bengkulu dapat dikatakan masih minim dilakukan namun, namun semenjak tahun 1993 situs-situs di wilayah ini mulai diteliti oleh tim gabungan Puslit Arkenas maupun dari Balai Arkeologi Palembang. Dari penelitian tersebut telah dikumpulkan data yang bervariasi, baik dari masa Paleolitik sampai masa Paleometalik, dan dari penelitian yang terakhir didapatkan gambaran tentang sistem penguburan dengan tempayan berserta temuan bekal kubur berupa belincung persegi dan beliung persegi yang berasal dari situs Padang Sepan, Kecamatan Air Besi ( Kristantina, Indriastuti, 2002 ).

Letak geografis Provinsi Bengkulu dibatasi oleh 3 buah Provinsi. Sumatera barat, Sumatera Selatan, dan Lampung. Bagian Utara Provinsi tersebut adalah Bukit Barisan dan bagian Selatan adalah Samudera Indonesia. Kawasan Bukit Barisan merupakan wilayah sebaran budaya Pasemah yang meliputi daerah Jambi, Sumatera Selatan, Lampung dan Bengkulu. Bukti dari persebaran tersebut diantaranya ditemukan tinggalan-tinggalan megalitik yakni menhir ( batu tegak ), beliung, (dolmen) meja batu, lumpang batu, gerabah, dan tempayan kubur .

Dalam upaya mengungkapkan pemukiman masa prasejarah, Frank Hole & Robert F. Heizer melakukan pendekatan pemukiman ( settlement approach ) dengan memberikan perhatian pada pembahasan dari studi artefaktual dan situs-situs secara individual menjadi studi wilayah kebudayaan antar – situs dan antar wilayah regional ( Hole & Heizer, 1973:355 ). Dalam arkeologi, studi keruangan ( spatial archaeology ) didefinisikan sebagai suatu usaha untuk memperoleh kembali informasi yang berkaitan dengan arkeologi keruangan serta studi aktivitas manusia dalam dan diantara featur dan struktur serta artikulasinya dalam situs, sistem situs dan lingkungannya. Dengan kata lain dalam arkeologi ruang kegiatan manusia berada dalam setiap skala dan berhadapan dengan sejumlah elemen-elemen yang saling menjalin keterhubungan ( Clarke, 1978 : 132-138 ).

Pemukiman masa prasejarah yang dijadikan pokok bahasan adalah pemukiman masa megalitik yang tampak melalui tinggalana budaya yang dihasilkan berupa benda mati yang secara konteks tidak ada hubungannya dengan pemukiman mereka. Menyitir pendapat Gordon Willey dalam penelitiannya di lembah Viru, Peru, menyebutkan:”mencari data tentang bagaimana cara manusia mengatur dirinya di suatu bentang alam ( landscape ) tempatnya hidup”. (Willey, 1995 :1; Mindra Faizaliskandiar, 1998:5).

Demikian pula terhadap pemukiman masa prasejarah di wilayah Bengkulu, temuan tinggalan-tinggalan yang bercorak megalitik yang tersebar di Daerah seperti kabupaten Bengkulu Utara, kabupaten Rejang Lebong, dan Kabupaten Bengkulu Selatan menunjukkan kehidupan yang telah menetap dengan segala pranata sosial yang berlaku.

Pengungkapan pemukiman megalitik di wilayah Provinsi Bengkulu adalah sangat menarik dibicarakan, dengan keletakan situs, wilayah, geografis , lingkungan dan hasil-hasil budayanya memberikan gambaran adanya persebaran budaya yang sama terhadap tinggalan-tinggalan megalitik maupun pemukiman prasejarah di Provinsi Sumatera bagian Selatan seperti di dataran tinggi Pasemah.

B. Permasalahan Penelitian
Wilayah Provinsi Bengkulu secara geografis berada di wilayah Sumatera bagian Selatan. Rentang jarak antara garis pantai dan dataran tinggi berukuran sekitar 35 km. Merupakan wilayah daratannya sempit dan memanjang dari utara ke selatan, Keletakan Provinsi Bengkulu yang berada di daerah pesisir barat Sumatera membuatnya cukup startegis bagi persebaran budaya. Demikian pula dengan adanya batas Bukit Barisan yang menjadi bagian dari persebaran budaya megalitik Pasemah.

Tinggalan budaya megalitik di wilayah Provinsi Bengkulu menunjukkan gejala persebaran budaya yang terjadi di wilayah Sumatera bagian Selatan, yang meliputi wilayah Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu dan Lampung. Terminologi persebaran linear pada arah utara-selatan seperti persebaran budaya serpih bilah dan mikrolit dari India yang menyebar ke kepulauan Andaman dan Sumatera ( Bellwood, 1985: 279 ). Demikian pula tinggalan megalitik di Provinsi Bengkulu menunjukkan kemiripan budaya dengan temuan daris itus-situs di wilayah Provinsi Lampung dan Lahat.

Dengan kenyataan ini, maka perkembangan situs-situs megalitik di Provinsi Bengkulu perlu dibuktikan mengenai adanya kesinambungan persebaran budayanya secara jelas, terutama yang berkaitan dengan pemukiman megalitiknya. Permasalahan-permasalahan yang perlu di ungkapkan di sini seperti keterkaitan antara pemukiman dengan sumberdaya alam, hasil-hasil budaya serta corak budayanya perlu dibahas lebih lanjut, dalam kaitannya untuk mengungkapkan pemukiman masa prasejarah di wilayah Bengkulu.

C. Tujuan Penelitian
Bertolak dari latar belakang dan permasalahan tersebut, keletakan situs-situs megalitik yang secara kontekstual berhubungan dengan pemukimannya, maka tujuan penulisan disini adalah untuk

1. Mengetahui pola sebaran situs-situs megalitik di wilayah Bengkulu.
2. Menjelaskan aspek-aspek yang mempengaruhi pemukiman megalitik di wilayah Bengkulu.

D. Sasaran penelitian
Sasaran penelitian yang hendak dicapai adalah:
1.Diperolehnya gambaran pola sebaran situs megalitik – situs megalitik di wilayah Bengkulu;
2.Diketahuinya aspek-aspek yang mempengaruhi pemukiman megalitik di wilayah Bengkulu;
3.Dijelaskannya faktor-faktor yang menentukan lokasi-lokasi pemukiman baik faktor biotik maupun abiotik sebagai upaya strategi subsistensi di wilayah Bengkulu.

E. Kerangka Teori
Pemukiman megalitik yang akan dibahas dalam penulisan ini adalah berdasarkan data-data yang telah terkumpul, baik dari penelitian survei maupun ekskavasi yang berada di wilayah Provinsi Bengkulu baik yang dilakukan oleh penulis sendiri maupun peneliti-peneliti dari Balai Arkeologi Palembang dan Puslitarkenas. Kajian pola pemukimanyang dipelopori oleh Gordon Willey pada tahun 1940-1960 menekankan pada pemahaman hubungan antara artefak dengan lingkungannya atas dasar konteks dan mengubah kecenderungan penelitian arkeologi dari kajian benda-benda secara morfologis (artifact oriented) kepada kajian yang berorientasi keruangan (spatial analysis) ( Mundarjito, 1997 : 1).

Pendekatan pemukiman ( settlement approach ) juga dilakukan oleh Frank Hole and Robert F. Heizer dengan memberikan perhatian pada perubahan dari studi artefak dan situs secara individual menjadi studi atas wilayah kebudayaan antar situs dan antar wilayah regional ( Hole & Heizer, 1973:355). Paradigma kajian arkeologi ruang yang cakupannya luas oleh David Clarke membagi satuan ruang analisis secara relatif ke dalam tiga sekala, yaitu mikro, semi mikro, dan makro. Satuan skala mikro pada tingkatan interpretasinya dikaitkan pada komunitas keluarga, kemudian komunitas desa ( meso ) dan masyarakat luas di suatu kawasan ( makro ) (Clarke, 1977).

Pada pokok bahasan mengenai pola pemukiman megalitik di wilayah Provinsi Bengkulu, keberadaan situs-situs megalitik di provinsi Bengkulu menunjukkan tempat bermukim manusia dan bertempat tinggal menetap dan melakukan kegiatan/aktivitas sehari-harinya ( Subroto, 1983:176 ). Bukti-bukti dari kehidupan masyarakat tersebut diwujudkan dalam hasil-hasil budayanya yang dalam hal ini bentuk budaya megalitik.

Dari hasil-hasil penelitian dan pendiskripsian temuan eksistensi temuan masih tergolong lebih sederhana apabila dibandingkan dengan hasil-hasil budaya megalitik di wilayah Pasemah kabupaten Lahat yang oleh von Heine Geldern dikatakan sangat dinamis atau ‘the strongly dynamic agitated ( Geldern,1945; Haris Sukendar & Ayu Kusumawati, 2003 :8 ).

Berangkat dari teori persebaran yang berlangsung sejak akhir Plestosen dimana budaya serpih bilah dan mikrolit menyebar dari India ke beberapa arah dan salah satunya menempuh jalur Selatan menuju ke pulau Andaman dan Sumatera ( Bellwood, 1979 ), kemudian kemungkinan adanya persebaran budaya linear pada arah Utara –Selatan walaupun belum memperlihatkan kesinambungan yang jelas ( Simanjuntak, 1993 :5 ). Demikian pula dengan tinggalan-tinggalan megalitik di Bengkulu jika dilihat dari luas wilayah yang sempit dan memanjang dari arah Utara-Selatan dengan jarak dari garis pantai sekitar 35 km, kemudian secara geografis dibatasi oleh perbukitan Bukit Barisan, maka timbul pertanyaan bagaimanakah eksistensi tinggalan megalitik- megalitik tersebut terhadap tinggalan megalitik Pasemah ?.

F. Metode PenelitianUntuk mencapai tujuan penelitian ini sebaran situs-situs megalitik Provinsi Bengkulu dianalisis dengan tehnik analisis tetangga terdekat (the nearest neighbour analysis) untuk mengetahui pola-pola persebaran pemukiman situs-situs megalitik di wilayah Provinsi Bengkulu apakah mengelompok; seragam atau acak. Langkah selanjutnya, digunakan pendekatan analisa bobot lingkungan untuk melihat kualitas lingkungan di wilayah Bengkulu.
Berkaitan dengan upaya pengumpulan data yang diharapkan dapat memecahkan permasalahan serta pencapaian tujuan dan sasaran, maka data diperoleh melalui survei permukaan, deskripsi, dokumentasi, penggambaran dan wawancara. dan dilakukan ekskavasi terpilih melalui pembuatan Lubang uji, di samping itu dilakukan pula wawancara terbatas dalam konteks pengenalan keberadaan situs, lingkungan, dan apresiasi masyarakat.

II. PELAKSANAAN PENELITIAN
II.1 Survei
Survei arkeologi di wilayah Provinsi Bengkulu dilakukan dengan tujuan untuk menjaring data arkeologis, tehnik survei dilakukan secara eksploratorif mengenai adanya tinggalan-tinggalan arkeologi yang bercorak megalitik serta persebarannya sebagai upaya pengembangan penelitian arkeologi kewilayahan. Tehnik survei dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan permukaan tanah terhadap gejala-gejala arkeologis, serta dilakukan pengamatan terhadap lingkungan tempat ditemukannya tinggalan arkeologis.

Dalam pelaksanaan survei penelitian dilakukan secara selektif khususnya pada tinggalan yang bercorak megalitik, kemudian dilakukan pendeskripsian dengan mengukur panjang, lebar dan tinggi, melakukan pengukuran koordinat temuan dengan alat GPS atau ploting pada peta serta mencatat kondisi temuan dan bahan baku pembuatannya, serta warna dan status kepemilikan. Pendokumentasian temuan dilakukan melalui foto temuan dan lingkungannya serta membuat peta persebaran temuan. Survei lingkungan tempat lokasi ditemukannya tinggalan arkeologis bertujuan untuk mengetahui potensi sumber daya alam terhadap keberadaan situs. Startegi yang dikembangkan untuk mensiasati keterbatasan waktu dan luasnya jangkauan geografi sehingga dilakukan pengumpulan data berasarkan informasi penduduk serta dari berbagai nara sumber sepert Badan Pengembangan Penelitian Purbakala di Jambi, Museum setempat ataupun dilakukan studi Pustaka.

Adapun kegiatan survei yang telah dilaksanakan di daerah Bengkulu merupakan daerah – daerah yang diprioritaskan memiliki tinggalan arkeologi yang mencakup 3 daerah Kabupaten yakni:

  • Kabupaten Rejang Lebong, meliputi Kecamatan Kepahiang, Kecamatan Curup, Kecamatan Padang Ulak Tanding dan Kecamatan Lebong Selatan.
  • Kabupaten Bengkulu Utara dilakukan survei di situs Padang Sepan, Kecamatan Air Besi.
  • Kabupaten Bengkulu Selatan, meliputi kecamatan Kaur Utara, Kecamatan Kaur Tengah, Kecamatan Pino, Kecamatan Talo.

II.2 Ekskavasi

Ekskavasi dilakukan dengan tujuan untuk menjaring data arkeologis secara vertikal yang berada di dalam tanah. Kegiatan ekskavasi dilakukan di situs Padang Sepan Kecamatan Air Besi yang lahannya merupakan areal kebun penduduk yang sekaligus merupakan lahan kubur dan merupaka daerah meander sungai Air Palik dan kondisi tanahnya merupakan perbukitan. Tahap-tahap yang dilakukan sebelum penggalian yakni dengan membuat lubang uji yang berukuran 2×2 meter. Pnentuan kotak uji dilakukan dengan porposif sampling dengan pertimbangan oleh karena kegiatan ekskavasi ini bertujuan untuk mencari data adanya temuan tempayan kubur maka dilakukan penggalian pada tanah-tanah yang berupa gundukan yang memilika nisan berupa menhir. Adapun pelaksanaan ekskavasi digunakan sistem spit dengan interval 20 cm.

III. Hasil Penelitian
III.1 Survei
Survei megalitik dilaksanakan pada tiga Kabupaten: Kabupaten Bengkulu Selatan, Kabupaten Rejang Lebong dan Kabupaten Bengkulu Selatan. Survei di Kabupaten Bengkulu Selatan, dilakukan di 4 buah wilayah kecamatan yaitu: Kecamatan Kaur Utara, Kecamatan Kaur Tengah, Kecamatan Pino, Kecamatan Talo. ( Eka Asih Putrina Taim, Budi Wiyana, dkk, Th 1995).

Penelitian Penjajagan di situs-situs megalitik di kabupaten Rejang Lebong, dilakukan oleh Balai Arkeologi Palembang. Daerah yang menjadi sasaran penelitian adalah Kecamatan Kepahiang, Kecamatan Curup, Kecamatan Padang Ulak Tanding, dan Lebong Selatan. ( Budi Wiyana dan Tri Marhaeni, S. B, 1996) secara terperinci, hasil survei tersebut adalah:

1. Kabupaten Bengkulu Selatan
1.1 Gambaran Umum Keadaan Alam

Letak dan keadaan geografis Kabupaten Bengkulu Selatan membujur dari Barat Laut ke Tenggara yang terletak antara 1020 –1040 Bujur Timur dan 40-60 Lintang Selatan. Luas daerah ini sekitar 6. 824 km2 sehinga di kabupaten ini sangat luas hutan rimbanya. Topografi daerah Kabupaten Bengkulu Selatan mempunyai dua jalur dataran yang sejajar memanjang dari barat laut – tenggara menghadap ke Samudera Indonesia. Jalur-jalur ini adalah dataran rendah sepanjang pantai, merupakan daerah hutan belukar berawa-rawa diselingi padang rumput, alang-alang dengan ketinggian 1 –100 meter, dan lereng pegunungan yang subur di kaki Bukit Barisan dengan ketinggian 101-100 meter.
Daerah pantai beriklim laut tropis, dengan temperatur tertinggi tercatat 37,20 C, sedangkan daerah pegunungan beriklim sejuk dengan temperatur terendah 17,4 0 C. Di daerah panas kelembaban minimum 48 %,sedangkan di daerah dingin sampai 100 %. Arah angin barat laut yang berhembus selama 8 bulan dan angin tenggara berhembus selama 6 bulan. Angin Barat Laut ini banyak mengandung hujan, karena datang dari Samudera Indonesia, sedangkan angin Tenggara kurang membawa hujan karena melewati Bukit Barisan sebelum sampai ke Bengkulu Selatan ( Tim penelitian Adat-Istiadat Daerah Bengkulu, 1977, 11-13 )

1.2 Kecamatan Kaur Utara
a. Desa Pager Dewa.
Desa Pagardewa terletak sekitar 3,5 km dari simpang tiga muara Padang Guci ke arah utara. Peninggalan megalitik di desa ini empat buah batu tetralit yang terletak sekitar 20 m dari batas jalan desa Pagerdewa, keempat batu tersusun membentuk sudut–sudut empat persegi panjang dengan jarak antara batu sekitar 30-50cm, dan ukuran batu mempunyai panjang antara 94 – 112 cm, lebar 45 -60 cm, tinggi 45 – 50 cm. Kondisi temuan kini tidak terawat dan nampak sebelumnya pernah dimanfaatkan penduduk sebagai tiang rumah.

b. Desa Suka Rami
Desa Sukarami terletak 1 km dari utara Desa Pager Dewa. Temuan di situs ini berupa dolmen yang terletak di kebun Pak Ansor, dengan kondisi meja dolmen pada saat utuh sekitar 2 x 2 m namun sekarang sudah dalam kondisi pecah-pecah dengan penyangga 3 buah kaki . Situs ini merupakan suatu kompleks megalitik karena terdiri dari beberapa jenis dan kelompok megalitik yaitu :

1. Dolmen

Terletak di kebun kelapa, dengan kondisi meja dolmen yang sudah tidak utuh. Menurut informasi dari penilik kebudayaan setempat, ukuran dolmen sebelumnya sekitar 2×2 m dengan tiga buah batu penyangga.

2. Batu bersusun enam

Terletak sekitar 22 m di sebelah tenggara dolmen, berupa enam buah batu berbaris dua dengan orientasi timur – barat. Ukuran masing-masing batu terdiri dari panjang: 30 – 112 cm, lebar : 8 – 87 cm, dan tinggi: 4 – 48 cm.

3. Batu bersusun delapan

Terletak 17 m di sebelah barat laut dolmen, berupa delapan buah batu berbaris dua dengan orientasi utara-selatan. Sebagian batu sudah dalam kondisi terpecah – pecah, dengan ukuran lebar: 20 cm – 128 cm, panjang : 54 cm-152 cm, dan tinggi: 14 – 106 cm. Batu bersusun delapan ini terletak di pekarangan rumah Pak Karhan.

4. Batu berusun tiga

Terdiri dari tiga buah batu besar yang tersusun dalam posisihampir membentuk sudut segitiga sama kaki. Ketiga batu ini terletak sekitar 54 m di sebelah Bbarat laut dolmen, kondisi ketiga batu ini masih baik dengan ukuran panjang: 98 – 108 cm, lebar 83 – 97 cm, dan tinggi 62 – 110 cm.

c. Desa Nagarantai

Terletak sekitar 3,5 km dari Desa Simpang Tiga, ibukota Kecamatan Kaur Utara. Temuan megalitiknya berupa:

1. Tetralith yang tersusun dari 4 buah batu membentuk sudut empat persegi dengan ukuran batu panjang antara 138-170 cm, lebar 130-166 cm, dan tinggi 59-69 cm dengan orientasi utara – selatan.

2. Tetralith yang tersusun dari 2 buah batu tegak dengan ukuran tinggi 12 dan 53 cm, lebar 87 cm dan 111 cm dan panjang 151 cm dan 103cm.

3. Dolmen berkaki tiga kondisi miring dan pecah ¾ bagian panjang meja dolmen 186 cm, tebal 87 cm sedangkan kaki dolmen sebagian besar berada di dalam tanah.

4. Tiga buah kaki dolmen ukuran panjang antara 52-65cm, lebar 46-57 cm, dan tinggi 9-16 cm. Meja dolmen terdapat tidak jauh dari kaki dolmen yang sudah pindah tempat dengan ukuran panjang 198 cm, lebar 148 cm, dan tinggi 70 cm.

5. Batu bersusun delapan dengan formasi berbaris dengan orientasi barat laut – tengara (N 3000). Batu-batu ini berukuran panjang 8-67 cm, lebar 22-64 cm, dan tinggi 16-47 cm.

6. Batu bersusun enam terletak 20 cm di sebelah tenggara batu sembilan, berupa enam buah batu berbaris dua dengan ukuran tinggi 4-14 cm, panjang 25-40 cm, lebar 7-31 cm berorientasi barat laut.

1.3 Kecamatan Kaur Tengah

a. Desa Talang Padang

Terletak 16 km dari Desa Nagarantai, merupakan salah satu desa yang terletak 200 m dari Sungai Air Kinal. Temuan berupa dolmen yang pecah jadi dua, Ukuran pecahan panjang 119 cm, lebar 64 cm tebal 74 cm.

b. Desa Masat II, Dusun Tanjung Saung

Terletak di utara jalan Sebilo-Pagar Alam.Temuan megalitiknya terdapat di tepi jalan sekitar 200 m di sebelah barat jembatan S. Manna.

1. Dolmen berkaki tiga dengan ukuran panjang 124 cm, lebar 108 cm, tebal 19 cm. Pada saat ditemukan dolmen ini sudah dipindahkan dari tempat asalnya yaitu berada di sekitar halaman rumah Bapak Akharudin, salah seorang warga desa setempat.

2. Makam Poyang Kuat terletak di sebelah Selatan aliran Air Manna, yang terletak di tengah areal persawahan penduduk. Ukuran makam 2×1 m dengan nisan berbentuk monolit.

c. Desa Kotabumi

Terletak di utara Desa Sebilo dan di sebelah timur Sungai Manna. Desa ini mempunyai topografi tanah yang berbukit, adapun temuan megalitiknya:

1. Dolmen berkaki empat.

Terletak di perkebunan kelapa penduduk yang berjarak sekitar 200 m dari aliran Sungai Manna. Dolmen berorientasi Utara – Selatan berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran panjang 100 cm, lebar 75 cm dan tebal 16 cm.

2. Batu tegak/nisan menhir.

Terletak 26 m di sebelah timur laut dolmen, terdiri dari 2 buah makam dengan nisan yang berupa batu tegak berukuran antara 30-40 cm, dengan orientasi Utara – Selatan.

3.Lumpang batu.

Terletak sekitar 50 m di selatan nisan menhir dan sekitar 100 m dari aliran Air Manna. Secara keseluruhan lumpang batu ini berukuran panjang 49 cm, lebar 45 cm, tebal 45 cm, diameter lubang 8 cm.

4. Dolmen berkaki empat, ukuran panjang dolmen 64 cm, lebar 57 cm, tebal 13 cm, Menurut cerita rakyat, dolmen ini merupakan tempat duduk Poyang Wajau.

5. Tempat Ketunggalan.

Terletak 300 meter sebelah utara aliran Sungai Manna. Areal ini merupakan bukit yang terdiri dari barisan batu-batu monolith berbagai ukuran yang berjajar rapi membentuk empat persegi panjang seluas 9,3 m x 1,4 m dengan orientasi tenggara – barat laut. Nisan-nisan ini merupakan nisan makam leluhur .

1.4 Kecamatan Pino

Desa Sebilo
Ditemukan sebuah dolmen berkaki tiga , dengan ukuran meja batunya panjang 120 cm, lebar 26 cm dan tebal 38 cm.

1.5 Kecamatan Talo
a. Desa Rantau Panjang
Terletak 3 km dari jaln raya Bengkulu – Manna di tepi aliran Sungai Alas, di ketinggian 20 m di atas permukaan air. Di desa tersebut terdapat empat kelompok makam sbb:

1. Kelompok makam 1, disebut Makam Poyang Magacipatia, terletak 1 m dari pintu masuk sebelah Timur mempunyai orientasi nisan utara-selatan dan secara keseluruhan luas keolompok makam adalah 1,2 m x 1,5 m.
2. Kelompok makam II disebut sebagai makam Ketunggalan yang terdiri dari 1 buah batu bulat.
3. Kelompok makam III sebagai kompleks makam Ketunggalan yang terdiri dari 2 tingkat dengan perbedaan tinggi tingkatan sekitar 40 cm.
4. Kelompok makam IV sebagai makam Serunting Sakti terdiri dari 3 buah nisan.

b. Bukit Gerinsing

Terletak di seberang utara Desa Rantau Panjang atau di sisi utara Sungai Alas. Lokasi situs merupakan puncak bukit dimana terdapat temuan megalitik.Temuan megalitik-megalitik tersebut antara lain :
1. Dolmen berkaki empat, disebut juga “Batu Kinaat” ( tempat merenung ), terletak 60 m dari pertigaan jalan setapak. Meja dolmen berbentuk bulat tidak beraturan dan permukaannya tidak begitu rata dengan diameter 100cm, tebal 18 cm. Kaki dolmen berbentuk batu bulat beraturan dengan besar antara 30 – 70 cm, tinggi rata-rata 20cm.
2. Dolmen berkaki 3 disebut juga Batu Sembahyang dengan ukuran lebar 90 cm, tebal 20 cm, dan panjang 120 cm. Di sekitar meja terdapat 5 buah batu bulat dengan ukuran panjang 30 – 50 cm , lebar 15 – 25 cm, dan tinggi 5 – 10 cm.
3. Batu datar disebut juga Batu jongkok terletak 22,8 m, di sebelah tenggara Batu Sembahyang, merupakan tiga buah batu besar yang berukuran panjang 50-60 cm, lebar 18-40 cm, dan tinggi 10 –20 cm membentuk sudut segitiga.
4. Batu Ketunggalan terletak sekitar 140 m ke arah Barat dari pertigaan jalan setapak, berupa 2 baris batu tegak ( nisan ) yang mempunyai panjang barisan 2,60 cm, lebar 1,40 m. Baris disisi utara terdiri dari 17 batu, di sisi selatan terdiri 16 batu dan tinggi antara 10 – 40 cm.
5. Makam serunting, terletak 22,5 m di barat daya Batu Ketunggalan.

c. Desa Padang Peri, Kecamatan Talo
Hasil survei di Desa Padang Peri ditemukan Nekara Perunggu yang terletak berada di sebuah bukit kecil. Untuk menempuh bukit tersebut harus menyeberangi Sungai Alas. Selain itu, terdapat pula pecahan- pecahan gerabah dengan motif hiasan garis-garis mendatar. Selain itu, juga fragmen keramik asing. Nekara tersebut berada di Museum Negeri Bengkulu, dengan kondisi sudah rusak, timpanium hampir terpisah dari badan nekara dan hiasanya sudah aus dan samar.

d. Desa Padang Serunian, ditemukan lesung batu (tanpa keterangan).

2 Kabupaten Rejang Lebong
2.1 Gambaran Umum Keadaan Alam
Kabupaten Rejang Lebong merupakan salah satu kabupaten yang terletak di Provinsi Bengkulu. Secara astronomis, kabupaten Rejang Lebong terletak antara 101045’ sampai 1030BT dan sekitar 2045’ sampai 3045’Lintang Selatan. Wilayah Rejang Lebong mempunyai luas 410.980 ha. Keadaan alam daerah Kabupaten Rejang Lebong terdiri dari lembah dataran tinggi Lebong dan dataran tinggi Musi dengan ketinggian antara 100 – 2000 meter di atas permukaan laut. Daerah rejang Lebong terletak di atas dataran tinggi yang mengitari Bukit Barisan, membujur dari tenggara ke baratlaut. Dataran tinggi Lebong . Pada dataran tinggi Lebong mengalir sungai Ketahun dan pada datarn tinggi Musi mengalir Sungai Musi. Tanah lembah sepanjang kedua sungai tersebut sangat subur untuk pertanian. Pada dataran dan lereng pegunungan yang berhutan rimba dihasilkan kayu, rotan, damar, dan terdapat berjenis – jenis binatang dan burung. Daerah yang menjadi sasaran penelitian adalah:

2.2 Kecamatan Kepahiang
a. Desa Batu keris
Terletak di persawahan yang dikelilingi perbukitan. Di situs mengalir Sungai Kemanis dan Sungai Langkap. Ditemukan sebuah menhir yang disebut batu keris karena bentuknya mirip hulu keris. Tonjolan puncak menhir terletak di sebelah utara. Menhir ini dibuat dari batu andesit berwarna abu-abu . Ukuran panjang 100 cm, lebar 52 cm.

b. Desa Batu Belarik
Lokasi situs berada Di tengah areal persawahan Desa Batu Belarik. Lahannya berundak. Di situs ini ditemukan “tetralit” yang membentuk formasi segi empat panjang membujur kearah barat – timur. Oleh penduduk temuan tersebut disebut Batu Belarik. Jarak antar batu di sisi utara 6 m, sisi timur 5 m, sisi selatan 5 m dan sisi barat 4,5 m. Ukuran batu-batu :

Batu 1: panjang 30 cm, lebar 51 cm, tebal 22 cm.
Batu 2: panjang 32 cm, lebar 47 cm, tebal 14 cm.
Batu 3: panjang 115 cm, lebar 42 cm, tebal 18 cm
Batu 4: panjang 17 cm, lebar 75 cm, tebal 30 cm.

2.3 Kecamatan Curup
Ditemukan batu datar yang disebut dengan Batu Panco, Batu tersebut membujur arah utara – selatan (N 300). Ukuran panjang 273 cm, lebar 155 cm, tebal 65 cm. Pada salah satu sisi terdapat dua buah batu sebagai kaki.

a. Desa Pasar Tengah, ditemukan Beliung Persegi (tanpa keterangan )
b. Desa Batu Dewa
Ditemukan 2 buah batu dakon dan satu buah lumpang batu. Oleh penduduk disebut “batu mandian dewa.”

1. Batu dakon 1
Berbentuk pipih tidak beraturan, di permukaan atas terdapat lubang batu bulat sebanyak enam buah yang membentuk formasi berpasangan, bahan batu andesit berwarna keabuan, berukuran panjang batu 70 cm, lebar 45 cm tebal 15 cm. Diameter lubang antara 9 – 11 cm, kedalaman 0,5 – 3,5 cm.

2. Batu dakon 2
Berbentuk tidak beraturan, bahan batuan dari batu andesit, di permukaan atasnya terdapat 5buah lubang bulat dengan sebaran yang tidak beraturan menurut panjang batu. Ukuran diameter lubang antara 7-12 cm, kedalaman lubang 1-4 cm, panjang batu dakon 90 cm, lebar 40 cm, tebal 15 cm.

3.Lumpang Batu
Berbentuk trapezium tidak beraturan.Ukuran panjang 45 cm, lebar 43 cm, tebal 26 cm. Permukaan atasnya terdapat lubang yang dilihat dari penampang lintangnya berbentuk hiperbola dan dari penampang bujurnya berbentuk oval mendekati empat persegi panjang. Panjang lubang 32 cm, lebar 24 cm, kedalaman tepian 13 cm.

4.Tempayan kubur
Tempayan kubur ini ditemukan oleh Bapak Saiful salah seorang warga setempat, merupakan wadah bertutup dan orientasi tepian berbentuk empat persegi panjang dengan bibir bergerigi datar. Pada permukaan gerigi terdapat hiasan motif silang yang dibuat dengan teknik gores. Tinggi tempayan 62 cm, lebar 56 cm, diameter tepian 47 cm.

2.4 Kecamatan Seluma

a. Desa Padang Genting, ditemukan Beliung Persegi (tanpa keterangan )

b. Desa Pandan
ditemukan batu perahu dengan ukuran panjang 175cm, lebar 90 cm, tinggi 78 cm.

c. Talang Leak, ditemukan Beliung Persegi ( tanpa keterangan )

2.5 Kecamatan Lebong Selatan
a. Talang Macan, ditemukan Beliung Persegi ( tanpa keterangan )
3. KABUPATEN BENGKULU UTARA
3.1 Gambaran Umum Kab.Bengkulu Utara
Kabupaten Bengkulu Utara terletak di bagian utara Provinsi Bengkulu dengan posisi koordinat 101032’ dan 10208’ Bujur Timur dan 2015’ Lintang Selatan. Di samping itu Kabupaten Bengkulu Utara merupakan daerah yang terluas di provinsi Bengkulu dan membelakangi daerah dataran tinggi Bukit Barisan.Yang mempunyai luas daerah 969.120 hektar dan secara administratif daerah ini berbatasan sebelah utara berbatasan dengan Provinsi Sumatera Barat, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Bengkulu Selatan, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Rejang Lebong dan sebelah barat berbatasan dengan Samudera Indonesia.

Di bagian pantai barat dari selatan ke utara Kabupaten Bengkulu Utara tanahnya berpasir dan merupakan dataran rendah dengan ketinggian 10-150 meter dpl. Di bagian timur merupakan daerah berbukit-bukit dengan ketinggian rata-rata 541 meter dari permukaan laut. Bukit-bukit tersebut pada umumnya ditumbuhi hutan heterogen, bertanah subur yang terdiri dari jenis-jenis tanah :
a. Satuan tanah latosol dan podsolik merah kuning yang berasal dari bahan induk batuan beku dan endapan fisiografi daratan.
b. Satuan tanah latosol yang beasal dari bahan induk batuan beku dengan fisiografi vulkanik.
c. Satuan tanah podsolik merah kuning yang berasal dari bahan induk batuan endapan dan beku dengan fisiografi pegunungan lipatan.
d. Satuan tanah komplek merah kuning terdiri dari latosol dan podsolik dari bahan induk batuan beku dan metamorf dengan fisiografi pegunungan patahan.
e.Satuan tanah Alluvial yang berasal dari bahan dasar induk batuan alluvial dengan fisiografi daratan

Di Kabupaten Bengkulu Utara beriklim tropis, berudara sejuk, dengan pengaruh angin musim dan perpaduan antara angin laut dan angin darat. Hal tersebut dapat dilihat dari rata-rata curah hujan perbulan antara 270 dan 2500 mm sampai dengan 3000 mm per tahun dengan setiap ketinggian 0-180 m dpl. Musim hujan jatuh pada bulan Juli hingga bulan Desember, sedangkan bulan Januari sampai Juni merupakan musim panas.

3.2 Survei Desa Padang Sepan, Kecamatan Air Besi

1. Keramik
Keramik dinasti Sung
Terdiri dari empat buah pecahan bagian badan terbuat dari bahan batuan ( stone ware ) berwarna abu-abu, Glasir pecah seribu berwarna hijau.

2. Keramik dinasti Yuan
Terdiri dari dua buah pecahan bagian badan dan tepian terbuat dari bahan porselin berwarna putih. Glasir pecah seribu berwarna putih suram. Pecahan bagian tepian merupakan pecahan mangkuk. Selain itu terdapat pecahan bagian dasar dari bahan yang sama. Bagian dalam dan luar dasarnya tidak menunjukkan adanya glasir. Bagian dalam garis-garis lingkaran.

3. Keramik dinasti Ming
Terdapat tiga buah pecahan bagian badan dan satu buah bagian tepian pada bagian dalam terdapat hiasan garis melingkar.

4. Pecahan Cepuk
Pecahan yang ditemukan hanya satu buah terdapat dari bahan porselin berwarna putih. Bagian badan mempunyai hiasan flora berwarna biru tua dengan glasir berwarna putih. Pecahan cepuk ini kemungkinan berasal dari dinasti Ming

5. Pecahan Mangkuk 1.
Ada lima belas pecahan empat diantaranya merupakan bagian tepian dua badan dan sisanya bagian dasar. Dari bentuk tepian dan dasarnya dapat diketahui bahwa pecahan tersebut merupakan pecahan mangkuk. Bahan porselin berwarna abu-abu. Motif flora berwarna biru tua dengan glasir berwarna putih, kemungkinan berasal dari dinasti Ming.

6. Bagian dasar mangkok
Bahan porselin berwarna putih dengan glasir pecah seribu, sebagian glasir sudah mengelupas, hiasan bagian luar bebentuk motif geometris, bagian dalam tidak berglasir kemungkinan berasal dari dinasti Ming.

7. Pecahan Mangkuk 2.
Jumlah pecahan sebelas buah, tiga diantaranya tepian bahan yang digunakan adalah porselin berwarna putih. Glasir yang digunakan sebagian pecah seribu dan sebagian polos berwarna putih. Hiasan yang terdapat pada pecahan adalah motif garis horisontal dan flora. Pecahan tersebut merupakan bagian dari pecahan mangkuk yang diduga berasal dari masa dinasti Ming. Diantara sebelas pecahan tersebut diantaranya merupakan pecahan bagian badan dengan ketebalan sekitar 1 cm.
Temuan keramik yang tersebut di atas merupakan koleksi Bp Asmawi, penduduk Desa Padang Sepan

8. Guci
Berupa 1 buah guci utuh yang ditemukan di dekat kebun persis di lokasi kubur tempayan. Guci ini terbuat dari tanah liat merah. Glasir pecah seribu berwarna hijau zaitun. Glasir pada bagian dasar tidak rata baik di bagian dalam maupun bagian luar guci. Di bagian luarnya masih terdapat lelehan glasir yang mengental berwarna hitam kecoklatan, glasir di bagian luar tidak merata bahkan sebagian sudah mengelupas. Guci ini mempunyai empat buah kupingan dalam posisi horizontal. Tepian sedikit gompel. Ukurannya: tinggi 14 cm, diameter bagian mulut 8,5 cm, tinggi leher 2 cm, tebal tepian 0,8 cm, diameter bagian dasar 11 cm, panjang kupingan 7 cm, tebal 1,5 cm. Jarak antar kupingan 3-5 cm. Ciri-ciri guci yang dibuat dari tanah liat dan glasir tidak merata merupakan ciri-ciri keramik dari Vietnam sekitar abad ke 14 Masehi. Temuan guci ini merupakan milik Bp. Arpin penduduk Desa Padang Sepan.

9.Beliung Persegi
Berupa beliung persegi bahan dibuat dari batu koral warna putih kecoklatan, dengan ukuran panjang proksimal 12 cm, panjang distal 6 cm, tebal lateral 1,5 cm, dahulunya merupakan milik Bp Ujang, sekarang berada di ruang koleksi artefak Balai Arkeologi Palembang.

10. Belincung
Dibuat dari jenis batu jasper warna coklat berukuran panjang proksimal 13,5 cm, lateral 6 cm, tebal 2 cm. Lebar tajaman; 2 cm, Tebal bagian dasar: 8 cm, Belincung ini dahulunya merupakan milik Sugi, namun sample batu ini sekarang ada di Balai Arkeologi Palembang.

11. Belincung
Dibuat dari jenis batu jasper, berwarna coklat kemerahan ukuran panjang 18,5 cm, lebar 5,5 cm, tebal 2,5 cm. Bagian tajaman mempunyai ukuran lebar 2 cm, tebal bagian dasar 8 mm.

12. Belincung.
Dibuat dari jenis batu koral warna putih, berukuran panjang 15 cm, lebar 6 cm, tebal 2 cm, milik keluarga bapak Rasin.

B. EKSKAVASI
Untuk memperoleh informasi yang lebih mendalam mengenai keberadaan tempayan kubur di Situs Padang Sepan maka dilakukan pembukaan lubang uji pada lokasi terpilih. Ekskavasi Kubur tempayan dilakukan di sebidang tanah yang merupakan situs pemukiman dengan aktifitas penguburan, yang dicirikan adanya makam puyang dan gundukan-gundukan tanah yang terdapat menhir.

1. KOTAK TP-1
Tujuan ekskavasi kotak ini untuk mencari sebaran temuan kubur yang ditandai oleh adanya gundukan tanah dengan 2 buah menhir. Kondisi permukaan tanah kotak ini tidak rata, banyak terdapat akar rumput ilalang. Pada permukaan tanah di kotak TP 1 sebelah utara dan selatan terdapat menhir batu andesit dalam keadaaan roboh berukuran panjang 34 cm, lebar 22 cm tebal 15 cm, sedangkan menhir di sisi selatan mempunyai panjang 41cm, lebar 28 cm tebal 15 cm. Titik DP berada di sebelah baratdaya. Kegiatan ekskavasi dilakukan dengan ukuran kotak galian 2 x 2 meter melalui sistem spit dengan interval 20 cm.

Kondisi tanah dalam spit 1 kondisi tanah cukup gembur berwarna coklat tua, merupakan tanah humus lempung pasiran berpartikel halus terdapat fragmen gerabah polos dan berhias dengan ukuran tebal 0,2 mm – 2 cm. Pada sebelah Timur kotak sekitar berjarak 20 cm dari dinding Timur ditemukan alat serpih dari batuan obsidian berwarna ungu kehitam-hitaman berukuran panjang 5 cm, lebar 3 cm.

Kondisi tanah dalam spit 2 berwarna coklat tua, berpartikel halus dan gembur, di sekitar kotak terdapat akar tanaman dan beberapa pecahan arang dan campuran fragmen gerabah dan sedikit batu kerikil. Kondisi tanah dalam spit 3 gembur berwarna coklat tua berpartikel halus. Dan Pada belahan timur terdapat alat serpih, bahan batu rijang berukuran panjang 7,5 cm, lebar 4,7 cm, berwarna coklat kekuningan. Terdapat pula pecahan arang, batu – batu kerikil, dan pecahan gerabah. Temuan fragmen gerabah hampir menyebar di seluruh permukaan kotak .

Kondisi tanah dalam spit 4 warna tanah coklat tua dengan kondisi gembur. Dalam spit 4 terdapat temuan fragmen tempayan dan fragmen buli-buli serta fragmen periuk. Pendalaman kotak galian dilakukan lagi dengan dengan ukuran 2 x 1 di sebelah barat kotak galian, hal ini disebabkan kondisi tanah yang terletak di belahan barat lebih gembur dan secara tidak sengaja tanah yang digali menampakkan lobang dan dijumpai fragmen tempayan. Kondisi tanah spit 5, 6, 7 terdapat fragmen gerabah, dan sedikit serpihan tulang pada kedalaman 140 cm, kondisi tanah berwarna coklat tua, sedikit bercampur pasir.

Kondisi tanah spit 7 lapisan tanah berwarna coklat tua bercampur pasir , gembur berpartikel halus, temuan berupa tempayan yang keadaannya pecah bagian badan, tinggal separuhnya. Tampak bahwa tempayan yang besar ini diletakkan dengan posisi tegak di atas tulang panggul atau badan bagian bawah rangka. Panjang rangka sekitar 145 cm. Diperkirakan dikubur secara primer, dengan posisi bagian kepala berada di sebelah utara dan bagian kaki di sebelah selatan , muka menghadap ke arah barat, sedangkan kedua tangan terlipat ke atas, dan posisi kaki terlipat .

2 KOTAK TP-2
Ekskavasi kotak dilakukan pada lahan berukuran 2 x 2 m. Pada permukaan tanah terdapat tanah gundukan, dan menhir berbentuk hulu pedang di bagian utara , dan di selatan terdapat menhir dalam keadaan rebah. Di atas permukaan tanah terdapat banyak rumput alang-alang. Titik SDP kotak terletak di sudut baratdaya. Pengupasan tanah dilakukan dengan teknik spit , interval 20 cm.

Kondisi tanah dalam spit pertama merupakan humus lempung pasiran dengan campuran akar-akar rumput. Tekstur tanah gembur partikel halus. Pada lapisan tanah ini terdapat temuan pecahan gerabah dan batu. Lapisan tanah spit 2 adalah tanah berwarna coklat dengan tekstur gembur dan partikel halus. Pada lapisan tanah ini ditemukan pecahan gerabah dan batu bulat. Lapisan tanah ini berlanjut pada spit 3, namun di bagian barat kotak terdapat lapisan tanah berwarna hitam setebal antara 6-15 cm. Mulai spit ini yaitu mulai pada lapisan tanah hitam permukaan tanah di bagian barat kotak runtuh karena ada lubang sedalam kurang lebih 50 cm. Lapisan tanah di sebelah barat kotak lebih gembur dibandingkan dengan di sebelah timur kotak. Lapisan tanah hitam ini mengandung arang, sementara di luar lapisan itu terdapat pecahan gerabah dan batu. Lapisan tanah spit 4 sama dengan spit 2, demikian juga dengan temuannya. Sampai batas akhir spit ini lapisan tanah masih menunjukkan perbedaan antara yang di sebelah barat dan timur kotak, oleh karena itu mulai kedalaman 80 cm pengupasan tanah dilakukan hanya pada di bagian barat kotak membujur utara – selatan dengan ukuran 2 x 120 cm.

Pengupasan tanah spit 5 dan 6 menunjukkan lapisan tanah yang gembur berwarna coklat dengan temuan pecahan gerabah dan batu. Pada akhir spit ini mulai tampak adanya tempayan yang terus berlanjut ke spit spit 7. Tempayan yang sudah pecah-pecah tersebut terdapat di bagian sudut baratdaya kotak.

Temuan tempayan ini masih terlihat pada spit 8 dan berakhir pada spit 9. Lapisan tanah spit 7-9 adalah tanah berwarna coklat dengan tekstur padat dan partikel halus. Memasuki spit 10 lapisan tanahnya berupa pasir lempungan bercampur kerakal dengan tekstur gembur dan partikel kasar, terutama di bagian utara kotak. Sementara di bagian selatan kotak dekat dengan tempayan keras dan padat. Pada akhir spit 10 terdapat pecahan gerabah berukuran besar di dinding kotak bagian utara. Tempayan di sudut baratdaya kotak terdapat di atas bagian kaki kerangka, sementara di sebelah utara kepala adalah tempayan yang terletak di baratlaut kotak. Pada kedalaman 210 cm dari permukaan tanah titik DP mulai tampak adanya rangka manusia, yaitu pada lapisan tanah pasir bercampur kerakal. Pengupasan tanah sampai akhir spit 11 atau pada kedalaman 220 cm menunjukkan adanya kerangka manusia.

Tempayan di sudut baraldaya kotak terdapat di atas bagian kaki kerangka, sementara di sebelah utara kepala adalah tempayan yang terletak di baratlaut kotak. Dengan demikian kerangka manusia di kotak TP-2 ini terletak di antara dua buah tempayan.

3. KOTAK TP – 3

Pembukaan kotak TP-3 dilakukan tepat diatas gundukan tanah, berukuran 2 x 2 meter, terletak di sebelah timur kotak gali TP-1. Titik DP berada di sebelah baratlaut kotak. Keadaan permukaan tanah sebelum digali banyak ditumbuhi rumput dan ilalang, tetapi setelah dibersihkan tampak permukaan tanahnya yang menurun landai ke arah timur. Penggalian kotak TP-3 ini bertujuan untuk membuktikan dugaan adanya kubur tempayan yang gejalanya ditandai dengan keberadaan batu menhir di atas gundukan tanah, seperti kotak TP-1 dan TP-2 yang menampakkan sebagian tempayan dan rangka manusia.

Lapisan permukaan tanah kotak TP-3 hingga kedalaman akhir spit -1 ( interval vertikal ) yang dipilih secara abriter dalam ekskavasi yaitu 20 cm tiap spit, merupakan tanah humus berwarna kecoklatan dengan tekstur gembur. Pada kedalaman spit 1 ini ditemukan fragmen keramik asing , gerabah hias dan polos, serta beberapa serpih dari batu inti.

Penggalian kotak pada spit 2 berhasil ditemukan sejumlah pecahan gerabah polos dan berhias, serta salah satu kapak tipe tapal kuda (horse hoof). Pada kedalaman spit 2 keadaan tanah berangsur berubah baik lapisan maupun warnanya yaitu dari lapisan humus berwarna hitam kecoklatan menjadi lapisan lempung pasiran berwarna coklat kekuningan.

Di awal spit 3 lapisan lempung pasiran semakin agak kemerahan. Keadaan ini berlanjut sampai spit 6 yang berkedalaman 120 cm, mulai dari spit 3 sampai spit 6 tersebut tidak terdapat indikasi adanya temuan yang berarti, kecuali beberapa pecahan gerabah hias dan polos, serta sejumlah kerakal yang rata-rata berukuran 3 x 5 cm menyebar secara merata keseluruh kotak gali TP-3. Menjelang akhir spit 6 dijumpai adanya tanah berongga membentuk lobang dengan diameter 45 cm dan kedalaman 30 cm, berada di sudut baratlaut kotak gali. Keadaan tanah pada kedalaman akhir spit 6 ini muncul lapisan tanah asli, yaitu tanah liat pasiran campur kerakal berwarna coklat kemerahan dan bertekstur padat. Ekskavasi diteruskan pada spit 7dan spit 8 guna mengetahui lebih jelas rongga tanah yang semakin membesar. Akhirnya pada awal spit 9 ditemukan sebuah rangka membujur terlentang, sikap kedua tangan terlipat keatas, sedang posisi tengkorak yang terlihat hanya sebagian tampak menghadap ke sisi barat. Ekskavasi diakhiri hingga kedalaman akhir spit 9. Lapisan tanah yang digali sampai spit 9 masih sama dengan spit 6,7,8.

4. KOTAK TP-4
Permukaan tanah kotak ini berupa gundukan tanah dengan ketinggian sekitar 1 meter, serta banyak ditumbuhi rumput ilalang, diatas gundukan terdapat 4 menhir (batu tegak) dengan ukuran sebagai berikut:

Di sebelah utara menhir pertama mempunyai panjang 27,09 cm, lebar 20 cm, tebal 13 cm , menhir ke dua mempunyai panjang 30 cm, lebar 23 cm, tebal 17 cm, di sisi selatan menhir 1 panjang 49cm , lebar 15 cm tebal 16 cm, menhir kedua panjang 52 cm , lebar 23 cm tebal 17 cm. Luas kotak galian 3 x 3 cm, tanah yang digali berukuran 1,5 x 2 meter. Hal ini disebabkan oleh karena mengingat keterbatasan waktu. Titik DP berada di sudut barat daya. Kotak TP 4 ini berada di selatan kotak – kotak sebelumnya berdekatan dengan pagar kebun penduduk, di dekat tebing di pinggir Sungai Air Palik yang mempunyai lebar 20m.

Kondisi tanah spit 1 keras teraduk, berwarna coklat tua berpatikel halus, serta bercampur batu-batu kerikil. Pendalaman spit dilakukan dengan interval 20 cm. Pada spit 2, digali tanah timbunan berwarna coklat tua sedikit terdapat akar ilalang, ditemukan beberapa pecahan gerabah dan keramik. Kondisi tanah pada spit 3 b erupa timbunan berwarna coklat tua dan terdapat fosil kayu bercampur batu kerikil. Pada spit 4, berupa tanah asli pada dinding timur lebih gembur berwarna coklat tua teraduk dan mulai spit ini tidak lagi ditemukan gerabah sehingga penggalian dilanjutkan terus. Pada spit 6 dilakukan pendalaman selebar 75 cm karena kondisi tanah di dinding timur lebih gembur tampak tanah berongga cukup lebar dan setelah dilakukan pendalaman sampai spit 8 serpihan tulang. Kondisi tanah berwarna coklat tua, berpartikel halus. Pada kedalaman 193 cm tampak dengan jelas sebuah kerangka manusia tanpa temuan tempayan dengan posisi ke arah utara – selatan dengan kedua tangan terlipat

5.KOTAK TP – 5

Kotak TP-5 digali untuk mengetahui tinggalan arkeologi yang berada di dalam tanah. Kotak TP-5 berada di bawah pohon karet dan tertutup oleh semak belukar. Ukuran 2×2 meter. Pendalaman tiap spit dengan interval 20 cm. Permukaan tanah kotak kondisinya bergelombang pada permukaan tanah ini terdapat nisan batu tegak . DPkotak berada di sudut yang tertinggi yaitu sisi Timur Laut.

Kondisi tanah spit 1 berupa humus berwarna coklat tua, bersifat gembur didalam tanah terdapat akar tumbuhan dan akar pohon bersifat gembur, pada kedalaman 10 cm ditemukan batu andesit yang berbentuk bulat lonjong yang kemungkinan merupakan batu nisan, nisantersebut berukuran panjang 35cm, lebar 10 cm, dan tebal 12 cm . Dalam spit 2 ditemukan 1 fragmen gerabah. Tanah berupa lempung pasiran berwarna coklat tua, gembur, dan bercampur kerikil, akar semak belukar.

Kondisi tanah spit 3 berupa lempung pasiran, dengan kondisi gembur, terdapat akar semak belukar. Sampai kedalaman 50 cm ditemukan 5 fragmen gerabah polos. Pada kedalaman 60 cm ditemukan 1 fragmen gerabah polos di tengah kotak galian dan 1 fragmen gerabah polos di dekat dinding timur. Kondisi tanah spit 4 lempung pasiran bercampur batu kerakal dengan kondisi gembur bercampur batu kerikil. Pada kedalaman 61 cm ditemukan 1 buah fragmen gerabah polos.

Kondisi tanah spit 5 masih sama dengan lapisan di atasnya. Temuan spit ini berupa 32 fragmen gerabah polos. Tanah di bagian barat nampak lebih padat dibandingkan kondisi tanah di kotak bagian timur. Sejumlah fragmen gerabah terlihat sebagian besar merupakan fragmen gerabah polos, sedangkan 2 diantaranya merupakan tepian gerabah. Untuk mengefektifkan kerja, maka dilakukan penggalian dengan ukuran kotak 2×1 meter. Hal ini dilakukan karena temuan sebagian besar terdapatkan pada kondisi tanah yang gembur.

Jenis tanah spit 6 lempung pasiran berwarna coklat tua bercampur batu kerikil ditemukan. Dalam spit 6 ditemukan 19 buah fragmen gerabah polos berupa tepian dan tutup. Jenis tanah spit 7 lempung pasiran berwarna coklat tua sedikit terdapat akar dan kerilkil. Dalam spit 7 ditemukan 14 buah fragmen gerabah, 1 di antaranya tepian polos. Jenis tanah spit 8 lempung pasiran berwarna coklat tua dengan kondisi gembur pada kedalaman 170 cm ditemukan batu koral di tengah kotak galian. Dalam spit 8 kondisi berupa lempung pasiran ditemukan 10 fragmen gerabah polos dan pada spit 9 dan 10 tidak dijumpai artefak lagi, sehingga penggalian dihentikan pada spit ini.

6. KOTAK TP – 6

Kotak TP-6 berada di sisi Barat Laut kotak gali TP 5. Tepat di tengah kotak gali TP-6 permukaan tanahnya berupa gundukan, dengan ketinggian sekitar 35 cm dari permukaan tanah sekitar. Di atas gundukan terdapat beberapa batu andesit yang berbentuk bulat telur berjumlah 8 buah dengan ukuran panjang antara 15-30 cm dan tebal 10-20 cm. Di permukaan tanah terdapat rumput alang-alang, dan di dekat kotak terdapat pohon merawang. Pendalaman kotak dengan ukuran 2×2 meter dan kedalaman setiap spit interval 20 cm. DP Kotak berada pada sudut timur laut.

Jenis tanah spit 1 berupa tanah humus berwarna coklat kehitaman dengan kondisi gembur. Di dalamnya terdapat akar semak belukar dan akar pohon. Temuan spit 1 32 fragmen gerabah, 19 buah polos , 4 buah berhias, satu buah fragmen berbentuk dasar gerabah; 2 buah fragmen keramik asing berwarna putih dan biru tua serta 1 buah alat serpih.

Penggalian spit 2 menampakkan jenis tanah mulai berubah dari tanah humus menjadi lempung pasiran berwarna coklat kekuningan dengan kondisi padat. Temuan fragmen gerabah berjumlah 5 buah, berpola hias garis simetris dan fragmen keramik asing berwarna putih keabuan, tiga buah berwarna putih kelabu, berwarna coklat kekuningan kusam.

Kondisi tanah spit 3 berupa lempung pasiran berwarna coklat kekuningan dengan tekstur padat. Dari spit 3 diperoleh temuan fragmen gerabah polos berjumlah 9 buah dan 2 buah fragmen gerbah hias, 5 buah fragmen keramik asing berwarna putih keabuan dan satu buah serpih. Pada kedalaman spit ketiga ini ditemukan sejumlah bongkahan batu andesit berukuran panjang antara 5-10 cm.

Menjelang spit 4 keadaan tanah belum berubah. Dalam spit 4 ditemukan 2 buah fragmen gerabah polos dan satu buah fragmen keramik asing berwarna putih keabuan.

Pada awal pendalaman spit 5 ditemukan fragmen gerabah polos berjumlah 5 buah. Kondisi tanah sama dengan seperti lapisan tanah dalam spit sebelumnya. Pendalaman kotak spit 6 hanya dilakukan dengan ukuran 2X1 meter yang membujur dari arah barat ke timur. Karena di sudut baratlaut kotak ditemukan tanah yang berongga. Jenis tanah yang digali berupa lempung pasiran.

Dalam spit 7 digali tanah berjenis lempung pasiran berwarna coklat kekuningan. Dalam tanah tersebut terdapat batu koral. Temuan 4 buah fragmen gerabah polos. Jenis tanah spit 8 lempung pasiran, bercampur batu koral yang menyebar di permukaan kotak. Menjelang spit 8 berakhir tampak bahwa di lapisan ini dijumpai tempayan yang menempel di dinding timur serta terlihat adanya temuan tengkorak manusia dan beberapa fragmen gerabah.

Pendalaman spit 9 dilakukan untuk menampakkan secara utuh adanya temuan tengkorak manusia dan bekal kubur ( tempayan ). Jenis tanah berupa lempung pasiran sedikit bercampur kerikil. Pendalaman spit 10 dilanjutkan dengan tujuan menampakkan secara utuh tempayan. Jenis tanah berubah menjadi pasir lempungan berwarna kecoklatan , dan pendalaman dilakukan dengan membuka dinding kotak disebelah timur sehingga tampaklah temuan tengkorak manusia. Temuan tengkorak manusia ini nampaknya merupakan penguburan sekunder.

7. KOTAK TP-6’

Kotak TP 6’ merupakan kotak pengembangan dan dbuka guna melihat secara keseluruhan tempayan kubur yang berada di dinding timur. Di samping itu juga untuk melihat kondisi tempayan secara jelas. Titik DP Kotak berada di sudut barat laut. Keadaan permukaan tanah sebelum digali rata, banyak terdapat semak belukar, dan terdapat pohon merawang.

Keadaan tanah spit 1 berupa humus berwarna hitam kecoklatan gembur. Temuan spit 1 gerabah polos 2 buah. Kondisi tanah spit 2 berupa lempung pasiran berwarna coklat kekuningan bertekstur gembur bercampur kerikil, Di dalamnya terdapat akar semak belukar dan akar pohon. Dalam spit ini ditemukan 2 buah fragmen gerabah polos.

Jenis tanah spit 3 berupa lempung pasiran berwarna coklat kekuningan kondisi agak padat. Dalam tanah tersebut terdapat akar semak belukar dan akar pohon juga kerikil. Temuan 2 buah fragmen gerabah polos. Jenis tanah spit 4. sama seperti dalam spit sebelumnya, yaitu lempung pasiran., Dalam tanah terdapat akar pohon. Temuan fragmen gerabah polos ukuran tebal 1-2 cm.

Spit 5. Jenis tanah lempung pasiran bercampur kerikil. Di dalammya terdapat akar pohon. Dalam penggalian ditemukan tumpukan periuk wadah keperluan sehari-hari yang dalam kondisi agak baik, namun sedikit retak pada bagian badan di sebelah temuan tempayan. Perekaman data dari spit 6 – 10 mencatat adanya temuan tempayan pada dinding Timur. Terlihat bahwa tempayan tersebut merupakan tempayan ganda , dengan tempayan yang atas terlihat di letakkan secara terbalik, sedangkan tempayan bagian bawah merupakan wadah terbuka dengan posisi mulut menghadap ke atas. Kondisi tempayan sudah lapuk, sehingga setengah bagian tempayan utuh. Adapun temuan tengkorak manusia masih terlihat pada dinding Utara kotak dengan muka menghadap ke selatan, berdampingan dengan temuan periuk.

8. KOTAK TP – 7
Kotak berada di sebelah selatan kotak TP – 5 dan TP – 6, atau di luar kebun Bapak Amran, di tanah milik PT Nurtani. Pada permukaan tanah terdapat semak belukar. Di sekeliling kotak terdapat tanah-tanah yang berlubang karena digali secara liar oleh orang yang bertujuan ingin mendapatkan harta karun dari tempayan yang sudah tampak karena kegiatan pengupasan tanah oleh PT Nurtani.

Pendalaman spit 1 dilakukan hingga kedalaman 20 cm. Kondisi tanah berupa humus, berwarna coklat tua bercampur dengan kerikil dan akar semak belukar. Temuan 1 fragmen pecahan gerabah polos bagian badan. Jenis tanah spit 2 lempung pasiran, berkerikil, dan padat berwarna coklat tua bercampur akar semak belukar. Kondisi tanah padat tidak ada data artefaktual

Jenis tanah spit 3 lempung pasiran berwarna coklat tua, berkerikil, tidak ada data artefaktual. Kondisi tanah spit 4, spit 5 dan spit 6 sama seperti sebelumnya, karena tidak ada data artefaktual, maka pendalaman dihentikan ondisi pada akhir ekskavasi terdapat lapisan tanah lempung pasiran bercampur koral.

9. KOTAK TP- 8
Kotak berada di sebelah utara kotak TP- 5 dan TP – 6. Lokasinya berada di dalam kebun Bapak Amran yang merupakan kebun kopi dan karet. Kondisi kebun tidak terawat, sehingga banyak rumput alang-alang. Penggalian kotak TP-8 dilakukan untuk menemukan data sistem penguburan dengan tempayan kubur seperti yang sudah ditemukan di beberapa kotak galian sebelumnya, serta untuk melihat sebaran tempayan kubur di situs Padang Sepan. Sebelum digali di permukaan kotak terdapat nisan berbentuk bulat lonjong yang kemungkinan merupakan tanda kubur. Nisan dalam posisi roboh. Adapun ukurannya adalah sbb:

Batu 1: panjang 55 cm, lebar 40 cm, dan tebal 15 cm
Batu 2: panjang 22 cm, lebar 21 cm, tebal 10 cm
Batu 3: panjang 13 cm, lebar 7 cm, tebal 6 cm
Batu 4: panjang 13 cm, lebar 7 cm, tebal 6 cm.

Pada permukaan kotak terdapat terdapat 4 buah fragmen gerabah yang merupakan pecahan bagian badan tempayan. Adapun pecahan gerabah tersebut mempunyai ukuran panjang 5,5 cm-7,5 cm, lebar 3,5-5,5 cm, dan tebal 0,8 cm.

Peggalian spit 1 dilakukan hingga kedalaman 20 cm. Dalam spit 1 digali tanah tersebut jenis tanah lempung pasiran dengan kondisi agak padat, berwarna coklat kekuningan. Dalam tanah tersebut terdapat akar semak belukar serta fragmen gerabah polos bagian badan. Jenis tanah spit 2 lempung pasiran berwarna coklat kekuningan dengan kondisi agak padat. Dalam spit ini ditemukan fragmen gerabah polos.

Jenis tanah spit 3 lempung pasiran dengan kondisi gembur bercampur dengan bercampur akar semak belukar, dalam spit ini ditemukan 2 buah batu andesit berbentuk bulat telur dan pipih. Pada posisi sumbu x antara 70-75 cm dan y = 30-48 cm. ukuran batu pertama sbb; panjang 26 cm, lebar 25 cm, tebal 8 cm. Ukuran batu kedua: panjang 23 cm, lebar 25 cm dan tebal 8 cm.

Jenis tanah spit 4 lempung pasiran dengan kondisi gembur, berwarna coklat tua bercampur dengan kerikil. Dalam spit 4 ditemukan beberapa buah fragmen gerabah. Jenis tanah spit 5 lempung pasiran berwarna coklat tua dengan kondisi gembur. Ditemukan lebih sedikit fragmen gerabah daripada spit sebelumnya.

Spit 6. Jenis tanah lempung pasiran dengan kondisi gembur, berwarna coklat tua. Di dalamnya terdapat akar semak belukar. Dalam spit 6 ditemukan tempayan dengan kondisi relatif utuh. Tampaknya merupakan tempayan tunggal tanpa leher dan berbentuk silinder dengan ukuran lebar 87 cm tebal 0,8 cm. Tempayan ini tampaknya berada di bawah temuan 2 buah batu andesit dan terletak pada sumbu x = 86 cm, y = 102 cm , Selain itu ditemukan pula fragmen gerabah bagian tempayan polos , sebanyak 98 buah, fragmen karinasi 6 buah dengan ukuran panjang 3,5 cm sampai 8,5 cm, lebar 3-6 cm, dan tebal 0,5-0,8 cm. Serta ditemukan 3 buah fragmen keramik asing dengan ukuran sbb:

Fragmen 1. panjang 1,2 cm, lebar 1 cm, tebal 0,5 cm
Fragmen 2. panjang 12 cm, lebar 1,2 cm
Fragmen 3. panjang 4 cm,lebar 11 cm, tebal 0,2 cm

Jenis tanah spit 7 lempung pasiran, dengan kondisi gembur berwarna coklat tua bercampur kerikil. Dalam spit ini ditemukan fragmen gerabah berjumlah 9 buah dengan ukuran panjang antara 5-8 cm, lebar 3,5 cm-7 cm, dan tebal antara 1 cm -1,5 cm. Temuan tersebut merupakan fragmen gerabah bagian badan polos dan tepian hias ukuran panjang 5 cm-8 cm, lebar 3 cm-5 cm , tebal 1 cm – 1,3 cm.

Jenis tanah lspit 8 empung pasiran, dengan kondisi gembur, berwarna coklat tua dan bercampur kerikil relatif sedikit kerakal. Dalam spit ini ditemukan 1 buah ragmen gerabah polos. Jenis tanah lspit 9 lempung pasiran dengan kondisi gembur, berwarna coklat tua. Pada dinding utara kotak ditemukan fitur arang pada kedalaman Z = 180 cm, sumbu X = 65 cm. Dari spit 9 didapatkan 2 buah fragmen gerabah polos berukuran panjang 4-10 cm, lebar 3-8 cm, tebal 0,8 cm. Temuan tersebut merupakan fragmen bagian badan.

Jenis tanah spit 10 lempung pasiran dengan kondisi gembur, berwarna coklat tua. Dalam spit ini ditemukan fragmen rahang bawah manusia dengan 3 buah gigi. Kondisinya sudah aus dan rapuh. Lokasi temuan pada sumbu x = 65 cm, Y = 20 cm. Selain itu ditemukan pula serpihan tempurung kaki manusia dalam kondisi rapuh. Jenis tanah spit 11 lempung pasiran dengan kondisi gembur berwarna coklat tua. Hingga spit ini tidak didapatkan temuan artefaktual lagi, sehinga penggalian dihentikan kedalaman 220 cm.

10. KOTAK TP – 9
Permukaan tanah kotak ini berupa gundukan yang memanjang membujur dari arah barat ke timur, Keletakan kotak ini berada di sisi utara kotak TP – 8. Pada permukaan tanah ditemukan batu andesit yang kemungkinan merupakan tanda kubur. Ukuran nisan tersebut adalah sbb:

Nisan 1: panjang 42 cm, lebar 23 cm, tebal 15 cm.
Nisan 2: panjang 52 cm, lebar 28 cm, tebal 15 cm,
Nisan 3: panjang 47 cm, lebar 30 cm, tebal 15 cm

Jenis tanah spit 1 humus berwarna coklat tua dengan kondisi gembur dan sedikit bercampur batu kerikil. Tinggalan spit ini 2 buah fragmen gerabah polos. Jenis tanah spit 2 lempung pasiran kondisi gembur, berwarna coklat tua, sedikit bercampur kerikil. Dalam tanah terdapat akar semak belukar dan rumpun bamboo. Dalam spit ini ditemukan fragmen bagian badan dari gerabah polos.

Jenis tanah spit 3 sama seperti dalam spit 2 ditemukan fragmen gerabah polos bagian badan berjumlah 1 buah , dan 2 buah fragmen keramik asing berwarna biru. Jenis tanah spit 4 lempung pasiran berwarna coklat tua. Dalam tanah terdapat akar semak dan akar bamboo ditemukan batu andesit bulat berukuran panjang 4 cm, lebar 3 cm, tebal 2 cm. Juga ditemukan fragmen gerabah polos.

Kondisi tanah spit 5 sama seperti dalam spit 4. Pada kedalaman 80 cm terlihat dalam tanah sebuah lubang dengan diameter 20 cm yang berada pada sisi timur kotak galian, tanah dididi itu keputihan dengan kondisi gembur dan dalam tanah terdapat akar bambu. Dalam spit 5 ditemukan fragmen gerabah polos bagian badan sejumlah 13 buah, fragmen tepian 1 buah dari fragmen keramik asing bagian badan mangkuk yang berwarna biru-putih dan motif sulur-suluran. Selain itu didapatkan 3 buah fragmen tepian keramik asing dan 3 buah fragmen keramik asing yang merupakan fragmen dasar piring yang berhias motif flora.

Jenis tanah spit 6 lempung pasiran berwarna coklat tua dengan kondisi gembur. Dalam tanah terdapat akar tumbuhan. Dalam spit 6 ditemukan 2 buah fragmen bagian badan keramik , 1 buah tepian keramik, dan 12 buah fragmen gerabah polos. Jenis tanah spit 7 lempung pasiran, dengan kondisi gembur berwana coklat keabuan. Dalam tanah terdapat akar dan kerikil. Temuan dalam spit ini tidak ada.

Jenis tanah spit 8 lempung pasiran berwarna coklat keabuan bercampur dengan kerikil kondisi gembur. Di dalamnya relatif sedikit akar. Dari spit 8 di dapatkan tempayan, namun belum nampak secara keseluruhan. Jenis tanah spit 9 lempung pasiran berwarna coklat keabuan kondisi tanah gembur. Dalam spit ini ditemukan 3 buah fragmen bagian badan yang merupakan gerabah polos, dan 1 buah bagian tepian keramik asing berwarna biru dan putih berhias motif flora. Sampai dengan spit ini nampak kondisi tempayan secara utuh yang mempunyai ukuran panjang 90 cm, lebar 65 cm dan merupakan wadah terbuka. Penggalian dihentikan sampai spit ini karena tidak didapatkan tinggalan rangka manusianya.

11. KOTAK TP – 9’
Kotak ini digali untuk melihat sebaran temuan yang tampak di dinding timur kotak TP – 9. Permukaan tanah kotak berupa gundukan tanah yang ditumbuhi semak belukar. Penggalian dilakukan dengan interval 20 cm. Jenis tanah spit 1 merupakan tanah humus berwarna coklat kehitaman. Dalam tanah terdapat akar semak belukar, kondisi gembur. Dalam spit ini ditemukan 5 buah fragmen gerabah polos bagian badan.

Jenis tanah spit 2 humus berwarna coklat kehitaman. Dalam tanah terdapat akar tumbuhan dengan kondisi tanah gembur, relatif sedikit kerikil. Jenis tanah spit 3 lempung pasiran, berwarna coklat tua, dengan kondisi gembur, akar semak belukar terdapat di dalamnya. Jenis tanah spit 4 lempung pasiran dengan kondisi gembur warna coklat tua. Di dalamnya terdapat akar tumbuhan. Di dalam tanah ini terdapat temuan 1 buah fargmen tepian gerabah polos, 2 buah fragmen badan gerabah polos, dan 3 buah tepian fragmen keramik asing.

Jenis tanah spit 5 lempung pasiran berwarna coklat tua dengan kondisi gembur. Dalam tanah terdapat akar tumbuhan. Di sekitar dinding timur kotak galian terdapat 1 buah fragmen gerabah polos; di sudut tenggara kotak terdapat 5 buah fragmen badan gerabah polos. Jenis tanah spit 6 berupa lempung pasiran dengan kondisi gembur, berwarna coklat tua. Pada sisi timurlaut kotak ditemukan 4 buah fragmen gerabah polos, I buah gerabah hias, 3 buah bagian badan, dan 2 buah fragmen tepian keramik asing; di sekitar sisi tenggara kotak terdapat 1 buah fragmen tepian, 2 buah fragmen gerabah polos, dan 1 buah fragmen badan gerabah hias.

Jenis tanah spit 7 lempung pasiran berwarna coklat kehitaman dengan kondisi gembur. Dalam spit ini ditemukan 3 buah fragmen tepian keramik asing dan 1 buah fragmen bagian tepian keramik asing. Kondisi tanah spit 8 sama dengan lapisan spit 7 ditemukan tepian hias 1 buah yang merupakan fragmen bagian badan. Di bagian tenggara kotak galian terdapat 1 buah fragmen keramik bagian badan, 2 buah fragmen gerabah bagian badan polos, dan 2 buah fragmen gerabah hias.

Jenis tanah spit 9 sama seperti lapisan spit 8. Di bagian baratlaut kotak galian terdapat serbuk-serbuk tulang yang kondisinya sangat rapuh dan tidak berbentuk lagi. Selain itu, ditemukan juga fragmen gerabah polos bagian badan. Jenis tanah spit 10 lempung pasiran berwarna coklat tua dengan kondisi gembur. Dalam spit 10 tidak terdapat temuan artefaktual, sehingga penggalian dihentikan sampai akhir spit ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: